My Old Star

My Old Star
#130 Kembalinya Ilyas



Arfan dengan berlinang air mata mendorong brankar dimana saat ini Mentari terbaring tidak berdaya di atasnya.


"Mentari aku mohon bertahanlah, aku tidak mau kehilangan kamu dan calon bayi kita."


Ibu Ilyas menatap Arfan dengan iba, dia berjuang menyelamatkan dirinya namun Mentari harus menjadi korban atas kejahatan Mona dan Bram.


Mereka tiba di depan instalasi gawat darurat, "Kami mohon Anda bisa menunggu di luar terlebih dahulu, dokter akan menangani istri Anda di dalam." Perawat menutup ruang IGD dan tidak memperbolehkan siapapun masuk ke dalam.


"Aku mohon selamatkan istri saya sus," pinta Arfan kepada perawat yang membawa Mentari masuk ke dalam.


"Kami akan mengusahakan yang terbaik!"


Pintu IGD tertutup rapat, Arfan hanya bisa berdo'a semoga istri dan calon bayinya baik-baik saja.


"Nak duduklah dulu, Ibu yakin Mentari akan baik-baik saja. Kalian orang baik, Malaikat tentu tidak akan terima jika kalian harus menerima kejahatan dari orang lain terus-menerus."


"Bu maafkan aku yang belum bisa menjaga Ibu dengan baik selama bersama kami."


"Jangan berkata begitu Nak, kalian sudah memberiku banyak hal yang terbaik. Ibu yang seharusnya meminta maaf kepada kalian, karena perbuatan Ilyas harus membawa kalian ke dalam masalah sejauh ini."


"Kami merasa bahagia bisa membantu Ibu dan Ilyas."


Disaat bersamaan, dokter dan perawat keluar dari ruangan dimana Mentari tengah dilakukan penanganan untuk menyelamatkannya.


"Apakah Anda suami dari Nona Mentari?"


"Iya dok, saya suaminya."


"Bagaimana dengan kondisi istri saya dok?"


"Anda tidak perlu cemas, Nona Mentari tidak mendapatkan luka yang serius, dia hanya perlu banyak beristirahat."


"Lalu bagaimana dengan calon bayi kami dok?"


"Calon bayi Anda sangat kuat, jadi dia juga baik-baik saja di dalam kandungan Ibunya. Mungkin dia sempat sedikit terguncang karena adanya benturan tapi dia tidak apa-apa."


"Terimakasih dok karena telah membantu menyelamatkan istri dan calon bayi saya."


"Itu sudah menjadi kewajiban kami, sebentar lagi istri Anda akan dipindahkan ke ruang perawatan jadi jaga dia dengan baik."


"Kami permisi dulu!"


"Baik dok sekali lagi terimakasih."


Dokter itu mengangguk kepada Arfan kemudian meninggalkan Arfan dan Ibu Ilyas yang masih berdiri di depan pintu ruang IGD.


"Ibu sangat bersyukur Mentari dan calon bayi kalian baik-baik saja."


"Iya Bu, aku juga sangat bersyukur." Ucap Arfan dan disaat bersamaan seorang perawat keluar membawa Mentari untuk dipindahkan ke ruang perawatan.


Arfan mengikuti perawat itu hingga Mentari masuk ke dalam ruang rawat.


Mentari telah siuman, dia memandang Arfan dengan sayu. Wajah pucatnya membuat Arfan merasa sedih sebab dia yang paling tegar dan terus tersenyum disaat upaya menyelamatkan Ibu Ilyas, namun pada akhirnya dia yang terluka dan harus mendapatkan perawatan.


Arfan duduk di samping ranjang rawat Mentari dan terus menggenggam tangan istrinya itu.


"Kak sebaiknya kamu istirahat, jangan khawatirkan aku karena aku baik-baik saja."


"Aku tidak mau jauh-jauh dari kamu sayang, aku akan menjagamu di sini."


"Kak apa tidak sebaiknya Ibu kembali ke club?"


"Nanti aku akan bicara pada Ibu," jawab Arfan.


"Sebentar lagi Arman dan Siska sampai di sini, aku akan meminta mereka mengantarkan Ibu."


