My Old Star

My Old Star
#78 Cepat Bangunlah



Arman masih terbaring lemah di ruang perawatan, siang tadi kondisinya sudah stabil sehingga dia bisa dipindahkan ke ruang rawat.


Siska dengan setia menjaga Arman di rumah sakit, meskipun pada akhirnya dia tidak bisa menghadiri acara akad nikah Mentari sahabat yang sudah dia anggap sebagai keluarganya sendiri. Siska hanya bisa mendo'akan Mentari dan Arfan dari jauh.


Siska memandangi wajah Arman yang tampak pucat, dia belum sadarkan diri sejak semalam. Siska tidak tahu harus berbuat apa selain menungguinya hingga sadar.


"Kak Arman cepat bangunlah, aku menunggumu untuk bisa mengucapkan selamat kepada Mentari dan pak Arfan atas pernikahan mereka berdua." Siska berbicara pada Arman yang tidak bergerak sama sekali.


Di tempat lain, Mentari masih tertidur pulas. Padahal Arfan sudah bangun sejak mendengar ribut-ribut di depan kamar Mentari tadi. Arfan mendengar dengan jelas apa yang ayah dan ibu Mentari bicarakan.


Arfan sudah membersihkan dirinya sehingga terlihat lebih segar sekarang, dia ingin membangunkan Mentari tetapi dia merasa tidak tega mengusik tidur gadis yang sekarang sudah berstatus sebagai istrinya itu.


Arfan sedikit merasa lapar karena mereka tertidur begitu lama setelah acara akad selesai dan belum sempat makan apapun.


Arfan turun untuk mengambil makan malamnya sendiri di dapur. Suasana rumah sudah sepi karena semua orang mungkin sudah beristirahat di kamarnya masing-masing.


"Fan kok ambil makan sendiri, dimana Mentari Fan. Kenapa dia membiarkanmu melakukan hal yang seharusnya dia yang melakukannya untukmu?" Bu Kartika tiba-tiba muncul di dapur saat Arfan sedang mengambil makanan.


"Mentari masih tidur bu, ini hal kecil yang bisa aku lakukan sendiri, lagi pula aku sudah terbiasa."


"Eh mana boleh begitu Fan, Mentari sekarang adalah istrimu jadi dia yang harus melakukannya untukmu."


"Mentari pasti akan melakukannya untukku bu, dia butuh waktu untuk belajar terlebih dahulu untuk melatih hal yang nantinya akan menjadi kebiasaan barunya ini bu."


Bu Kartika tersenyum bangga, menantunya ini sungguh sangat pengertian. Mentari tidak salah menjatuhkan pilihannya kepada Arfan.


"Baiklah kalau begitu kau makanlah, ibu akan kembali ke kamar dulu." Bu Kartika meninggalkan Arfan yang sedang makan malam.


Mentari terbangun dan melihat Arfan sudah tidak ada di kamarnya, kemana perginya pikir Mentari.


Mentari memilih untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum keluar dari kamar, dia teringat akan Siska yang sendirian menunggui Arman di rumah sakit.


Mentari bergegas mencari keberadaan Arfan, dia khawatir jika Arfan pergi ke rumah sakit tanpa dirinya.


Mentari menemukan sosok Arfan yang sedang duduk di meja makan sembari menikmati makan malamnya.


"Kak kenapa tidak membangunkanku?" Mentari memeluk leher Arfan dari belakang.


"Apa aku baby siter mu jadi aku harus membangunkanmu?"


"Ih kak Arfan nyebelin!" Mentari melepaskan tangannya dari leher Arfan dan memilih duduk di samping Arfan.


"Mau makan?" Ucap Arfan datar.


"Tidak!!!" Mentari bersedekap dan memalingkan wajahnya.


"Sini aku suapin, buka mulut kamu!"


"Ayo... Aaaaaaaaa...."


Mentari mengikuti keinginan Arfan untuk membuka mulutnya, tetapi bukan suapan makanan yang dia dapatkan melainkan ciuman panas dari Arfan yang membuat nafasnya tersengal. Arfan ternyata bisa seganas itu, padahal sebelumnya Arfan sangat menjaga Mentari.


"Kak Arfan ih nyebelin...," protes Mentari setelah dia bisa mengatur nafasnya.


"Kamu suka bukan?" Ledek Arfan.


"Akan aku lakukan yang lebih ganas lagi nanti!" Arfan tergelak yang membuat Mentari semakin kesal bisa-bisanya Arfan mengatakan hal sevulgar itu di tempat yang bisa di akses oleh siapa saja.


"Bagaimana mau coba?" Arfan semakin menjadi-jadi.


"Sudah lupakan saja kak, aku tidak mau mendengarkannya lagi!" Mentari menutup rapat telinganya menggunakan tangan, wajahnya berubah seperti kepiting rebus.


Arfan menurunkan tangan Mentari dan memeluknya, "Kau tahu aku sangat takut akan kehilanganmu semalam, aku takut aku tidak bisa melihatmu lagi Mentari!"


"Aku juga sangat takut kak, aku tidak bisa membayangkan jika sampai kakak melakukan hal yang Mona inginkan semalam!"


