
Steven kembali menemui Mama dan Papanya yang sudah menunggunya di pintu gerbang masuk ke taman bermain.
"Hai Nak kenapa lama sekali?" Tomi bertanya kepada Steven.
"Tadi aku bertemu om baik Pa, dia berjanji akan menjadi temanku!" mata Steven berbinar saat menceritakan pertemuannya dengan Zaki.
"Stev bukankah Mama sudah pernah bilang, selama di sini kamu tidak boleh sembarangan berteman dengan orang asing,"
"Dia om baik Ma, aku menyukainya!"
"Stev...," Sania mulai tidak sabaran menghadapi Steven yang beranjak remaja dan ingin memiliki banyak teman.
"Sania biarkan saja Steven berteman dengan orang itu, tentu saja dengan pengawasan kita. Jadi kau jangan risau ya ada aku bersama kalian!" Tomi meyakinkan Sania agar Steven yang belum tahu apa-apa tidak merasa tertekan.
"Oh ya Nak, di mana om baik kamu itu. Kenapa tidak diajak bermain bersama kita saja?" Tomi mengarahkan pertanyaannya kepada Steven karena dia juga ingin tahu siapa orang yang Steven maksudkan.
"Dia ada di sebelah sana Pa," Steven menunjuk tempat di mana tadi dia bertemu dengan Zaki.
"Apakah orang itu?" Tomi menunjuk orang yang berdiri dari tempat yang Steven maksudkan.
Steven memfokuskan pandangannya, "Bukan Pa, om baik sepertinya sudah tidak ada di sana, dia sudah pergi Pa!"
"Baiklah tidak apa, kapan-kapan mungkin kita bisa bertemu lagi,"
"Aku akan menghubunginya Pa!"
Sania dan Tomi saling pandang sebab Steven dan orang yang Steven maksudkan ternyata semudah itu bisa akrab sampai bertukar nomor ponsel.
"Tidak perlu Nak, mungkin om baik sedang ada urusan lain, jika kamu menghubunginya nanti menganggu om baik bagaimana?"
"Iya Stev lain kali saja kamu menghubungi om baik kamu itu ya!"
"Baik Ma... Pa...,"
"Kalau begitu ayo kita masuk!" ajak Tomi dan mereka pun masuk untuk bermain banyak wahana hari ini.
Di club milik Arfan, Mentari baru saja membuka matanya. Dia duduk di sisi ranjang dan mengingat-ingat kapan dia tertidur.
Mentari melihat jam di dinding kamar, rupanya dia tertidur cukup lama pagi ini.
Mentari melihat di atas nakas sudah ada sarapan untuknya. Namun, sepertinya sarapan itu sudah lama tergeletak di sana karena susu di dalam gelas juga sudah dingin.
Arfan tiba-tiba masuk ke dalam kamar Mentari yang membuat gadis itu terlonjak kaget.
"Aaaaaaaaaaaaaa....," teriaknya dengan memegangi kepala.
Arfan berlari ke arah Mentari untuk menenangkannya, "Mentari kecil kamu jangan takut ini aku, Arfan!" Arfan memeluk Mentari yang masih ketakutan.
Nafas Mentari memburu, naik turun sangat cepat. Perlahan Mentari menurunkan tangannya yang tadi dia letakan di kepala.
"Kak Arfan... aku takut Kak!"
"Tenanglah di sini kamu aman!"
Berangsur-angsur Mentari mulai tenang, pikirannya sudah bisa dikendalikan kembali.
"Sekarang bersihkan dulu dirimu ya, setelah itu turunlah kita makan siang bersama anak-anak, bagaimana?"
Mentari mengangguk, "Aku tinggal dulu ya!" Arfan bangkit dari duduknya setelah memastikan jika Mentari baik-baik saja, kemudian dia ke luar membawa sarapan yang belum sempat di makan oleh Mentari karena sudah tidak layak konsumsi.
Mentari masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, setelahnya dia bergabung di meja makan bersama anak-anak dan juga Arfan untuk makan siang bersama.
