
Mentari mempercepat langkahnya untuk kembali ke kamar, rasa hatinya sungguh tak menentu. Entah apa yang gadis itu rasakan saat ini, dia buru-buru masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Debaran di dalam dadanya terasa begitu cepat, baru pertama kali ini dia merasa begitu dekat dengan seorang pria, apalagi dia seorang pria dewasa yang kini berstatus sebagai kekasihnya.
"Jantungku tolong berdamailah," gumam Mentari memegang dadanya yang terus bergemuruh.
Selesai dengan aktivitasnya di kamar mandi, Mentari merasa lapar. Namun, dia merasa ragu jika harus keluar untuk makan bersama Arfan dan rekan-rekannya meskipun tadi Arfan telah menelfonnya untuk makan malam bersama, untuk saat ini Mentari merasa belum siap bertemu dengan Arfan. Meskipun sebenarnya mau menghindar bagaimanapun dia pasti akan bertemu dengannya juga. Ditengah-tengah kebimbangannya, ada suara orang mengetuk pintu kamarnya.
Rasa canggung menyelimuti keduanya ketika Mentari membukakan pintu dan yang muncul di ambang pintu kamar adalah Arfan. Sepersekian detik keduanya hanya diam mematung.
"Uhuk...uhuk...," Arfan memecahkan keheningan dengan batuknya yang dia buat-buat.
"Bolehkah aku masuk?" tanya Arfan kemudian.
"I-iya boleh Kak."
Arfan masuk ke dalam kamar, "Kenapa kamu tidak keluar untuk makan malam?"
"Aku tidak lapar Kak," jawab Mentari berbohong.
Kriuuukkkkk....bunyi perut Mentari.
"Perut kamu tidak bisa berbohong Mentari kecil," Arfan berkata dengan nadanya yang datar sambil bersedekap di sofa.
'Perut kenapa kamu tidak bisa diajak berkerjasama,' gerutu Mentari di dalam hatinya.
Wajah Mentari sudah seperti kepiting rebus, "Ayo aku ajak kamu cari angin di luar!" Arfan bangkit dari duduknya dan menarik tangan Mentari untuk dibawanya ke luar.
Di koridor mereka berpapasan dengan Mona yang menatap sinis terhadap Mentari, namun bersikap lemah lembut terhadap Arfan.
"Hai Fan, kalian mau kemana?" tanyanya seolah sangat akrab dengan Arfan.
"Aku mau keluar," jawab Arfan datar.
"Benarkah?"
"Aku boleh ikut ya?" pintanya.
Mentari menatap Arfan, "Maaf kami hanya sedang ingin berdua saja," jawab Arfan tidak ingin ada penganggu diantara mereka.
"Yah...sayang sekali padahal aku ingin mentraktir kalian makan,"
"Mentari bolehkan kalau Kakak ikut?" Mona beralih kepada Mentari dengan tak tahu malunya padahal jelas-jelas Arfan sudah menolaknya tadi.
"Maaf Kak, aku ikut apa kata Kak Arfan saja," jawab Mentari sopan.
"Oh baiklah, kalau begitu lain kali ya!" ucap Mona yang sebenarnya merasa kecewa.
"Ayo kita pergi!" ajak Arfan kepada Mentari yang kemudian berlalu meninggalkan Mona di koridor tanpa berpamitan dengan wanita itu.
"Awas kalian, lihat saja akan aku buat kalian menyesal karena mengacuhkanku!" Mona menghentakkan kakinya kemudian memutar arah tujuannya, sebenarnya tadi Mona ingin ke kamar Mentari untuk sedikit mengganggunya.
Kini Arfan dan Mentari sudah sampai di alun-alun kota, mereka memutuskan untuk berjalan kaki karena memang jarak antara hotel dan alun-alun kota Dawet Ayu ini tidak terlalu jauh sehingga dapat ditempuh dengan berjalan kaki, suasana malam yang cerah penuh bintang-bintang semakin membuat suasana malam ini bertambah romantis.
"Ayo kita ke pusat kuliner Banjarnegara, bukankah kau lapar?" Arfan menggandeng tangan Mentari mengajaknya ke tempat yang dimaksud.
Pusat kuliner Banjarnegara berada tidak jauh dari alun-alun kota, tempat ini dapat kita temukan dari arah selatan alun-alun tepatnya di lampu merah sebelah selatan kita tinggal lurus ke arah timur dan hanya berjarak sekitar lima puluh meter kita akan menemukan tempat tersebut yang berada di kiri jalan jika kita berjalan dari barat, di tempat ini dapat ditemui berbagai macam makanan khas Banjarnegara dengan rasa yang dijamin tidak mengecewakan ditambah dengan harga yang terjangkau, jadi tempat ini cocok dijadikan sebagai tempat untuk mencicipi berbagai macam makanan dengan pilihan yang beragam.
Mentari memesan makanan yang dia inginkan sedangkan Arfan hanya memesan minuman saja karena dia tadi sudah makan malam di hotel.
Mereka kembali ke alun-alun untuk menikmati malam, suasana alun-alun cukup ramai karena banyak anak-anak dan orang dewasa yang sedang bermain disana.
Mentari mengambil beberapa foto mereka berdua di berbagai tempat, termasuk di patung Dawet Ayu yang merupakan simbol kota ini.
