My Old Star

My Old Star
#52 Bantal Guling



Arfan terdiam melihat kedatangan Mentari, sepersekian detik Arfan tidak tahu harus berkata apa pada gadis itu sedangkan kini dia berada di kamar Mentari.


"Mentari aku bisa jelaskan semua ini,"


"Bukankah kau datang untuk mencariku?"


"Tadi ibu bilang kau datang untuk mengambil barangku, tapi aku tidak mempercayai hal itu. Bahkan aku sendiri dibuat bingung dengan sikapmu hari ini." Ucap Mentari to the point, Mentari sangat lelah hari ini karena hatinya tidak menentu.


"Maafkan aku Mentari, aku yang bersalah tidak seharusnya aku bersikap begitu kepadamu." Arfan meraih tubuh Mentari dan memeluknya, meskipun Mentari hanya diam saja tidak merespon.


"Kak aku tidak pernah bermaksud menolakmu, aku hanya gugup tapi kau tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskannya. Kau membuatku gelisah seharian ini!" Mentari mulai terisak di dada Arfan.


"Maafkan aku Mentari...," Arfan menyesali sikapnya yang tidak memikirkan perasaan Mentari.


"Aku janji tidak akan pernah mengulanginya lagi Mentari sayang, sekarang hapus air matamu karena kamu harus bahagia, jangan pernah bersedih lagi karena aku!"


"Kemana kau pergi seharian ini Mentari, aku sangat cemas!" Arfan mengusap lembut rambut Mentari, kali ini Mentari sudah mulai mau merespon sentuhan Arfan.


"Aku ke rumah nenek bersama Siska!"


"Apa nenek mengetahui hal ini?" Arfan sangat khawatir jika neneknya sampai mengetahui jika hari ini dia membiarkan Mentari bersedih karena sudah dipastikan dia akan terkena amarah nenek.


Mentari menggeleng, "Aku mengatakan pada nenek jika kau sangat sibuk jadi tidak bisa ke rumah nenek bersama."


Arfan mengeratkan pelukannya, "Terimakasih Mentari."


Orangtua Mentari rupanya sudah lama berdiri di ambang pintu kamar putrinya, mereka menyaksikan sendiri bahwa Arfan benar-benar menyayangi putri mereka dengan tulus, begitu juga dengan Mentari yang tampak sangat mencintai Arfan. Tampak dari cara mereka berkomunikasi, meskipun terpaut usia yang cukup jauh namun ternyata mereka dapat saling memahami dengan sangat baik. Bu Kartika sampai menitikkan air mata sebab dia orang yang sangat kekeh ingin memisahkan keduanya.


"Ayo kita turun bu, tidak enak jika mereka sampai melihat kita di sini."


Bu Kartika mengikuti langkah suaminya, "Ayah apa tidak sebaiknya kita nikahkan mereka saja, aku yakin Arfan bisa melindungi putri kita dengan baik." Bu Kartika memberikan usul kepada suaminya.


"Kita bicarakan dengan nenek Wijaya dulu bu, ayah khawatir jika ini terkesan terlalu buru-buru."


"Bagaimana kalau kita undang saja mereka untuk makan malam, sekalian kita bicarakan maksud kita."


"Kalau begitu aku setuju saja bu, aturlah bagaimana baiknya."


Ayah dan ibu Mentari terus berbincang di ruang keluarga, sedangkan Arfan dan Mentari baru saja ke luar dari kamar berniat untuk pamit karena hari sudah malam.


"Ayah, ibu aku pamit dulu ya!" Mentari memeluk ibunya yang sedang bersantai.


"Kamu tidak tidur di rumah sayang?"


"Aku ada tugas yang harus diselesaikan malam ini dan sudah aku kerjakan sebagian tapi tertinggal di club kak Arfan bu."


"Oh ya sudah tidak apa-apa, tapi ingat pesan ibu kalian jangan sampai melampaui batas!"


"Ibu tidak usah khawatir karena kak Arfan sangat menghormatiku bu sebagai seorang perempuan."


"Baguslah kalau seperti itu, ibu merasa lega mendengarnya. Tapi kalian bukankah tidak bisa seperti ini terus, selalu bersama tapi tanpa ikatan yang sah. Lama-lama akan terkesan tidak baik, sekalipun kalian tidak melakukan hal-hal yang tidak benar." Bu Kartika sedikit memberikan pancingan kepada mereka berdua untuk mengetahui sebenarnya sejauh mana keseriusan keduanya.


Mentari memandang ke arah Arfan, kini mereka tengah duduk bersama karena urung berpamitan.


"Om, tante sebelumnya maafkan aku yang tidak segera memperjelas hubungan kami padahal om dan tante sudah memberikan restu kepada kami." Arfan menjeda ucapannya dengan menghela nafas berat.


"Aku memang berniat segera melamar Mentari dan kami bisa segera menikah, hanya saja aku sangat khawatir jika masalah Ilyas justru diperpanjang dan aku harus meninggalkan Mentari untuk sementara waktu. Aku tidak bisa memberikan status kepada Mentari sebagai istri seorang narapidana," lanjutnya.


"Maksud kamu Fan?" Pak Mahendra tidak paham dengan maksud Arfan.


"Kak Arfan dilaporkan oleh pihak Ilyas atas tuduhan pemukulan yang dia lakukan terhadap Ilyas malam itu."


"Apakah itu benar Fan?"


"Kenapa anak itu jadi tidak tahu terimakasih begini," bu Kartika merasa marah dengan Ilyas yang sudah banyak mereka bantu.