"Wah Kakak Ipar memang cantik, pantas saja Bos kita klepek-klepek!" cletuk salah seorang anak asuh Arfan yang baru pertama kali bertemu dengan Mentari.
Dio memukul tangan Yudi dengan sendok, "Auuwww...," pekiknya sambil mengusap-usap tangannya yang terkena pukulan Dio tadi.
"Jaga bicaramu atau kamu akan tahu akibatnya!" Dio mengingatkan.
Mereka kembali makan siang bersama dengan tenang, selesai makan mereka membersihkan piring bekas makan mereka masing-masing. Arfan membiasakan hal itu agar mereka bisa hidup mandiri dan tidak memberatkan orang lain. Mereka kembali ke meja makan setelah semuanya selesai mereka bereskan.
"Anak-anak mungkin kalian sudah tahu jika Mentari akan tinggal di sini untuk beberapa hari ke depan karena ada alasan tertentu yang tidak bisa diceritakan, mohon kalian bisa membantu dan melindunginya selama dia ada di sini. Tolong juga hibur dia agar tidak kesepian!" Arfan memberikan instruksi.
Arfan memang merahasiakan alasan mengapa Mentari harus tinggal di club miliknya agar jangan banyak orang yang tahu dan sengaja iseng menganggunya karena mengetahui jika Mentari sedang mengalami ketakutan yang di luar batas wajar.
"Baik Bos...," jawab mereka serempak.
"Kalau begitu kalian bisa beristirahat setelah itu lanjutkan latihan kalian!"
Satu persatu anak-anak itu meninggalkan ruang makan untuk selanjutnya melaksanakan apa yang menjadi tanggung jawab mereka masing-masing.
"Kak... mereka sepatuh itu kepadamu?" Tanya Mentari yang sedari tadi diam menyimak bagaimana cara Arfan memberikan instruksi kepada anak asuhnya.
"Tentu saja mereka patuh, jika tidak maka mereka akan tahu sendiri akibatnya."
"Kejam sekali...," Mentari berbicara sambil tersenyum.
"Dunia di luar sana lebih kejam sehingga mereka harus mempersiapkan diri dengan baik sebelum mereka benar-benar kembali pada kehidupan mereka yang sesungguhnya."
"Ayo kita lihat mereka ke tempat latihan!" Ajak Arfan dan Mentari pun mengikuti ke mana Arfan melangkah.
Puas mengamati anak-anak latihan dan menganalisis hasil permainan mereka Arfan mengajak Mentari ke gazebo di belakang club, tempat yang baru Mentari tahu ada di club Arfan.
"Sejuk sekali tempat ini Kak!" Mentari memuji tempat yang banyak ditumbuhi pohon-pohon rindang dan bunga-bunga berwarna warni yang cukup terawat dengan baik.
"Apakah kamu suka?" Tanya Arfan.
Mentari mengangguk dan menghirup udara banyak-banyak. Gadis itu memejamkan mata, udara sore ini sangat menenangkan hati menurutnya.
Puas menghirup udara sore di bawah pepohonan yang rindang, Arfan mengajak Mentari untuk kembali ke club, Arfan tidak mau jika ada yang melihat dan mengenali Mentari, itu akan berbahaya sebab Mentari masih belum melupakan kejadian tempo hari yang terus membuatnya ketakutan.
"Ayo kita masuk!"
Arfan menggandeng tangan Mentari ketika memasuki club, mereka bertemu dengan Tomi yang baru pulang dari taman bermain bersama Sania dan Steven.
Sania cukup terkejut melihat Mentari ada di sana sebab dia tidak tahu siapa gadis yang sedang bersama Arfan itu. Mentari pun sama terkejutnya, dia melepaskan tangannya dari tautan jemari Arfan.
"Kalian sudah kembali?" Tanya Arfan santai.
"Iya Fan, maafkan aku tidak bisa menemani anak-anak latihan hari ini!"
"Tidak masalah, kalian harus sering menghabiskan waktu bersama selama di sini."
"Uncle itu Kakak yang bersama uncle siapa?" Steven bertanya kepada Arfan karena merasa penasaran dengan Mentari.
