
Sania menerabas masuk ruang perawatan, dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Steven.
"Stev...," Sania mengusap kepala Steven, memeluk dan menciumi anak itu tanpa henti.
"Maafkan mama sayang, kalau mama ada salah sama Stev, mama minta maaf tapi mama mohon Stev tidak boleh kabur lagi dari rumah."
"Maafkan Stev ya ma, sudah membuat mama khawatir. Mama pasti menangis hingga mata mama bengkak karena kehilangan Stev."
"Mama tidak apa-apa sayang, mama rela jika harus menangis sepanjang hari pun yang terpenting bagi mama adalah kamu dan mama bisa sama-sama terus."
"Jangan pergi lagi dari mama sayang!"
Steven mengangguk dan memeluk Sania erat, dia sadar apa yang dilakukannya merupakan hal yang salah dan membuat orang yang paling di sayanginya jadi bersedih.
Tomi menyaksikan ibu dan anak itu saling mengungkapkan rasa, dia tahu Steven bukan anak kandungnya tapi rasa sayangnya pada Steven melebihi cintanya pada dirinya sendiri.
"Stev papa juga minta maaf kalau papa ada salah sama Stev ya."
"Papa Tomi adalah papa terbaik bagi Stev dan Stev tidak mau papa yang lain," ucap jujur Steven kepada Tomi.
Steven memang kecewa karena sempat mendengar bahwa dirinya adalah anak dari Sania dan Zaki. Dia marah kepada mamanya kenapa menghianati papa Tomi padahal papa Tomi sangat baik terhadap mereka.
Sebenarnya hal ini merupakan sebuah kesalahpahaman, anak itu tidak tahu menahu jika Zaki memang ayah kandungnya. Pikiran Steven justru sebaliknya, dia menyalahkan Sania karena mengira jika Sania telah menghianati Tomi.
Mentari dan Siska masih tertidur lelap di sofa, mereka mungkin sangat lelah hingga tidak tahu kedatangan Sania dan Tomi di kamar rawat Steven.
"Biarkan saja Fan, mereka kelihatannya sangat lelah." Cegah Sania ketika Arfan hendak membangunkan Mentari.
"Sepertinya iya Sa, mereka tidur selepas subuh tadi."
"Kamu sendiri bagaimana Fan, kamu pasti belum tidur sama sekali bukan?" Tomi sangat paham jika Arfan belum beristirahat sama sekali sejak sampai di club dan harus ikut mencari Steven.
"Jangan khawatirkan aku Tom, bukankah kita sudah terbiasa seperti ini?"
"Terimakasih Fan, kami selalu saja merepotkanmu!"
"Sudahlah Tom, jangan sungkan begitu. Bukankah kita satu keluarga, sudah sepantasnya kita saling membantu satu sama lain."
Arfan masih menunggu Mentari dan Siska terbangun dari tidur mereka, hingga jam sepuluh pagi mereka belum juga bangun. Mereka hari ini membolos tidak masuk kuliah karena sangat lelah.
Setelah sekian lama, perlahan Mentari menggercap-gercapkan matanya, samar-samar dia melihat sosok Sania dan Tomi ada di sebelah ranjang Steven.
"Amboy anak gadis siapa ini, matahari sudah tinggi belum bangun juga!" Arfan menggoda Mentari yang begitu sadar dari tidurnya langsung merubah posisi tubuhnya dari berbaring menjadi duduk, matanya melebar karena kaget sudah ada orang lain di kamar Steven.
Mentari langsung lari ke kamar mandi karena malu mereka melihat muka bantalnya. Dia sampai lupa tidak membangunkan Siska yang masih terlelap.
Kini Arfan dan Mentari sedang dalam perjalanan pulang ke club setelah mengantarkan Siska pulang ke asrama. Muka Arfan tampak sangat kusut, tubuhnya sepertinya sangat lelah.
"Kak apa tidak sebaiknya kita berhenti saja dulu, sepertinya kakak sangat lelah. Istirahat dulu sebentar kak." Usul Mentari saat mereka baru beberapa meter keluar dari area asrama universitas Z.
Arfan yang paham akan kekhawatiran Mentari, akhirnya mencari tempat di dekat kampus untuk bisa memarkirkan mobilnya sebab jika dipaksakan bisa saja terjadi hal yang tidak mereka inginkan. Arfan memang merasa kurang fit, tubuhnya tidak istirahat sama sekali sejak kemarin.
"Aku akan memesan taksi untuk kita pulang!"
Mereka memutuskan pulang dengan naik taksi online saja agar lebih nyaman dan tidak khawatir terjadi sesuatu di jalan.
