My Old Star

My Old Star
#29 Upik Abu



"Kau kenapa kemari?!" Tanya Arfan ketus.


"Tentu saja ingin bertemu Nenek," jawab Mona genit.


"Nenek sedang sibuk, tidak bisa diganggu!"


"Kalau begitu aku yang akan masuk menemui Nenek," Mona menerabas masuk padahal Arfan tidak mengizinkannya.


"Hei kau...," Arfan kesal dengan sikap Mona yang tidak memiliki sopan santun.


Mona mendengar ada kehebohan dari arah dapur sehingga dia memperkirakan Nenek Wijaya ada di dapur. Arfan mencoba terus mencegah Mona agar tidak mengganggu Nenek yang sedang memasak bersama Mentari, namun Mona memang sangat susah untuk dicegah. Arfan pasrah kemudian kembali ke depan sambil memikirkan cara bagaimana mengusir Mona dari rumah Neneknya.


"Nenek...," Mona berseru ketika melihat Nenek sedang bersibuk di dapur yang membuat semua yang ada di sana menoleh ke arahnya.


Nenek Wijaya merasa tidak mengundang Mona datang, sehingga Nenek memandang ke arah Mentari sekilas khawatir terjadi kesalahpahaman diantara mereka.


"Mona kapan kamu datang?" Tanya Nenek.


"Baru saja Nek, tadi aku tidak diizinkan masuk tapi aku memaksa!" Mona nyengir kuda.


"Duduklah dulu, Nenek masih sibuk!" Nenek Wijaya memperlihatkan sayuran yang sedang dipegangnya.


"Wah sedang masak besar ya Nek?"


"Iya Mon, hari ini Nenek sangat bahagia."


"Benarkah Nek, apa yang membuat Nenek sebahagia ini?"


"Mentari sini sayang, Nenek kenalkan sama Mona!"


Mentari yang tadi mencoba cuek dengan kedatangan Mona yang tiba-tiba, mendekat ke arah Nenek Wijaya setelah mencuci tangannya karena baru saja mengupas bawang.


Mentari tersenyum ke arah Mona dan menyapanya, "Hai Kak, sudah lama tidak bertemu Kakak tambah cantik saja!" Mentari memuji Mona.


"Tentu saja aku tambah cantik tidak seperti kamu yang mirip Upik Abu!" Mona berbicara dengan nada ketus.


Nenek Wijaya tidak suka dengan ucapan Mona, namun saat ini tidak tepat situasinya untuk menegur anak itu.


"Wah rupanya kalian sudah saling kenal ya?" Nenek Wijaya tersenyum ke arah Mentari dengan tatapannya yang meneduhkan hati.


"Iya Nek, kami sudah saling kenal." Jawab Mentari yang kemudian dijawab oleh Mona dengan kata-kata yang tidak mengenakan hati.


"Tentu saja Nek kita saling kenal, dia itu gadis murahan yang suka mengikuti Arfan ke manapun dia pergi, bahkan sampai ke luar kota ketika Arfan bekerja pun dia ikuti, gadis tidak tahu malu!"


Mentari masih sanggup untuk tersenyum meskipun hatinya sudah menangis karena ucapan Mona, "Kak Mona jika Kakak hanya ingin menganggu pekerjaanku, sebaiknya Kakak pergi saja dari sini bagaimana, atau Kakak mau menggantikanku untuk memasak?" Mentari berkata dengan santai.


"Aku menggantikanmu memasak?" Mona menunjuk dirinya sendiri.


"Iya Kak bagaimana?"


Tanpa menjawab apapun Mona meninggalkan dapur dengan sedikit kesal, dia menuju ke ruang tamu yang ternyata sudah ada Arman dan Siska di sana yang sedang mengobrol bersama Arfan.


"Hai lubang berjalan, di sini juga kau rupanya?" Ucap sarkas Arman sambil menertawakan Mona.


"Beraninya kau mengataiku hah?!"


Arfan yang mendengarkan perdebatan mereka berdua hanya diam saja kemudian bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruang tamu. Arfan tidak suka ada Mona di dekatnya, perempuan itu hanya merusak mood nya saja hari ini.


"Nenek ada Arman di depan, Nenek pergilah temui dia. Biar aku saja yang selesaikan ini!" Arfan menyuruh Neneknya pergi menemui Arman yang mungkin sudah sangat Nenek rindukan.


"Benarkah anak itu datang?" Nenek Wijaya berwajah sumringah.


"Iya Nek, temui dia!"


Nenek Wijaya membasuh tangannya di washtafel kemudian menuju ruang tamu untuk menemui Arman.


Kini tinggallah Arfan dan Mentari di dapur karena asisten rumah tangga Nenek sedang sibuk di belakang menjemur pakaian.


Mentari menyelesaikan masakannya dengan dibantu oleh Arfan, dia bahkan tidak mengetahui jika ada Siska di depan.


"Nah akhirnya selesai semua," ucap Mentari bangga bisa menyelesaikan masakannya hari ini.


Arfan mengacak rambut Mentari pelan, gadis kecilnya ternyata sangat pintar memasak.


Mentari tersenyum kemudian menata semua makanan di meja makan.


"Mentari...," panggil Arfan.


Mentari yang masih sibuk menata semuanya di meja makan menoleh ke arah Arfan yang berada di belakangnya.


Cup...,


Arfan mencium bibir Mentari sekilas, Arfan berlalu meninggalkan gadis itu yang masih termangu karena ulahnya barusan.


