My Old Star

My Old Star
#83 Dosen Baru



Pertandingan sore itu usai sudah dengan kemenangan dari club Arfan dan Zaki. Mereka akan melaju ke bapak final minggu depan dan siapapun yang nanti menang, kedua club itu tetap akan melaju ke turnamen nasional.


Arfan disibukkan dengan timnya yang mendapatkan selamat dari para penonton, dia sesekali memandang ke atas tribun untuk mengecek jika istrinya baik-baik saja.


Arfan melambaikkan tangannya ke arah Mentari, yang dibalas oleh gadis itu dengan senyum manisnya. Marryana yang ada di sebelah Siska menyangka jika Arfan menyapa dirinya.


Arfan mengikuti timnya hingga ke ruang ganti, Mentari dan Siska juga ke luar dari tempat pertandingan seperti penonton yang lain.


"Kak kami duluan ya?" Mentari berpamitan dengan Marryana.


"Iya aku juga mau keluar nih, kita bareng aja yuk!" ajak Marryana kepada Mentari dan Siska yang setuju keluar bersama-sama. Marryana merasa sangat terkesan dengan Arfan tadi yang melambaikan tangan ke arahnya. Hatinya terasa berbunga-bunga, setelah sekian lama tidak bertemu ternyata Arfan masih mengingat dirinya.


"Kak kami menunggu jemputan di sini, kakak pulangnya naik apa atau mau bareng kita saja siapa tahu kita searah kak?" Mentari mencoba mengakrabkan diri dengan Marryana, dia tidak mau hanya karena perasaannya yang mungkin belum tentu benar harus membuat dirinya memusuhi orang lain yang bahkan baru dikenalnya.


"Aku bawa mobil sendiri kok, aku parkir disana!" Marryana menunjuk tempat dimana mobilnya terparkir.


"Oh begitu ya kak, kalau begitu kakak hati-hati di jalan ya."


Marryana meninggalkan Mentari dan Siska yang masih menunggu rombongan keluar dari tempat pertandingan.


"Hai kalian rupanya ada di sini, tadi aku dan Stev mencari-cari kalian tapi tidak ketemu sampai pertandingan usai." Sania bersama Steven menghampiri mereka.


"Iya kak Mentari, jadi kurang seru deh karena kita tidak bisa teriak-teriak bersama tadi." Steven ikut membenarkan ucapan mamanya.


"Maafkan kakak ya sayang, minggu depan kita nonton bersama ya, tapi Stev harus ikut rombongan jadi tidak terpisah seperti tadi."


Steven mengangguk senang, dia sangat senang bermain bersama Mentari karena mereka sangat klop.


"Eh Tari tadi itu siapa, sepertinya aku tidak mengenalnya?" Tanya Sania karena tadi dia sempat melihat Mentari dan Siska berdiri bersama seorang wanita dan sepertinya mereka saling mengobrol.


"Oh itu kak Marryana, kita kenal di dalam tadi kebetulan dia duduk di sebelahku dan mendukung club yang sama jadinya kita tadi keluar bersama dan sempat mengobrol." Jawab Siska memberi keterangan kepada Sania.


"Begitu rupanya, aku kira kalian sudah kenal lama karena kalian terlihat cukup akrab."


"Aku rasa wanita itu cantik dan anggun, terlihat sangat matang." Sania memberikan penilaiannya.


Bersamaan dengan itu bus yang membawa Arfan dan rombongannya tiba di depan mereka sehingga mereka bergegas untuk naik ke atas bus dan pulang untuk beristirahat.


Arfan langsung berpamitan dengan Tomi begitu tiba di club, dia harus segera pulang karena ada yang harus dia kerjakan segera.


"Apa kalian tidak masuk dulu, kita rayakan kemenangan ini meskipun sejenak." Tomi memberikan usul agar mereka tidak langsung pergi begitu saja.


"Aku ada hal yang harus aku selesaikan segera Tom, salam buat anak-anak ya. Jangan lupa sampaikan kepada mereka ada hadiah dariku menanti mereka jika bisa menang di babak final. Jadi pastikan mereka latihan rutin, istirahat yang cukup dan makan yang teratur agar kesehatan mereka terjaga. Satu lagi jangan biarkan mereka begadang!"


"Siap bos, aku akan selalu mengingatkan mereka!"


Arfan menepuk pundak Tomi sebagai ungkapan terimakasihnya kepada Tomi yang selalu bisa dia andalkan sebelum dia pergi meninggalkan club.


Setelah mengantarkan Arman dan Siska ke tempat masing-masing mereka langsung pulang ke rumah mereka berdua.


"Lelahnya hari ini aku kak," Mentari membaringkan tubuhnya di ranjang besar mereka.


"Aku juga sayang, tapi aku bahagia sekaligus bangga kepada anak-anak karena mereka ternyata bisa melampaui ekpektasiku." Ucap Arfan yang ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Mentari.


"Mereka benar-benar hebat tadi di lapangan kak, aku sampai gemas sendiri dengan tingkah Dio yang tengil sehingga membuat konsentrasi lawan terpecah."


"Kamu mengamati hingga sejauh itu?"


"Tentu saja bahkan aku sempat menghitung kecepatan Dio dan teman-temannya."


"Oh ya ampun sayang, kenapa kamu bisa terpikirkan hal itu?"


"Menghitung kecepatan bisa kita gunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan personal anak-anak kak."


"Wah sepertinya kamu perlu melihat mereka berlatih sayang kemudian lakukan analisis kecepatan mereka dan bagian-bagian mana yang perlu mereka tingkatkan."


"Baiklah tidak masalah kak," jawab Mentari menyetujui usulan Arfan.


