My Old Star

My Old Star
#136 Tangis Paman Faisal



Mentari kembali ke dapur untuk menyelesaikan membuat salad yang tadi sempat tertunda. Sedangkan Arfan duduk bersama Nenek dan Kakeknya di ruang keluarga sembari bersantai.


"Mahmud apakah kau sudah tidak mau memaafkannya?" Tanya Nenek Wijaya saat dia tengah duduk.


"Aku sudah memaafkannya Kak, tapi untuk kembali kepadanya mungkin aku harus berpikir seribu kali setelah apa yang dia lakukan kepadaku bersama anaknya."


"Bukankah Mona juga anak kamu?"


"Bukan!"


"Wanita itu mengkhianatiku hingga Mona hadir ke dunia ini, padahal aku sangat menyayangi anak itu. Tapi karena bukan tetes darahku maka perangainya tidaklah sama denganku, anak itu sangat sulit untuk diatur."


"Kau sangat kuat Mahmud."


"Bukan kuat Kak, tapi lebih tepatnya mungkin orang yang mudah dibohongi setelah dibutakan oleh cinta."


"Tapi ya sudahlah, aku sudah bahagia hidup seperti ini karena di masa tuaku dikelilingi oleh orang-orang yang baik."


Nenek Wijaya tersenyum melihat adiknya bisa hidup nyaman bersamanya, "Kau tidak akan hidup susah bersama kami. Jadi, kau tenanglah."


"Terimakasih Kak, aku bersyukur memiliki Kakak sepertimu."


"Kau pantas mendapatkannya Mahmud."


Kakek Mahmud memeluk Kakak perempuannya haru, dia tidak ingin mengecewakan mereka lagi karena kurang perhitungannya di masa lalu.


Arfan tersenyum tipis menyaksikan keduanya, usia mereka memang sudah tidak muda lagi namun semangat mereka patutlah dicontoh.


Nenek Wijaya mengurai pelukannya, dia menatap cucu satu-satunya yang bandel.


"Kau apakah sudah memikirkannya?" Tanya Nenek Wijaya dengan sorot matanya yang tajam.


"Aku tidak memikirkan apapun Nek," jawab Arfan santai.


"Dasar kau ini!" Nenek Wijaya tampak kesal karena Arfan sedikitpun tidak pernah berubah bahkan ketika keadaan Paman Faisal tidak memungkinkan lagi untuk mengurus perusahaan. Namun, Nenek Wijaya tidak kehabisan akal ketika melihat Mentari yang datang menghampiri ketiganya dengan membawa salad buah yang baru saja selesai dia buat.


"Mentari sayang sini nak duduk dekat Nenek!" ujar Nenek Wijaya dengan senyum bahagianya.


Mentari pun mengikuti perintah Nenek dengan duduk di sebelah perempuan sepuh itu.


"Sayang lihat suamimu itu, dia terlihat sangat tampan bukan?"


"Tentu saja Nek, bagiku setiap hari Kak Arfan selalu tampan di mataku."


"Bagaimana kalau dia pergi ke perusahaan dengan mengenakan jas. Bukankah dia akan tambah lebih tampan?"


Mentari mulai paham kemana arah pembicaraan Nenek sebenarnya. Dia menoleh ke arah suaminya yang terlihat tetap cuek.


"Bagaimana sayang menurutmu, bukankah dibandingkan jika dia mengenakan kaos olahraga akan lebih tampan dia mengenakan jas?"


"Aku suka semua penampilan Kak Arfan Nek, jadi apapun yang dia kenakan pasti akan tetap terlihat tampan."


"Kau ini pasti sudah dihipnotis olehnya, mana ada kaos olahraga dengan kemeja dan jas akan sama-sama tampan."


"Nek jangan khawatir ya, percayalah Kak Arfan pasti akan memberikan yang terbaik untuk keluarga ini."


"Kau sepertinya sangat yakin sayang?"


"Tentu saja Nek, sebab aku tahu jika Kak Arfan seorang laki-laki yang bertanggungjawab."


Arfan tersenyum di dalam hatinya, dia memuji istrinya yang ternyata memberikan jawaban dengan cerdas, bahkan tidak berat sebelah.


"Nek...," panggil Arfan terjeda.


"Aku ingin menanyakan sesuatu sebelum aku benar-benar bisa memutuskan jalan mana yang akan aku pilih."


"Katakan apa yang ingin kau ketahui dari Nenek?"


Arfan merogoh kantong celananya dan mengambil kertas yang dibawanya dari perusahaan.


