My Old Star

My Old Star
#73 Melindungi Mereka Semua



Arfan memutuskan untuk segera pindah ke rumah neneknya, bagaimanapun juga dia harus mempersiapkan dirinya dengan baik, sebelum menikah ada banyak hal yang akan dia lakukan bersama dengan neneknya.


Arfan sudah menyerahkan segala urusan club kepada Tomi, sedangkan Arfan hanya akan memberikan suport system kepada mereka dari belakang. Dia benar-benar ingin fokus dengan pernikahannya terlebih dahulu.


Arfan setiap hari masih pergi untuk mengajar di kampus hanya saja dia akan segera pulang ke rumah neneknya setelah mengantarkan Mentari ke rumah orangtuanya.


Steven yang sudah sehat juga kembali masuk sekolah, namun kali ini Steven lebih menutup diri terutama kepada Zaki. Dia masih berpikir jika tujuan Zaki mendekati dirinya adalah untuk mengambil mamanya dari papa Tomi.


Meskipun Steven merasa kesepian karena Mentari sudah tidak tinggal di club lagi, tapi dia bisa mengerti jika sebentar lagi Mentari akan menikah dan harus mempersiapkan diri dengan baik. Dia mencoba bermain sendiri atau dengan kakak-kakak di club jika mereka tidak sedang berlatih atau bertanding.


Mentari sendiri sibuk dengan kuliahnya, sebelum menikah dia ingin agar tesisnya paling tidak sudah berjalan sehingga pada saatnya nanti ketika dia disibukkan dengan urusan suami maka dia tidak terlalu kerepotan dengan tugas-tugas kampusnya.


"Mentari aku kangen?" Siska yang sudah beberapa hari ini tidak bertemu dengan Mentari merasa rindu dengan sahabat baiknya itu.


"Duh yang sedang jatuh cinta, lupa sama kawan sendiri." Jawab Mentari berpura-pura ngambek.


Siska nyengir kuda, "Duh yang mau jadi pengantin rajin sekali mengerjakan tesisnya, lama-lama tuh laptop kamu bawa tidur juga biar saat tidur tetap bisa mengetik!" balas Siska yang tidak mau kalah.


"Emang kalau rajin salah ya?"


"Enggak juga sih, eh Mentari main ke perusahaan nenek Wijaya yuk, aku mau ngenterin ini nih buat ayang beb yang lagi bekerja keras banting tulang buat eneng!" Siska tertawa membayangkan Arman akan senang jika dia kasih kejutan dengan membawakan makan siang untuknya.


"Duh lebaynya kawanku yang satu ini." Mentari tertawa melihat Siska yang sepertinya sedang bucin akut.


"Ayolah Tari, sebentar saja. Please!!!" Siska memohon.


"Males ah Sis, aku lagi ngerjain ini nih. Biar besok udah kelar."


Arfan yang mendengarkan pembicaraan mereka berdua sejak tadi di luar tiba-tiba masuk ke dalam kelas dan mengagetkan mereka berdua dengan suara khasnya.


"Ayo kita temui Arman!"


"Ta-tapi aku masih repot dengan ini kak!" Mentari menunjuk laptop di depannya yang masih menyala karena masih dia gunakan.


"Sudah kerjakan lagi saja nanti."


Siska menjulurkan lidahnya kepada Mentari, dia merasa menang karena Arfan malah setuju mereka mendatangi Arman di perusahaan milik neneknya.


Mentari mematikan laptopnya kemudian membereskan semua barang-barangnya, dia mau tidak mau akhirnya ikut bersama mereka berdua menemui Arman di perusahaan.


Arfan tidak mengetahui ternyata Mona sedang berada di ruangan Arman, dia sedang mencoba membujuk Arman agar mau mengikuti apa yang menjadi kehendaknya.


"Lalu apa rencanamu Mon?" Arman ingin tahu apa rencana Mona.


"Apa kau bisa dipercaya?"


"Tergantung?"


"Licik juga ternyata Arman." Pikir Mona dan justru ini akan menjadi hal yang bagus apabila Arman mau menjadi bagian dari rencananya.


"Aku akan siapkan imbalan yang besar buat kamu Man, jika kamu berhasil dengan rencanaku ini!"


"Baiklah... Deal!" Mona menjabat tangan Arman tanda mereka bersepakat untuk bekerja sama.


Arfan tiba di depan perusahaan yang saat ini dipimpin oleh paman Faisal. Dia membawa Mentari dan Siska langsung ke ruangan Arman, tanpa di duga Mona masih ada di ruangan itu. Mereka sedang mengobrol berdua, terdengar derai tawa dari luar ruangan yang membuat hati Siska terasa panas, dia tidak pernah menyangka jika Arman akan seakrab itu dengan wanita lain tanpa sepengetahuannya.


Arfan diam saja saat masuk ke dalam ruang kerja Arman, sudah menjadi hal wajar jika Arfan sangat marah kepada Arman saat ini.


Arfan tidak pernah menyangka jika dibelakangnya Arman ternyata sangat akrab dengan Mona, orang yang sangat dibencinya saat ini.


"Ups... Ada pemilik perusahaan ini datang, sebaiknya aku pergi. Takut mengganggu kalian," Mona menatap sinis Mentari, namun Mentari tidak merasa takut sedikitpun.


