My Old Star

My Old Star
#82 Pendukung Setia



Wanita di bandara tadi menuju ke unit apartemennya, dia baru kembali dari London setelah bertahun-tahun tinggal di sana bersama orangtuanya.


Dia kembali karena ingin bertemu dengan Arfan yang sudah lama tidak pernah berkomunikasi dengannya. Wanita itu pernah menyusul Arfan ke Spanyol, hanya saja mereka tidak dipertemukan di sana karena Arfan ternyata sudah pulang ke tanah air.


Hingga hari ini baru terwujud keinginan wanita itu untuk menginjakkan kakinya kembali di kota Z, rencananya wanita itu akan mengajar sebagai dosen di universitas Z.


Arfan tiba-tiba terbangun malam-malam, dia menuju dapur untuk mengambil air minum. Perasaannya sangat tidak enak seolah ada sesuatu yang dia lupakan.


Mentari meraba sisi ranjang di sebelahnya yang ternyata kosong, dia melihat suaminya sudah menggelar sajadah sedang bermunajat kepada Dzat yang maha pemberi hidup. Arfan berdo'a cukup lama, kemudian melipat sajadah dan kain sarungnya.


"Kamu terbangun sayang?" Arfan mengecup kening Mentari penuh cinta.


"Aku mencarimu kak, kau tidak ada di sisiku jadi aku terbangun."


"Sudah sana tidur lagi aku akan menemanimu sambil membaca email yang masuk!"


"Tidak kak, aku mau ambil air wudlu saja. Aku juga mau menegakkan malamku dalam balutan sajadah yang menenangkan hati."


"Baiklah, aku akan menemanimu di sini."


Arfan membuka laptopnya dan membaca email yang masuk, "Ternyata ada rekrutmen dosen baru dan sudah diputuskan hasilnya, kenapa aku tidak mengetahuinya?" Arfan mengelus dagunya sendiri merasa ketinggalan banyak informasi karena kemarin-kemarin jarang ke kampus.


Mentari menyelesaikan sholat malamnya, dunia ini terasa teduh bagi mereka yang mau menghidupkan malam mereka melalui sepertiga malam terakhir.


Setelah sholat subuh berjamaah, mereka melakukan aktivitas masing-masing karena mereka berencana akan mengunjungi Arman di kontrakannya sekaligus mereka juga akan ke club.


Mentari sibuk memasak di dapur, sedangkan Arfan sibuk membantu Mentari mencuci baju-baju mereka yang kotor. Arfan tidak pernah segan untuk turun tangan membantu Mentari karena dia memang terbiasa melakukan hal seperti itu sendiri.


Perasaan Arfan berangsur membaik, dia tidak lagi merasa gelisah. Apapun yang akan terjadi nanti yang terpenting baginya dia bisa selalu bersama dengan Mentari.


"Kak sarapan dulu, makanan sudah siap." Mentari memanggil Arfan yang sedang sibuk menjemur baju mereka.


"Sebentar lagi sayang, aku selesaikan ini dulu."


Arfan tiba di meja makan, "Wah kamu memang pintar memasak, tidak salah aku memilih kamu sayang."


Mentari tersenyum mendengar pujian dari suaminya, dia mengambilkan makanan untuk Arfan, "Apakah segini cukup?"


"Iya cukup sayang," Arfan menerima piring yang sudah berisi nasi lengkap dengan sayur dan lauknya.


Mereka sarapan dengan santai karena memang hari masih pagi.


"Mentari sayang, jika terjadi sesuatu padaku atau ada seseorang dari masa laluku hadir di tengah-tengah kita, apakah kamu akan tetap mempercayaiku bahwa aku hanya mencintai kamu seorang saja?" Arfan bertanya disela-sela sarapan mereka.


"Kenapa kakak tiba-tiba bertanya begitu?"


