
Zaki memeluk Steven sangat erat, "Papa merindukanmu Nak," ucapnya berlinang air mata yang membuat Steven memandang ke arahnya.
"Om baik, itu papaku namanya papa Tomi. Ayo Stev kenalkan sama om."
Arman mendorong kursi roda Zaki mendekat kepada Tomi.
Sania memandang penuh kebencian terhadap Zaki, namun kali ini bukan saat yang tepat bagi dirinya untuk melampiaskan kemarahannya selama sepuluh tahun terakhir ini.
"Pa... ma... ini om baik yang pernah aku ceritakan di taman bermain waktu itu."
"Oh benarkah sayang?" Jawab Sania dengan senyum mengembang di hadapan putranya, namun sejatinya hati Sania menahan amarah yang siap meletus kapan saja.
"Om ini papa Tomi dan mama Sania, kalau itu uncle Arfan dan kak Mentari." Steven memperkenalkan satu persatu keluarganya.
Mereka bersalaman seolah saling berkenalan satu sama lain meskipun dengan senyum kecutnya masing-masing. Namun, berbeda dengan Zaki yang tersenyum bahagia dan sangat ramah, baru kali ini mereka saling berjabat tangan kembali setelah sekian lama.
"Stev sepertinya kita harus pergi sekarang, papa sudah ingin beristirahat di rumah." Tomi yang sudah tidak ingin berlama-lama dengan Zaki mengingatkan Stev.
Steven mengangguk, "Om baik Stev pulang dulu ya, sampai jumpa lagi ya om." Steven kembali memeluk Zaki.
"Cepat sehat ya om, nanti kita bermain bersama!"
"Baiklah Stev sayang, om berjanji akan segera sembuh jadi bisa kapan saja bermain bersama Stev." Zaki tersenyum bahagia, anak yang dia rindukan ternyata kini ada di depan matanya. Zaki merasa beruntung masih dipertemukan dengan Steven, anak itu tumbuh sangat baik.
Steven meninggalkan Zaki mengikuti papa dan mamanya.
"Jangan harap kalian bisa bertemu lagi!" ucap Arfan ketus saat melewati Zaki.
"Apa maksud kamu Fan? Dia anakku dan aku ayah biologisnya."
"Sekarang kamu baru mengakui jika dia anakmu? Kemana saja kau selama ini, apa pantas kau disebut sebagai seorang ayah?" Arfan berkata dengan wajah sangat menjengkelkan bagi siapa saja yang melihatnya.
"Fan sudahlah, ini di rumah sakit kendalikan dirimu!" Arman melerai keduanya.
Arfan kemudian berlalu begitu saja, "Maafkan kak Arfan, dia tidak bermaksud begitu, kami pergi dulu." Ucap Mentari sebelum meninggalkan tempat itu, Mentari mengejar Arfan menuju ke parkiran karena semua sudah menunggu mereka di sana.
Arman mendorong kursi roda Zaki, "Kamu bersabarlah Za, Stev tetap anakmu dan kau adalah ayahnya. Steven berhak tahu kebenarannya." Arman berusaha menguatkan hati Zaki yang mungkin sangat menyesali perbuatannya di masa lalu hingga dirinya merasakan sakit yang lebih dari sekedar sakit di dalam hatinya.
Mobil yang Arfan kendarai memasuki club, namun di sana ada banyak sekali Wartawan yang sepertinya akan meliput berita penting. Namun, pertanyaannya kenapa di club milik Arfan. Para wartawan itu mengerubuti mobil Arfan tatkala melihat mobil itu memasuki club.
"Ada apa ini Fan kenap ramai sekali?" Tanya Sania yang sedikit panik.
Arfan mengangkat kedua bahunya sebab dia juga tidak tahu apa-apa soal berkumpulnya wartawan di clubnya. Arfan mengecek ponselnya ternyata ada berpuluh-puluh panggilan tak terjawab dari Dio. Arfan memang sengaja mensilent ponselnya sejak pagi tadi.
Arfan menelfon balik Dio karena ke luar dari mobilpun percumah, mereka sangat banyak.
"Mama kenapa kita tidak turun?"
"Iya sayang sebentar ya,"
"Ma mereka itu sebenarnya siapa, kenapa mereka membawa kamera ke sini?"
"Stev tenang dulu ya,"
Sania sibuk menjawab pertanyaan Steven dan menenangkan anak itu supaya tidak panik. Sedangkan Mentari berselancar ke dunia maya, mengecek siapa tahu ada tranding topic yang dapat menjelaskan kenapa banyak sekali wartawan berkumpul di depan club Arfan.
"Ketemu!" pekik gadis itu sambil membaca berita yang tertulis di internet.
"Bagaimana Mentari?" Tanya Tomi.
"Mereka sepertinya ingin meliput perkelahian kalian."
"Perkelahian Tomi dan Arfan maksudnya?" Tanya Sania heran sebab yang berkelahi setahu dirinya hanyalah Tomi saja.
"Iya kak coba lihat headnews internet ini." Mentari menyodorkan ponselnya kepada Sania.
"Setelah manager club berkelahi dan dirawat di rumah sakit, giliran bos club A&W yang merupakan dosen di universitas Z memukuli salah satu mahasiswanya dari fakultas MIPA karena merebutkan seorang gadis." Sania membaca berita itu dengan lantang.
"Ya ampun Fan sebenarnya apa yang kamu lakukan?" Tanya Sania.
