
Arfan tidak ingin Mentari mengetahui beban yang sedang ditanggungnya, Arfan berusaha tersenyum di depan Mentari dan meminum air yang Mentari bawakan untuknya hingga tandas.
"Bukankah aku sangat haus? Lihat ini gelasnya bocor." Arfan membalik cangkir yang ada di tangannya untuk memperlihatkan kepada Mentari jika dia menyukai minuman yang Mentari buatkan untuknya.
Arfan bangkit dari tempat duduknya, "Ayo kita bersiap, bukankah aku di undang untuk makan malam?" Arfan merangkul pundak Mentari.
Mentari tanpa banyak bicara mengikuti langkah Arfan menuju ke kamar mereka masing-masing.
Arfan sudah selesai bersiap, dia mengecek anak-anak yang sedang berlatih terlebih dahulu. Sudah sangat lama Arfan tidak memperhatikan mereka, terlalu banyak hal yang harus dia hadapi dan selesaikan akhir-akhir ini.
"Dio bagaimana teman-teman kamu, apakah mereka berlatih dengan baik?" Tanya Arfan begitu Dio yang dia panggil mendekat.
"Kami berlatih dengan teratur selama bos dan manager tidak ada, bos jangan khawatirkan kami ya." Jawab Dio memahami situasi yang ada saat ini.
"Terimakasih Dio, aku titip mereka kepadamu ya. Kalian harus fokus, apapun yang terjadi biarlah aku yang akan menyelesaikannya."
"Apakah bos baik-baik saja? Bos sepertinya sangat lelah."
"Jangan khawatirkan aku Dio, karena aku pasti akan baik-baik saja, aku pergi!" Arfan menepuk pundak Dio kemudian berlalu meninggalkan area latihan.
Arfan mengetuk pintu kamar Mentari, "Sebentar kak, aku akan segera selesai." Mentari yang masih sibuk mematut dirinya di depan cermin menyahut dari dalam kamar.
Lima menit kemudian Mentari ke luar dari kamar dengan wajah berseri, "Ayo kak!"
"Duh pasangan yang satu ini, bikin iri orang saja!" Sania yang tiba-tiba muncul di belakang keduanya mengagetkan mereka.
Mentari melepaskan tautan jari jemari Arfan, "Kak Sania?"
Sania tersenyum, "Bukankah kalian mau pergi?" Sania melewati mereka berdua dan melambaikan tangan, tujuan ibu satu anak itu adalah ke dapur membuatkan makan malam untuk anak dan suaminya tetapi geli rasanya bagi Sania jika tidak meledek Arfan terlebih dahulu.
"Dasar penganggu!" ucap Arfan.
Sania berbalik kemudian menjulurkan lidahnya.
"Kalian ini benar-benar seperti anak kecil. Mirip seperti kartun Kucing dan Tikus yang selalu kejar-kejaran," ujar Mentari yang merasa terhibur dengan kelakuan Arfan dan Sania.
****
Mereka tiba di depan rumah orangtua Mentari, "Bagaimana penampilanku?" Arfan meminta Mentari memberikan penilaian.
"Bagus kak, keren!" jawab Mentari mengacungkan kedua jempolnya.
"Ayo kak kita masuk!"
Ayah dan ibu Mentari sudah menunggu mereka, "Kalian datang nak, mari silakan masuk!" bu Kartika mempersilakan Arfan dengan sangat ramah.
Acara makan malam pun di mulai, Bu Kartika masak berbagai macam makanan yang lengkap malam ini. Bu Kartika belum tahu selera Arfan seperti apa sehingga dia memilih untuk menyajikan semuanya.
"Silakan Fan, tidak perlu sungkan!" ucap pak Mahendra mempersilakan.
"Terimakasih om... tante...,"
"Wah ibu masak besar malam ini," Mentari sangat antusias.
Selesai makan malam Arfan berbincang dengan pak Mahendra sedangkan Mentari membantu ibunya membereskan meja makan dan mencuci piring yang tadi mereka gunakan.
"Fan maafkan kami yang jadi menyulitkanmu," ucap pak Mahendra membuka percakapan mereka.
"Om tidak perlu minta maaf, saling menolong adalah kewajiban bagi setiap orang terlebih menyangkut Mentari."
"Om sudah baca berita di internet, televisi juga menayangkan berita tentangmu. Tentu itu akan menyulitkanmu bukan?"
"Syukurlah kalau begitu, jika kamu butuh bantuan bilang saja karena om siap membantu kamu kapan saja."
"Iya benar Fan, tante juga siap menjadi tameng kamu!" Bu Kartika muncul dari arah dapur membawakan kopi dan camilan untuk Arfan dan pak Mahendra.
"Terimakasih om dan tante mau membantuku, tapi aku akan atasi semuanya sendiri dulu."
