
Arfan menerima informasi dari Siska yang memang tidak seberapa, pasalnya Siska juga tidak banyak memiliki informasi yang cukup mengenai hal yang sedang Arfan tanyakan kepadanya.
Arfan pamit undur diri kepada Siska, dia sangat lelah hari ini. Arfan memutuskan untuk kembali ke club, hati dan pikirannya benar-benar sedang tidak sinkron. Jika pulang ke rumah Nenek, maka pertanyaan yang sama seperti kemarin pasti akan dia dengar, Arfan merasa jika club adalah tempat ternyamannya saat ini untuk bersembunyi. Dalam perjalanan menuju club, Arfan bertemu dengan Arman yang sedang menunggu taksi.
Arfan memerintahkan supir taksi untuk menghampiri Arman, tanpa sadar Arman langsung masuk ke dalam taksi yang Arfan tumpangi begitu taksi itu berhenti.
"Arfan!" betapa terkejutnya Arman ketika melihat Arfan ada di dalam taksi yang sama dengannya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Arfan setelah taksi kembali melaju membawa mereka berdua.
Arman tampak ragu untuk menjawab pertanyaan Arfan, "Aku akan ke club Zaki."
Hening menghiasi keduanya, tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka sampai taksi sampai di depan club yang Zaki pimpin. Arfan memutuskan untuk mengantar Arman terlebih dahulu ke tempat tujuan yang dimaksud.
"Terimakasih Fan sudah mengantarku, kapan-kapan aku akan berkunjung ke tempat kamu," janji Arman kepada Arfan sebelum turun dari taksi.
"Aku akan tunggu kedatanganmu!" jawab Arfan.
Zaki yang melihat kedatangan Arman mendekat ke arahnya, "Arman akhirnya kau datang juga," Zaki memeluk Arman sebagai ucapan selamat datang.
Arman menyambut pelukan Zaki, "Ada Arfan di dalam taksi," bisik Arman di telinga Zaki.
Zaki melepaskan pelukan selamat datangnya, "Fan kau bisa mampir dulu, kebetulan kita sudah berkumpul, mari kita bicara sebagai seorang laki-laki."
Arfan tidak menjawab ajakan Zaki dan menyuruh supir taksi yang ditumpanginya untuk meninggalkan tempat itu.
Arman menepuk bahu Zaki, "percayalah suatu saat kita pasti akan berkumpul seperti dulu!"
"Kau benar Man, ayo kita masuk!"
Arfan memang sosok keras kepala yang tidak akan semudah itu merubah keputusannya, dia akan selalu pada pendiriannya. Sesulit apapun dia akan menghadapi semuanya meskipun sendirian.
Arfan kini sudah berada di club dan siap menuju ke ruangannya, "Bos akhirnya kau datang juga!" Dio menyambut kedatangan Arfan.
"Ada apa?"
"Beberapa hari yang lalu Kakak ipar datang kesini mencarimu bos!"
"Kau katakan apa padanya?"
"Aku hanya bilang jika kamu tidak ada disini bos,"
"Baiklah aku istirahat dulu, aku sangat lelah."
Arfan beranjak meninggalkan Dio, "Kakak ipar sepertinya keluar dengan menangis karena tidak bisa menemukanmu disini!" Dio menambahkan apa yang dilihatnya ketika Mentari datang dan berhasil membuat Arfan menghentikan langkahnya.
"Akan aku hubungi dia nanti!" Arfan meneruskan langkahnya menuju kamar.
Sementara itu, Mentari sedang berada di rumah sakit menemani Ilyas yang sedang menunggu ibunya di ruang operasi. Ibu Ilyas mengalami gagal jantung mendadak yang menyebabkan harus masuk ke ruang ICU, kini Ayah Mentari sedang menanganinya di ruang operasi berharap dapat menolong nyawa perempuan paruh baya itu dengan melakukan tindakan segera.
Ilyas mondar-mandir karena cemas, "Yas kau tenanglah, Ibumu pasti akan baik-baik saja!" Mentari mencoba menenangkan Ilyas.
"Dia satu-satunya keluarga yang aku miliki Tari, aku belum sanggup jika harus kehilangan Ibu."
"Yas...yakinlah jika Ibumu akan tertolong!"
"Mentari jika Ibuku pergi maka aku akan sendirian di dunia ini, berjanjilah kepadaku kamu adalah orang yang akan menemaniku menjalani hidupku ke depan, aku mohon Mentari,"
Mentari hendak menjawab pernyataan Ilyas berbarengan dengan lampu ruang operasi yang dipadamkan menandakan jika operasi sudah selesai. Mentari bangkit dari duduknya, menyongsong Ayahnya yang keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana Ayah, apakah operasinya berhasil?"
Ayah Mentari tersenyum, "Iya Mentari operasinya berhasil, tinggal menunggu pasien melewati masa kritisnya malam ini,"
"Terimakasih Ayah," Mentari memeluk Ayahnya.
Ilyas mendekati keduanya, "Terimakasih Om," ucap Ilyas.
"Sama-sama Nak, kamu pulanglah dulu. Besok baru kesini lagi!"
"Aku akan menemani Ibu disini," kekeh Ilyas.
"Akan ada perawat yang menjaga Ibumu, sebaiknya kamu pulang untuk beristirahat!"