Tidak seberapa lama, taksi yang mereka pesan tiba. Arfan duduk dengan menyandarkan kepalanya di bahu Mentari. Sebentar saja laki-laki itu sudah terlelap.
"Nona sepertinya tuan sangat lelah!" supir taksi online itu mencoba membuka pembicaraan dengan Mentari dengan tetap fokus menyetir.
"Iya paman, kami sangat lelah dan tidak mungkin melanjutkan perjalanan dengan berkendara sendiri."
"Sebaiknya seperti itu nona agar tidak membahayakan pengendara lain di jalan."
Mereka sampai di depan club, Mentari mencoba membangunkan Arfan.
"Aku masih ngantuk Mentari,"
"Ayo kita pindah ke kamar kak!"
Mentari memapah Arfan masuk ke dalam club setelah melakukan pembayaran dan menyematkan bintang pada aplikasi untuk supir taksi yang baru saja mengantarkan mereka.
Mentari membaringkan Arfan di atas ranjang besar milik pemuda itu. Mentari bergegas meninggalkan kamar Arfan, namun Arfan menarik lengannya hingga dia terjatuh di atas tubuh Arfan.
"Kak...,"
"Tetaplah disini, temani aku tidur!" Arfan memeluk tubuh Mentari dan tidak mau melepaskan gadis itu.
Arfan terlelap dalam sekejap, Mentari ingin meloloskan diri namun dia tidak bisa ke luar dari kungkungan lengan Arfan.
Lelah mencoba kabur, akhirnya Mentari ikut terlelap di samping Arfan. Dia juga masih mengantuk sebab tidur di sofa malah membuat tubuhnya terasa pegal-pegal.
Di rumah sakit, Steven sangat bahagia karena bisa melihat papa dan mamanya bisa tersenyum kembali. Dia tidak bisa membayangkan jika terjadi apa-apa dengannya saat kabur semalam sudah pasti papa dan mamanya akan murung setiap hari karena merasa bersalah.
Zaki datang menjenguk Steven, dia membawakan makanan kesukaan Steven.
"Hai Stev, apakah kau baik-baik saja?" Zaki mendekati Steven setelah disilakan oleh Tomi dan Sania.
"Aku baik-baik saja om,"
"Kamu tahu Stev, semalam om sangat khawatir dengan keadaan kamu."
"Om baik boleh Stev meminta sebuah permintaan?"
"Katakan saja sayang, om pasti akan berusaha mengabulkannya untuk Stev."
"Katakanlah Stev, apa mau kamu sayang?"
Steven menarik nafasnya, "Om Stev mohon jangan ganggu mama ya, mama itu sudah punya papa jadi om tidak boleh merebut mama dari papa. Om masih mau jadi teman Stev kan?"
Zaki serasa tersambar petir ribuan voltase, dia tidak pernah menyangka Steven akan mengatakan permintaan seperti itu kepadanya.
Zaki tersenyum kecut, "Stev sayang, om tidak pernah sekalipun mengganggu mama kamu, om dan mama itu hanya berteman sayang."
"Tidak om... Aku dengar sendiri jika om meminta mama untuk memberikan kesempatan pada om, mana boleh begitu om. Kasihan papa Tomi kalau om pergi sama mama."
"Apa ini alasan kamu kabur dari rumah sayang?"
Steven mengangguk, "Aku mengira jika mama sudah menghianati papa, makanya aku marah sama mama!" jawab polos Steven yang membuat hati Zaki semakin teriris.
"Kamu percaya sama om ya sayang, om tidak akan pernah mereput mama Stev dari papa."
Zaki ke luar dari kamar rawat Steven dengan perasaan remuk, tidak ada lagi harapannya untuk memiliki mereka kembali.
Kekejamannya di masa lalu ternyata membuat anak yang bahkan tidak tahu apa-apa merasa bahwa dirinya akan merebut apa yang sebenarnya menjadi haknya.
Arfan dan Mentari masih tertidur hingga malam menjelang, suara dering telfon di ponsel Arfan membuat keduanya terkesiap.
Arfan mengangkat panggilan itu tanpa melihat id penelfon terlebih dahulu.
"Hallo...," sapa Arfan.
"Arfan kemana saja kamu nak, sudah jam berapa ini kenapa kamu belum menjemput nenek, bukankah kita ada janji makan malam?"
Arfan terduduk, dia hampir saja melupakan janji yang sudah dibuatnya sendiri andai saja nenek tidak menelfonnya.
"Hampir saja aku melewatkannya...," sesal Arfan.