"Ada apa Fan, tumben kalian datang kesini tanpa memberitahuku dulu!" ucap Arman santai seolah tidak terjadi apapun meskipun dia sangat paham jika Arfan pasti murka kepadanya, tapi apa boleh buat dia harus masuk ke dalam permainan Mona terlebih dahulu untuk mendapatkan tujuannya.


"Kalau aku memberitahu kamu dulu, pasti aku tidak akan pernah menangkap basah penghianat!" jawab Arfan dingin.


Arman tersenyum, "Baiklah terserah anggapanmu Fan, aku hanya melakukan apa yang aku ingin lakukan."


"Keterlaluan kamu kak!" Siska sudah tidak tahan lagi jika tidak ikut angkat bicara.


"Terserah kamu menganggapku apa Sis, tapi aku tidak pernah sekalipun menghianatimu!"


"Ingat Man, kamu akan menyesal jika menyakiti Siska dan juga menghianati perusahaan ini!" Arfan memberikan ancaman kepada Arman kemudian ke luar menyusul Mentari dan Siska yang sudah lebih dahulu pergi.


Arman memandangi punggung Arfan yang menjauh, "Maafkan aku Fan, aku terpaksa melakukan ini!" ucap Arman lirih.


Arfan yang emosi langsung menghubungi paman Faisal dan memerintahkannya untuk segera memecat Arman dari perusahaan, namun paman Faisal justru tertawa mendengar permintaan Arfan.


"Paman tidak akan pernah memecatnya karena dia bekerja dengan sangat baik Fan, telentanya luar biasa jadi paman tidak mungkin membuang berlian yang susah untuk paman dapatkan lagi kecuali jika dia mengundurkan diri secara pribadi kepada paman."


Paman Faisal tersenyum sendiri, "Kamu sangat mudah untuk ditebak Fan!" paman Faisal membatin.


"Baiklah paman, tolong awasi dia. Jangan pernah biarkan dia sering bertemu dengan Mona!"


Arfan menutup panggilannya, "Mentari apakah Siska baik-baik saja?" Tanya Arfan ketika dia sudah duduk di balik kemudi.


"Siska masih sangat sedih kak,"


"Baiklah sekarang akan aku antarkan kalian berdua ke rumah, ajak Siska bermalam di rumah kamu dan jangan biarkan dia sendirian!"


Mentari mengangguk, "Aku mengerti kak!"


Arman memandangi mobil yang Arfan kemudikan meninggalkan parkiran perusahaan dari atas gedung. Dia tahu apa yang dia lakukan pasti menyakiti orang-orang yang dia sayangi, hanya saja Arman ingin melindungi mereka semua. Meskipun dirinya sendiri yang menjadi taruhannya, mungkin dengan cara ini dia bisa membalas budi baik Arfan kepadanya.


"Man lakukan saja apa yang menurut kamu benar!" paman Faisal masuk ke dalam ruangan Arman tanpa sepengetahuannya.


"Terimakasih paman sudah mendukungku!" Arman membalikkan badannya.


Paman Faisal menepuk pundak Arman kemudian pergi meninggalkan ruangan Arman.


Arman masih termenung memandangi paperbag yang ditinggalkan oleh Siska, "Aku akan menjelaskan semuanya kepadamu nanti, maafkan aku Sis." Arman berbicara dengan dirinya sendiri.


"Kak hati-hati di jalan ya, terimakasih sudah mengantarkan kami." Ucap Mentari karena Arfan tidak bisa mampir dulu ke rumah.


Arfan mengedipkan kedua matanya memberikan isyarat kepada Mentari agar jangan terlalu mengkhawatirkannya, "Kalian masukklah, aku pergi dulu!"


Arfan ke luar dari halaman rumah Mentari, "Sayang kenapa Arfan tidak masuk?" Bu Kartika yang melihat mobil Arfan pergi menghampiri mereka berdua.


"Kak Arfan ada urusan bu, mungkin lain kali."


"Ya sudah, kalian masuk saja!"


Arfan melajukan mobilnya untuk menemui Mona, dia ingin berbicara kepada tantenya itu. Mona dengan senang hati menerima ajakan Arfan, sesuatu hal yang langka bagi Mona maka dia tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Mona apa tujuanmu sebenarnya mendekati Arman?" Tanya Arfan dengan nada dingin.


"Kamu ingin tahu tujuanku Arfan sayang?"


"Kamu itu tanteku, tidak usah berbicara semanis itu di depanku!"


"Kalau kamu menganggap aku sebagai tante kamu, kenapa kamu tidak pernah mau mendengarkan kata-kataku?"


"Kata-kata mana yang perlu aku dengarkan tante!" Arfan menekan kata-katanya.


"Berkencanlah denganku, semalam saja. Maka aku akan melepaskanmu!"


"Jangan pernah bermimpi aku akan memenuhi permintaanmu tante, karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah melakukannya!"


"Baiklah tidak masalah, bukankah masih ada Arman?" Ucap Mona memberikan provokasi.


Arfan mengepalkan tangannya, berani-beraninya Mona menggunakan Arman untuk mengancamnya.


"Jangan pernah sentuh dia!"


"Kalau begitu tinggalkan Mentari!"


"Permintaan macam apa itu tante!"


"Kamu tinggal pilih Fan!"