
Arfan mencium kening Mentari penuh haru, dia merasa telah mewujudkan keinginan neneknya yang ingin sekali memiliki cicit darinya. Arfan tak kuasa menitikkan air mata bahagianya.
"Terimkasih Mentari, terimakasih sayang!" Arfan menciumi tangan Mentari.
Mentari tersenyum melihat suaminya yang begitu bahagia, "Aku akan menjagamu dan anak kita dengan baik sayang." Janji Arfan kepada Mentari.
Dokter Sandra mempersilakan Arfan dan Mentari untuk duduk kembali di depan meja kerjanya.
"Selamat nona Mentari, anda akan segera menjadi bunda. Saya harap anda bisa menjaga janin yang ada di dalam kandungan anda dengan baik. Jangan lupa untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi, jaga kesehatan dan kebersihan serta jangan lupa diminum vitaminnya. Ingat jangan sampai stres karena akan sangat berpengaruh pada janin anda!"
Mentari mengangguk, "Saya mengerti dok!"
"Bagus... calon bunda yang satu ini benar-benar cerdas dan untuk calon ayah jaga mood istri anda agar selalu baik agar dia tidak stres karena lama kelamaan akan terjadi perubahan fisik yang cukup signifikan, jadi tolong jaga mereka dengan baik ya."
"Baik dok!" jawab Arfan.
Arfan membawa Mentari ke luar dari ruangan dokter Sandra. Mereka disambut oleh Siska yang menunggu dengan cemas di luar.
"Mentari kamu tidak apa-apa?" Siska menyongsong Mentari begitu melihatnya ke luar dari ruangan dokter.
"Aku baik-baik saja Sis, cuma lemas saja."
"Syukurlah kalau begitu, aku lega mendengarnya."
Arfan mengantarkan Siska kembali ke asrama sebelum mereka pulang ke rumah.
"Hari ini kamu tidak usah ikut ke club dulu ya, aku antarkan pulang. Kamu harus istirahat, di rumah nggak boleh ngapa-ngapain."
"Aku mau bermain dengan Stev kak,"
"Kapan-kapan lagi kan bisa setelah kamu sudah terbiasa dengan kahamilan ini."
Mentari memilih untuk patuh dengan perkataan Arfan, dia sebenarnya tidak mau ditinggal sendirian di rumah. Hanya saja dia juga tidak bisa egois, Arfan punya tanggungjawab lain apalagi besok tim mereka akan bertanding di babak final.
"Loh kak bukankah kita mau pulang kenapa jadi lewat sini kak, seperti mau ke rumah nenek?" Mentari merasa mereka melewati jalan yang berbeda dengan arah pulang ke rumah mereka tetapi justru melewati arah ke rumah nenek.
"Aku memang akan membawamu ke rumah nenek sayang."
Mereka sampai di depan rumah nenek, Arfan membawa Mentari masuk ke dalam rumah yang langsung disambut oleh nenek dengan senyum terbaiknya.
"Kalian lama sekali tidak kesini, nenek kangen sayang!" Nenek Wijaya memeluk Mentari.
"Nek aku titip Mentari dan cicit nenek di sini dulu ya, aku ada pekerjaan lain di club. Aku tidak mungkin membawa Mentari kesana hari ini dan juga aku tidak bisa membiarkannya sendirian di rumah."
"Fan apa kamu bilang tadi, cicit? Apakah nenek tidak salah dengar?"
"Maksud kamu Mentari sedang mengandung Fan?"
"Ya begitulah nek!"
Nenek Wijaya langsung memeluk Arfan, "Kamu memang cucuku yang sangat keren, terimakasih Fan kamu telah mengabulkan permintaan nenek!" Nenek Wijaya menangis haru, harapannya sebentar lagi akan terwujud.
"Mentari sayang terimakasih, nenek sangat bahagia."
Mereka bertiga berpelukan bersama, "Kamu pergilah Fan urus pekerjaanmu, nenek akan menjaga Mentari dengan baik."
Arfan pergi ke club setelah memastikan Mentari aman bersama neneknya, Arfan percaya nenek akan menjaga Mentari dengan baik.
"Mentari sayangku, kamu istirahat saja di kamar ya. Kalau butuh apa-apa tinggal bilang sama bibi."
"Iya nek, aku akan istirahat."
Mentari pergi ke kamar Arfan di lantai atas, ternyata nenek sangat bahagia mendengar kabar kehamilannya. Dia pun akan segera mengabari kedua orangtuanya nanti.
Tengah malam, Arfan baru kembali ke rumah nenek. Bahkan dia sampai melewatkan makan malam hari ini. Dia memasuki kamarnya dan mendapati istrinya sedang tertidur pulas di atas ranjang. Setelah membersihkan dirinya, Arfan menyusul Mentari naik ke atas ranjang. Dia mencium kening Mentari dan mengelus perut Mentari yang masih rata.
"Bertumbuhlah dengan baik di dalam kandungan bundamu sayang, kamulah harapan bagi ayah dan bunda di masa depan."
Arfan terlelap di samping Mentari, sungguh hari yang sangat melelahkan bagi Arfan dengan segala aktivitas yang sangat padat.
Kabar kehamilan Mentari dengan cepat sampai ke telinga Mona, kemungkinan kakek Mahmud yang memberitahukannya kepada wanita itu.
