
Dio yang mengenali Zaki kemudian mendekati Steven untuk segera membawanya pergi dari tempat itu.
"Stev sudah siang kita pulang yuk?" Ajak Dio.
"Tapi aku masih kangen sama om baik Kak!"
"Lain kali ya Stev mainnya, nanti dicariin sama Mama gimana?" Dio berusaha membujuk Steven karena dia paham situasinya.
Steven tampak berpikir sejenak, "Om baik aku pulang dulu ya, nanti Mama nyariin aku," pamit Steven kepada Zaki.
"Baiklah Stev hati-hati di jalan ya?" Zaki mengacak rambut Steven gemas.
"Sampai jumpa lagi ya om!"
Steven meninggalkan Zaki di taman, Dio membawa anak itu kembali ke club. Dio yang merasa panik dan takut dipersalahkan karena telah membawa Steven bermain di luar kemudian menceritakan kejadian di taman kepada Tomi.
"Kalian tolong jangan ceritakan hal ini kepada Sania maupun Arfan ya, aku akan mengatasi hal ini!" pesan Tomi kepada Dio dan Yudi.
"Baik manager, kami mengerti!" jawab Dio dan Yudi bersamaan.
Sania masuk ke dalam kamar Tomi untuk mengajak suaminya itu makan siang bersama setelah memandikan Steven yang baru pulang bermain. Tomi tiba-tiba memeluk Sania begitu melihatnya masuk.
"Sania berjanjilah kepadaku jika kamu dan Steven tidak akan pernah meninggalkanku sendirian!" ucap Tomi dalam pelukannya.
"Kenapa tiba-tiba kamu seperti ini Tom, maksud kamu apa?" Tanya Sania bingung.
"Tolong berjanjilah Sania, aku tidak sanggup jika harus kehilangan kalian suatu saat nanti!" Tomi terisak di bahu Sania.
"Usttttttt... ussstttt... sudah Tom, nanti kalau Steven melihat Papanya cengeng seperti ini bagaimana?" Sania menepuk-nepuk punggung Tomi.
"Aku berjanji Tom, apapun yang terjadi aku dan Steven akan selalu berada di sisimu!" sambung Sania.
"Terimakasih Sania," Tomi mengeratkan pelukannya, hingga sebuah dering panggilan masuk ke dalam ponselnya.
"Zaki...," pikir Tomi.
"Kenapa tidak diangkat Tom?" Tanya Sania.
"Aku akan mengangkatnya, kamu ajak Stev makan dulu ya. Nanti aku akan menyusul!"
Sania ke luar dari dalam kamar, kemudian Tomi menuju balkon untuk mengangkat panggilan dari Zaki.
"Hallo ada apa!"
"Di mana kamu sembunyikan Sania dan anakku hah?!!"
"Aku tahu mereka sedang berada di kota Z kan?" Zaki mencecar.
"Kamu mengetahuinya? Bahkan aku saja tidak tahu apa-apa soal kedatangan mereka ke kota Z."
"Kamu jangan bohong Tomi!!!"
"Jika aku mengetahuinya, apa pentingnya aku harus memberitahukan hal itu kepadamu!"
Tomi merasa sedikit lega sebab meskipun Zaki sudah bertemu dengan Steven tapi dia tidak tahu jika anak itu adalah anaknya dan Sania.
"Tom kau!!!"
Tomi mematikan panggilan itu dan membanting ponselnya di kasur, bersamaan dengan Arfan yang masuk ke dalam kamar Tomi.
"Apakah ada masalah Tom?" Tanya Arfan yang melihat wajah frustasi Tomi.
"Aku hanya sedikit kesal Fan," jawab Tomi berbohong.
"Kalau begitu redakan emosimu, sekarang turunlah, Sania dan Steven menunggumu di bawah!"
Arfan ke luar dari kamar Tomi, sepertinya semakin banyak saja masalah yang terjadi. Sedangkan dirinya juga harus fokus pada kampus dan club. Arfan berlalu pergi ke luar dari club, Arfan mendadak ingin mengunjungi Neneknya hari ini.
Arfan sengaja menjemput Mentari di kampus tanpa sepengetahuan gadis itu, Arfan akan mengajak Mentari pergi bersamanya.
Mentari sendiri masih sibuk mengerjakan tugas yang belum dia selesaikan karena membolos kemarin. Mentari mencari banyak referensi di perpustakaan. Ilyas yang melihat Mentari berada di tempat yang sama dengannya langsung saja menghampiri gadis itu.
"Kamu sepertinya sangat sibuk Mentari?"
Mentari mendongak, "Hai Yas, kamu di sini juga?"
"Aku boleh berbicara denganmu sebentar Mentari, tapi tidak di sini!"
"Tunggu aku menyelesaikan ini dulu Yas," Mentari menunjuk pekerjaannya yang memang belum selesai.
Ilyas pun setuju untuk menunggu Mentari hingga selesai, setelahnya mereka ke luar dari perpustakaan menuju gazebo di taman kampus.
Ilyas membawakan Mentari sebotol minuman dingin, "Terimakasih Yas!"
"Mentari apakah kamu memiliki sebuah rahasia?" Tanya Ilyas begitu dia duduk di samping Mentari.
"Maksud kamu Yas?"
Ilyas menyodorkan ponselnya, "Lihat saja apa yang aku miliki dalam ponsel ini!"
Mentari mengambil ponsel Ilyas, dia melihat semua foto-foto dirinya sedang bersama Arfan malam itu.
"Kamu dapat semua ini dari mana Yas?"
"Apa karena hal ini kamu mengajakku berbicara saat ini?"
