My Old Star

My Old Star
#58 Nenek Sihir



Arfan mengangkat tubuh Mentari dan membawanya ke kamar, Arfan membaringkan tubuh gadis itu di atas ranjang kemudian menyelimutinya.


"Selamat tidur sayang." Arfan mencium dahi Mentari kemudian meninggalkan kamar itu untuk dia juga pergi beristirahat.


Arfan berbaring di atas ranjangnya menatap langit-langit, dia masih memikirkan soal Mona yang ternyata adalah tantenya sendiri. Arfan tidak bisa membayangkan jika suatu saat nanti Mona akan tinggal bersama dengannya di rumah nenek.


Entah pukul berapa Arfan baru bisa terlelap karena pikirannya melayang jauh, dia harus menerima kenyataan jika dirinya dan Mona ternyata bersaudara padahal selama ini Arfan tidak menyukai Mona sama sekali.


Arfan tidak suka dengan tingkah laku Mona yang sering tidak memikirkan perasaan orang lain. Pikiran Arfan kembali ke masa dimana dia ada di Banjarnegara untuk sebuah tour pertandingan, hampir saja dia masuk ke dalam perangkap Mona. Jika saat itu apa yang Mona inginkan terjadi, itu artinya Arfan harus menikah dengan tantenya sendiri.


Keesokan paginya suara derai tawa dari arah dapur membuat Arfan terbangun, dia melihat ke sekeliling hari masih gelap tetapi dapur sudah sangat ramai terdengar.


Arfan bangkit dari tempat tidur untuk mengambil wudlu kemudian menunaikan ibadah paginya.


Arfan turun ke bawah melihat apa yang sedang dilakukan oleh para wanita di dapur sehingga suara mereka sangat nyaring terdengar sampai atas.


Mentari melihat Arfan yang menuruni tangga menuju ke dapur, "Kakak sudah bangun?" Tanyanya.


"Hmmmm...," jawab Arfan sambil bersedekap.


"Apakah kami menganggu tidurmu kak?"


"Apa yang sedang kalian lakukan?" Arfan balik bertanya.


"Memasak untuk sarapan den," jawab bibi.


Arfan sedikit melirik ke atas kompor dengan api yang masih menyala, memang benar mereka sedang memasak untuk sarapan.


"Aku mau joging dulu, awas jangan berisik nanti nenek terbangun karena suara kalian!" Arfan memberikan peringatan kepada mereka.


Mentari tersenyum mendengar ucapan Arfan, "Nenek ada disini Fan!" nenek Wijaya keluar dari arah belakang dengan membawa sayuran segar yang baru saja dia petik dari kebun yang dirawat oleh kakek Mahmud.


"Nenek dari tadi bersama mereka?"


Nenek Wijaya mengangguk, "Nenek sangat senang Mentari ada di sini, kegiatan pagi seperti ini jadi lebih berwarna."


"Iya nek... Iya... Aku sudah tahu ke mana arah ucapan nenek!" Arfan menarik nafas dan membuangnya pelan.


"Satu lagi, awas ya bi kalau sampai bercerita yang bukan-bukan tentangku kepada Mentari!"


"Nggak janji bibi den!" jawab bibi cuek dengan terus memasak tanpa melihat ekpresi wajah kesal Arfan.


Arfan yang masih kesal meninggalkan dapur untuk joging sekalian ke luar mencari udara segar di pagi hari dari pada telinganya sakit mendengar ocehan para wanita di dapur.


"Fan boleh kakek berbicara sebentar?" Kakek Mahmud menghampiri Arfan yang baru masuk ke halaman rumah setelah selesai joging.


"Soal apa kek?" Tanya Arfan sambil memposisikan tubuhnya untuk duduk di kursi teras.


"Anak kakek Fan, kemarin kakek bertemu dengannya."


"Nenek sudah menceritakannya kepadaku semalam kek."


"Nenekmu ternyata mengenalnya, apakah kau juga mengenalnya?"


Arfan mengangguk, "Benarkah Fan?" Tanya kakek Mahmud senang, itu artinya dia bisa bertemu dengan Mona lagi.


"Apakah kakek bisa meminta tolong kepadamu?"


"Minta tolong bagaimana kek?"


"Kakek sangat merindukan putri kakek itu, kau tentu tahu karena kakek sudah menceritakannya kepadamu, bolehkah kakek minta tolong kepadamu, tolong bawa kakek untuk bisa bertemu dengannya lagi Fan!" kakek Mahmud sangat berharap Arfan bisa mewujudkan keinginannya.


Arfan menghembuskan nafasnya berat, selama ini dia selalu menghindar dari Mona. Mana mungkin jika dia harus berurusan dengan Mona saat ini. Tapi di sisi lain dia juga merasa kasihan melihat kakek Mahmud yang sangat berharap kepadanya.


"Akan aku pikirkan caranya nanti kek, aku masuk dulu mau mandi, gerah kek."


Arfan meninggalkan kakek Mahmud di luar, dia ingin mendinginkan otaknya dengan guyuran air dingin. Hal yang paling dia tidak suka adalah berurusan dengan Mona tapi mengapa kali ini justru takdir membawanya harus berurusan dengan wanita itu.


