My Old Star

My Old Star
#115 Salah Mengerti



Arfan memasuki club yang langsung disambut oleh Tomi yang baru saja selesai mengarahkan anak-anak terkait strategi yang harus mereka terapkan.


"Kamu tidak datang bersama Mentari Fan?" Tanya Tomi yang celingukan karena tidak melihat Mentari berada di sisi Arfan padahal biasanya mereka akan selalu kemana-mana bersama.


"Mentari sedang keluar kota bersama Siska untuk beberapa hari Tom."


"Kesepian dong kamu Fan?" Tomi menggoda Arfan dengan menaik turunkan alisnya.


"Jadi bagaimana perkembangan anak-anak sejauh ini Tom?" Arfan mengalihkan pembicaraan dan tidak mau meladeni Tomi.


"Perkembangan mereka cukup baik Fan, aku juga sudah menyusun jadwal untuk beberapa hari ke depan. Mereka akan memiliki satu hari libur sebelum keberangkatan kita Fan."


"Bagus, atur makan dan istirahat mereka juga dengan cukup agar stamina mereka tetap terjaga!"


Arfan dan Tomi berjalan menuju ke lapangan tempat anak-anak sedang berlatih. Tim pelatih memberikan laporan perkembangan anak-anak kepada Arfan yang dengan serius memeriksanya.


Di tempat lain, Zaki juga sedang melakukan persiapan untuk pertandingan nasional. Dia harus berjuang lebih keras agar tidak mengecewakan Marryana yang saat ini bergabung bersama club atas permintaan orangtuanya.


"Kamu sedang apa Za?" Marryana menepuk pundak Zaki dari belakang karena melihat laki-laki itu termenung sembari memperhatikan anak-anak berlatih.


Zaki membalikkan badannya, "A-aku hanya sedang melihat anak-anak Marry." Jawabnya sedikit gugup.


"Benarkah?"


"Aku lihat ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan Za, katakan padaku siapa tahu aku bisa membantumu Za."


Zaki menarik nafas kemudian menghembuskannya dengan kasar, "Aku hanya takut mengecewakan bos besar Marry, tanggungjawab club sebesar ini ada di pundakku saat ini."


"Kenapa harus takut Za, bukankah ada aku?"


"Atau kamu sedang meragukan kemampuanku?" Marryana menyipitkan mata untuk mencari kebenaran dari tatapan mata Zaki kepadanya.


"Bukan begitu Marry, aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk club ini. Club yang sudah membesarkan namaku disaat semua orang tidak lagi mempercayaiku sebagai seorang manusia karena kesalahanku yang begitu besar."


"Jangan katakan itu lagi Za, semua orang berhak memiliki masa lalu."


Marryana memeluk Zaki yang merasa terkejut dengan sikap anak dari bosnya itu.


"Percayalah Za, sekarang ada aku. Kamu tidak sendirian meskipun Papiku tidak ada bersama kita."


Zaki membalas pelukan Marryana, "Terimakasih Marry."


Keduanya saling melepaskan pelukan mereka, suasana berubah menjadi canggung bagi mereka berdua.


"Aku akan ke kamar dulu Za, tunggu aku untuk melihat anak-anak berlatih!"


Marryana berlari meninggalkan Zaki yang masih bingung dengan dirinya sendiri, setelah sekian lama baru kali ini dia merasakan kembali jantungnya yang berdegup kencang.


****


Pak Reza berpamitan kepada Mentari dan Siska karena harus kembali pulang setelah memastikan jika mereka berdua aman berada di rumah Kepala Desa dimana Mentari akan melakukan penelitiannya.


"Jaga diri kalian baik-baik ya, tiga hari lagi saya akan kembali kesini. Lakukan semuanya dengan cepat sehingga kalian bisa cepat untuk pulang." Pesan pak Reza kepada Mentari dan Siska sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.


"Baik pak, terimakasih sudah mengantarkan kami berdua. Pak Reza hati-hati di jalan ya pak."


"Terimakasih Mentari, oh ya apakah ada pesan untuk Arfan?"


Mentari tersenyum kemudian menjawab, "Sementara ini belum pak, nanti kalau ada sinyal saya akan menelfonnya."


"Baiklah kalau begitu, bapak pergi ya."


Mobil pak Reza menghilang dikejauhan setelah berpamitan kepada pemilik rumah dan menitipkan mahasiswinya kepada mereka.


"Kalian bisa istirahat dulu, mulai penelitiannya bukankah besok karena hari sudah mulai petang." Ucap wanita paruh baya istri Kepala Desa dimana mereka saat ini menumpang sampai penelitian mereka selesai.


"Baik Bu, kami mohon izin untuk ke kamar."


"Silakan nak," Ibu Kepala Desa mempersilakan mereka berdua untuk beristirahat.


Mentari dan Siska hendak memasuki kamar mereka, sebelum sampai ke pintu kamar mereka bertemu dengan seorang pemuda yang boleh dibilang cukup tampan untuk ukuran pemuda desa, kulitnya putih bersih dengan susunan gigi yang rapi, matanya sedikit sipit dengan perawakan yang tidak terlalu tinggi namun juga tidak pendek untuk ukuran seorang laki-laki. Rambutnya lurus dengan potongan yang pas sesuai bentuk wajahnya.


Mentari menyapa pemuda itu dan memperkenalkan dirinya bergantian dengan Siska. Pemuda itu menyambut uluran tangan Mentari dengan senyum terbaiknya.


"Cantik sekali...," batin pemuda itu dengan mata yang tidak lepas memandang ke arah Mentari.


"Namaku Riko, semoga kalian betah disini ya."


"Terimakasih sudah menerima kami dengan baik disini."