Sesampainya di depan rumah, Mentari seperti melihat mobil Arfan terparkir tak jauh dari rumahnya. Mentari turun dari mobil Ayahnya dan meminta Ayahnya untuk masuk terlebih dahulu karena ada hal yang mau dia beli di minimarket yang tak jauh dari rumah, alasan Mentari kepada Ayahnya.
"Jangan lama-lama ya karena ini sudah malam!"
Mentari mengangguk, "Baik Ayah,"
Mentari keluar untuk memastikan jika di depan memang ada Arfan dengan mobilnya yang terparkir di dekat minimarket. Mentari merasa kecewa ketika mobil itu sudah tidak ada disana.
Mentari menendang-nendang kerikil jalanan untuk menetralisir rasanya, padahal di ujung jalan yang gelap orang yang dia cari sedang mengamati dirinya dari balik kemudi mobilnya, Arfan memperhatikan setiap pergerakan Mentari dari kejauhan, ingin rasanya dia berlari dan memeluk gadis itu. Namun, kata-kata Bu Kartika kembali menggema di pikirannya yang membuat Arfan berkali-kali harus mengurungkan niatnya.
Rasa rindu terhadap Mentari kecilnya sungguh membuncah, namun raganya tak mampu untuk sekedar mendekap gadis yang perlahan telah mencuri kehidupannya. Saat ini dia hanya bisa memandangi Mentarinya dari kejauhan, dingin hatinya kembali tertutup salju.
Mentari memutuskan untuk masuk ke minimarket membeli sesuatu untuk dibawa ke rumah agar tidak ada yang curiga kepadanya.
Arfan perlahan mengendarai mobilnya untuk memastikan jika gadis itu sudah masuk ke dalam rumahnya.
Keesokan paginya, Mentari berangkat ke kampus seperti biasa. Mengikuti mata kuliah dan menyelesaikannya dengan baik.
"Tari tunggu!" Siska memanggil Mentari yang hendak keluar dari kelas.
"Kau mau kemana?" Tanya Siska.
"Aku mau ke rumah sakit lagi Sis,"
"Kau sangat perduli dengan Ilyas rupanya," Siska menggoda sahabatnya itu.
"Bukankah dia teman kita?"
"Iya kau benar Tari, aku boleh ikut?"
"Tentu saja, ayo kita pergi!"
Siska dan Mentari tidak tahu jika Arfan berada di luar kelas mendengarkan obrolan mereka seperti mata-mata, saat ini Arfan hanya mampu menjadi bayang-bayang Mentari. Mengawasinya dari jauh, kemudian bersembunyi ketika mendengar langkah kaki keluar menuju ke pintu keluar.
"Eh iya Tar, kemarin aku melihat Pak Arfan!"
"Benarkah, dimana Sis?" Mentari antusias.
Siska menceritakan semuanya kepada Mentari, "Kenapa dia tidak mencariku, bukankah dia sudah kembali!" Mentari membatin.
"Sis kita pulang saja ke asrama ya, aku mendadak tidak enak badan."
"Bukankah kita akan ke rumah sakit?"
"Besok saja kita kesananya Sis,"
Mentari merebahkan dirinya di ranjang, gadis itu berkali-kali memeriksa ponselnya apakah Arfan menghubunginya. Mentari juga mencoba mengirimkan pesan dan menelfon nomor Arfan tapi tetap nihil tidak bisa tersambung.
"Kamu jahat!" ucap pelan Mentari.
Arfan sekarang sedang berada tidak jauh dari asrama Mentari, memandang dari kejauhan aktivitas di kamar Mentari. Terlihat Siska mondar mandir tetapi Mentari tidak terlihat sama sekali.
Siska merasa panik karena Mentari benar-benar sedang tidak enak badan, suhu tubuhnya terus naik. Siska sudah berusaha mengkompresnya dengan air hangat, namun hingga malam panasnya tidak mau turun bahkan Mentari terus memejamkan matanya.
Siska mencoba mencari bantuan untuk bisa membawa Mentari ke rumah sakit, dia berkali-kali mencoba menghubungi orangtua Mentari namun tidak tersambung. Arfan masih berada di luar asrama. Dia hanya ingin melihat Mentari kecilnya sebelum pergi meskipun dari kejauhan.
Sekian lama Siska tidak berhasil memperoleh taksi bahkan via online pun dia tidak berhasil mendapatkannya, jika menunggu hingga esok Siska khawatir jika Mentari akan kenapa-kenapa. Di seberang jalan, Siska melihat ada mobil terparkir, dia memberanikan diri untuk mendekatinya untuk meminta bantuan. Siska mengetuk kaca samping kiri mobil.
"Permisi, bolehkah saya meminta tolong?"
Arfan yang melihat jika itu Siska sahabat Mentari yang mengetuk kaca mobilnya dengan wajah panik, kemudian menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Ada apa Siska?"
"Pak Arfan kebetulan sekali Bapak ada disini, Mentari demam dan saya tidak berhasil memperoleh taksi untuk membawanya ke rumah sakit!" terang Siska.
Tanpa berpikir lagi Arfan turun dari mobilnya dan masuk ke asrama, hal ini mudah dia lakukan dengan identitasnya sebagai dosen.
Arfan masuk ke dalam kamar Mentari, meraih tubuh Mentari dan menggendongnya keluar asrama.