"Om dan tante jangan pernah membenci Ilyas sebab sepertinya dia hanya boneka, kita masih harus mencari tahu siapa orang di balik semua kejadian ini."


Arfan menceritakan semuanya kepada orangtua Mentari, kemudian mengajukan sebuah permintaan kepada mereka untuk membantu apa yang sedang dicarinya.


"Kami siap membantumu Fan,"


"Terimakasih om, tante."


Arfan dan Mentari pamit untuk kembali ke club setelah makan malam, orangtua Mentari juga tidak jadi menyampaikan keinginan mereka untuk mengundang nenek Wijaya makan malam bersama, untuk sementara waktu mereka menundanya sampai masalah Arfan dengan Ilyas selesai.


Mereka berdua sampai di club, "Mentari setelah kau menyelesaikan tugasmu bisakah ke kamarku sebentar?"


Mentari menyipitkan matanya, merasa curiga dengan permintaan Arfan.


"Tidak usah berpikir macam-macam, aku hanya ingin menanyakan soal ini!" Arfan mengambil kamera yang dia temukan di kamar Mentari dari saku celananya dan memperlihatkannya kepada Mentari.


"Baiklah aku akan datang nanti, tapi jika aku tidak datang itu artinya tugasku masih banyak dan tidak bisa ditunda lagi penyelesainnya."


"Tidak masalah!" Arfan berlalu pergi dari hadapan Mentari dan masuk ke dalam kamarnya.


Arfan menunggu Mentari di kamar hingga larut malam, namun gadis itu tidak kunjung datang ke kamarnya. Dia ingin menelfon Mentari tetapi khawatir jika malah mengganggunya.


Arfan memutuskan ke luar dari kamar dan menemui Mentari di kamarnya, rasanya Arfan sudah tidak sabar mengetahui apakah ada rekaman yang bisa dia lihat dan analisis dari kamera itu, beruntung gadis itu tidak mengunci pintu kamarnya sehingga dia bisa masuk tanpa harus mencari kunci cadangan padahal biasanya Mentari tidak akan pernah membiarkan pintu kamarnya tidak dikunci jika dia ada di dalam kamar.


Baginya kamar adalah sebuah privacy dan tidak boleh sembarangan orang bisa masuk ke dalamnya.


Arfan melihat Mentari yang ternyata sudah tertidur dalam posisi duduk di atas meja belajarnya, buku-bukunya masih terbuka dan dijadikan bantal olehnya.


Arfan bersedekap dan menggelengkan kepalanya sambil menggerutu, "Aku tunggu sampai pagipun tidak akan datang, orang kamunya malah tidur!"


Arfan perlahan menutup buku-buku Mentari yang masih terbuka, kemudian menatanya di atas meja.


Arfan mengangkat tubuh Mentari untuk dia baringkan di ranjang karena jika sampai pagi dalam kondisi tidur terduduk akan pegal-pegal semua tubuhnya.


Arfan tanpa sengaja tersandung kaki dipan saat hendak melangkah ke luar dari kamar Mentari yang menyebabkannya terjatuh hampir menimpa tubuh Mentari, beruntung dia terjatuh tepat di sebelah Mentari jika tidak bisa saja Mentari terbangun dan mencurigainya akan berbuat kurang ajar.


Arfan hendak bangkit dari ranjang, namun Mentari berbalik dan memeluknya seperti bantal guling. Arfan terjebak dan tidak bisa berkutik, dia berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Mentari namun tidak bisa. Dia juga tidak ingin membut Mentari terusik.


Lelah mencoba pada akhirnya Arfan ikut terlelap bersama Mentari.


Sebelum subuh Mentari terbangun karena teringat tugasnya yang belum dia selesaikan, Mentari merasakan sesuatu yang berat ada di atas perutnya, Mentari mencoba menggercap-gercapkan matanya untuk melihat apa yang ada di atas perutnya sehingga terasa berat.


Posisi kini telah berubah, jika semalam Arfan yang dipeluk oleh Mentari pagi ini justru Arfan yang memeluk Mentari seperti bantal guling.


Mentari melihat jika Arfan ada di sampingnya dan memeluk tubuhnya sangat erat. Mentari ingin berteriak tapi akal sehatnya bisa berjalan dengan baik, dia tidak ingin menggemparkan seisi club di pagi buta seperti ini. Namun, dia juga khawatir jika ada yang berpikir yang tidak-tidak karena tahu mereka berdua tidur bersama, bahkan kenapa semua itu bisa terjadi Mentari tidak mengingatnya sama sekali, sebab yang dia ingat dirinya tertidur di kursi saat mengerjakan tugas dan anehnya kini dia sudah berada di atas ranjang.


"Bagaimana aku bisa menjelaskan jika ada yang melihat semua ini!" pikirnya.


Mentari perlahan membangunkan Arfan, "Kak bangun sudah pagi!"


Arfan terlonjak kaget karena melihat Mentari ada di bawah pelukannya, "Kenapa kau ada di sini Mentari?"


"Stttt... kecilkan suaramu kak, jika tidak ingin orang lain mendengarnya."


Arfan mengingat-ingat kejadian semalam, "Oh ya ampun, aku harus segera ke luar dari sini sebelum anak-anak bangun."


Arfan bergegas ke luar dari kamar Mentari, setelah melihat kondisi di luar aman Arfan ke luar dengan perlahan. Namun, tanpa disadarinya ada seseorang di belakang yang mengagetkannya.


"Fan...," orang itu menepuk pundak Arfan.