"Tidak perlu sungkan, anggap saja rumah sendiri. Meskipun rumah ini cukup sederhana tapi semoga kalian bisa nyaman tinggal bersama kami disini."


Mentari dan Siska memasuki kamar mereka, Riko pun pergi ke depan sekaligus menemui ibunya di dapur yang sedang mempersiapkan makan malam.


"Bu gadis bernama Mentari itu cantik sekali." Puji Riko sambil membayangkan wajah Mentari yang baru saja dilihatnya tadi.


"Apakah menurutmu secantik itu?"


"Beneran bu, baru kali ini Riko melihat gadis secantik itu. Cantik alami bahkan tanpa make up sekalipun."


"Duh anak ibu sudah besar rupanya sudah bisa melihat gadis cantik."


"Ah ibu, aku kan sudah kuliah mana mungkin aku tidak bisa membedakan mana gadis cantik dan mana yang biasa saja."


"Iya Rik, ibu paham tapi apa di kampus kamu itu tidak ada gadis cantik?"


"Ada sih bu, tapi yang ini benar-benar berbeda."


"Ya sudah, nanti dibahas lagi. Sekarang panggil bapakmu sana untuk sholat berjamaah dulu."


Riko memanggil Bapaknya yang sedang memberi makan ikan di kolam belakang rumah mereka.


Usai makan malam, Pak Kades yang merupakan ayah dari Riko mengajak Mentari dan Siska untuk berbincang di ruang keluarga terkait penelitian yang akan mereka lakukan. Mulai dari mana dan bagaimana alur dari kegiatan mereka dibahas bersama.


"Kalau begitu anak saya ini, Riko akan membantu nak Mentari melakukan penelitian. Dia juga seorang mahasiswa tapi baru semester lima, kebetulan sedang pulang karena hari tenang sebelum ujian semester."


"Apa kami tidak merepotkan, bukankah seharusnya mas Riko ini belajar untuk persiapan ujian?"


"Saya tidak merasa direpotkan sama sekali, untuk masalah belajar kalian tidak perlu khawatir karena saya pasti akan belajar kok disela-sela waktu yang ada."


"Kalau begitu terimakasih sebelumnya mas Riko karena mau membantu saya."


"Tidak perlu sungkan begitu Mentari, anggap kita sudah lama saling mengenal."


Mentari merasa sedikit tidak enak karena Riko memanggil namanya secara langsung tidak dengan embel-embel mbak atau yang lainnya padahal dia lebih muda beberapa tahun dari Mentari.


Mentari berusaha tetap berpikir positif dan tidak mengambil pusing semua itu, yang dia pikirkan sekarang adalah segera menyelesaikan penelitian dan bisa cepat pulang agar bisa berkumpul kembali dengan suami dan keluarganya di rumah.


Mentari teringat akan Arfan, "Apakah dia sudah makan malam?" gumamnya lirih.


"Pak Kades mohon maaf apakah kami boleh memakai jaringan wifi di rumah ini?" Siska memberanikan diri untuk bertanya karena melihat Mentari yang terlihat sedikit cemas, mungkin saja dia mengkhawatirkan suaminya.


"Tentu saja boleh, kalian pasti mau menghubungi keluarga kalian bukan?"


"Riko berikan passwordnya kepada mereka!" perintah pak Kades.


"Terimakasih mas Riko," Mentari mengambil ponselnya kembali dari tangan Riko.


"Pak, Bu, Mas kami pamit dulu mau mengabari keluarga di rumah."


"Silakan nak," pak kades dan bu kades mempersilakan mereka untuk kembali ke kamar.


Mentari dan Siska masuk ke dalam kamar, Siska akan menghubungi Arman sedangkan Mentari dia terlebih dahulu membuka pesan teks dari Arfan yang baru saja masuk ke ponselnya.


Mentari memencet tombol hijau untuk menelfon Arfan yang langsung mengangkat panggilan dari Mentari saat mendengar ponselnya berdering.


"Mentari sayang akhirnya kamu menelfonku, bagaimana apakah kamu sudah sampai?"


"Sudah Kak, kami sampai tadi sore dan pak Reza langsung pulang ke kota Z."


"Kakak apakah baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja sayang, aku ada di club sekarang, pertandingan di majukan pelaksanaannya. Jadi selama kamu tidak ada di rumah aku akan lebih sering di club."


"Baiklah Kak, itu lebih baik. Jika disana kakak tidak akan kesepian lagi pula ada ibu, kak Sania dan Stev."


"Iya sayang, kamu jaga diri dan anak kita baik-baik ya. Cepat pulang karena aku merindukanmu sayang."


"Aku juga kak!"


Mentari menyudahi komunikasi mereka, dia merasa begitu lelah dan ingin cepat beristirahat. Begitu pula dengan Siska yang juga bersiap untuk beristirahat setelah berhasil menghubungi Arman. Mereka bisa tidur nyenyak malam ini tanpa merasa khawatir.


Riko sengaja berdiri di depan kamar yang saat ini ditempati oleh Mentari dan Siska untuk mencuri dengar pembicaraan keduanya terutama Mentari. Riko penasaran siapa yang Mentari hubungi melalui telefon. Riko merasa lega karena mengira jika Mentari menghubungi kakaknya.


"Sepertinya aku masih mempunyai kesempatan," ucapnya sambil berlalu meninggalkan kamar itu. Padahal sejatinya Riko sudah salah mengerti mengenai Mentari.


Mona yang mendapatkan kabar jika Mentari sudah berangkat keluar kota merasa memiliki kesempatan untuk bisa menaklukan Arfan. Dia berpikir bila perlu Mentari tidak usah kembali pulang untuk selamanya.


"Cari kemana mereka pergi!"