
Arfan memarkirkan kendaraannya sembarang dan meminta agar petugas parkir merapikannya setelah keluar dari dalam mobil. Kebetulan orang yang sedang menjaga parkir di acara wisuda kali ini sangat mengenal Arfan.
Dulu sewaktu Arfan masih mengajar, mereka seringkali bertemu di mushola kampus untuk sholat dzhuhur berjamaah. Arfan seringkali mentraktirnya makan siang sehingga orang itu sangat kehilangan saat Arfan memutuskan untuk resign dari kampus.
"Pak Arfan datang kemari untuk menghadiri acara siapa Pak?" Tanya Mang Kosim kepada Arfan saat menghampiri Arfan yang turun dari mobilnya.
"Aku datang karena istriku wisuda hari ini Mang. Minta tolong rapikan mobilku ya Mang, soalnya aku terburu-buru."
"Siap Pak!"
Arfan memberikan kunci mobilnya kepada Mang Kosim kemudian bergegas meninggalkan tempat parkir.
Langkah panjang Arfan membawanya ke gedung tempat acara sedang berlangsung dan prosesi wisuda baru saja dimulai.
Arfan tahu di nomor berapa saat ini Mentari duduk, dia langsung menuju ke tempat gadis itu untuk memberinya kejutan.
Betapa terkejutnya Mentari saat melihat Arfan menghampirinya, teman-teman Mentari pun sangat takjub karena bisa melihat Arfan secara dekat. Orang yang selama ini membuat siapa saja yang melihatnya langsung terpesona, dan saat ini orang itu ada di hadapan mereka.
Arfan memang tak lagi muda bahkan dia sudah menikah, namun semua itu tidaklah mengurangi pesona Arfan bagi siap saja yang melihatnya.
"Apakah kau terkejut?" Tanya Arfan yang sudah duduk di samping istrinya.
"Aku sangat terkejut Kak, aku tidak menyangka Kakak akan datang."
"Aku tidak mungkin melewatkan acara sepenting ini sayang."
"Apakah tadi di kantor berjalan lancar?"
"Kakak tidak gugup kan?" Sambung Mentari.
"Semuanya berjalan dengan lancar sayang," Arfan tersenyum sangat manis melihat tingkah istrinya yang ternyata sangat khawatir terhadapnya.
"Syukurlah Kak, aku tidak bisa membayangkannya jika itu aku, tentu aku akan sangat gugup."
"Sudah jangan bahas lagi ya, lebih baik kita fokus pada acara hari ini."
Tidak lama setelahnya, nama Mentari di panggil untuk naik ke atas podium. Arfan mendampingi Mentari dan berjalan di samping gadis itu.
Sorak sorai seluruh peserta wisuda menggema di dalam gedung.
"Aku sangat gugup Kak." Mentari mengenggam tangan Arfan agar dia bisa sedikit tenang.
"Tenanglah sayang, ada aku di sampingmu."
"Tatap ke depan dan busungkan dadamu. Tetaplah percaya diri karena kaulah yang terbaik."
Mentari mengangguk dan melakukan apa yang Arfan suruh.
Mentari meraih predikat dengan nilai tertinggi dan mahasiswa termuda yang berhasil menyelesaikan S2 dengan waktu tercepat.
Mentari diminta untuk menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai wakil dari seluruh mahasiswa yang diwisuda hari ini.
Arfan berdiri di samping Mentari saat istrinya itu menyampaikan pidatonya.
Kata demi kata yang Mentari sampaikan sangat lugas dan sangat menyentuh hati, membuat semua yang ada di dalam gedung itu merasa terharu.
Mentari turun setelah menutup pidatonya, dia kembali ke kursinya untuk menyaksikan rangkaian acara yang masih berlangsung.
Saat keluar dari gedung, dia disambut oleh keluarga Tomi dan juga anak-anak yang sudah menantikan acara hari ini.
"Kak Mentari selamat ya, kalau sudah besar nanti Stev mau seperti Kakak." Steven memeluk Mentari dan memberikan bunga kepadanya.
"Terimakasih Stev sayang, Stev harus belajar yang rajin ya agar cita-cita Stev tercapai."
"Iya Kak aku pasti belajar dengan rajin," janji Stev kepada Mentari.
Sania dan Tomi juga memberikan selamat kepada Mentari, tidak ketinggalan Ilyas dan Ibunya juga datang untuk memberikan selamat. Begitu pula dengan anak-anak yang datang untuk mengucapkan selamat kepada Mentari.
"Selamat atas wisuda kakak ipar, kami ikut bahagia." Dio mewakili teman-temannya dan memberikan hadiah kepada Mentari.
"Terimakasih ya, kalian mau datang saja sudah membahagiakan untukku, tidak perlu repot begini."
"Kami tulus memberikannya jadi harus diterima ya kakak ipar."
"Baiklah kalau begitu," Mentari tersenyum sangat bahagia.
"Mentari aku juga punya hadiah untukmu, terimalah!" Ilyas memberikan kado kepada Mentari sebagai ucapan selamat.
"Terimakasih Ilyas, kau pasti akan menyusulku. Segera lulus ya Yas!"
Arfan mengajak semua yang hadir ke acara wisuda Mentari kali ini untuk makan siang bersama sekaligus merayakan kelulusan istrinya itu setelah semua mengucapkan selamat kepada Mentari.
Tidak ketinggalan Siska bersama orangtuanya dan juga Arman ikut bersama rombongan untuk merayakan kelulusan mereka berdua.
