My Old Star

My Old Star
#89 Firasat Steven



Marryana merasa sangat ketakutan karena tidak ada seorangpun di tempat itu.


"Aku akan serahkan semua barang-barangku, tapi tolong lepaskan aku!" ucap Marryana memohon kepada komplotan itu.


Preman itu tertawa mengejek, "Kamu pikir kami akan melewatkan wanita secantik kamu dan membiarkanmu lolos begitu saja?"


"Aku bilang lepaskan aku!" Marryana terus memberontak.


"Jangan harap nona, kami akan membawa kamu turut serta bersama kami!"


Dua orang preman memegang tangan Marryana dan bermaksud memasukkan wanita itu ke mobil mereka.


Marryana terus memberontak sambil berteriak meminta tolong.


"Percumah saja kamu berteriak nona karena tidak ada yang akan menolongmu karena mereka tidak bisa mendengar teriakanmu sama sekali!"


Zaki baru saja kembali dari dinas luar kotanya, dia berkendara dengan santai karena hari sudah larut malam. Jalanan sudah lengang dan hanya beberapa kendaraan saja yang berpapasan dengannya.


Zaki berkendara sendiri sehingga dia cukup lelah kali ini, biasanya dia akan pergi bersama Arman tapi semenjak Arman ke luar dari club yang dipimpinnya dia harus pergi kemana-mana sendirian.


Dia merindukan keseruan Arman yang selalu bisa mencairkan suasana tapi dia sendiri tidak bisa mempertahankan Arman meskipun dia sudah berusaha sekuat tenaga.


Di sebuah tikungan yang cukup sepi, Zaki melihat sebuah mobil terparkir di pinggiran jalan begitu saja dengan pintu terbuka. Zaki awalnya tidak perduli dengan semua itu karena khawatir jika itu sebuah jebakan.


Tetapi setelah mendengar ada suara wanita meminta tolong akhirnya Zaki menghentikan laju mobilnya.


Betapa terkejutnya Zaki saat melihat seorang wanita sedang ditarik-tarik oleh dua orang dengan baju serba hitam dan penampilan seperti preman.


Tanpa pikir panjang Zaki mendekati mereka, "Lepaskan wanita itu!" teriaknya.


"Kau siapa berani-beraninya ikut campur urusan kami hah?!!" maki salah seorang preman itu.


"Aku memang bukan siapa-siapa tapi melihat cara kalian memperlakukan seorang perempuan dengan sangat kasar membuat aku terpaksa ikut campur!" suara Zaki tidak kalah tinggi dengan preman itu.


"Serang dia!" perintah dari pimpinan preman itu, sehingga dua orang yang tadi menarik-narik Marryana melepasakan wanita itu untuk menyerang Zaki.


Marryana berlari ke tempat yang lebih aman, sedangkan Zaki dan kedua preman itu terlibat baku hantam. Zaki berhasil mengungguli mereka sehingga membuat kedua preman itu tersungkur. Kini giliran bos dari preman itu yang maju untuk menyerang Zaki. Keduanya kembali terlibat bahu hantam, Zaki dengan sisa-sisa tenaganya berhasil melumpuhkan bos preman itu.


Zaki menghampiri Marryana, "Apakah kamu baik-baik saja nona?"


"Aku baik tuan, hanya sedikit saja yang lecet." Marryana menjelaskan kondisinya.


"Terimakasih atas pertolongan tuan kepadaku, perkenalkan aku Marryana. Tuan bisa memanggilku Marry atau Ana."


"Sama-sama nona, perkenalkan namaku Zaki. Oh ya kenapa anda ada disini malam-malam begini dan sendirian?"


"Aku mau menemui temanku, tapi mereka menghadangku."


"Baiklah mari kita pulang dan sebaiknya anda putar arah karena ini sudah sangat larut, terlalu berbahaya bagi wanita seperti anda berkendara sendirian."


"Anda benar, aku akan pulang saja."


Mereka hendak menuju ke mobil masing-masing tapi tanpa disangka salah satu preman itu bangun dan berlari ke arah Marryana dengan membawa pisau. Zaki melihat hal itu dan dengan sigap berlari ke arah Marryana bermaksud melindunginya, namun jaraknya yang tidak memungkinkan untuk menepis tangan preman itu dan pada akhirnya Zakilah yang tertusuk oleh preman itu.


Zaki tersungkur dan ambruk ke jalan beraspal, dia bersimbah darah. Marryana segera menelfon ambulance untuk membawa Zaki ke rumah sakit karena tidak ada seorangpun di sana untuk dimintai bantuan untuk mengangkat Zaki ke dalam mobil sedangkan darah Zaki terus saja bercucuran, Marryana khawatir jika laki-laki yang baru dikenalnya itu harus kehabisan darah.


Tidak seberapa lama ambulance yang dia tunggu datang menjemput, Zaki mendapatkan pertolongan pertama dan segera dilarikan ke rumah sakit.


Marryana mengikutinya dari belakang dengan mengendarai mobilnya sendiri. Dia sangat cemas, khawatir jika sampai terjadi sesuatu pada Zaki.


Steven yang sudah tertidur di kamarnya tiba-tiba terbangun tengah malam dan berteriak memanggil mamanya sambil menangis.


Sania dan Tomi segera masuk ke dalam kamar Steven begitu mendengar teriakan anak itu.