Arfan masih berbincang dengan keluarga Mentari, sedangkan di club Sania yang baru menidurkan Steven menghampiri Tomi yang tampak sedang meneliti berkas pekerjaannya.
"Tom apa kamu tidak lelah? Kamu kan baru sembuh, jadi jangan di vorsir ya?" Sania menginterupsi.
"Sebentar lagi akan selesai, ditinggal beberapa hari ternyata pekerjaan menumpuk!" Tomi berbicara sambil membolak balik berkas yang sedang dia teliti.
"Tom apa kamu tidak khawatir dengan Steven?"
"Aku sangat mengkhawatirkannya Sania, terlebih kini Zaki sudah mengetahui jika Steven adalah anaknya."
"Jangan katakan itu lagi, Steven itu anak kita bukan anak Zaki. Dia tidak berhak akan Steven, bukankah dulu dia membuang aku dan Steven?" Sania mendadak kesal jika sudah membicarakan soal Zaki apalagi ketika dia teringat akan perlakuan Zaki terhadapnya di masa lalu.
Tomi menutup berkasnya, "Iya Sania kamu tenanglah, kita akan mencari cara supaya Zaki tidak mengambil Stev dari kita." Ucap Tomi berusaha menenangkan Sania.
"Meskipun tetap saja Stev berhak mengetahui siapa papa kandungnya yang sebenarnya," Sambung Tomi.
"Kamu benar Tom, tidak mungkin kita menyembunyikan semua ini selamanya dari Stev."
"Sania saat ini aku justru mengkhawatirkan Arfan, apakah dia akan baik-baik saja?"
"Dia itu pria tengil, dia pasti punya caranya sendiri untuk menyelesaikan permasalahan yang saat ini sedang menderanya."
"Kau benar Sania, kita tunggu saja bagaimana cara Arfan menyelesaikan permasalahan ini."
Tomi dan Sania menyusul Steven naik ke atas ranjang untuk beristirahat, sementara itu Arfan baru saja berpamitan dengan keluarga Mentari untuk kembali ke club.
"Hati-hati di jalan ya kak, sampai jumpa besok."
"Kamu beristirahatlah Mentari, mimpi indah ya!"
"Sudah masuk sana, jangan terlalu lama di luar!" Arfan melihat Mentari masuk ke dalam rumah baru dirinya memacu kendaraannya untuk pulang ke club. Bagaimanapun juga malam ini merupakan malam yang sangat berarti bagi Arfan sebab untuk pertama kalinya dia diterima secara terbuka oleh orangtua Mentari.
Mereka sangat hangat terhadapnya, jadi sudah barang tentu dia ingin sekali mengikat Mentari secara sah tanpa menunggu waktu lebih lama lagi. Namun, dia juga harus bersiap menyelesaikan permasalahan di kampus esok hari, dia harus membersihkan namanya sendiri.
Terlebih ketika dia ingin membangun sebuah rumah tangga sudah barang tentu dia harus memiliki pekerjaan yang tetap agar dia bisa menghidupi keluarganya dengan baik. Oleh sebab itu, Arfan bertekad akan berjuang agar dia tetap bisa menjadi dosen di universitas Z.
Meskipun sebenarnya tanpa menjadi dosen pun, Arfan sudah menjadi pewaris perusahaan neneknya, hanya saja Arfan tidak terbiasa dengan dunia bisnis makanya dia enggan masuk ke dalam perusahaan neneknya.
Bagi Arfan dengan tetap menjadi dosen di universitas Z merupakan kehormatan bagi dirinya, sebab ini akan membuktikan bahwa dalam hal ini dia tidak bersalah, dia hanya ingin melindungi Mentari yang hampir saja terdzolimi oleh kelakuan Ilyas.
Pagi datang begitu cepat, Arfan sudah terbangun sejak subuh. Dia sudah mempersiapkan dirinya menghadapi hal paling buruk sekalipun hari ini.
Panggilan masuk dari neneknya, "Anak nakal kau ini menghadapi banyak masalah kenapa tidak memberitahukannya kepada nenek?" Suara nenek Wijaya sangat lantang ketika panggilannya tersambung, tanpa mengucapkan salam langsung pada intinya.
"Nek aku sibuk hari ini, bisakah kita bicaranya nanti saja?"
"Kau ini tidak pernah berubah, nanti malam nenek tunggu kau di rumah!"
"Baik nek, aku akan datang!" panggilan di tutup, Arfan bergegas ke garansi untuk mengambil mobilnya. Di sisi lain nenek Wijaya telah menyuruh orang kepercayaannya agar menekan semua berita-berita tentang Arfan baik di internet maupun di surat kabar yang terbit hari ini. Berita-berita itu harus segera di bereskan agar tidak meluas kemana-mana.
"Baik nyonya, akan kami bereskan segera!" orang kepercayaan nenek Wijaya pamit undur diri untuk melakukan pekerjaannya.