My Old Star

My Old Star
#97 Tumbang



Pertandingan masih berjalan cukup alot, kedua tim masih saling berjuang untuk bisa memasukkan bola ke gawang. Skor sampai waktu pertandingan hampir usai masih sama.


Skor kacamata masih bertahan hingga turun minum.


Anak asuh Arfan berjuang sekuat tenaga mereka demi club, Arfan sibuk mengarahkan anak-anak asuhnya di pinggir lapangan sedangkan Tomi mencatat pergerakan pemain untuk nantinya dilakukan evaluasi.


Dio di detik-detik akhir pertandingan berhasil menyarangkan bola ke gawang lawan dan berhasil merubah posisi. Saat ini mereka harus bertahan untuk mempertahankan keunggulan. Hingga pertandingan usai skor tidak berubah dan tim Arfan berhasil memenangkan pertandingan.


"Tom kita berhasil kali ini!" Arfan berpelukan dengan Tomi karena euforia yang sangat dalam.


Sejarah mungkin saja akan terulang, tim Arfan akan maju ke tingkat nasional bersama tim Zaki sebagai juara kedua tahun ini.


Zaki dengan masih di atas kursi roda mendekati Arfan dan mengucapkan selamat kepadanya.


"Selamat atas kemenangan kalian, tim kalian memang pantas mendapatkan kemenangan ini!" Zaki menyalami Arfan dan mereka berpelukan.


"Kita akan berjuang lagi Za, kita akan ulang sejarah melalui mereka!"


"Selamat Fan, aku turut berbahagia. Meskipun kali ini aku ada di pihak Zaki." Marryana mengulurkan tangannya kepada Arfan.


"Terimakasih An," Arfan menyambut uluran jabat tangan dari Marryana setelah memandang ke arah tribun karena tentu saja Mentari melihat kejadian itu, dia tidak mau istrinya salah paham. Mentari mengangguk dan tersenyum ke arahnya.


Kini Arfan dan rombongan sudah berada di atas bus setelah penyerahan tropi juara turnamen tahun ini. Seperti janji Arfan saat berangkat, sebelum pulang ke club Arfan mengajak anak-anak makan malam terlebih dahulu. Kali ini Arfanlah yang mentraktir mereka.


Mentari juga meminta Arfan untuk jangan melupakan ibu Ilyas yang tidak ikut bersama mereka. Bagaimanapun juga ibu Ilyas sangat berjasa bagi mereka dalam mempersiapkan segala sesuatu yang anak-anak butuhkan, bahkan sering kali menjadi tukang urut untuk anak-anak ketika mereka merasa kelelahan usai berlatih.


Mentari duduk bersandar di bahu Arfan, "Mentari apakah kamu baik-baik saja?"


"Aku sangat baik kak, aku malah mengkhawatirkanmu."


"Sekarang tidurlah, kalau sudah sampai akan aku bangunkan!" Arfan menyuruh istrinya untuk tidur dengan bahunya sebagai sandaran.


Mentari merasa kasihan kepada Arfan karena tadi saat makan malam bersama, suaminya tidak bisa makan apapun yang dia minta tetap buah jeruk. Seharian ini, Arfan menjadi susah untuk makan setelah memuntahkan semuanya saat sarapan di rumah nenek.


Mereka sampai di club cukup malam, masing-masing berkutat dengan aktivitas mereka sebelum pergi beristirahat. Rasa lelah hari ini terbayar sudah dengan kemenangan yang cukup dramatis. Mereka juga harus segera mempersiapkan diri untuk pertandingan di tingkat nasional.


"Mentari sayang bagaimana kalau kita menginap di club saja, lagi pula ini sudah terlalu malam untuk kita pulang."


"Aku sangat lelah untuk menyetir," Mentari baru kali ini mendengar Arfan mengeluh kepadanya.


"Aku terserah kakak saja, mana yang terbaik untuk kita."


"Kalau begitu ayo kita istirahat sekarang."


Club sudah kembali sunyi, masing-masing sudah masuk ke kamar mereka masing-masing, bermimpi indah dan bangun esok hari untuk mewujudkan impian mereka selanjutnya.


Nenek Wijaya hari ini memanggil pengacara keluarga mereka untuk menyerahkan wasiat yang semalam dia tuliskan. Pak Akbar yang merupakan ayah dari Ayesh datang ke kediaman keluarga Wijaya bersama Ayesh karena selanjutnya Ayeshlah yang akan menjadi penasehat hukum bagi keluarga Wijaya.


Nenek Wijaya menyuruh pak Akbar dan Ayesh masuk ke ruang kerjanya untuk mendiskusikan maksudnya memanggil pak Akbar.


"Nyonya perkenalkan ini anak saya, namanya Ayesh. Dialah yang akan menjadi penerus saya selanjutnya nyonya karena saya pribadi sudah menyerahkan kepemimpinan firma hukum saya kepadanya." Pak Akbar memperkenalkan Ayesh kepada nenek Wijaya saat mereka sudah duduk di sofa ruang kerja nenek.


Ayesh mengangguk takzim kepada nenek dan memperkenalkan dirinya.


"Nyonya mohon maaf kalau boleh tahu yang ada di foto itu yang bersama nyonya apakah anak nyonya?" Arfan menunjuk foto yang tertempel di dinding.