"Ceritanya panjang kak dan kak Arfan tidak bersalah karena berusaha menolongku." Mentari membantu Arfan menjelaskan kepada Sania.
Arfan yang baru selesai menelfon Dio, memutuskan untuk membawa mereka ke luar dari mobil. Arfan tetap bersikap tenang, tidak ada sedikitpun rasa cemas tergambar di wajahnya, dia akan turun tangan sendiri mengatasi masalah yang tiba-tiba saja hadir di depannya. Padahal baru saja dia ingin beristirahat.
"Ayo semuanya kita turun, kalian masuk saja dan aku yang akan menghadapi mereka!"
"Fan aku akan ada bersamamu!" Tomi ingin turut membantu.
"Kalau begitu aku saja yang akan bersamamu kak!" Mentari merasa dia harus berdiri di samping Arfan, bagaimanapun juga Arfan terlibat baku hantam karena menolong dirinya.
"Mentari kecil apa kau ingin melihatku cemburu kepadamu?"
"Maksud kakak?"
"Apa kau ingin seantero negeri ini melihat wajahmu dan mereka akan mengagumi kecantikanmu, apa kau tidak memperdulikan bagaimana perasaanku?"
Mentari dibuat tidak mampu berkata apa-apa karena ucapan Arfan.
"Dalam kondisi seperti ini kamu masih memperdulikan soal perasaan? Dasar pria aneh!" Sania merasa tidak habis pikir dengan jalan pikiran Arfan yang sulit sekali ditebak.
"Kalau kalian masih menganggapku ada maka ikuti saja kata-kataku, karena semakin lama kita di sini mereka akan semakin berisik dan membuat berita yang tidak benar."
Mereka semua turun dari mobil mengikuti kemauan Arfan. Mereka meninggalkan Arfan yang langsung di kepung oleh wartawan. Mentari masuk ke dalam club meskipun dengan perasaan campur aduk dan khawatir terhadap Arfan.
Arfan sendiri menjawab satu persatu pertanyaan wartawan dengan sangat tenang dan lantang. Dalam setiap penjelasannya Arfan selalu memberikan penekanan-penekanan tertentu.
"Mohon maaf saya rasa cukup untuk menjawab semua pertanyaan kalian, sebab itulah yang sebenarnya terjadi!"
"Pak Arfan apa anda tidak memiliki rasa empati terhadap mahasiswa anda, bagaimana dengan perasaan orangtuanya jika mendengar anaknya dijebloskan ke penjara oleh dosennya sendiri!"
"Siapa yang berbuat berarti siap menerima segala konsekuensi dari apa yang telah diperbuatnya. Itulah seharusnya yang perlu manusia renungi, sebab dikaruniai akal pikirian yang selayaknya digunakan untuk berpikir!" jawab Arfan lugas.
"Mohon maaf saya harus masuk sekarang!"
"Tapi pak masih ada pertanyaan yang anda harus menjawabnya.
Arfan tidak memperdulikan lagi para wartawan itu, sebab Arfan sudah menjawab semua keingintahuan mereka. Arfan memasuki club yang langsung disongsong oleh Mentari.
"Bagaimana kak apakah mereka menyulitkanmu?"
"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatirkan semua itu."
Mentari mengintip ke arah jendela, satu persatu dari pemburu berita itu perlahan pergi meninggalkan club milik Arfan.
"Mereka sudah pergi kak!"
"Aku akan ambilkan minum, kakak pasti haus!"
Mentari melangkah meninggalkan Arfan, namun Arfan mencegahnya. Arfan memeluk Mentari dari belakang.
"Mentari kecil, apa kau bersedia hidup bersamaku meskipun apapun yang terjadi?" Tanya Arfan yang sudah menenggelamkan wajahnya di bahu Mentari.
"Aku bersedia kak!" jawab Mentari mantap.
Arfan membalik tubuh Mentari dan memeluknya erat. Mereka berpelukan sangat lama baru Arfan melepaskan Mentari.
Bunyi panggilan terdengar masuk ke ponsel Arfan, "Kau angkatlah kak, aku akan mengambilkan air untukmu!"
"Hallo pak, apakah ada hal penting sehingga bapak menelfon saya?" Arfan sudah menduga jika pihak kampus juga akan meminta keterangan terkait dengan masalah dirinya dan Ilyas.
"Besok temui saya di kampus ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan pak Arfan."
"Hal penting bagaimana maksud bapak?"
"Anda coba baca berita di internet, semua orang sudah tahu apa yang anda lakukan. Itu sama saja menjatuhkan nama universitas Z di mata masyarakat, pengaruhnya sangat besar bagi kemajuan kampus!"
"Saya bisa menjelaskan semuanya pak,"
"Kalau begitu jelaskan kepada kami besok di ruang dekan!"
"Baik pak."
Sambungan telfon terputus, Mentari ternyata dari tadi ada di belakang Arfan yang sedang menerima telfon sehingga dia mendengar semua yang Arfan bicarakan dengan pihak kampus di mana Arfan bekerja saat ini.
"Semua gara-gara aku," Mentari menggerutu menyalahkan dirinya sendiri.
Arfan duduk di sofa sambil memijit-mijit pelipisnya, tampak sekali jika dia sangat lelah dengan semua permasalahan yang ada.
"Kak minumlah dulu selagi masih hangat," Mentari tersenyum seolah hatinya sedang tidak bertalu-talu, dia berpura-pura tidak tahu menahu mengenai percakapan Arfan tadi.
"Terimakasih Mentari kecil."