"Kau istirahatlah Mentari sayang, kau harus segera pulih karena tesis kamu telah menunggu untuk dikerjakan. Aku juga akan membawa anak-anak ke pertandingan di tingkat Asia, jadi kita harus bekerja keras dan itu semua membutuhkan tubuh yang sehat."


"Aku mengerti Kak!" jawab Mentari dan disaat itulah, Arman, Zaki, Siska dan Marryana masuk ke dalam ruang rawat Mentari.


Siska berlari menyongsong sahabatnya yang terbaring lemah, "Mentari aku sangat mengkhawatirkan kamu." Siska memeluk Mentari.


"Aku baik-baik saja Sis, aku akan segera berdiri kembali dengan kuat dan kita akan lulus bersama Sis."


Siska mengangguk, "Aku akan menantikan hari itu tiba Mentari sayang."


"Man bagaimana dengan Mona dan Bram, apakah kalian sudah membereskannya?"


"Aku sudah membawanya ke kantor polisi, aku juga sudah menyerahkan barang bukti itu kepada polisi dan aku yakin wanita itu tidak akan lepas dari jeratan hukum."


"Apakah Ilyas bisa dibebaskan?"


"Kemungkinan besar bisa Fan karena dia sebenarnya tidak bersalah."


"Baiklah aku lega mendengarnya Man."


"Za dan kamu An, terimakasih atas bantuan kalian. Aku banyak berhutang budi pada kalian."


"Tidak perlu sungkan Fan, kami yang seharusnya berterimakasih." Mereka berdua tersenyum malu-malu yang membuat semuanya merasa curiga dan yang paling ngeh disini adalah Arfan sebab dia tahu jika Marryana dan Zaki kini telah menjadi sepasang kekasih yang akan segera menikah.


Wajah Marryana bersemu merah karena tidak menyangka jika Arfan mengetahuinya.


"Man aku minta tolong antarkan Ibu ke club ya, beliau harus segera beristirahat karena pasti sangat lelah."


"Nak Arfan, Ibu akan menjaga Mentari di sini jadi aku tidak akan pulang malam ini." Tolak Ibu Ilyas, dia masih ingin menjaga Mentari yang telah dia anggap sebagai putrinya sendiri.


"Bu besok datanglah lagi kemari dengan membawakan bajuku dan Mentari, tapi malam ini Ibu pulang dulu untuk beristirahat ya Bu. Aku tidak mau jika Ibu sampai sakit, sebab Ilyas akan segera berkumpul kembali di tengah-tengah kita jadi Ibu harus sehat agar Ilyas juga merasa bahagia bertemu denganmu Bu." Arfan mencoba membujuk Ibu Ilyas agar mau pulang terlebih dahulu dan pada akhirnya beliau mau pulang ke club bersama Arman dan Siska.


Kini tinggalah Arfan dan Mentari di dalam ruang rawat, "Mentari sayang, terimakasih." Arfan memeluk Mentari dan terlelap bersama.


Keesokan harinya, Ayah dan Ibu Mentari yang mendengar jika putrinya dirawat di rumah sakit datang untuk menjenguk karena mereka ingin mengetahui keadaan Mentari secara langsung. Tidak ketinggalan Nenek Wijaya dan Kakek Mahmud juga datang untuk menjenguk Mentari.


Suasana riuh rendah terdengar di dalam ruang rawat Mentari. Mereka yang melihat kondisi Mentari yang sudah berangsur membaik merasa sangat lega.


"Nenek berharap kau bisa cepat pulang ke rumah sayang."


"Iya Nek, do'akan aku semoga bisa cepat pulang ya."


"Tentu Nak, do'a Nenek selalu menyertai kalian."


"Terimakasih Nek," Mentari memeluk Nenek Wijaya.


Tiga hari kemudian, Mentari diperbolehkan pulang oleh dokter. Namun, disarankan agar jangan melakukan pekerjaan berat terlebih dahulu.


"Selamat datang kembali di rumah kita sayang," ucap Arfan begitu membukakan pintu rumah mereka yang sudah sangat lama mereka tinggalkan.


"Aku merindukan rumah ini Kak, rasanya sudah lama sekali kita meninggalkannya."


