My Old Star

My Old Star
#8 Berkunjung Kembali



Arfan merebahkan dirinya di atas tempat tidur setelah membersihkan dirinya terlebih dahulu, dia bersyukur karena ada Mentari kecil disana membuatnya tidak harus berurusan lebih panjang lagi dengan Bulan, dia tidak buruk ataupun jelek tapi Arfan tidak sedikitpun tertarik kepadanya.


Arfan mencoba memejamkan matanya, namun tidak bisa karena dia justru teringat dengan Mentari. Arfan terduduk dengan memeluk bantalnya.


"Apakah dia akan mendapatkan masalah karena aku?" tanya Arfan pada dirinya sendiri.


Mendadak Arfan menjadi khawatir terhadap Mentari. Bisa jadi orangtuanya maupun saudara-saudaranya akan memberikan serentetan pertanyaan untuknya.


Arfan terpikirkan untuk menghubungi Mentari, namun berkali-kali dia urungkan. Arfan merasa sangat gelisah malam ini.


"Aku akan berkunjung kembali ke rumah Mentari lagi besok pagi," ucap Arfan lagi pada dirinya sendiri, kemudian meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu pergi tidur.


Keesokan harinya Arfan pagi-pagi sekali sudah keluar dari kamar, menemui Nenek yang sudah berada di meja makan untuk sarapan.


"Nek aku akan pergi sebentar," pamit Arfan ketika telah selesai menghabiskan sarapannya.


"Mau kemana pagi-pagi begini, ini tahun baru, seharusnya bukankah kau libur?"


"Aku mau ke rumah Mentari Nek,"


"Benarkah?" Nenek Wijaya begitu bahagia mendengar jawaban dari Cucunya.


"Kalau begitu bergegaslah, jangan lupa belikan oleh-oleh untuk mereka sebagai ucapan selamat tahun baru!"


"Akan aku pikirkan nanti Nek," Arfan keluar dari rumah setelah berpamitan dengan Neneknya.


Setelah menempuh setengah perjalanan Arfan berpikir untuk mampir ke swalayan untuk membeli beberapa macam buah tangan untuk dibawa ke rumah Mentari sebagai oleh-oleh.


Arfan kini sudah tiba di depan rumah keluarga Mahendra.


Tok...tok...tok....


Arfan mengetuk pintu.


Mentari yang membukakan pintu untuk Arfan.


"Kau?" Mentari mengerutkan dahinya.


"Apakah boleh masuk?" tanya Arfan.


Mentari mengangguk dan mempersilahkan Arfan untuk duduk di ruang tamu, sementara Mentari memanggil orangtuanya dengan perasaan yang diliputi kebahagiaan, belum pernah rasanya dirinya merasakan hal semacam ini sebelumnya.


"Nak Arfan ada perlu apa kemari?" tanya Ayah Mentari begitu sudah duduk di sofa ruang tamu.


"Begini Om, Nenek memintaku untuk mengantarkan ini!" Arfan memberikan oleh-oleh yang dia bawa.


"Sampaikan terimakasih kami kepada Nenek, seharusnya tidak perlu repot seperti ini." Ucap Pak Mahendra.


"Tidak repot kok Om,"


Mentari datang membawakan minuman untuk Arfan dan Ayahnya yang diikuti oleh Bu Kartika yang membawa camilan untuk disajikan kepada tamu mereka.


Bu Kartika tersenyum kepada Arfan, dia masih berharap jika Arfan mau menerima Bulan dan bukan malah tertarik pada Mentari.


"Mentari kau masuklah, kami mau bicara dengan Arfan." Ucap Bu Kartika.


Mentari patuh terhadap perintah Bu Kartika dan masuk ke dalam kamarnya. Sebenarnya dia ingin berlama-lama berada di ruang tamu, tapi demi melihat Ibunya agar tidak marah Mentari memilih patuh dengan pengaturan dari Ibunya.


Dia bergegas masuk ke dalam kamar mempersiapkan barangnya yang akan dia bawa ke asrama hari ini karena rencananya memang demikian.


