My Old Star

My Old Star
#96 Buah Jeruk



Arfan ke luar dari dalam kamar mandi dalam keadaan pucat pasi, terlalu banyak yang dia keluarkan pagi ini. Dia kembali ke meja makan bermaksud meminta Mentari untuk membuatkannya teh panas, tapi tanpa diminta teh panas sudah tersaji di atas meja.


"Minum dulu kak!" Mentari memberikan segelas teh panas kepada suaminya.


"Terimkasih sayang," Arfan menerima gelas berisi teh panas itu dan meminumnya. Perutnya berangsur-angsur terasa lebih hangat.


"Apa kita ke dokter saja kak, mungkin kakak semalam masuk angin jadi terasa mual pagi ini."


"Tidak perlu sayang, tinggal istirahat sebentar nanti juga akan sembuh."


"Kak pokoknya kita harus ke dokter, bukankah nanti sore ada pertandingan. Kakak harus menemani anak-anak bermain."


Nenek Wijaya tersenyum melihat kedua cucunya itu yang mungkin belum tahu apa-apa mengenai kehamilan padahal seharusnya mereka sudah belajar mengenai hal itu, "Fan itu artinya kamu sangat menyayangi istrimu!" Nenek Wijaya menimpali perdebatan mereka.


"Maksud nenek?" Tanya Arfan dan Mentari secara bersamaan.


"Yang terjadi pada kamu itu bukan masuk angin tetapi morning sickness."


"Nek bukankah seharusnya Mentari yang mengalaminya?"


"Morning sickness biasanya memang terjadi pada masa kehamilan muda seorang ibu, tapi terkadang ibu tidak mual muntah melainkan suaminya yang mengalaminya, ini dinamakan kahamilan simpatik." Nenek Wijaya menjelaskan.


"Apa ini akan berlangsung lama nek?"


"Tergantung sayang, bisa sampai usia kandunganmu tiga atau empat bulan. Arfan akan sangat sensitif dengan bau-bauan tertentu jadi kalian berdua harus bisa menjaga mood masing-masing agar jangan sampai ada keributan diantara kalian berdua."


"Ternyata aku beruntung sekali ya kak, karena kakak yang harus mengalaminya bukan aku."


"Aku akan lakukan apa saja untuk menjaga kalian berdua sayang, jadi seperti inipun aku rela."


Nenek Wijaya sangat terharu melihat pemandangan di depannya, ternyata pilihannya tidak salah. Arfan yang sangat sulit untuk bisa didekati oleh seorang gadis kini terlihat sangat menyayangi istrinya.


"Andai kalian semua masih ada, kalian pasti akan sangat bahagia. Tunai sudah tugasku untuk menjaga Arfan karena dia sudah menemukan kebahagiaannya bersama gadis yang dia cintai. Andai waktuku tiba untuk menyusul kalian maka aku akan pergi dengan tenang." Nenek Wijaya membatin membayangkan wajah orangtua Arfan dan juga kakek Wijaya yang sudah kembali kepada sang pencipta. Wanita sepuh itu menitikkan air matanya.


"Nenek kenapa menangis?" Mentari melihat butiran bening yang menetes di wajah nenek yang sebenarnya sangat cantik ketika muda dulu. Guratan-guratan kecantikannya di masa lalu masih tersisa di wajah sepuhnya.


"Nenek hanya kelilipan sayang, kalau begitu nenek akan ke kamar untuk membersihkannya." Nenek Wijaya meninggalkan mereka berdua dan masuk ke kamarnya.


Di kamar, nenek menulis sesuatu yang kemudian dia simpan untuk besok dia serahkan kepada Pengacara keluarga Wijaya.


"Kak sebaiknya kita istirahat atau kakak mau makan sesuatu akan aku buatkan!"


"Tidak sayang, nanti saja. Aku sedang tidak ingin makan apapun sekarang."


Mereka menuju ke kamar agar Arfan bisa beristirahat, Mentari membuka laptopnya untuk menulis tesisnya kembali karena dia harus bergegas menyelesaikan semua itu sebelum dia benar-benar kewalahan membawa tubuhnya sendiri karena perut yang semakin hari semakin membesar.


Tengah hari Arfan terbangun karena dering alarm yang sengaja dia pasang agar dia jangan sampai terlambat untuk datang ke club. Dia mencari keberadaan Mentari yang tidak ada di dalam kamar.


"Kemana dia?" Pikirnya.


Arfan kemudian bergegas untuk membersihkan dirinya dan bersiap pergi.


Mentari masuk ke dalam kamar dalam kondisi sudah rapi ketika Arfan sedang bersiap, "Ayo kak kita makan siang dulu, aku sudah masak tadi bersama bibi!"


"Sayang kok kamu sudah rapi saja, memangnya mau kemana?"