Tiba-tiba pak Mahendra melintas di dekat meja makan, "Eheemmm...," pak Mahendra berdehem.


Mentari dan Arfan terkejut karena tidak menyangka akan tertangkap basah oleh pak Mahendra. Mereka berdua salah tingkah merasa malu karena tidak sepantasnya mereka berpelukan di tempat yang bisa didatangi oleh siapa saja.


"Kalian lanjutlah di kamar saja sana, maaf ayah jadi mengganggu kalian!" Ucap pak Mahendra yang membuat keduanya saling pandang.


"Kita akan pegi ke rumah sakit, cepat bersiaplah aku tunggu di luar!" bisik Arfan kepada Mentari.


Sepuluh menit kemudian, Mentari muncul di ambang pintu depan. Arfan sudah mengeluarkan mobilnya dari garasi.


"Kita mampir ke minimarket dulu ya, kita belikan sesuatu untuk Siska. Aku khawatir Siska tidak sempat makan apapun karena sibuk menunggui Arman." Arfan mengingatkan Mentari.


"Baiklah kak,"


"Pakai ini!" Arfan memberikan sebuah kartu kepada Mentari.


"Aku punya uang kok kak, aku belum memerlukannya. Ambil ini kembali kak!" Mentari tidak mau menerima kartu yang Arfan berikan.


Selesai membeli beberapa makanan kecil untuk Siska, mereka segera menuju ke rumah sakit. Seharusnya malam ini merupakan malam pertama bagi keduanya, namun mereka tidak ingin bersenang-senang di atas penderitaan Arman dan Siska. Apalagi Arman terluka karena ingin menyelamatkan mereka dari Mona.


Mona sendiri masih bersembunyi di sebuah tempat di tengah hutan, setelah melarikan diri dari kejaran orang-orang kepercayaan nenek Wijaya. Mona sedikit terluka di bagian kakinya. Namun dia tidak bisa ditemukan tadi malam.


Mona belum bisa keluar dari hutan itu karena masih menunggu anak buahnya menjemput. Dia harus bisa bertahan selama yang dia bisa, dia tidak mau melihat Arfan dan Mentari hidup bahagia. Dia harus mencari cara lain untuk bisa membuat mereka berpisah.


Arfan memarkirkan mobilnya di depan rumah sakit, kemudian mengajak Mentari masuk ke dalam untuk segera menemui Siska.


Di lobi mereka bertemu dengan Ayesh dan Hyorin yang kebetulan ada di rumah sakit itu.


"Kalian ada disini juga?" Sapa Hyorin kepada mereka berdua.


"Iya kak, kami mau menjenguk pasien di rumah sakit ini," jawab Mentari.


"Siapa yang sakit Fan?" Tanya Ayesh.


"Temanku semalam tertembak Yesh dan dirawat di rumah sakit ini."


"Kamu sendiri ngapain Yesh di rumah sakit?"


"Aku menjemput istriku Fan, dia tadi siang memaksa untuk datang kesini untuk melakukan sidak kinerja karyawannya, dia tidak mau jika mereka tidak disiplin."


"Wah bagus sekali Yesh, istrimu ini benar-benar wanita yang hebat!" puji Arfan untuk Hyorin yang hanya bisa tersenyum karena merasa tersanjung.


"Sehebat apapun Hyorin. Dia tetap hanya boleh menjadi dokter pribadiku Fan!" Ayesh berseloroh.


"Mas kamu terlalu berlebihan!" Hyorin mencubit lengan Ayesh kemudian memeluk lengan suaminya itu.


Arfan ikut merasa bahagia melihat keluarga kecil Ayesh yang sungguh terlihat sempurna.


"Aku juga akan meminta dihitungkan strategi pertandingan oleh istriku Yesh!" Arfan merangkul Mentari.


"Apa ini maksudnya kalian sudah menikah?"


"Kenapa tidak mengundang kami?"


"Nanti kami undang di acara resepsi Yesh, kami hanya melangsungkan akad nikah saja tadi siang."


"Baiklah selamat atas pernikahanmu Fan, kami do'akan kalian bahagia selalu."


"Terimakasih untuk do'nya Yesh, kalau begitu kami permisi dulu."


"Semoga sahabatmu segera sembuh pak Arfan, rumah sakit ini akan memberikan pelayanan terbaik bagi pasien, aku yang akan menjaminnya." Hyorin ikut mendo'akan kesembuhan Arman dan berjanji memberikan pelayanan terbaik mereka.


"Baik terimakasih bu dokter!" jawab Arfan.


Mereka berpisah di lobi rumah sakit, Arfan membuka pintu kamar rawat Arman.


"Bagaimana kondisi Arman Sis?"


"Kata dokter kondisinya stabil, tapi aku takut karena kak Arman tidak kunjung sadar pasca operasi."


"Kamu tenang dulu ya Sis, sekarang bersihkan dirimu dulu. Biar aku dan kak Arfan yang menjaga kak Arman di sini. Kamu juga harus makan, aku yakin kamu belum makan sama sekali."


Siska mengikuti perintah Mentari untuk mengurus dirinya sendiri dulu. Mentari melihat pergerakan di tangan kanan Arman.


"Dia bergerak kak, coba kakak lihat. Kak Arman menggerakan tangannya kak!"