"Kau benar sayang, kita akan hangatkan kembali rumah ini. Apalagi rumah ini nantinya akan penuh dengan canda tawa anak-anak kita. Apakah kamu siap untuk memberiku banyak anak sayang?" Arfan menggoda istrinya.


Wajah Mentari memerah mendengar ucapan Arfan, "Kak Arfan membuatku malu, satu saja belum lahir masa mau nambah lagi sih kak?"


"Setelah anak pertama kita lahir, kita akan segera memberikan adik untuknya. Bagaimana?"


"Lihat nanti saja ya Kak, dah ah jangan bahas lagi karena aku jadi panas Kak!"


Mentari berlalu menuju ke kamarnya, dia ingin segera membersihkan dirinya kemudian beristirahat.


Malam harinya Arman, Zaki, Siska dan Marryana datang ke rumah Arfan yang disusul oleh Tomi, Sania dan Steven. Tidak ketinggalan anak-anak asuh Arfan di club juga datang untuk menjenguk Kakak Ipar mereka. Suasana rumah malam ini sangat ramai, semua merasa bahagia karena Mentari telah sehat kembali.


Di tengah-tengah kebahagiaan mereka, muncul Ilyas yang datang bersama Ibunya.


Mentari melihat sosok Ilyas di tengah ramainya anak-anak. Dia berlari ke arah pemuda itu kemudian memeluknya.


"Ilyas... Benarkah ini Ilyas, kau sudah kembali?"


Ilyas membalas pelukan Mentari, "Iya Mentari, aku Ilyas, kini aku sudah bisa kembali menghirup udara luar dengan bebas Mentari."


Mentari mengurai pelukannya, "Aku sangat bahagia melihatmu ada di tengah-tengah kami kembali."


"Maafkan aku Mentari karena di masa lalu aku sudah berbuat kurang ajar terhadapmu."


"Sudahlah Yas, lupakan saja semua itu. Kita buka lembaran baru persahabatan kita ya Yas."


Ilyas mengangguk dan tersenyum kepada Mentari, dia kemudian berjalan ke arah Arfan yang menyaksikan pemamdangan saat Mentari memeluk Ilyas dari kejauhan.


"Pak Arfan terimakasih karena Bapak telah menjaga Ibuku dengan sangat baik. Maafkan aku karena sempat meragukan ketulusan Bapak."


"Sama-sama Yas, aku senang kau telah bebas. Kau pantas mendapatkannya karena kau memang tidak bersalah."


"Terimakasih Pak, aku banyak berhutang budi kepada Bapak. Suatu saat akan aku balas kebaikan Bapak kepadaku dan Ibu."


"Cukup dengan kau menjaga Ibumu dengan baik, itu sudah membalas budi kepadaku Yas. Kau tahu keberadaan Ibumu membuatku merasa memiliki seorang Ibu, karena aku sejak kecil tidak merasakan kasih sayang dari Ibuku sendiri."


"Terimakasih Pak, kalau begitu aku pamit untuk membawa Ibuku pergi."


"Kalian mau kemana Yas?"


Ilyas menggeleng, dia memang tidak tahu harus memabawa Ibunya kemana. Di saat keraguan itu, Arfan menepuk pundak Ilyas.


"Tinggalah di club!"


"Bantu aku menjaga anak-anak, sebab kau juga diperbolehkan kembali ke kampus untuk menyelesaikan kuliahmu hingga selesai."


"Benarkah itu Pak?" Hati Ilyas serasa tersiram air dingin, paling tidak dia kembali memiliki harapan untuk mewujudkan cita-citanya.


"Ini surat dari pihak kampus, bacalah!"


Ilyas membuka surat itu dan membaca isinya, dia kemudian bersujud sebagai ungkapan rasa syukurnya kepada sang Maha Pencipta yang telah mempermudah jalannya dengan mempertemukan dirinya dengan orang-orang baik seperti Arfan dan Mentari.


"Aku tidak tahu harus berterimakasih dengan cara apa lagi kepada Bapak!"


"Dengan cara yang sudah aku katakan kepadamu tadi Yas!" jawab Arfan.


Ilyas memeluk Arfan dan dia sesenggukan di bahu Arfan.