"Oh iya uncle belum kenalkan sama Stev ya," Arfan mengacak rambut Steven karena anak itu sangat menggemaskan.
"Ini namanya Kak Mentari, dia juga tinggal di sini bersama kita,"
"Wah benarkah uncle, Stev apakah boleh bermain bersama Kakak cantik uncle?"
"Coba kamu tanya sendiri sama Kak Mentari mau nggak bermain bersama Stev."
"Hallo Kakak cantik aku Steven, panggil saja aku Stev. Kakak cantik apakah mau menjadi teman Stev?"
Mentari tersenyum dan membungkuk, "Hallo anak ganteng, perkenalkan Kakak Mentari. Tentu saja Kakak mau bermain sama kamu ganteng!"
"Benarkah?" Mata Steven berbibar mendengar jawaban Mentari.
"Tentu saja...," Mentari bertos dengan Steven.
Sania merangkul pundak anaknya, "Stev sekarang mandi dulu ya, besok baru boleh bermain bersama Kak Mentari, bukankah Stev harus beristirahat?"
Steven mengangguk kemudian menuju ke kamarnya untuk melaksanakan perintah Sania.
Sania tersenyum kepada Mentari, "Fan masa tidak di kenalkan ke aku sih?" Sania melemparkan pertanyaan kepada Arfan.
"Kalian sudah besar bukankah bisa berkenalan sendiri?"
"Ah ya baiklah, kamu memang dari dulu tidak pernah berubah Fan!" Sania terkekeh.
"Mentari perkenalkan aku Sania, istri Tomi. Jadi jangan salah paham terhadapku lagi ya?"
Sania sengaja berkata seperti itu sebab tempo hari saat kedatangannya, dia sempat melihat gadis kecil itu bersama temannya kemudian mereka menghilang entah kemana bersama Arman dan berakhir dengan Arfan yang pergi begitu saja.
"Aku Mentari Kak, maafkan sikapku yang mungkin tidak sopan terhadapmu Kak!"
Mereka berdua bersalaman kemudian berpelukan, "Aku berharap kita bisa jadi teman baik!" ucap Sania dibalik pelukannya.
"Iya Kak, terimakasih!" balas Mentari.
"Sudah kan perkenalannya, sekarang kembalikan Mentariku!" Arfan menarik tangan Mentari agar kembali ke sisinya.
"Kau ini pelit sekali!" Sania mencibir.
"Fan dari dulu Sania itu menginginkan adik perempuan atau anak perempuan tapi belum terwujud, jadi maklumi sajalah kalau dia ingin dekat dengan Mentarimu itu!" Tomi memberikan pembelaan untuk istrinya.
Mendengar penjelasan dari Tomi yang awalnya Mentari merasa canggung dengan Sania akhirnya merasa diakui berada di tengah-tengah mereka karena sikap Sania yang sangat menghargai orang lain.
Di tempat lain, Bu Kartika merasa ada yang aneh terhadap Mentari yang tidak bisa dihubungi seharian ini, Mentari memang melupakan ponselnya yang kehabisan baterai sejak semalam.
Bu Kartika menghubungi Ilyas meminta tolong untuk melihat Mentari ke asrama. Bu Kartika tidak menghubungi Siska karena khawatir Siska berbohong kepadanya.
"Baik Tante, aku akan ke asrama Mentari!" jawab Ilyas pada sambungan telefon dengan Bu Kartika.
Sambungan telfon pun ditutup, Ilyas bergegas menuju ke asrama putri universitas Z dan meminta izin untuk menemui temannya di dalam asrama kepada penjaga asrama.
Selangkah demi selangkah Ilyas mendekati kamar Mentari dan Siska. Dia mengetuk pintu dan muncullah Siska dari balik pintu. Siska terkejut dengan kedatangan Ilyas yang tiba-tiba.
Siska menemui Ilyas di luar dan menutup pintu kamarnya, "Hai Yas ada apa?" Siska berusaha sebisa mungkin agar tidak gugup.
"Aku mau bertemu dengan Mentari, apakah dia ada di dalam?"
Siska ragu untuk menjawab, "Emmm... Mentari...,"