"Anak itu tidak boleh sampai lahir ke dunia, sebab kalau dia lahir akan semakin sulit aku untuk mendapatkan Arfan!" Mona ngomel-ngomel sendiri tidak jelas, padahal dia sedang bersama Bram di atas ranjang dan masih toples hanya selimut yang menutupi tubuhnya.
"Kamu benar Bram, tapi beberapa hari ini Marry sama sekali tidak menghubungiku. Entah hilang kemana dia sekarang!"
Bram sebenarnya sangat menginginkan Marryana, wanita itu cantik dan anggun sangat berbeda dengan Maya, Ratu atau bahkan Mona. Marryana bagi laki-laki seperti Bram sangat menarik, tapi dia tidak bisa mendapatkan Marryana karena wanita itu sangat sulit untuk di dekati. Meskipun di luar negeri, Marryana pernah berkencan dengan banyak pria tapi dia tetap mempertahankan apa yang dia miliki dengan sangat baik.
Keesokan paginya nenek menyuruh bibi untuk memasakan menu makanan sehat untuk sarapan Mentari dan yang lainnya.
Mentari merasa diperlakukan sangat istimewa oleh nenek, jadi dia bertekad untuk menjaga kandungannya dengan baik karena tidak mau jika mengecewakan nenek yang sangat berharap mereka bisa segera memiliki bayi yang lucu.
"Nek ini terlalu berlebihan, aku bisa makan apa saja kok nek."
"Sudah makan saja sayang, kamu harus makan yang banyak."
"Nek terimakasih!" Mentari memeluk nenek Wijaya.
"Sama-sama sayang tidak perlu sungkan begitu."
Hari ini akhir pekan jadi mereka tidak perlu terburu-buru untuk pergi ke kampus sehingga mereka bisa sarapan dengan santai.
Tim Arfan juga bertanding sore nanti sehingga masih cukup waktu bagi Arfan untuk menemani istrinya terlebih dahulu, rencana awalnya Mentari akan ikut jadi suporter tetapi karena karena kehamilannya Arfan tidak mau Mentari terlalu lelah.
"Fan nenek mau bicara sebentar denganmu!" nenek meninggalkan meja makan.
Arfan mengangguk, "Sayang kamu makan dulu ya, aku ke ruang kerja nenek dulu."
"Emmm...," jawab Mentari dengan anggukan karena mulutnya sibuk mengunyah.
Mentari sama sekali tidak mual pagi ini, bahkan dia sangat nyaman dan bisa makan banyak tidak seperti kebanyakan orang yang mengatakan jika kehamilan pada saat awal akan sangat merepotkan di pagi hari.
"Apa yang mau nenek sampaikan, apa ini ada hubungannya dengan resepsi pernikahan dan kehamilan Mentari nek?"
"Analisamu tepat sekali Fan, itu yang akan nenek sampaikan kepadamu."
"Lalu apa rencana nenek?"
"Kita majukan jadi minggu depan acaranya Fan, seharusnya masih setengah bulan lagi. Tapi nenek tidak mau nantinya perut Mentari semakin besar dan dia terlalu lelah."
"Apa tidak sebaiknya kita batalkan saja nek, toh pada dasarnya kita sudah menikah secara sah. Ada atau tidak adanya resepsi pernikahan tidak akan menghalangi kehidupan rumah tangga kami nek."
"Tidak bisa seperti itu Fan, menikah itu hanya sekali seumur hidup. Jadikan semua itu berkesan dan dapat kalian kenang nantinya, percaya pada nenek. Seminggu lagi kita adakan acaranya, nenek rasa persiapannya sudah hampir selesai seluruhnya."
"Aku ikut saja apa yang terbaik menurut nenek!"
Arfan tidak seperti biasanya akan mempertahankan argumennya sendiri, tapi kali ini dia memilih untuk tidak membantah ucapan nenek karena khawatir menyakiti hati wanita sepuh itu. Dia juga harus menghargai semua yang sudah nenek lakukan padanya sebab semuanya nenek yang mengatur dan mempersiapkannya dari awal.
Arfan tiba-tiba merasa mual di bagian perutnya, dia menutup mulutnya dengan tangan kemudian berlari ke arah kamar mandi.
"Hei Fan kamu kenapa?"
"Nenek belum selesai bicara!"
"Dasar anak itu, sudah mau jadi ayah tetap saja tidak pernah berubah kelakuannya." Nenek Wijaya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hoek... Hoek... Hoek...," Arfan memuntahkan semua sarapan yang ada di perutnya.
"Kak kamu kenapa?"
"Buka pintunya kak!" Mentari menggedor-gedor pintu kamar mandi, namun belum ada jawaban dari dalam.
Arfan membuka pintu kamar mandi dan terlihat sangat pucat, namun dia kembali mual dan muntah di dalam kamar mandi.
Mentari merasa khawatir dengan kondisi Arfan karena sebelumnya dia baik-baik saja, bagaimana kalau Arfan sakit padahal hari ini dia harus bersama anak-anak yang akan bertanding. Meskipun ada Tomi tapi kedatangan Arfan tentu akan menjadi mood booster tersendiri bagi anak-anak asuhnya.
"Jangan khawatir Mentari, hal seperti ini lumrah adanya, nanti juga akan terbiasa."
"Tapi nek--,"
"Sudah tidak apa-apa, sebaiknya kamu istirahat saja sayang."
Mentari sebenarnya enggan untuk meninggalkan Arfan, tapi nenek memaksanya. Alasan nenek adalah membiarkan Arfan mandiri dan bisa mengatasi masalahnya sendiri.