Saat makan siang bersama tiba-tiba perut Mentari terasa tidak nyaman. Dia terus memegangi perutnya dengan keringat dingin yang bercucuran.
Mentari mencengkeram lengan Arfan sangat erat dan suasana berubah menjadi panik.
"Bu bagaimana ini?" Tanya Arfan kepada Bu Kartika.
"Jangan panik Nak, sepertinya Mentari mau melahirkan. Sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit sekarang Fan."
"Baik Bu."
"Aku ikut!" pinta Siska yang ingin mengantarkan sahabatnya ke rumah sakit.
Arfan mengangguk dan tanpa pikir panjang, Arfan mengangkat tubuh istrinya menuju ke parkiran setelah memerintahkan Tomi untuk mengurus semuanya.
Arfan melajukan mobilnya di jalan raya, dia tidak ingin terjadi apa-apa pada anak dan istrinya itu. Sedangkan Siska ikut mobil yang dikendarai oleh Arman di belakang mobil Arfan.
Sesekali Arfan menengok ke kabin belakang untuk melihat kondisi Mentari yang bersandar di pangkuan Ibunya.
Mereka berhasil sampai di rumah sakit dalam waktu singkat karena kepiawaian Arfan dalam mengemudi.
Perawat langsung membawa Mentari ke ruang bersalin untuk memeriksa kondisinya dengan Arfan yang menemaninya.
Arfan terlihat sangat gugup dan sedih melihat kondisi istrinya, rasanya memang tidak akan pernah tega melihat wanita kesayangannya merasakan sakit demi melahirkan buah hati mereka.
"Kamu pasti kuat sayang, jangan menyerah. Aku mencintaimu." Arfan menitikkan air matanya melihat Mentari yang menahan rasa sakit.
Tim dokter telah bersiap untuk melakukan persalinan sebab pembukaan telah lengkap, tim dokter yang dipimpin oleh dokter Sandra mulai membimbing Mentari untuk menarik nafas dan mengeluarkannya pelan-pelan.
Keringat bercucuran di kening Mentari yang dengan terampil Arfan mengelapnya, laki-laki yang sudah tak lagi muda itu serasa ikut merasakan perjuangan istrinya, ikut merasakan rasa sakitnya dan berjanji di dalam hatinya bahwa sampai kapanpun dia tidak akan pernah menyia-nyiakan Mentari dengan alasan apapun, melihat perjuangan Mentari yang begitu luar biasa untuk melahirkan buah hati mereka.
Suara tangis bayi pecah di seluruh ruangan, Arfan dan Mentari sama-sama menitikkan air mata atas kelahiran bayi mereka. Tangis bahagia Mentari dan Arfan atas kelahiran putra pertama mereka.
"Selamat Pak Arfan dan Ibu Mentari, anak kalian laki-laki. Dia sangat sehat dan lengkap segala sesuatunya."
"Terimakasih dok," jawab Arfan.
Setelah bayi mereka dibersihkan, Arfan menggendongnya dan mengadzani putranya itu dengan perasaan haru.
"Anak Papa yang ganteng, selamat datang ke dunia."
Mentari dan bayinya dibawa ke ruang perawatan untuk memulihkan kondisinya sebelum diperbolehkan pulang.
Nenek Wijaya datang ke rumah sakit bersama Kakek Mahmud, orangtua Mentari baru saja pulang untuk beristirahat karena mereka sejak siang sudah berada di rumah sakit untuk menemani Arfan dan Mentari. Begitu pula dengan Siska dan Arman, mereka akan kembali lagi esok hari.
Nenek Wijaya langsung memeluk Mentari begitu masuk ke ruang rawat, "Terimakasih sayang, kamu telah memberikan cucu buyut untuk Nenek."
"Jangan lupa ada aku juga yang ikut andil Nek." Arfan bersedekap pura-pura kesal karena Neneknya bahkan lebih sayang kepada Mentari ketimbang dirinya.
"Kau ini sudah jadi Ayah tetap saja bersikap kekanak-kanakan."
Arfan tiba-tiba memeluk Neneknya, "Terimakasih Nek, jika bukan karena Nenek aku mungkin tidak akan kuat sampai sejauh ini."
"Kaulah penyemangat Nenek sayang, karena kaulah Nenek terus berjuang."
Mereka tampak menangis bersama, kelahiran anak pertama Arfan membuat semua bisa mencurahkan perasaan mereka yang selama ini terpendam. Kebahagiaan itu membuat mereka sadar betapa pentingnya keluarga bagi mereka.
Nenek Wijaya menggendong anak Arfan dan mengajaknya berceloteh.
Arfan mendekati Mentari dan mengecup kening gadis itu begitu dalam.
"Kau wanita hebat sayang, anak kita pasti akan cerdas sepertimu."
"Dia akan tampan seperti Kak."
Arfan tersenyum mendengar jawaban istrinya, "Ternyata kau mengakui jika aku tampan?"
"Jika kau tidak tampan mana mungkin aku menyukaimu sejak pertama kali bertemu denganmu Kak."
Arfan memeluk istri kecilnya yang sangat dia cintai bahkan kini kebahagiaan mereka telah lengkap dengan hadirnya seorang putra dalam keluarga kecil keduanya.
Setelah dirawat selama tiga hari, Mentari dan bayinya diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit, melahirkan normal membuat Mentari lebih cepat pulih dan bisa beraktivitas secara mandiri dengan baik meskipun belum bisa secepat biasanya.
"Selamat datang di rumah sayang, kau adalah pangeran di rumah ini." Ucap Arfan saat meletakkan putranya di atas tempat tidur yang telah mereka siapkan khusus untuk putra mereka.