Arfan memberikan kertas itu kepada Neneknya yang kemudian dibaca oleh Nenek Wijaya dengan mata berkaca-kaca.


"Dari mana kau mendapatkan ini Fan?" Tanya Nenek yang memang mencari pesan ini sejak perpuluh-puluh tahun lalu.


"Lemari besi yang ada di ruangan Paman Faisal Nek."


"Kau berhasil membuka lemari itu?"


"Aku tidak sengaja melakukannya Nek."


Nenek Wijaya sontak memeluk cucunya, "Kau pasti sudah bisa memutuskan bukan, perusahaan itu milik Ayahmu. Dia membangun perusahaannya sebelum menikah dengan Ibumu dengan modal yang Kakekmu berikan, namun sayang saat kau kecil banyak orang jahat yang mengincar mereka dan terjadilah kecelakaan yang merenggut nyawa keduanya. Nenek membawamu ke luar negeri untuk menyelamatkanmu, sedangkan Kakekmu berusaha menstabilkan perusahaan sejak kepergian mendiang orangtuamu."


"Maafkan aku Nek karena aku tidak mengetahuinya."


"Sebenarnya Nenek sudah lama ingin mengatakannya kepadamu, tapi Nenek tidak bisa menceritakan apapun karena surat yang ditulis oleh Ayahmu hilang entah kemana. Nenek paham sifatmu yang tidak mudah percaya tanpa bukti."


"Apakah aku membuat Nenek terbebani karena sikapku?"


"Tidak sama sekali, Nenek menyayangimu dengan tulus."


"Terimakasih Nek," Arfan kembali memeluk Neneknya, merasakan dengan tulus kasih sayang Neneknya yang tanpa batas.


"Kalian berdua istirahatlah, Nenek akan mengabari Paman Faisal dan dewan direksi secepatnya bahwa anak pemilik perusahaan yang sesungguhnya telah kembali."


Arfan membawa Mentari ke kamarnya, dia tahu jika Neneknya butuh waktu untuk mengungkapkan rasa yang bertahun-tahun membebani pikirannya.


"Mentari apakah aku sudah benar dengan pilihanku?" Ujar Arfan saat mereka sudah merebahkan diri di kasur.


"Demi kebahagiaan Nenek dan mengurangi bebannya, aku rasa pilihan Kakak sudah tepat. Jadilah cucu yang berbakti Kak, lagipula wasiat Ayah sudah sangat jelas."


"Kau benar, maafkan aku sayang jika nanti aku akan semakin sibuk."


"Aku memang sangat beruntung memilikimu sayang."


Arfan memeluk Mentari dan mereka terlelap bersama. Keesokan harinya setelah sarapan di rumah Nenek, Arfan membawa Mentari ke club. Ada hal penting yang harus Arfan bicarakan dengan Tomi.


"Sayang kau mainlah dengan Stev dan Sania!"


Mentari mengangguk kemudian pergi mencari Sania dan Steven yang sedang menanam sayur di kebun belakang bersama Ibu dan Ilyas.


"Kapan datang Mentari?" Tanya Sania yang melihat kedatangan Mentari dengan senyum sumringahnya.


"Aku baru saja sampai Kak, kalian sedang apa?"


"Kita sedang menanam sayur, memanfaatkan lahan kosong. Kata Ibu lumayan bisa buat dimasak sendiri."


"Kalian sangat kreatif," puji Mentari.


Mentari ikut larut dalam acara tanam menanam bersama mereka di kebun belakang, sedangkan Arfan langsung menemui Tomi di ruang rapat.


"Fan aku rasa tanpamu belum tentu aku bisa mengelola club ini." Tomi mengarahkan pandangannya ke langit-langit ruangan.


"Aku sangat yakin kau bisa Tom, aku pasti akan sering datang jika kau membutuhkan aku ada di sini."


"Tapi Fan...,"


"Aku sudah sering mengandalkanmu dan kau bisa melakukannya dengan sangat baik Tom."


"Mohon bimbingannya Fan!"


Arfan menepuk pundak Tomi sebagai tanda jika dia sangat percaya pada sahabatnya itu. Arfan kemudian keluar dari ruang rapat dan menjemput istrinya untuk mereka segera pulang ke rumah mereka yang selalu saja mereka tinggal-tinggal.


Sebulan kemudian, Nenek ternyata telah mempersiapkan acara pengukuhan kembalinya pemilik perusahaan yang sesungguhnya bersamaan dengan wisuda Mentari yang tidak mungkin diundur lagi.