"Kamu kenapa Stev, apakah kamu bermimpi buruk?" Tanya Sania memeluk anaknya.


"Kamu tenang ya sayang, ada mama dan papa di sini jadi kamu tidak boleh takut."


"A-aku teringat om baik ma, sepertinya telah terjadi sesuatu pada om baik." Firasat Steven mengatakan jika Zaki sedang dalam kondisi yang tidak baik dan Steven bisa merasakan hal itu.


"Ma aku ingin menelfon om baik ma," rengeknya.


"Mama benar sayang, sebaiknya Stev bobo lagi. Mama dan papa akan temani Stev di sini bagaimana?"


Steven mengangguk menyetujui usul Tomi dan akhirnya tertidur kembali.


Di rumah sakit Zaki segera dibawa ke ruang operasi karena pisau masih menancap di perutnya dan harus segera di keluarkan oleh dokter.


Marryana yang juga terkena darah Zaki memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu, beruntung dia membawa baju ganti di mobilnya.


Operasi berjalan selama empat jam lamanya, tim dokter berusaha keras untuk menghentikan pendarahan yang keluar dari luka Tomi.


"Adakah keluarga pasien di sini?"


"Saya dok," jawab Marryana.


"Anda siapanya pasien?"


"Saya temannya dok, dia terluka karena menolong saya dari komplotan perampok."


"Apakah anda bisa menghubungi keluarganya?"


Marryana menggeleng, dia tidak tahu siapa Zaki karena mereka baru saja saling mengenal. Apalagi keluarganya Marryana tidak tahu sama sekali.


"Katakan saja padaku dok, karena saya tidak tahu siapa keluarga pasien."


"Baiklah mari ikut ke ruangan saya!" Marryana mengikuti langkah dokter menuju ke ruangannya.


"Begini nona, pasien kehilangan banyak darah dan harus segera mendapatkan donor karena jika tidak maka akan sangat membahayakan nyawanya. Namun sayangnya kami sedang kehabisan stok darah sesuai golongan dan resus yang pasien miliki. Kabar buruknya golongan darah pasien termasuk langka. Jadi kami mohon segera hubungi keluarganya, siapa tahu ada yang memiliki golongan darah yang sama dengan pasien."


"Tolong cek golongan darah saya dok, siapa tahu golongan darah saya cocok."


"Baiklah silakan anda ikut suster untuk melakukan pengecekan."


Marryana mengikuti perawat yang akan mengecek golongan darahnya, namun betapa kecewanya Marryana karena dia memiliki golongan darah yang sama dengan Zaki tapi dengan resus yang berbeda sehingga tidak mungkin Marryana menjadi pendonor untuk Zaki.


"Nona ini ponsel pasien, silakan nona simpan saja." Suster yang bersama Marryana tadi menyerahkan ponsel milik Zaki yang mereka temukan di kantong celana laki-laki itu pada saat akan menggantikan pakaian pasien dengan baju steril.


Marryana memberanikan diri untuk membuka ponsel itu, beruntung Zaki tidak menguncinya dengan password ataupun pengunci yang lain pada ponsel miliknya sehingga Marryana mencoba mencari kontak yang mungkin bisa dia hubungi.


Setelah mengutak-atik ponsel itu, Marryana menemukan sebuah nomor yang di simpan Zaki dengan nama "Steven anakku".


Marryana berpikir jika mungkin saja nama kontak itu bisa dihubungi sehingga dia mencoba menelfon ke nomor tersebut.


Hari sudah pagi ketika Marryana menghibungi nomor Steven menggunakan ponsel Zaki.


Terdengar suara seorang anak dari seberang telfon, "Hallo om baik, ada apa om?"


"Hallo... ini benar dengan Steven?"


"Iya ini Stev, ini siapa ya kenapa menelfon menggunakan ponsel om baik?"


"Ini tante Marryana Stev, maafkan tante ya Stev pagi-pagi begini sudah menelfon, tante cuma mau bilang jika pemilik ponsel ini sedang dirawat di rumah sakit karena semalam dia terluka dan saat ini kondisinya kritis, dia membutuhkan pendonor yang hasil pengecekkan darahnya cocok dengannya. Tante mohon sampaikan pada mamamu juga ya?"


Steven menjatuhkan ponselnya, dia shock mendengar jika om baik sedang sakit dan dirawat di rumah sakit dan saat ini sedang membutuhkan bantuan.


"Stev kamu kenapa sayang?" Tanya Sania yang melihat anaknya tiba-tiba murung dan terlihat cemas, bahkan sampai menjatuhkan ponselnya.


Steven menceritakan apa yang di dengarnya dari seseorang bernama Marryana.


Sania langsung mengingat kejadian saat Mentari menanyakan nama itu kepadanya. Sania mengambil ponsel Steven yang terjatuh di lantai dan menelfon kembali nomor Zaki untuk bertanya dimana Zaki saat ini dirawat.


"Ayo Stev kita jenguk om baik ke rumah sakit!" ajak Sania yang langsung disetujui oleh Steven.


Sania menceritakan kejadian tadi kepada Tomi, pada akhirnya Tomi ikut bersama mereka ke rumah sakit.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Hai kak kira-kira siapa ya yang akan jadi pendonor darah bagi Zaki??? 🤔🤔🤔


Yuk komen di kolom komentar, jangan lupa likenya ya kak. Terimakasih 💕💕💕