My Old Star

My Old Star
#22 Menetralisir Rasa



Semalaman Arfan menunggui Mentari di rumah sakit, sedangkan Siska dia suruh untuk kembali ke asrama agar bisa beristirahat dengan nyaman.


Menurut diagnosa dokter mentari kelelahan dan memang kondisi tubuhnya sedang tidak terlalu baik. Sepertinya gadis itu sedikit stres akhir-akhir ini sehingga berpengaruh pada kondisi kesehatannya.


"Maafkan aku Mentari kecil," ucap Arfan di samping Mentari yang masih belum sadarkan diri, namun berangsur-angsur demamnya mulai turun.


Arfan tertidur dengan posisi duduk dengan kepala di letakan pada ranjang rawat Mentari sambil memegang tangan gadis itu yang terbebas dari selang infus.


Arfan tiba-tiba terbangun karena mendengar Mentari terus meracau, antara sadar dan tidak sadar dengan mata terpejam Mentari terus memanggil namanya.


"Kak...Kak Arfan...kau dimana?"


"Kenapa Kakak jahat sekali, Kakak...kakak...kenapa pergi tidak berpesan apa-apa kepadaku?"


Arfan yang mendengarkan kesedihan Mentari kecilnya itu merasa sangat bersalah, ada rasa nyeri yang sama yang dia rasakan. Arfan mencoba menetralisir rasanya sendiri, menimbang rasa agar dapat berpikir lebih jernih. Akhir-akhir ini terlalu banyak masalah yang harus dia hadapi, hingga dia mengabaikan Mentari dan perasaannya sendiri. Ketakutan telah mengungkung diri dan pikirannya hingga tak mampu untuk keluar dari masalah hatinya.


Orangtua Mentari sudah mendengar dari Siska jika saat ini Mentari sedang dirawat di rumah sakit, hanya saja mereka saat ini sedang berada di luar kota dan baru akan tiba di kota Z esok hari.


Bu Kartika meminta tolong kepada Siska untuk menjaga Mentari malam ini, namun Siska sudah berjanji kepada Arfan tidak akan menceritakan kepada orangtua Mentari jika malam ini Arfanlah yang menjaga Mentari di rumah sakit sehingga Siska mengiyakan permintaan orangtua sahabatnya itu.


Keesokan paginya orangtua Mentari tiba di rumah sakit, disaat itu Mentari baru saja tersadar. Arfan sudah tidak ada di ruangan Mentari ketika kedua orangtuanya memasuki kamar rawat.


"Mentari sayang apa kamu baik-baik saja?" tanya Bu Kartika yang melihat Mentari mulai membuka matanya.


"Terimakasih Ayah, sudah menjagaku semalaman," Mentari berkata masih dalam kondisi lemah.


"Ibu dan Ayah baru saja sampai Nak karena kami baru saja tiba dari luar kota, yang menjagamu semalam disini Siska sayang."


"Tengah malam aku sempat tersadar, aku melihat bukan Siska yang ada disini Bu. Tapi seorang laki-laki, tidak mungkin jika itu Siska."


Bu Kartika teringat sesuatu ketika tadi sampai di depan rumah sakit, sepertinya dia melihat siluet Arfan ada di rumah sakit ini, "Tidak mungkin dia ada disini, bukankah aku sudah melarangnya untuk tidak menemui putriku lagi, mungkin saja aku salah lihat!" Bu Kartika membatin.


Bu Kartika kemudian tersenyum kepada Mentari seraya berucap, "Syukurlah kamu sudah tidak apa-apa, sekarang istirahat saja ya sayang, kamu mungkin sedang setengah sadar jadi melihat Siska seperti orang lain."


Mentari masih memikirkan apa benar Siska yang semalam menemaninya disini, memegang tangannya semalaman sehingga dia merasa nyaman dan tidur dengan nyenyak. Namun, Mentari tetap belum yakin jika itu Siska.


Arfan keluar dari rumah sakit meninggalkan Mentari yang masih terlelap saat mendapatkan kabar dari Siska jika orangtua Mentari sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.


Saat ini Arfan memilih untuk menghindar, dia belum memiliki keberanian penuh untuk bertemu dengan kedua orangtua Mentari kembali sebelum dirinya benar-benar yakin akan mempertahankan Mentari ataukah melepaskan gadis itu untuk orang lain seperti keinginan Bu Kartika agar dia meninggalkan putrinya.


****


Tiga hari sudah Mentari di rawat di rumah sakit, hari ini gadis itu diperbolehkan untuk pulang. Namun, disuruh tetap harus istirahat yang cukup dan makan makanan yang bergizi serta tidak boleh terlalu stres.