Hari yang sangat sibuk tentunya bagi Arfan sebab dia harus ke perusahaan dan terpaksa tidak bisa menghadiri wisuda Mentari dan Siska.


Ayah dan Ibu Mentari mendampingi putri kecilnya yang sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu. Mereka sangat terharu, sebab pilihan Mentari tidaklah salah. Dulu mereka terlalu khawatir jika kuliah Mentari akan terhenti jika menikah sebelum menyelesaikan kuliahnya.


"Ibu sangat bangga kepadamu Nak?"


"Terimakasih Bu, maafkan Mentari yang mungkin pernah membuat Ibu kecewa."


"Tidak Nak, bahkan Ibu sangat bangga terhadapmu."


"Ayo sebaiknya kita masuk sekarang, acara sudah hampir dimulai!" ajak Pak Mahendra kepada putrinya.


"Apakah Kak Arfan bisa sampai sebelum acaraku dimulai Yah?"


"Dia pasti akan datang, jangan khawatirkan hal itu sayang."


"Itu Siska juga akan masuk bersama orangtuanya, sebaiknya kita masuk sekarang!"


Mentari masuk ke dalam bersama orangtuanya untuk prosesi wisuda, sedangkan Arfan sedang bertemu dewan direksi sejak pagi untuk pengukuhan dirinya sebagai pemimpin perusahaan dan akan meneruskan pekerjaan Paman Faisal. Beberapa hari yang lalu Arfan sudah mengundurkan diri dari kampus tempatnya selama ini mengajar.


Pihak kampus sebenarnya sangat menyayangkan keputusan Arfan sebab mereka sangat membutuhkan dosen sekelas Arfan untuk mahasiswanya. Namun, mereka juga tidak bisa menghalangi Arfan sebab dia juga memiliki kehidupan pribadi yang tidak bisa dicampuri oleh siapapun.


Paman Faisal menitikkan air mata saat memeluk Arfan untuk mengucapkan selamat kepadanya.


"Terimakasih Paman, karena selama ini Paman sudah menjaga perusahaan orangtuaku dengan sepenuh hati Paman."


"Sama-sama Fan, Paman sangat bahagia dan bangga terhadapmu. Kau anak yang sangat bijaksana dan memiliki pemikiran yang luas."


"Terimakasih Paman, tapi aku masih belajar."


"Oh ya Paman, aku punya hadiah untukmu."


Arfan mengambil hadiah yang sudah disiapkannya untuk Paman Faisal.


"Ini Paman terimalah!"


"Apa ini Fan?"


"Buka saja Faisal, cucuku menyiapkannya untukmu." Nenek Wijaya menghampiri mereka berdua.


"Tapi Kak, ini terlalu berlebihan. Aku tidak bisa menerimanya Kak."


"Paman berhak mendapatkannya, jadi terimalah sebab itu tidak sebanding dengan apa yang sudah paman korbankan untuk perusahaan ini."


"Arfan benar Faisal, bukankah kau ingin menghabiskan masa tuamu bersama keluargamu. Jadi, kau membutuhkan rumah yang nyaman untuk kau tinggali dan kau tidak perlu memikirkan biaya hidupmu ke depannya, sebab segala kebutuhanmu dan keluargamu sudah ditanggung oleh perusahaan."


Tangis Paman Faisal semakin menjadi-jadi saat mendengar penuturan Nenek Wijaya.


"Terimakasih Kak, aku sangat beruntung memiliki kalian."


"Sama-sama Faisal."


"Fan bukankah hari ini acara wisudanya Mentari?"


"Iya Nek, aku tidak yakin jika acaranya belum dimulai." Arfan melihat jam di balik lengan kemejanya.


"Acaranya belum dimulai Fan, jika sekarang kau bergegas."


Tanpa pikir panjang Arfan meninggalkan perusahaan, dia tidak ingin melewatkan acara wisuda istri tercintanya.


Sepeninggal Arfan, Paman Faisala bertanya kepada Nenek Wijaya atas apa yang telah diucapkannya kepada Arfan.


"Kenapa Kakak begitu yakin jika acaranya belum dimulai?"


Nenek Wijaya tidak menjawab pertanyaan Paman Faisal dan hanya tersenyum saja menanggapinya. Nenek Wijaya memang sudah memberitahu pihak kampus jika Arfan akan terlambat sehingga pihak kampus membuat acara hiburan dengan durasi cukup panjang sebelum prosesi wisuda dilaksanakan sehingga memungkinkan bagi Arfan untuk bisa mendampingi istrinya saat prosesi wisuda.


"Tunggu aku Mentari, aku pasti akan segera sampai."