"Nak Arfan kami tidak mau jika Mentari kamu jadikan sebagai mainan!" ucap Bu Kartika sedikit ketus.


"Kamu tahu kan Mentari masih sangat kecil untuk mengerti apa itu sebuah cinta!"


Arfan masih terdiam, sedangkan Pak Mahendra memperingatkan Istrinya agar tidak keterlaluan.


"Bu jangan begini, aku tahu kamu kesal tapi biarkan mereka menentukan pilihannya sendiri." Nasehat Pak Mahendra.


"Om...Tante...," Arfan memandang Pak Mahendra dan Bu Kartika satu persatu.


"Maafkan saya jika kejadian semalam membuat keluarga Om dan Tante mendapatkan sebuah masalah," Arfan menghela nafasnya.


"Saya tidak tahu kenapa semalam saya sangat mencemaskan Mentari sehingga pagi ini saya datang kemari, saya perlu sampaikan bahwa tidak pernah sedikitpun terbersit dipikiran saya jika saya memiliki maksud untuk mempermainkan putri Om dan Tante."


"Lalu kenapa semalam kamu mengabaikan Bulan, mengapa harus Mentari yang kamu masukkan ke dalam masalahmu sendiri?"


"Maafkan saya Tante, Bulan bagi saya adalah gadis yang baik tapi mohon maaf saya tidak tertarik sama sekali dengannya."


"Bagaimana dengan Mentari?"


"Mentari gadis yang sangat menarik bagi saya, sekalipun rasa itu belumlah tumbuh namun ada sebuah hal yang membuat saya ingin mengenalnya lebih jauh lagi," ucap jujur Arfan kepada orangtua Mentari.


"Kami memang pernah bertemu dua kali, di toko buku dan diacara seminar Mentari di luar kota bersama teman-temannya sebelum semalam kami bertemu lagi, bahkan saya tidak tahu sema sekali jika Bulan adalah sepupu dari Mentari."


"Ayah bagaimana ini?" Bu Kartika bertanya kepada Suaminya.


"Biarkan saja mereka Bu, kasihan Mentari. Dia sepertinya menyukai Arfan."


"Perbedaan usia kalian sangatlah jauh, kami tidak mau kau hanya ingin mengambil keuntungan dari Mentari kami yang masih polos,"


Arfan tersenyum, "Saya bukanlah pria brengsek Tante,"


"Jangan biarkan Mentari tahu akan hal ini, biarkan dia memilihnya sendiri. Mengenai restu kami akan kami putuskan seiring berjalannya waktu."


Arfan berhasil meyakinkan kedua orangtua Mentari jika maksud dirinya mendekati Mentari bukan untuk main-main saja, tetapi ingin mengenal Mentari lebih jauh sebagai teman dekat. Selanjutnya akan dia pikirkan nanti saja, hal ini Arfan lakukan terutama karena Nenek Wijaya sepertinya sangat menyukai Mentari sehingga Arfan berusaha untuk tidak mengecewakan Neneknya itu, yang merupakan keluarga satu-satunya bagi Arfan saat ini.


Seorang Ibu tidak akan melepaskan begitu saja anak gadisnya untuk seorang pemuda apalagi dengan perbedaan usia yang cukup jauh, tentu seorang Ibu akan berpikir dan mempertimbangkannya beribu-ribu kali lipat.


Arfan berpamitan kepada orangtua Mentari untuk pulang bersamaan dengan Mentari yang sudah siap dengan tas punggungnya hendak pulang ke asrama karena besok pagi dia harus mengerjakan tugas yang tertunda bersama Siska dan dua orang lainnya di kampus.


"Aku antarkan kau ke asrama," ucap Arfan.


Mentari tampak ragu, dia menatap Ayah dan Ibunya bergantian.


"Pergilah Nak, kami mengizinkan kamu pergi bersama Arfan," Ayah Mentari memberikan izinnya sedangkan Bu Kartika hanya mengangguk saja.