Arfan ke depan memanggil semuanya untuk makan malam, betapa terkejutnya Mentari ketika melihat Siska ada bersama mereka.


"Tentu saja, aku menyusulmu!" jawab Siska tak kalah bahagia karena bertemu sahabatnya.


"Ah ya bersama idolamu!" Mentari melirik ke arah Arman.


Siska tersipu, "Ayo semuanya duduk, kita makan malam dulu!" Nenek Wijaya mempersilahkan semuanya untuk makan malam termasuk Mona yang masih belum pulang sejak kedatangannya sore tadi.


Kini mereka makan dengan lahap, "Enak...," puji Arman.


"Cucu perempuan Nenek pintar masak bukan?" Ucap Nenek Wijaya memuji Mentari.


"Nenek sungguh pintar memilih cucu perempuan," Arman sengaja menyindir Mona.


Mona tentu tidak mau kalah, "Halah makanan begini saja kok, aku juga bisa!"


"Oh ya?" Arman terus mencecar.


"Apa kamu sedang meremehkanku?" Mona menantang Arman.


"Baiklah kau memang tidak pernah mau kalah sejak dulu!"


"Eheeeemmmm...," Arfan berdehem tidak ingin mereka berdua melanjutkan perdebatan yang tidak akan usai jika tidak dicegah.


"Mentari tolong ambilkan itu untukku!" Arfan meminta Mentari mengambilkan cumi asam manis pedas untuknya.


Mentari meraih piring Arfan dan mengambilkan apa yang Arfan perintahkan kepadanya tadi, Mona tentu saja sangat cemburu karena Arfan benar-benar mengabaikan keberadaannya.


"Aku sudah selesai!" Mona menaruh sendok dan garpunya di atas piring yang masih berisi setengah penuh makanan yang tadi diambilnya.


"Kenapa tidak dihabiskan makananmu, mubadzir itu namanya Mona!" ucap Nenek Wijaya yang semakin kesal dengan sikap Mona.


"Aku sudah kenyang Nek menonton adegan romantis anak ingusan di depanku!"


"Apa maksud kamu Mona?"


"Mungkin kedatanganku salah waktu Nek, aku pamit pulang dulu ya Nek, di sini terlalu gerah!" Mona bangkit dari tempat duduknya kemudian meninggalkan semuanya yang masih asyik makan dengan santai.


"Bye lubang berjalan, tidak usah datang lagi!" seru Arman yang memang tidak suka dengan Mona.


Mona keluar dengan kesal, dia membanting pintu depan hingga suaranya terdengar sampai ke meja makan. Nenek Wijaya menggelengkan kepalanya, merasa sikap Mona tidak pernah berubah sejak dulu.


Mona menaiki mobilnya, menelfon Bram untuk menemaninya malam ini.


"Hallo... kau temani aku malam ini!" ucap Mona dari sambungan telefon.


"Dengan senang hati Beb, tunggu aku ya?"


Bram mematikan sambungan telefonnya kemudian keluar dari club malam yang sedang ia datangi. Bram tentu sangat senang karena Mona mengajaknya untuk bersenang-senang malam ini.


Bram merupakan salah satu teman pria Mona dari sekian teman prianya yang biasa menemaninya hampir setiap malam secara bergantian. Mona melakukan ini bukan karena uang karena nyatanya Mona tidak pernah kekurangan uang sedikitpun.


Mona hanya ingin memuaskan hasratnya terhadap pria, sehingga obsesinya terhadap Arfan sangatlah besar namun Arfan bukan pria semacam Bram yang mudah untuk takluk di hadapan Mona karena disediakan daging mentah yang bisa membuatnya terbang melayang.


Sementara itu, di kediaman Nenek Wijaya semua sedang berkumpul di ruang keluarga.


"Nenek sangat bahagia melihat kalian, Arman yang datang dengan seorang gadis cantik membuat Nenek lega karena kalian memang sudah saatnya membina rumah tangga!"


"Nek sudah malam sebaiknya Nenek istirahat, kami akan mengantar Mentari dan Siska pulang dulu," Arfan mencegah Neneknya untuk tidak mengatakan hal yang berlebihan seperti tadi sebab Siska dan Arman barulah kenal, Arfan khawatir jika ucapan Neneknya menyinggung mereka berdua.


"Cucu-cucu Nenek yang cantik sebaiknya kalian menginap saja ya?" Pinta Nenek Wijaya.


"Mungkin lain kali ya Nek, kami besok harus kuliah pagi jadi kami harus pulang dulu malam ini, kami janji akan sering main ke sini Nek." Mentari mencoba memberikan pengertian kepada Nenek Wijaya.


"Iya benar Nek, lain kali kami pasti akan main lagi ke sini." Siska menambahkan pernyataan Mentari.


"Baiklah kalau seperti itu, kalian hati-hati di jalan ya. Jangan lupa kabari Nenek kalau sudah sampai!"


Mereka semua berpamitan kepada Nenek, kini mereka sudah berada di mobil Arfan. Mentari dan Siska duduk di kabin belakang, sedangkan Arman duduk di depan menemani Arfan mengemudikan mobilnya.


Ponsel Arman berdering, panggilan dari nomor club. Arman merasa tidak enak dengan Arfan, dia merasa ragu untuk mengangkatnya.


"Angkat saja!" perintah Arfan.


Arman menggeser tombol hijau untuk menerima telefon dari club.


"Hallo...,"


Suara seseorang dari seberang telefon membuat wajah Arman tegang.


"Apa!!"


"Berkelahi?"