"Loh bukannya ada pertandingan hari ini kak, aku mau jadi suporter kalian." Jawab Mentari dengan riangnya.


"Apa aku harus mengizinkanmu untuk ikut?"


"Tentu saja, lagi pula ada Siska. Aku mau melihat tim kalian bertanding. Belum tentu juga kan di tingkat nasional nanti aku bisa ikut menonton!"


"Aku akan patuh kak!"


"Kalau begitu ayo!"


Mereka pergi ke club setelah makan siang, sekaligus berpamitan kepada nenek jika mereka malam ini akan pulang ke rumah mereka sehingga tidak perlu menunggu untuk makan malam bersama.


Siska mengabari jika dia akan berangkat bersama Arman langsung ke lokasi pertandingan sehingga mereka tidak ke asrama dulu untuk menjemput Siska.


Saat mereka sampai di club, anak-anak sudah bersiap dan akan memasuki bus. Sania dan Steven juga tidak ketinggalan ikut bersama rombongan, hanya tersisa ibu Ilyas saja di club.


"Apakah kami terlambat Tom?"


"Tidak Fan, kalian datang tepat pada waktunya. Ayo kita harus bergegas!"


Mereka semua memasuki bus dan pergi ke lokasi pertandingan, hari ini semua berharap agar club mereka bisa menjuarai turnamen tahun ini.


Sania membawa banyak buah-buahan yang dia letakkan di dekat tempatnya duduk bersama Steven untuk nanti diberikan kepada anak-anak usai pertandingan. Arfan tiba-tiba mendekati Sania dan meminta buah jeruk kepadanya, entah kenapa Arfan ingin memakan buah itu padahal biasanya dia tidak terlalu suka memakannya.


"Sa... itu berikan kepadaku!" Arfan menunjuk kantong berisi buah jeruk kepada Sania.


"Ini untuk anak-anak Fan, mana boleh kamu memintanya!" Sania mengerjai Arfan dengan tidak memberikannya.


"Ayolah Sania berikan kepadaku, aku sangat menginginkannya!"


Sania berpikir jika Arfan sangat aneh hari ini, tidak biasanya Arfan akan meminta sebuah makanan dengan sebegitunya.


"Baiklah akan aku berikan!" Sania memberikan kantong plastik berisi buah jeruk itu kepada Arfan.


Arfan kembali duduk di dekat Mentari, dia menikmati buah itu seolah sangat enak. Bahkan Arfan sampai menghabiskan banyak sekali.


"Fan itu untuk anak-anak, kenapa kamu makan banyak sekali?" Kesal Sania karena Arfan tidak ingat dengan anak-anak asuhnya.


"Akan aku traktir mereka makan malam Sa, yang terpenting buah ini untukku seorang!"


"Dasar aneh, kesurupan kamu Fan!"


Arfan tidak memperdulikan lagi ocehan Sania, sebab dengan memakan buah itu perutnya terasa sangat nyaman. Mentari sampai tidak tega melihat suaminya bersikap seperti itu.


Mereka sampai di lokasi pertandingan, semua rombongan memasuki gedung pertandingan. Mentari bersama Sania dan Steven menempati kursi penonton VIP agar Arfan tetap bisa memantau mereka.


Terlihat Zaki datang dengan kursi roda dan di dorong oleh Marryana memasuki lapangan. Sania terkejut melihat kejadian itu, bahkan mereka terlihat sangat dekat.


Hati Sania berdegup sangat kencang, tidak mungkin dia masih memiliki perasaan kepada laki-laki yang dulu pernah membuangnya meskipun saat ini Zaki sudah banyak berubah. Sania sendiri sudah memiliki kehidupan yang sempurna bersama Tomi.


"Kak Sania baik-baik saja?" Tanya Mentari yang melihat wajah Sania berubah sendu.


"Aku tidak apa-apa Mentari, aku hanya terharu karena tim kita ternyata berhasil hingga mencapai titik ini." Sania berkilah agar Mentari tidak mencurigainya.


"Aku juga bangga sekali dengan mereka kak, mereka berusaha sangat keras dan bekerja sama dengan sangat baik."


Siska dan Arman datang tepat sebelum pertandingan di mulai, sehingga Mentari urung memberitahukan kepada Sania mengenai kehamilannya dan sikap aneh Arfan hari ini.


Pertandingan berjalan cukup alot hari ini, kedua tim saling berjuang untuk menyabet gelar juara, tidak ada yang mau kalah. Adu teknik dan kekuatan dipertontonkan di tengah lapangan.


Arfan sesekali mamantau istrinya dan memastikannya tetap aman bersama Sania dan Steven.


"Aku mencintaimu Mentari!" ucap Arfan lirih dengan memandang lurus ke arah istrinya.