Setelah berpamitan, kini mereka sudah berada di dalam mobil bersiap meninggalkan rumah keluarga Mentari.


"Apakah semalam kau baik-baik saja?" tanya Arfan ketika mobil telah melaju.


"Aku baik-baik saja,"


"Syukurlah, aku takut kau terkena masalah!"


"Apakah kau mengkhawatirkanku?"


" Tidak...aku sama sekali tidak khawatir kepadamu,"


"Ouwhh...," Mentari menggembungkan pipinya yang membuat dia terlihat begitu menggemaskan.


"Jangan bertingkah seperti itu, dasar anak kecil!"


Mentari mendelik, "Aku bukan anak kecil, berhenti mengatakan hal itu kepadaku!"


"Sudah turun sana letakkan barang-barangmu dulu, aku akan mengajakmu ke clubku!"


Mentari melihat ke sekeliling yang ternyata mereka sudah sampai di depan asrama putri Universitas Z.


"Cepat sekali aku sampai, perasaan tadi masih cukup jauh," pikir Mentari.


"Kenapa malah bengong, cepat turun sana!" Arfan memerintah.


"Jangan lama-lama!" perintahnya lagi.


Sebenarnya Mentari merasa bingung kenapa dirinya diajak ke club padahal tidak ada pembicaraan sama sekali terkait hal ini.


Tidak berselang lama, Mentari keluar dari dalam asrama.


"Apakah aku harus ikut?"


"Kau tidak mau?"


Mentari naik ke mobil, tidak ada pilihan lain baginya selain menurut, entah apa yang akan Arfan lakukakan dengan mengajaknya ke club, yang jelas Mentari tidak berpikiran buruk tentang hal ini.


Arfan dengan tatapan dinginnya seolah tidak menerima bantahan sama sekali.


Mereka sampai di club yang disambut oleh beberapa anak-anak asuh Arfan yang sudah kembali dari liburan mereka.


"Bos kau bawa Kakak Ipar?" ucap Dio ketika melihat Mentari.


"Kenapa kau sudah kembali, bukankah masih Dua hari lagi liburanmu?" tanya Arfan.


"Aku ingin beristirahat sebelum latihan dimulai jadi aku kembali lebih cepat,"


"Ajak dia berkeliling club, aku mau mandi dulu!"


Dio mengajak Mentari berkeliling club, menunjukkan satu persatu ruang yang biasa mereka gunakan bahkan Dio menunjukan lapangan tempat mereka berlatih dan mengatur strategi.


Mentari sangat takjub dengan club milik Arfan itu, semuanya lengkap dan nyaman. Dio yang memang seumuran dengan Mentari mudah akrab dengannya, mereka saling melempar canda tawa.


"Kakak Ipar harus bertahan dengan Bos, dia orangnya sangat baik. Baru kali ini dia membawa seorang wanita kemari,"


Mentari tersenyum, "Benarkah?"


"Tentu saja Kak,"


"Eheeemmm...," suara deheman sesorang membuat mereka menoleh ke belakang.


"Bos...," Dio nyengir melihat Arfan sudah berada di belakang mereka.


"Kalau begitu aku pamit dulu, silahkan Bos lanjutkan," Dio memilih ngacir meninggalkan Mentari.


Mentari merasa lucu dengan tingkah Dio yang tampak ketakutan dengan tatapan Arfan.


"Kau sangat menakutkan dan begitu serius,"


"Kenapa kamu tidak takut?" tanya Arfan.


"Aku?" Mentari menunjuk hidungnya sendiri.


"Iya kamu siapa lagi Mentari kecil," Arfan menoel hidung Mentari gemas dan berlalu pergi dari hadapan Mentari.


"Aku akan antarkan kamu ke asrama, sekalian aku mau ke kampus sebentar ada urusan."


Mentari yang tidak mengetahui jika Arfan juga seorang Dosen di Universitas Z merasa bingung dengan ucapan Arfan.


"Urusan? Di kampus Z?" pikir Mentari.


"Jalannya cepat sedikit, jangan seperti Siput kecil!"