
Arfan memandang Mentari iba, gadis itu masih terlihat sangat shock dibandingkan merasakan kakinya yang sedikit masih sakit.
Siska menyusul Mentari ke mobil Arfan, "Maafkan kami Mentari, kami melupakan pesan penjaga pantai."
"Kalian tidak bersalah, aku juga melupakan hal itu karena sangat bahagia."
Siska memeluk Mentari, "Apakah ada yang sakit?" Bisiknya.
"Kakiku sedikit terluka Sis," jawab Mentari.
"Segera sembuh ya Mentari sayang,"
"Terimakasih Siska sayang."
Mereka berpelukan cukup lama, Siska merasa bersalah karena tidak bisa melindungi sahabatnya itu.
"Mentari akan ikut denganku, Siska kau temani Arman ya!" Arfan menginterupsi mereka berdua yang masih berpelukan.
"Baik Pak," jawab Siska.
"Kamu hati-hati di jalan ya," pesan Siska.
"Iya Sis... kamu juga ya!"
Kedua sahabat itu saling berpisah sementara, meskipun sebenarnya Siska ingin menemani Mentari hanya saja dia juga tidak tega jika harus membiarkan Arman menyetir sendirian.
Arfan melajukan mobilnya yang diikuti oleh mobil yang dikemudikan oleh Arman di belakang mereka, perjalanan yang harus mereka tempuh cukup jauh sehingga Mentari yang kelelahan tertidur di kursi penumpang.
"Kau pasti sangat lelah gadis kecil, maafkan aku yang belum bisa sepenuhnya menjagamu dengan baik," Arfan membatin, sesekali dia memandangi Mentari yang terlelap dengan damai.
Kini mereka sudah berada di depan asrama kampus Z setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam lamanya. Mentari belum terbangun sehingga Arfan tidak tega untuk mengusik tidur gadis itu.
"Apakah Mentari masih tidur Pak?" Tanya Siska yang langsung berhambur ke mobil Arfan begitu turun dari mobil yang di kendarai oleh Arman.
"Belum Sis, sepertinya dia sangat lelah hari ini!" jawab Arfan yang kemudian turun dari mobil.
Arfan berputar ke depan mobilnya kemudian mengangkat Mentari untuk dia bawa masuk ke dalam asrama, mengingat hari sudah larut, Arfan tidak ingin Mentari masuk angin karena terlalu lama terkena angin malam.
Tengah malam Mentari terbangun dengan peluh yang membanjiri sekujur tubuhnya, dia bermimpi buruk. Kejadian sore tadi masuk ke dalam mimpinya. Siska ikut terbangun dan mengambilkan air putih untuk Mentari agar dia bisa sedikit lebih tenang.
"Kau tenanglah Mentari!" ucap Siska sembari memberikan gelas berisi air kepada Mentari.
"Minumlah dulu!"
Mentari meraih gelas yang diberikan Siska dan meminumnya.
"Apa yang kau lihat dalam mimpimu?"
"Aku merasa orang itu masih ada di sekitar sini Sis, aku seperti melihatnya di jendela."
"Kamu hanya masih trauma sehingga semua itu masuk ke dalam mimpimu!"
"Aku benar-benar takut Sis," Mentari memeluk Siska.
"Ada aku, kita sudah mengunci pintu dan juga jendela. Tidak ada yang bisa masuk ke sini. Lagi pula di depan ada penjaga asrama yang tidak akan mengizinkan sembarang orang masuk ke dalam ditambah jarak kita dengan orang itu sudah cukup jauh, dia tidak akan pernah menemukan keberadaan kita di sini Tari." Siska mencoba menenangkan Mentari.
Mentari sudah tidak bisa tidur lagi, rasa mengantuknya terasa hilang bersama dengan rasa was-was yang memblenggu dirinya.
"Jika kau mengantuk tidur saja Sis, aku akan baik-baik saja!"
Siska menggeleng, "Apa besok sebaiknya kau pulang saja ke rumah orangtuamu, kau harus menghilangkan traumamu dulu sebelum kembali ke sini. Rumah mungkin akan jauh lebih aman buat kamu Tari," Siska memberikan saran.
"Di rumah aku akan sering sendirian karena Ayah dan Ibuku setiap hari bekerja Sis, mereka kadang pulang larut malam. Aku akan semakin ketakutan jika harus sendirian di rumah!"
"Kau benar juga Mentari,"
Siska tampak termangu memikirkan cara agar bisa menghilangkan ketakutan dalam diri Mentari. Dia tidak ingin sahabatnya itu berlarut-larut dalam ketakutannya yang bisa membuat frustasi berkepanjangan.
Pagi-pagi sekali Arfan datang ke asrama, dia bergegas menemui Mentari setelah membaca pesan dari Siska.
Tok... tok... tok...
Arfan mengetuk pintu kamar Mentari dan mengagetkan gadis itu yang masih termangu menunggu Siska ke luar dari dalam kamar mandi.
"Siapa?" Tanya Mentari sebelum memutar kunci kamarnya.
"Aku Mentari kecil," jawab Arfan dari luar.
Mentari merasa lega karena mengenali suara itu adalah suara Arfan. Perlahan Mentari membuka pintu kamarnya karena kakinya memang masih terasa sedikit sakit.
Arfan langsung memeluk Mentari begitu Mentari membukakan pintu untuknya, "Apakah kau baik-baik saja?" Tanyanya.
"Aku hanya tidak bisa tidur Kak," jawab Mentari.
"Apakah kau masih takut?" Tanya Arfan lagi.
Mereka masih berpelukan saat Siska ke luar dari kamar mandi, "Kalian membuatku iri saja!" Siska berseloroh yang membuat Mentari melepaskan pelukan Arfan. Wajahnya bersemu merah karena malu.
