My Old Star

My Old Star
#12 Karung Beras



Arfan dan rombongannya tiba di Banjarnegara ke esokan paginya, mereka menuju ke hotel yang telah mereka pesan sebelumnya. Di sekitar area hotel terdapat taman bermain air yang diperuntukan bagi anak-anak dan orang dewasa, selain itu ada kolam ombak tsunami yang bisa memacu adrenalin karena seolah seperti sungguhan, namun kolam ombak ini akan memunculkan tsunaminya pada waktu-waktu tertentu saja sehingga tidak setiap saat pengunjung dapat merasakan sensasinya. Di tempat itu juga terdapat lapangan futsal yang nantinya akan mereka jadikan tempat untuk berlatih bersama.


Di luar area taman bermain air, terdapat tempat yang dapat digunakan untuk mengambil foto dengan latar ikon beberapa negara di dunia dan juga terdapat tempat untuk melakukan manasik haji.


Sementara itu, tim lawan baru saja tiba ketika Arfan dan yang lainnya memasuki loby hotel untuk melakukan check in.


"Hai Fan, sudah lama sampai?" tanya Zaki ramah.


Arfan hanya menjawab dengan anggukan, sepertinya dia masih enggan untuk berbicara lama dengan Zaki.


Mereka disambut oleh penyelenggara acara yang akan mengatur kegiatan mereka selama berada di Banjarnegara.


"Arfan, Zaki apa kabar kalian?" Mona menyalami Arfan dan Zaki, sekaligus memperkenalkan dirinya sebagai penanggungjawab semua kegiatan mereka selama di Banjarnegara.


Arfan tampak malas mendengarkan semua penjelasan dari Mona terkait semua hal yang akan mereka lakukan.


"Tolong katakan saja intinya, selebihnya biarkan manager masing-masing yang akan mengatur semuanya!" ucap Arfan sambil bersedekap.


"Kau memang tidak pernah berubah dari dulu Fan, tidak ingin sesuatu yang ribet!" Mona dan Zaki tertawa kecil.


Tomi menghampiri Arfan yang masih berbincang, "Fan kita sudah dapatkan kuncinya!"


"Baiklah bawa anak-anak ke kamar mereka masing-masing!"


"Mona jika ada sesuatu yang penting silahkan hubungi Tomi, dia manager club kami!" Arfan berlalu dari hadapan Mona dan Zaki untuk menuju ke kamarnya.


Hari ini Arfan merasa sangat lelah setelah menempuh perjalanan darat kurang lebih selama dua belas jam. Mereka akan memulai latihan bersama esok hari, sehingga hari ini merupakan hari untuk mengistirahatkan tubuh yang penat. Anak-anak asuh Arfan banyak yang memilih untuk berenang sebelum mereka beristirahat.


Sepanjang hari ini Arfan lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar untuk tidur, seperti malam ini dia enggan untuk keluar dari kamar jika tidak karena harus memenuhi ajakan makan malam bersama yang telah diagendakan oleh bagian penyelenggara.


Arfan makan dalam diam dan memilih meja yang jauh dari keramaian, dia hanya ingin sendiri. Zaki terus memperhatikan sikap Arfan yang masih saja dingin terhadapnya. Mona mendekati meja Arfan, namun sebelum mona duduk di hadapannya, Arfan sudah lebih dulu pamit untuk kembali ke kamarnya.


Arfan teringat jika dirinya belum menghubungi Mentari sama sekali. Sementara itu, Mentari sedang berada di kamar asramanya sendirian karena Siska sedang membeli makan malam untuk mereka berdua.


[Mentari kecil apakah kau sedang tidak sibuk?]


Arfan mengirimkan pesan teks kepada Mentari yang langsung dibalas oleh Mentari, sejak semalam Mentari memang menunggu Arfan menghubunginya.


[Tidak...aku sedang tidak sibuk Kak]


Jawaban Mentari tadi sontak membuat Arfan merasa begitu antusias untuk segera melakukan video call kepadanya.


"Hai Mentari kecil?" ucap Arfan ketika Mentari menjawab panggilannya dan wajah cantik Mentari memenuhi layar ponsel milik Arfan.


Mentari tersenyum manis, "Kamu kemana saja Kak, kenapa baru menghubungiku sekarang?"


"Aku seharian ini...," belum selesai Arfan dengan ucapannya, terdengar ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.


"Mentari kecil sebentar ya, sepertinya ada tamu di depan!"


"Kau bukalah pintunya dulu Kak, biarkan ini tetap menyala. Aku akan menunggumu,"


Arfan menuju ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang malam-malam begini.


"Hai Fan, aku boleh masuk?" Mona dengan setelan baju tidurnya mendatangi Arfan dan ingin masuk ke dalam kamar Arfan.


"Sudah malam, sebaiknya datang besok lagi saja, sekarang pergilah dari sini!" Arfan menghalangi Mona agar tidak bisa masuk ke dalam.


"Eits...siapa bilang tidak bisa masuk?" Mona dengan liciknya menerabas masuk ke dalam kamar Arfan.


"Hei siapa yang mengizinkan kamu masuk?" Arfan mengejar Mona yang sudah masuk ke dalam kamarnya.


Mona duduk di sofa yang tadi Arfan duduki, dari panggilan video yang tengah Arfan lakukukan dengan Mentari, jelas sekali Mentari bisa melihat jika ada seorang perempuan dengan pakaian yang tipis dan kurang bahan berada di kamar Arfan. Dada Mentari berdesir melihat pemandangan yang dia lihat dari kejauhan.


