
Mentari sampai di rumah dengan menggunakan taksi, Siska sebenarnya mencegah Mentari untuk pulang sampai sahabatnya itu tenang dan bisa berpikir lebih jernih. Dia ingin mengajak Mentari ke asrama tetapi gadis itu menolak.
Arfan tiba di rumah di saat petang karena terjebak macet di jalan cukup lama. Mentari sendiri masih sibuk memasak di dapur. Dia bergegas menyusul Mentari pulang setelah mendapatkan informasi dari Siska jika istrinya sudah pulang ke rumah dengan menggunakan taksi.
"Mentari sayang maafkan aku...," Arfan memeluk Mentari dari belakang dan menciumi punggung Mentari.
"Sebentar lagi makanan siap, tunggu ya kak. Sekarang bersihkan tubuh kakak dulu setelah itu kita makan bersama." Mentari berbicara seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka, dia juga tidak ingin berbicara dalam kondisi perut kosong karena akan memicu emosi yang tidak terkendali sehingga dia tetap memasak untuk Arfan meskipun telah terjadi sesuatu pada mereka tadi siang.
Arfan merasa sedikit heran dengan sikap Mentari kepadanya, padahal jelas-jelas dia melihat Mentari pergi sambil menangis waktu di kampus tadi siang.
Arfan melepaskan pelukannya, dia menuju ke kamar dan meletakkan barang-barangnya di sana kemudian membersihkan diri sesuai permintaan Mentari setelah itu dia kembali ke meja makan dengan pakaian rumahan yang terkesan lebih santai untuk menemui istrinya.
"Ayo kita makan malam dulu kak, aku ambilkan ya." Mentari melayani Arfan seperti biasanya.
"Apakah segini cukup?"
"Iya sudah cukup sayang."
Mereka makan dalam diam, hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring yang mewarnai acara makan malam mereka kali ini.
Arfan merasa canggung karena diperlakukan demikian oleh Mentari, perasaannya semakin tidak menentu tetapi Arfan berusaha untuk menahannya dan memilih diam.
Mentari membereskan meja makan dan mencuci piring bekas makan mereka kemudian duduk bersantai di depan televisi.
Arfan menghampiri Mentari, "Sayang bolehkah aku bertanya?"
Mentari menghadap ke arah Arfan, "Silakan tanya saja kak!"
"Sayang kenapa kamu tidak marah kepadaku setelah kejadian tadi siang?" Tanyanya penasaran.
"Apa harus aku marah kak?"
"Tidak bukan itu maksudku sayang, aku melihat air matamu terjatuh, aku takut sekali."
Arfan meraih Mentari dan memeluknya erat.
"Aku tidak akan secengeng itu kak, mungkin aku masih kecil tapi aku tidak bodoh kak!"
Mentari bukannya tidak marah, hanya saja dia tidak ingin memberikan kesempatan bagi Marryana masuk ke dalam kehidupan mereka.
Arfan merasa semakin mencintai Mentari, gadis itu bisa menyikapi permasalahan dengan sangat bijak bahkan dia tidak menunjukkan kemarahannya di depan Arfan.
"Soal makan malam itu apakah kita batalkan saja?" Tanya Arfan yang tidak yakin jika Mentari akan tetap maju untuk menghadiri undangan itu.
"Kenapa harus dibatalkan kak?"
Jawaban Mentari sungguh di luar dugaan Arfan.
"Aku hanya tidak mau kamu kembali terluka karena ucapan Ana."
Mentari mencoba tetap meyakinkan Arfan bahwa dia akan tetap datang memenuhi undangan Marryana.
"Apakah kau yakin?"
"Tentu saja aku yakin kak."
"Baiklah kalau begitu kita akan datang."
Di asrama, Siska tampak cemas dengan kondisi Mentari. Dia sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada Mentari, mungkin saja mereka bertengkar sangat hebat tetapi Siska merasa takut menghubungi Mentari untuk sekedar menanyakan keadaannya. Hampir semalaman Siska tidak bisa tidur karena memikirkan Mentari.
Keesokan harinya di kampus, Siska menunggu Mentari dengan cemas di depan gerbang. Gadis itu langsung berlari ketika melihat Mentari turun dari mobil Arfan.
"Mentari kamu tidak apa-apa kan, kamu baik-baik saja bukan. Adakah yang terluka, cepat katakan kepadaku Mentari?" Siska memberondong Mentari dengan pertanyaannya.
"Aku baik Sis, tidak kurang suatu apapun."
"Syukurlah, aku sangat mencemaskanmu Mentari."