Mereka sibuk membahas pertandingan sore tadi, sesekali derai tawa menghiasi pembicaraan keduanya.


"Kakak duluan saja, nanti gantian aku yang mandi," tolak Mentari halus.


"Mana bisa begitu kalau suami mengajak mandi bersama, istri tidak boleh menolaknya."


Mentari dengan malas bangkit dari tempat tidur dan mengikuti Arfan masuk ke dalam kamar mandi.


Arfan dengan sigap melepaskan satu persatu baju Mentari hingga menyisakan bagian-bagian tertentu saja sembari mengisi bathtub dengan air panas kemudian melepas bajunya sendiri.


Arfan mengangkat tubuh Mentari ke dalam bathtub dan mendudukannya di pangkuannya.


Arfan menggosok punggung Mentari dengan lembut, "Gantian tolong gosokkan punggungku sayang!" Arfan meminta Mentari menggosokkan punggungnya.


"Berbaliklah akan aku gosokkan punggung kamu kak!" jawab Mentari dan Arfan mengikuti perintah dengan membalikkan tubuhnya.


Akibat sentuhan tangan Mentari yang lembut di punggungnya membuat junior Arfan bangkit ingin masuk ke sarangnya.


Arfan membalik tubuhnya dan menangkap tangan Mentari kemudian menarik tengkuk Mentari agar lebih dekat dengannya. Posisi Mentari saat ini ada di pangkuan Arfan.


Bibir Arfan menjelajah ke seluruh tubuh Mentari disertai tangannya yang aktif bermain di atas dua gundukan milik Mentari. Arfan perlahan menaik turunkan panggulnya membuat sensasi tersendiri bagi Mentari.


Satu jam sudah mereka berada di dalam kamar mandi dan belum menyelesaikan ritual mandi mereka yang berakhir dengan saling menikmati rasa masing-masing.


Arfan memeluk Mentari saat mencapai pelepasan bersama, "Terimakasih sayang...," ucap Arfan lirih di telinga Mentari yang dijawab dengan senyuman olehnya.


Mentari memeluk Arfan erat, orang yang dia cintai pada pandangan pertama ternyata benar-benar menjadi miliknya saat ini.


Kini mereka sudah berada di meja makan untuk makan malam bersama, Mentari hanya memasak mie instan dengan tambahan sayur dan lauk di atasnya karena sudah tidak ada waktu lagi baginya untuk memasak makanan yang lain malam ini.


"Maafkan aku kak karena kita hanya bisa makan mie instan malam ini." Mentari merasa menyesal karena seorang istri seharusnya bertanggungjawab penuh terhadap perut suaminya.


"Tidak apa-apa sayang, mau makan apapun asalkan bersamamu akan tetap terasa nikmat."


Mentari tersenyum, "Kakak gombal!" ucapnya.


Mereka melanjutkan makan malam dan beristirahat malam ini setelah menonton sebentar acara televisi yang memberitakan terkait persidangan seorang jendral yang sangat jahat karena tega menghilangkan nyawa ajudannya sendiri secara tidak manusiawi.


"Aku kok ngeri ya kak, ada saja tingkah manusia zaman sekarang." Mentari memberikan komentarnya.


"Sudah tidur saja, biarlah itu menjadi urusan mereka. Tugas kita hanyalah mendo'akan semoga kasusnya dapat diselesaikan secara adil dan kejadian serupa tidak terulang kembali."


Keesokan paginya seperti biasa mereka akan berangkat ke kampus bersama, setelah mengantarkan Mentari kemudian Arfan menuju ke ruang dosen di fakultasnya karena ada mata kuliah pagi yang harus dia berikan kepada mahasiswanya.


"Selamat pagi pak Arfan," sapa rekan dosen yang satu ruang dengan Arfan.


"Selamat pagi juga pak Rio," jawab Arfan sopan.


Mereka disibukkan dengan persiapan tugas mengajar mereka masing-masing setelah saling mengucapkan tegur sapa.


"Pak Arfan sudah tahu belum hari ini akan ada dosen baru yang datang kesini. Kabarnya wanita yang cantik dan cerdas. Apakah bapak tertarik?"


"Maaf pak Rio, saya sudah stabil bukankah bapak tahu jika saya sudah menikah?"


"Saya hanya bercanda pak, kali saja bapak tertarik dengan wanita ini nanti istri bapak buat aku saja!" pak Rio tertawa sendiri.


"Jangan pernah barharap bahkan di dalam mimpi bapak sekalipun!" jawab Arfan ketus karena kesal dengan candaan pak Rio yang benar-benar tidak ada lucunya sama sekali.


"Enak saja pak Rio, dia pikir pernikahan itu sebuah permainan yang bisa diganti kapanpun yang kita mau!" batin Arfan tidak paham dengan pemikiran pak Rio yang seolah meremehkan sebuah pernikahan yang suci.


Arfan meninggalkan pak Rio untuk pergi ke kelas yang akan dia beri kuliah pagi ini.


Arfan sedang bersantai di ruang dosen setelah menyelesaikan tugas mengajarnya hari ini. Tiba-tiba ada seorang wanita yang masuk ke ruang dosen setelah diantarkan oleh bagian tata usaha.


Betapa terkejutnya Arfan karena dosen baru yang sedari tadi pagi dibicarakan oleh rekan-rekannya adalah wanita yang sangat dikenalnya sejak kecil.


"Ana...?" Ucap Arfan reflek menyebut nama Marryana.


Marryana tersenyum puas karena Arfan masih mengenalinya meskipun mereka sudah berpisah sejak kecil karena harus tinggal di negara yang berbeda.