"Apa mau kamu sebenarnya Yas? Apa kamu bermaksud mengancamku dengan foto-foto ini?"
"Makan malamlah bersamaku!"
"Kalau aku tidak mau?"
"Kamu tentu sudah tahu resikonya, foto-foto ini akan sampai pada Ibu dan juga Ayahmu!"
"Ilyas aku tidak pernah menyangka kamu setega ini kepadaku!"
Ilyas tertawa menjengkelkan, "Kamu yang memaksaku seperti ini Mentari!"
"Kamu tidak pernah memberiku kesempatan untuk sekedar singgah di hatimu, aku yang selalu bersamamu tapi kenapa kamu justru memilih orang lain Mentari?"
Mentari berdiri hendak meninggalkan Ilyas, "Tunggu Mentari!" Ilyas mencekal tangan Mentari untuk mencegahnya pergi.
"Lepaskan aku Yas!!!"
Ilyas berdiri dengan masih mencekal tangan Mentari, perlahan dia mendekati Mentari. Melihat bibir gadis itu yang ranum, Ilyas menjadi tidak dapat menahan diri untuk dapat merasakan manisnya bibir berwarna merah muda itu.
Mentari mencoba terus melawan Ilyas, namun tenaganya kalah jauh dengan orang yang kini dia anggap sebagai mantan rekannya itu.
"Kurang ajar kamu Ilyas!" Arfan yang datang dan menyerang Ilyas secara tiba-tiba membuat Ilyas tersungkur.
Ilyas berdiri dan ingin membalas Arfan namun gerakannya kalah cepat dengan Arfan.
Arfan berhasil menghindar, "Akan aku buat perhitungan nanti!" Ilyas mengancam kemudian lari terbirit-birit meninggalkan Arfan dan Mentari.
Mentari memeluk Arfan, "Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Arfan sembari mengusap-usap rambut Mentari kecilnya.
"Aku baik-baik saja Kak,"
"Apa yang dia lakukan kepadamu, apakah ada yang terluka?"
Mentari menggeleng, "Ayo sebaiknya kita segera pergi dari sini!" Arfan mengajak gadis itu untuk menemui Nenek Wijaya.
"Nenek...," Mentari memanggil Nenek Wijaya yang menyambut kedatangan mereka dengan sangat bahagia.
"Kalian datang sayang, lama sekali kalian tidak berkunjung," Nenek Wijaya memeluk Mentari dan mengajaknya masuk.
Seperti biasa Arfan merasa menjadi cucu tiri kalau Neneknya sudah bertemu dengan Mentari.
"Nek... Mentari sekarang tinggal bersamaku di club," Arfan memberitahu Neneknya.
"Benarkah itu?" Nenek Wijaya pura-pura terkejut, padahal sangat senang mendengar hal itu.
"Nenek jangan khawatir ya, aku dan Kak Arfan tidak pernah melampaui batas. Aku hanya sementara saja tinggal di sana Nek." Mentari takut jika Nenek Wijaya berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya.
Nenek Wijaya justru tertawa mendengar penjelasan Mentari, "Kamu tidak perlu khawatir sayang, Nenek paham betul seperti apa cucu Nenek."
"Mentari boleh Nenek minta tolong?"
"Iya Nek tentu saja, apa yang bisa Mentari bantu untuk Nenek?" Jawab Mentari antusias.
"Ambilkan cemilan dan minuman yang sedang dibuat Bibik di belakang ya?"
"Baik Nek...," Mentari meninggalkan Nenek dan cucunya untuk mengobrol, Mentari tahu jika Nenek Wijaya ingin berbicara berdua saja dengan Arfan.
Sepeninggal Mentari, Nenek Wijaya meminta Arfan untuk menceritakan semua yang terjadi kepadanya.
"Kasihan sekali Mentari, mengenai kalian tinggal bersama apakah orangtua Mentari mengetahuinya Fan?"
"Untuk saat ini belum Nek, tapi sebentar lagi mungkin mereka akan segera mengetahuinya!"
"Apa rencanamu?" Tanya Nenek Wijaya kepada Arfan.
Arfan memberitahukan rencananya kepada Nenek Wijaya, "Nenek akan persiapkan segala sesuatunya segera, kau tenang saja serahkan semuanya pada Nenek!"
"Nenek memang terbaik," Arfan mengacungkan kedua jempol untuk Neneknya.
Malam ini Mentari dan Arfan akan menginap di rumah Nenek Wijaya, sebenarnya mereka akan pulang ke club tetapi Nenek Wijaya melarang mereka pergi.
Sementara itu, Ilyas setelah kejadian tadi siang memutuskan untuk menemui orangtua Mentari.
"Nak Ilyas mari silakan masuk," Pak Mahendra yang membukakan pintu mempersilakan Ilyas masuk ke dalam.
"Terimakasih Om," Ilyas masuk mengikuti Ayah Mentari.
"Ada apa Nak, apakah ada hal penting sehingga membawamu kemari?" Tanya Pak Mehendra.
"Iya om, ada sebuah hal penting!"
Bu Kartika ikut bergabung menemui Ilyas di ruang tamu, Ilyas menceritakan semuanya kepada orang tua Mentari bahkan memperlihatkan foto-foto yang dia ambil malam itu.
"Ini tidak bisa dibiarkan!" Bu Kartika tersulut emosi.
"Tenang dulu Bu, belum tentu apa yang kita lihat itu sepenuhnya benar!"
"Aku berkata jujur om!" Ilyas mencoba meyakinkan.
Bu Kartika mengambil ponselnya untuk menghubungi Mentari.
"Tidak bisa dibiarkan!"