Mentari tersenyum, "Terimakasih Sis, kamu sahabatku yang paling perduli kepadaku."
"Ayo kita masuk kelas, istirahat nanti aku traktir kamu makan siang di kantin." Mentari berjanji kepada Siska.
Siska mengangguk tanda setuju dengan ucapan Mentari.
Marryana mendekati Arfan, "Fan apakah telah terjadi sesuatu pada kalian?"
"Apa harus aku menjawab pertanyaanmu itu?"
"Bagaimanapun juga kalian bertengkar karena aku, jadi aku harus tahu Fan."
"Kamu tidak perlu mencemaskan kami An karena kami sudah sama-sama dewasa jadi apapun itu kami akan menyelesaikannya sendiri."
"Tapi Fan...,"
"Soal undangan makan malam, pasti kami akan datang."
Arfan pergi meninggalkan Marryana untuk mengajar kembali ke kelas.
Marryana memandangi punggung Arfan yang semakin menjauh, "Aku memang terlambat untuk hadir kembali dalam kehidupanmu Fan, tapi tidak bisakah kamu memberikan kesempatan untukku?"
"Nona tidak baik merusak hubungan orang lain, jika kau dapat akan melukai hati wanita lain dan jika kau tidak dapat maka hatimu sendiri yang akan merasakan sakit." Pak Rio yang mengamati keduanya sejak tadi memberikan nasehat kepada Marryana.
"Hidup seperti itu tentu akan terus membayangi kehidupan kamu nona dan kamu tidak akan pernah hidup bahagia, lihat dirimu kau cantik dan sangat dewasa. Kau bisa mendapatkan pria lajang di luaran sana dengan sangat mudah!"
Marryana hanya bisa terdiam, memang benar apa yang pak Rio katakan tapi saat ini dia masih ingin memperjuangkan Arfan agar bisa menjadi miliknya.
Malam yang dinantikan pun tiba, Marryana datang ke restoran bersama Reza. Dia butuh teman dan tidak tahu lagi harus meminta tolong kepada siapa selain Reza.
Arfan datang sendirian ke tempat yang mereka janjikan bersama, karena Mentari ada urusan bersama Siska dan berjanji akan menyusul Arfan ketika urusan mereka sudah selesai.
"Fan dimana Mentari, kenapa tidak datang bersama kamu?" Marryana semakin yakin jika saat ini Arfan dan Mentari sedang tidak akur.
"Dia akan segera datang, mungkin agak terlambat karena perjalannya jauh."
"Jangan bilang jika kalian sedang tidak akur?"
Arfan tidak menjawab pertanyaan Marryana karena sepertinya Marryana sangat ingin tahu buhungannya dengan Mentari.
Arfan mengangkat bahunya karena tidak ingin menjawab pertanyaan Marryana.
"Silakan mau pesan apa Fan!"
"Aku nanti saja setelah Mentari datang!"
Tidak seberapa lama Mentari yang mereka nantikan datang juga ke restoran.
"Apakah aku terlambat?" Mentari menggeret kursi yang tidak jauh dari tempat Arfan duduk dan menangguk kepada pak Reza.
"Kamu tidak terlambat, kami juga belum mulai makan malamnya!" jawab Marryana.
"Baiklah kalau begitu, mohon maaf membuat kalian harus menungguku!"
Mereka makan malam terlebih dahulu sebelum membicarakan urusan pribadi mereka.
"Sebelumnya terimakasih karena kalian sudah mau menerima undangan makan malam bersamaku." Marryana mulai membuka obrolan mereka.
"Aku hanya ingin memperkenalkan diri sekaligus aku mau mengatakan jika aku adalah tunangan Arfan waktu kami masih sama-sama kecil."
"Soal kejadian kemarin aku minta maaf Mentari karena seharusnya yang berdiri di samping Arfan adalah aku."
Arfan mengepalkan tangannya, Marryana benar-benar tidak bisa menjaga ucapannya.
"Wah benarkah kak, aku turut bahagia atas kabar ini. Tapi aku juga mohon maaf karena ternyata yang menjadi istri kak Arfan adalah aku, bukan tunangan masa kecilnya."
"Apakah kamu tidak takut jika Arfan akan kembali kepadaku?"
Arfan menggeser kursi Mentari agar bisa lebih dekat dengannya.
"Ana cukup!"
"Bukankah aku sudah mengatakannya kepadamu kemarin An, jangan ungkit hal itu lagi."
"Biarkan saja kak, biarlah kak Marry mengungkapkan keluh kesahnya. Apakah kakak takut?"
"Mana mungkin aku takut," jawab Arfan.