Kini mereka tengah duduk di bawah pohon beringin dengan disinari cahaya lampu yang terpasang diberbagai sudut alun-alun.
"Mentari kecil," panggil Arfan karena Mentari masih sibuk dengan ponselnya melihat foto-foto yang mereka ambil tadi.
"Iya Kak," jawab Mentari masih fokus menatap layar ponselnya.
"Besok mungkin akan seharian diadakan latihan, jika besok kamu bermain sendiri apakah tidak akan apa-apa?" ucap Arfan sedikit meragu jika harus membiarkan Mentari pergi sendirian.
"Kak...kamu tidak perlu terlalu mengkhawatirkan aku, fokus saja pada latihanmu Kak, aku akan baik-baik saja." Ucap Mentari mencoba meyakinkan Arfan.
"Aku bisa mengatasinya, jangan terlalu khawatir seperti itu. Bukankah aku gadis mandiri? Buktinya aku bisa sampai kesini tanpa tersesat," ucap Mentari membanggakan dirinya sendiri, sejurus kemudian Mentari teringat akan kejadian tadi sore antara dirinya dan Arfan.
Mentari tiba-tiba terdiam, "Kenapa diam?" Arfan menatap Mentari bingung.
"Ayo kita kembali ke hotel Kak, sudah larut." Mentari mengelak menjawab pertanyaan Arfan dengan mengalihkan pembicaraan.
Mereka kembali ke hotel dengan berjalan kaki, tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka hingga sampai di depan kamar mereka masing-masing. Mentari memasuki kamarnya, begitu pula Arfan. Ketika Mentari hendak merebahkan dirinya di ranjang setelah selesai membersihkan diri terdengar suara pintu di ketuk dari luar dengan sangat keras dan terdengar sangat tidak sabaran.
"Iya sebentar," ucap Mentari dari dalam kemudian bangkit untuk bergegas membuka pintu dan betapa terkejutnya Mentari karena ada Mona di depan kamarnya.
"Kak Mona, ada apa Kak?"
"Boleh aku masuk?" ucap Mona ketus.
Mentari mempersilahkan Mona masuk ke kamarnya, "Dimana...dimana dia?"
"Maksud Kakak siapa?" Mentari mengernyitkan dahinya karena tidak paham dengan apa yang Mona maksudkan.
"Arfan!"
"Kak Arfan ada di kamarnya Kak, salah tempat kalau Kakak mencarinya disini."
"Tidak mungkin kau pasti menyembunyikannya kan?"
"Ayo cepat katakan dimana Arfan!" Mona menyisir setiap sudut kamar Mentari hingga ke toilet dan lemari pakaian.
"Kak harus berapa kali lagi aku bilang, jika Kak Arfan ada di kamarnya."
"Jangan berbohong kamu Mentari, bukankah tadi kalian masuk bersama ke kamar ini?"
"Kami belum menjadi pasangan halal, jadi tidak mungkin jika kami satu kamar bersama."
"Sebaiknya Kakak keluar sekarang karena aku mau istirahat, jika ada perlu dengan Kak Arfan bisa langsung hubungi dia saja dan tanyakan dia ada dimana." Ucap Mentari mengusir Mona sekaligus memberikan saran.
"Kalau begitu kamu hubungi dia sekarang dan buktikan jika Arfan tidak ada di kamar ini."
"Baik siapa takut Kak,"
Mentari menghubungi Arfan dengan melakukan panggilan video, "Ada apa Mentari kecil, apakah sudah merindukanku?" ucap Arfan tanpa rem begitu dia menggeser tombol hijau di layar ponselnya. Hal ini sontak membuat hati Mona semakin panas sebab Arfan bisa bersikap lemah lembut terhadap Mentari, namun berbeda jika dengan dirinya Arfan terkesan sangat ketus dan dingin.
"Maaf Kak, aku hanya mau bertanya Kakak sekarang ada dimana soalnya ada yang ingin tahu keberadaan Kakak."
"Aku ada di kamar, akan melakukan video conference dengan cabang club di Spanyol."
"Siapa yang mencariku?" tanya Arfan kemudian.
Mentari mengarahkan layar ponselnya kepada Mona sehingga terlihatlah wajah Mona yang membuat Arfan muak.
"Sedang apa kau di dalam kamar Mentari?"
"Aku mencarimu, siapa tahu ada yang sengaja akan berbuat mesum disini."
"Jaga bicaramu Mona, kamu pikir kami tidak memiliki akhlak sampai harus melakukan hal-hal yang tidak bermoral seperti itu, hah?!"
"Aku hanya berjaga-jaga saja, sebagai penanggungjawab acara, aku tidak mau karena ulah kalian acara kita jadi berantakan!"
Mona memberikan kembali ponsel Mentari, merasa kesal karena dia tidak bisa menemukan bukti apapun terkait mereka berdua. Mona keluar dari kamar Mentari dengan membanting pintu yang membuat Mentari sampai berjingkat.
"Dia memang seperti itu, jangan terlalu diambil hati."
Mentari hanya mengangguk, 'Mereka mungkin sudah sangat akrab, sehingga Kak Arfan bisa berbicara seperti itu,' pikir Mentari.
"Kau istirhatlah, besok bermainlah sepuasmu!"
"Aku harus meeting sekarang dengan club,"
Panggilan disudahi dan Mentari menarik selimutnya untuk tidur. Namun, matanya enggan untuk terpejam.