"Aku tidak tahu sayang, tiba-tiba hatiku gelisah sejak kemarin. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada hubungan kita. Aku ingin tetap bersamamu jadi percayalah kepadaku."


"Aku akan selalu mempercayai kamu kak, aku tahu kakak bukan orang yang akan dengan mudahnya menerima seseorang dalam hidup kamu kak."


"Alasannya apa sayang?"


"Aku yang pernah jatuh cinta padamu pada pandangan pertama kak, tapi kamu selalu mengacuhkanku, hingga aku tidak tahu ternyata takdir sungguh berpihak kepadaku, pada akhirnya kita bisa menikah seperti sekarang." Cerita Mentari kepada Arfan.


"Apakah aku sedingin itu?"


"Awalnya iya tapi ternyata kamu laki-laki yang begitu hangat dan bisa dipercaya. Kamu menjagaku dengan baik selama ini kak!"


Arfan bangkit dari duduknya, dia memeluk Mentarinya dengan penuh kasih sayang, "Terimakasih sayang, aku mencintaimu. Terimakasih karena kamu sudah mau menjadi istri dari pria lapuk sepertiku."


"Aku juga mencintaimu kak, kakak adalah pria pertama dan terakhir dalam hidupku."


Mereka berpelukan cukup lama, ternyata mengungkapkan isi hati sangat melegakan bagi Arfan.


Kini mereka sudah sampai di kontrakan Arman, ada Siska juga bersama mereka.


"Man apa kamu tidak bosan tinggal di sini sendirian?"


"Aku menyukai tempat ini, jadi mana mungkin aku merasa bosan. Lagipula aku tidak pernah merasa kesepian di sini."


"Ayo pindah ke club!" ajak Arfan kepada Arman.


"Mana mungkin aku pindah kesana Fan, aku bukan bagian dari tim kalian."


"Kau keluargaku, kau bagian dariku!"


"Fan tidak selamanya aku harus merepotkanmu bukan? Biarlah aku disini menikmati hari-hariku tanpa pertandingan apapun."


"Iya jangan khawatirkan itu." Mereka berdua melanjutkan bermain game bersama, sedangkan Mentari dan Siska masih sibuk di dapur memasak untuk makan siang mereka.


"Kak makan siang sudah siap, ayo makan!" Mentari mengajak mereka berdua untuk makan siang bersama sebelum ke club.


Hari ini akan ada pertandingan antara club Arfan dan Zaki dengan lawan yang berbeda di babak semifinal. Arfan ingin datang untuk memberikan semangat kepada anak-anak asuhnya karena dua tim yang menang hari ini akan masuk ke babak final untuk memperebutkan gelar juara dan keduanya berhak maju ke turnamen nasional. Arfan sangat berharap timnya bisa menjadi salah satu dari dua tim itu.


"Bagaimana apakah kalian sudah siap?" Tanya Arfan kepada anak-anak asuhnya.


"Kami sudah siap bos," jawab Dio mewakili teman-temannya.


"Jangan lupa dengan strategi yang sudah kita buat, kita harus menang hari ini agar bisa maju ke pertandingan nasional dengan begitu karir futsal kalian akan jauh lebih berkembang, siapa tahu diantara kalian akan ada yang menjadi atlet nasional."


"Apakah kalian siap?" Arfan menyulut semangat mereka.


"Kami siap bos!" jawab mereka serempak.


"Kalau begitu ayo kita berikan yang terbaik untuk club tercinta kita ini!"


Arfan memberikan banyak pesan kepada mereka, Arfan memang jarang hadir secara fisik di depan mereka namun dia akan memberikan semua sumber daya yang dia miliki untuk mendorong anak-anak agar berkembang dengan baik.


Kini mereka sudah tiba di tempat pertandingan, Mentari dan Siska juga ada diantara rombongan namun mereka memilih untuk memisahkan diri agar tidak terlalu mencolok.


"Apakah tidak sebaiknya kalian tetap bersama kami?" Arfan sedikit mencemaskan istrinya.