"Ayo masuk dulu Kak," Mentari mempersilahkan Arfan masuk.
"Siska apakah kau akan baik-baik saja jika tinggal sendirian di sini?" Arfan mengarahkan pertanyaannya kepada Siska setelah dirinya duduk.
"Di sini cukup aman, jadi tidak masalah jika harus tinggal sendirian Pak!"
"Bagus kalau seperti itu!"
Mentari tidak paham dengan pertanyaan Arfan sebab dia juga tinggal di sana lalu kenapa Siska harus tinggal sendirian pikirnya.
"Siska tinggal bersamaku Kak, jadi tidak mungkin dia sendirian di sini!"
"Demi kebaikan kamu, aku akan tinggal sendirian dulu di sini untuk sementara waktu Mentari sayang,"
"Maksud kamu Sis?"
"Kamu akan pindah untuk sementara waktu dari sini, sampai kamu tidak merasa ketakutan lagi karena bayang-bayang orang itu ada di jendela," Arfan menjawab pertanyaan Mentari.
"Iya Mentari kamu ikut Pak Arfan dulu ya, kamu akan aman bersama Pak Arfan!" Siska menambahkan.
"Tapi Sis...,"
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku sayang, karena aku pasti akan baik-baik saja!" Siska mencoba meyakinkan Mentari.
Mentari memandangi wajah Siska, di satu sisi dia tidak ingin meninggalkan Siska di sisi lain dia juga masih merasa ketakutan.
"Hanya untuk sementara, ayo aku bantu kamu membereskan barang-barang kamu Tari!" Siska mendorong tubuh Mentari agar bersiap dengan barang-barangnya sebelum siang.
Arfan sudah meminta izin kepada pengurus asrama agar Mentari bisa tinggal di luar asrama terlebih dahulu karena alasan tertentu. Beruntung pengurus mengizinkan Mentari karena alasan yang diberikan Arfan cukup logis.
"Kamu akan tinggal di clubku Mentari," ucap Arfan santai sambil bersedekap.
"Apa?!" Mentari terkejut dengan pernyataan Arfan.
"Di sana tempat paling aman untukmu saat ini Mentari!"
"Bukan itu Kak,"
"Aku tidak akan melampaui batas, jadi kamu tidak perlu khawatir." Arfan meyakinkan Mentari.
"Lalu bagaimana jika Ayah dan Ibuku tahu kita tinggal bersama, mereka pasti akan sangat murka kepadaku Kak!"
"Aku yang akan bertanggungjawab akan hal ini," jawab Arfan mantap.
"Ayo kita pergi!" Arfan mengajak Mentari untuk meninggalkan asrama setelah semua barang-barangnya selesai dibereskan.
Mentari tampak masih ragu, "Tenanglah aku tidak akan pernah melampaui batas!" janji Arfan.
"Siska...," Mentari memeluk sahabatnya.
"Kamu tidak perlu khawatirkan aku ya, aku pasti akan baik-baik saja. Sekarang pergilah, bukankah kita masih bisa bertemu di kampus?"
"Aku pergi ya Sis, kamu jaga diri baik-baik!" Mentari melepaskan pelukannya, kemudian pergi meninggalkan asrama bersama Arfan.
Mentari tahu jika Sania dan Steven masih berada di club Arfan, tentu saja saat ini dia harus benar-benar mempersiapkan diri untuk bertemu dengan mereka. Kepindahaannya saat ini memang mendadak, sehingga mau tidak mau di harus berdamai dengan dirinya sendiri, menyiapkan mental agar dia selalu kuat jika terpaksa harus melihat kebersamaan Arfan dengan Sania dan Steven.
"Kenapa melamun?"
"Tidakkah senang akan selalu bersamaku?"
Arfan bertanya sambil mengemudi karena dia tidak mendengar Mentari mengeluarkan sepatah katapun sedari naik ke dalam mobil.
"A-aku hanya khawatir jika Ayah dan Ibuku tahu aku tinggal bersama kamu Kak!" Mentari mencoba memberikan jawaban selogis mungkin karena tidak mau dianggap tidak percaya dengan Arfan yang mengatakan bahwa dirinya dan Sania hanya bersahabat.
"Ini hanya sementara, jika ketakutanmu sudah bisa teratasi maka kamu bisa kembali lagi ke asrama, jadi kita berusaha sebaik mungkin jangan sampai mereka tahu," Arfan mengusap lembut rambut Mentari dengan tangan kirinya.
Kini sampailah mereka di depan club, hati Mentari semakin berdegup kencang. Kemarin dia sudah terkejut, dia tidak ingin hari ini mendapatkan kejutan lagi dari Arfan di clubnya.
Dio menyambut mereka di depan, "Kakak Ipar sudah lama sekali kita tidak bertemu!" Dio tampak berbinar menyongsong kedatangan Mentari.
Semua yang ada di club sudah mengetahui jika Mentari akan tinggal sementara waktu bersama mereka, jadi mereka sangat antusias. Pribadi Mentari yang periang, sejak pertama kali datang sudah mampu memikat hati mereka semua. Selain tidak pernah sombong padahal dekat dengan Bos mereka, Mentari juga sangat menyenangkan bagi mereka karena bisa mencairkan suasana agar tidak tegang dengan aura Arfan yang selalu dingin.
"Kemarin aku ke sini tapi kalian tidak ada,"
"Ah benarkah, mungkin saat kau datang kami sedang pergi bertanding."
Mentari dan Dio seolah melupakan Arfan, mereka asyik mengobrol bersama dan masuk tanpa memperdulikan Arfan yang masih di belakang membawa koper milik Mentari.
"Kalian ini!" Arfan bersedekap kemudian masuk dengan sedikit kesal.