Kini mereka sudah berada di meja makan untuk sarapan bersama, Mentari sudah menata rapi makanan yang tadi mereka masak bersama di atas meja makan.


"Kak sini aku tambahkan lauknya!" Mentari meminta piring Arfan untuk dia isi dengan lauk yang tadi dia masak.


Di saat mereka sedang asyik sarapan dengan mengobrol ringan, terdengar suara bel dipencet dari luar.


Bibi bergegas membukakan pintu dan melihat siapa yang datang bertamu pagi-pagi.


"Mohon maaf cari siapa nona?" Tanya Bibi.


"Hei wanita tua, aku datang ke sini untuk bertamu masa tidak dipersilakan masuk malah ditanya cari siapa!" jawab Mona ketus.


"Maaf nona, kami tidak terbiasa menerima tamu pagi-pagi. Jadi silakan tunggu di luar!"


Bibi kembali menutup pintu dan tidak mengizinkan Mona untuk masuk ke dalam rumah.


"Siapa bi, kok tidak disuruh masuk?" Tanya nenek Wijaya.


"Itu nyonya, nenek sihir yang datang!" bibi memang memberikan julukan kepada Mona dengan sebutan nenek sihir, sebab Mona memang kerap datang ke rumah tetapi sikapnya dari dulu tetap tidak elok dilihat dan didengar.


Bibi selalu berdo'a semoga Arfan tidak berjodoh dengan wanita itu, sebab bibi mengira jika Mona adalah kekasih Arfan yang sering datang ke rumah, berbeda dengan Mentari pertama kali bertemu bibi langsung menyukai gadis itu karena sikapnya yang lembut dan ramah serta murah senyum.


"Aku akan menemuinya ke depan, kalian teruskan sarapannya!" nenek Wijaya bangkit dari tempat duduk kemudian menuju teras untuk menemui Mona.


"Ada apa pagi-pagi datang ke sini?" Tanya nenek Wijaya to the point.


"Aku mau bertemu bapak nek, dia ada di dalam kan?"


"Bapak kamu tidak ada di sini, salah jika kamu mencarinya di sini sebab kamu sendiri yang mengatakan jika dia tidak pantas menjadi bapakmu bukan?"


"Aku mengaku salah nek, kemarin aku khilaf."


"Sekarang aku sadar, bapak sangat berarti untukku nek. Aku akan menerimanya apapun kondisinya."


"Aku tidak percaya apapun yang ke luar dari mulut kamu Mona!"


Di saat bersamaan, kakek Mahmud ke luar karena penasaran dengan tamu yang datang tetapi tidak dipersilakan masuk apalagi ditambah dengan julukan nenek sihir.


Kakek Mahmud terkejut ketika melihat mona ada di luar, "Mona anakku, kau datang nak?" Kakek Mahmud berhamburan ke luar rumah, dia ingin memeluk Mona, namun merasa ragu khawatir Mona akan menolaknya seperti kemarin.


Mona yang melihat keraguan dari wajah kakek Mahmud kemudian memeluk bapaknya duluan, sebenarnya Mona enggan tetapi demi tujuannya dia harus mengalah dulu saat ini.


"Terserah kamu Mahmud, mau kau apakan dia. Urus masalah kalian karena kalian satu keluarga dan aku tidak berhak ikut campur!"


Nenek Wijaya masuk kembali ke dalam rumah, selera makannya tiba-tiba hilang karena kedatangan Mona, ditambah adiknya malah seperti tidak menaruh dendam sama sekali atas perlakuan Mona selama ini terhadapnya.


"Nenek sihir itu siapa nek?" Tanya Mentari.


"Namanya Mona sayang, kau mungkin tidak mengenalnya!"


"Uhukkk...," Arfan tersedak minuman yang sedang diminumnya.


"Kamu tidak apa-apa kak?" Mentari mengusap-usap punggung Arfan.


"Aku tidak apa-apa hanya kaget saja sayang!"


"Kenapa kak Arfan tidak seperti biasanya? Bukankah dia selalu cuek, kenapa mendengar nama Mona malah membuatnya terkejut?" Mentari membatin.


Mentari tampak mengingat-ingat nama Mona yang tadi nenek Wijaya sebutkan. Dia seperti pernah mendengar nama itu, tetapi entah di mana.


Kakek Mahmud membawa Mona masuk ke dalam rumah dan memperkenalkan Mona kepada semua yang ada.


Mentari terkejut melihat Mona yang dimaksud oleh nenek Wijaya adalah Mona yang pernah bertemu dengannya di luar kota beberapa waktu yang lalu.


"Kak Mona, selamat datang di rumah nenek?" Sapa Mentari dengan ramah dan dengan senyum terbaiknya.


"Iya aku Mona, kaget ya kenapa aku bisa ada di sini?"


Mentari nyengir karena tidak tahu harus menjawab apa, dia bermaksud baik dengan menyapa Mona tetapi dijawab dengan jawaban yang tidak nyambung menurutnya, "Pantas saja semua orang menyebutnya nenek sihir!" pikirnya.