"Kak...kak Arfan...apa kau bisa mendengarku? Siapa dia Kak, kenapa bisa ada di kamar bersama kamu Kak?" Mentari sampai berteriak-teriak namun Arfan sepertinya tidak mendengarnya bahkan sambungan telfon mereka terputus.


Mentari cemberut di dalam kamarnya, memegangi dadanya yang terasa naik turun, berdegup begitu kencang.


"Secepat inikah kau menghianatiku Kak?" gumam Mentari merasa frustasi, dia menutup wajah dengan kedua tangannya. Sedangkan


Arfan sendiri sedang sibuk mengusir Mona dari dalam kamarnya. Mona terus saja menggoda Arfan, namun Arfan sama sekali tidak tertarik dengan tubuh Mona.


"Fan ayolah bukankah kita sama-sama lajang, lalu kenapa kau harus sungkan?" ucap Mona dengan lembut sambil menggigit bibir bawahnya penuh hasrat.


Mona terus saja mendesak Arfan dengan memamerkan lekuk tubuhnya, sedangkan Arfan sendiri malah merasa jijik dengan sikap Mona yang seperti cacing kepanasan.


Arfan dengan sigap menghubungi Dio, agar Dio dan teman satu kamarnya bisa segera ke kamarnya sekarang. Arfan tidak ingin terjadi kesalahpahaman atas kejadian ini. Dia datang sejauh ini untuk urusan club bukan malah terjebak dalam sebuah kenistaan dengan fitnah yang keji.


Pintu kamar Arfan diketuk oleh seseorang dari luar, Arfan sangat berharap jika Dio dan temannya yang datang agar dia bisa terlepas dari jerat iblis yang tak tahu malu seperti Mona.


Arfan mendekat ke pintu namun dihalangi oleh Mona yang bergelayut di kaki kiri Arfan.


"Kau bisa lepaskan tidak?!" teriak Arfan marah.


Mona masih saja memeluk kaki Arfan dengan dirinya seperti suster ngesot di lantai karena pergerakan Arfan ke arah pintu.


Arfan berhasil mencapai pintu dan membukanya, "Bos apakah kau baik-baik saja?" tanya Dio yang terkejut ada Mona penanggungjawab kegiatan mereka di dalam kamar Arfan.


"Bantu aku menyingkirkan karung beras ini!" ucap Arfan menunjuk wanita yang sedang bergelayut di kakinya.


Dio dan dua orang temannya hanya mengangguk, mereka menarik Mona dengan paksa kemudian membungkus Mona dengan seprei menyerupai kepompong hanya bagian kepalanya saja yang dibiarkan masih kelihatan.


"Hei apa yang kalian lakukan kepadaku?" teriak Mona memberontak yang tak digubris oleh Dio dan teman-temannya.


Mereka bertiga mengangkat tubuh Mona yang sudah terbungkus dengan sprei dan membawanya keluar.


Di depan kamar penyelenggara lain, Dio meletakkan tubuh Mona, mengetuk pintu kemudian meninggalkannya disana. Dio kembali ke kamar Bosnya karena diminta untuk kesana lagi setelah membereskan karung beras pengganggu.


"Kenapa dia bisa masuk kemari Bos?" tanya Dio.


"Penyusup!" jawab Arfan singkat.


"Dio bantu aku!"


Arfan menjelaskan kronologi kejadian hingga sampai Mona bisa masuk ke kamarnya, "Aku sangat khawatir jika Mentari akan salah paham terhadapku,"


"Sebegitu khawatirkan bos terhadap Kakak ipar?"


"Tentu saja!" jawab Arfan spontan.


Dio dan kedua temannya menertawai bosnya yang terlihat sangat cemas.


"Maksudku bantu aku agar Mentari bisa sampai kesini," Arfan meralat ucapannya.


Dio menyarankan agar Arfan menghubungi Mentari untuk berkemas, sedangkan dia akan mencarikan tiket secara online agar malam ini Mentari bisa langsung berangkat menuju ke Banjarnegara.


Sementara itu, Siska yang baru kembali ke asrama setelah mencari makan malam melihat Mentari sedang sibuk mengemas barang-barangnya.


"Kau mau kemana malam-malam begini?"


"A-aku...mau ke luar kota,"


"Malam-malam begini?"


Mentari mengangguk, "Kau dan pemuda itu sudah...?" Siska menyipitkan kedua matanya dan tidak melanjutkan ucapannya barusan.


Mentari hanya tersenyum, "Kapan? Dimana? Kenapa kau tidak ceritakan kepadaku?" Siska mengintrogasi.


"Banyak sekali pertanyaanmu, bagaimana aku bisa menjawabnya?"


"Ayo ceritakan kepadaku?"


"Panjang ceritanya Sis, besok-besok saja aku ceritakan ya, sekarang bantu aku membereskan barang-barang ini!" Mentari menunjuk beberapa barang yang belum dia masukkan ke dalam koper.


"Lalu makanan ini bagaimana?" Siska memperlihatkan kantong plastik yang dibawanya.


"Kau makan sajalah Sis, sudah tidak ada waktu lagi jika harus makan malam terlebih dahulu."


"Baiklah...pemuda itu lebih penting, tapi kau harus jaga dirimu baik-baik, Ok!" pesan Siska kepada Mentari dengan jempol dan telunjuknya membentuk huruf O.


Siska kemudian membantu Mentari memasukkan barang-barangnya ke dalam koper, Siska juga mengingatkan jika Mentari jangan sampai lupa membawa barang-barang keperluan pribadinya siapa tahu dibutuhkan disaat darurat.


Selesai berkemas, Mentari langsung pergi menuju ke Bandara.