"Itu cucu saya nak, namanya Arfan. Dialah satu-satunya penerus keluarga ini karena kedua orangtuanya telah tiada."


"Jika nantinya kamu yang menjadi penasehat hukum keluarga Wijaya maka Arfanlah yang akan selalu merepotkanmu terutama dalam pengurusan aset-aset milik keluarga ini."


"Apakah namanya Arfan Reynar Wijaya?"


"Iya nak, apakah kalian saling mengenal?"


"Kami saling kenal nyonya, saya yang membantu Arfan atas kasus yang menimpanya tempo hari atas rekomendasi dari kampus tempat Arfan mengajar, saat ini kami berteman sangat baik."


"Nenek berharap kalian bisa bekerja sama dengan baik nak."


Mereka kemudian membahas pekerjaan yang harus mereka selesaikan segera, tentang pengalihan aset nenek Wijaya termasuk perusahaan yang saat ini dikelola oleh paman Faisal. Setelah semuanya selesai Ayesh dan ayahnya pamit undur diri untuk menyelesaikan semua dokumen yang dibutuhkan.


Arfan sendiri baru sampai di rumah mereka, Mentari sibuk membereskan pakaian-pakaian kotor yang dia bawa dari club untuk dicuci.


Saat Mentari sibuk dengan cucian tiba-tiba Arfan berlari untuk memuntahkan isi perutnya. Arfan terlihat sangat pucat, sepertinya dia sangat lemas.


"Mentari aku ingin jeruk, tolong ambilkan aku sayang."


"Tunggu sebantar kak, tahan ya kak akan aku ambilkan."


Mentari mengupas kulitnya dan memberikan isinya kepada Arfan.


"Bagaimana kak apakah sudah lebih baik?"


"Sebaiknya kita ke dokter saja kak, aku tidak tega melihatmu terus-terusan tidak bisa makan apa-apa seperti ini."


"Tidak usah sayang, aku baik-baik saja."


"Tapi kak--,"


"Percaya padaku sayang, aku baik jadi tidak perlu ke dokter. Aku ke kamar dulu!"


Arfan meninggalkan Mentari yang masih tidak tega melihat kondisi Arfan, jika begitu terus menerus maka tubuh suaminya akan menjadi kurus.


Mentari teringat Hyorin yang berprofesi sebagai dokter, dia menghubunginya dan meminta saran kepada Hyorin. Meskipun Hyorin bukan dokter spesialis kandungan tapi dia berjanji akan menghubungi teman dokternya untuk minta diresepkan obat untuk gejala yang demikian. Meskipun Hyorin tetap menyarankan agar Arfan dibawa ke rumah sakit saja untuk pemeriksaan lebih lanjut.


Setelah mengucapkan terimakasih Mentari menutup sambungan telfonnya dan pada saat yang bersamaan bel pintu depan berbunyi.


Ternyata pak Mahendra dan ibu Kartika yang datang ke rumah. Mentari memeluk mereka, sudah lama sekali rasanya tidak bertemu dengan kedua orangtuanya karena faktor kesibukan yang membuatnya tidak bisa pulang ke rumah orangtuanya sejak pindah dari sana.


"Nak katanya kamu hamil, ibu sangat bahagia mendengarnya sayang." Tanya ibu Mentari ketika mereka sudah duduk bersantai setelah berkeliling melihat rumah yang sekarang anaknya tinggali bersama belahan jiwanya.


Mereka menilai rumah itu cukup nyaman untuk ditinggali karena selain luas juga udaranya sejuk, tidak terlalu panas.


"Iya bu, aku juga tidak menyangka secepat ini diberikan anugerah yang begitu indah bu."


"Bagaimana apakah kamu baik-baik saja, mual, muntah, lemas atau mengalami gejala yang lainnya?"


"Aku baik-baik saja bu, justru kak Arfan yang mengalaminya."


"Benarkah?" Bu Kartika terkejut mendengar penuturan Mentari.


Mentari mengangguk, "Arfan ternyata sangat menyayangi istrinya bahkan dia rela mengalami hal yang seharusnya bukan dia yang mengalaminya." Bu Kartika membatin, memuji menantunya dan berpikir memang dia tidak salah ketika memberikan restu. Arfanlah yang sangat tepat menjadi suami dari putrinya.


"Dimana dia sekarang nak, bagaimana kondisinya?"


"Kak Arfan ada di kamar, barusan dia baru saja memuntahkan isi perutnya. Satu-satunya makanan yang bisa dia makan hanyalah jeruk bu."


"Separah itukah nak?"


"Apa kalian sudah ke dokter?"


Mentari menggeleng karena Arfan tidak mau dibawa ke dokter.


"Dia harus cukup minum air putih juga agar tidak dehidrasi."


"Aku lihat ke kamar dulu ya, kak Arfan pasti tidak tahu jika ayah dan ibu ke sini."


Mentari masuk ke kamarnya dan mendapati Arfan sedang terbaring lemas di atas ranjang dengan wajah pucat dan badannya panas.


Mentari segera memanggil ayahnya untuk membantunya segera membawa Arfan ke rumah sakit meskipun Arfan tetap saja menolak. Kali ini Arfan benar-benar tumbang setelah lelah dengan aktivitasnya ditambah kehamilan simpatik yang dialaminya sehingga menguras habis energinya.