"Aku ingin menikmati pertandingan ini sama seperti orang lain kak, jadi tidak akan seru kalau kami tetap bersama kalian, iya kan Sis?"


"Iya kamu benar Mentari," Siska mendukung sahabatnya.


"Baiklah kalau itu mau kalian, berhati-hatilah jika ada apa-apa cepat hubungi aku!"


"Aku pergi ya?" Arfan meninggalkan dua gadis itu karena timnya sudah harus bertanding di babak pertama di lapangan satu, sedangkan tim Zaki bertanding di jam yang sama di lapangan dua.


Suara suporter dari kedua tim yang akan bertanding hari ini terdengar riuh memadati arena pertandingan untuk mendukung tim mereka masing-masing. Satu persatu mulai diarahkan untuk masuk ke dalam dengan tertib oleh petugas.


Sania dan Steven juga rencananya akan datang untuk menyusul mereka ke tempat pertandingan. Mereka tidak berangkat bersama rombongan karena tadi Sania menunggu Steven yang sedang ikut ekstrakurikuler di sekolahnya.


Mentari dan Siska bertemu dengan wanita yang sangat anggun dan tampak sangat dewasa. Auranya begitu terpancar, dari caranya berbicara sangat sopan dan lembut. Wanita itu terlihat begitu cantik dalam balutan dress selutut yang dipakainya.


"Mentari apakah kau lihat wanita yang disana?" Siska menunjuk ke arah wanita itu.


"Iya aku melihatnya Sis,"


"Apakah nanti kalau kita dewasa akan terlihat seperti dia?"


"Mungkin juga Sis, tapi aku sendiri tidak yakin."


"Kenapa kau pesimis begitu Mentari, lihat dirimu kau itu cantik dan cerdas."


"Ah sudahlah ayo kita masuk!" Mentari mengalihkan pembicaraan mereka karena setiap orang adalah istimewa dan unik dengan kelemahan serta kelebihan mereka masing-masing sehingga tidak bisa jika harus dibanding-bandingkan.


Mereka masuk menuju tempat duduk sesuai tiket yang mereka pegang, ternyata wanita itu duduk di kursi yang bersebelahan dengan mereka berdua.


"Hallo nona bolehkah kami berkenalan denganmu?" Siska mencoba membuka percakapan diantara mereka.


"Ah ya tentu saja," jawab wanita itu.


"Perkenalkan namaku Siska dan ini sahabatku namanya Mentari."


"Aku Marryana panggil saja kak Marry."


"Nama yang indah dan cantik seperti orangnya," puji Siska untuk Marryana.


"Ngomong-ngomong kakak pendukung club mana?"


"Aku pendukung setia club A&W." Jawab Marryana dengan senyumnya yang indah, dia juga sudah melihat Arfan ada di pinggir lapangan sedang memberikan instruksi kepada anak-anak asuhnya, tentu hal itu sontak membuatnya jauh lebih bersemangat.


"Wah berarti kita pendukung club yang sama, sungguh sangat kebetulan sekali."


Mentari hanya tersenyum menyimak pembicaraan diantara Siska dan Marryana.


Perasaannya tiba-tiba berubah seperti terasa mengambang saat melihat Marryana secara dekat apalagi tatapan Marryana yang tidak lepas dari suaminya yang berada di pinggir lapangan membuatnya sedikit takut, perasaan wanita memang biasanya sangat peka dan halus sehingga dia bisa menyimpan derita dan masalahnya sendirian.


Pada titik ini Mentari masih bisa memikirkan hal yang positif dan menganggap jika Marryana merupakan salah satu penggemar Arfan saja.


"Mungkin hanya fans kak Arfan saja, tapi kenapa tatapannya begitu sangat berbeda kepada kak Arfan?" Mentari membatin sekaligus semakin merasa penasaran dengan wanita di sebelah Siska itu.