"Nah gadis cantik, hari ini sudah boleh pulang jangan lupa jaga kondisi meskipun tinggal di asrama ya!" ucap dokter Lukas setelah memeriksa kondisi Mentari.


"Baik dokter, terimakasih." Jawab Mentari, kemudian dokter lukas berbisik, "Beruntung tempo hari ada seorang pemuda yang mengantarkanmu kesini, jika tidak... kemungkinan terburuk bisa saja terjadi."


"Apakah dokter tahu dia itu siapa?"


"Kau bisa tanyakan langsung pada sahabatmu itu," dokter lukas menoleh ke arah Siska yang sedang membantu Bu Kartika membereskan barang-barang miliknya.


Mentari mengangguk, "Terimakasih sekali lagi dokter."


"Sama-sama, aku tinggal dulu ya." Pamit dokter lukas kepada Mentari dan semua orang yang ada di ruangan itu.


Dokter lukas meninggalkan Mentari untuk melanjutkan pekerjaannya berbarengan dengan Ayah Mentari yang masuk ke dalam ruang rawat setelah menyelesaikan semua administrasi rumah sakit. Pak Mahendra memegang selembar kertas dengan raut wajah kebingungan.


"Ayah apakah tidak apa-apa, kenapa mukanya ditekuk begitu?" Tanya Bu Kartika.


"Tidak apa-apa, hanya saja aku sedang bingung karena administrasi rumah sakit sudah lunas. Padahal tadi aku baru akan membayarnya."


"Apa maksudmu ada orang lain yang membayar semua biaya administrasi dan perawatan putri kita selama di rumah sakit ini?"


Pak Mahendra mengangguk, "Siapa kira-kira orang yang melakukannya?"


"Mungkin Mentari telah berbuat baik pada orang lain sehingga dia mendapatkan balasan kebaikan pula," Bu Kartika mencoba meyakinkan dirinya jika bukan Arfan yang melakukan hal itu untuk Mentari.


"Apakah itu kau Kak? Kenapa kau tidak datang langsung untuk menemuiku?" Mentari bertanya pada dirinya sendiri di dalam hati.


Mentari dibawa oleh keluarganya dan juga Siska untuk pulang, Arfan berdiri tak jauh dari koridor yang akan dilewati Mentari untuk menuju ke parkiran. Dia bersembunyi di balik pilar sehingga tidak bisa terlihat, Arfan menatap nanar Mentari, sungguh rasa sayangnya terhadap gadis itu sudah semakin besar. Hanya saja nyalinya yang masih ciut, untuk meyakinkan dirinya layak untuk Mentari kecilnya.


Mentari sekarang sudah berada di rumah, Nenek Wijaya datang menjenguk karena mendengar dari Bu Rima jika Mentari baru saja dirawat di rumah sakit.


Mentari merasa senang karena Nenek Wijaya datang menjenguknya, "Nenek...," ucap Mentari yang dipeluk oleh Nenek dari Arfan itu.


"Bagaimana keadaanmu sayang, apakah sudah tidak sakit?"


"Aku baik-baik saja Nek, terimakasih sudah datang kemari."


"Apakah cucuku tidak datang kesini?"


Mentari menggeleng, terlihat wajahnya berubah sendu.


Nenek Wijaya berbincang sebentar dengan kedua orang tua Mentari, kemudian pamit untuk pulang.


"Anak itu benar-benar tidak tahu bagaimana cara memperlakukan seorang gadis!" umpat Nenek Wijaya sembari memasuki mobilnya.


Mentari kini sedang berada di kamar bersama Siska, dia meminta Siska untuk tinggal beberapa hari di rumahnya sebelum mereka kembali ke asrama.


"Sis adakah yang kau sembunyikan dariku?" ucap Mentari yang sudah merebahkan tubuhnya di ranjang kamar yang serba bewarna pink itu.


"Aku...menyembunyikan apa darimu?" Jawab Siska yang sebenarnya sudah paham kemana arah pertanyaan sahabatnya itu.


"Ayolah katakan saja Sis," Mentari mendesak.


"Baiklah akan aku ceritakan, tapi kau harus berjanji jangan marah kepadaku ya!"


Siska menceritakan kejadian malam itu dan siapa orang yang telah membawa Mentari ke rumah sakit bahkan menunggui Mentari semalaman disana.


"Jangan bersedih Mentari sayang, aku bisa membaca dari raut wajah khawatirnya jika dia sangat sayang kepadamu," Siska menepuk punggung Mentari.


"Meskipun dia tidak pernah muncul dihadapanmu saat ini, tapi yakinlah dia selalu ada disekitarmu untuk terus menjagamu," sambung Siska.


"Apa dia juga yang membayar semua biaya rumah sakit?"


Siska hanya tersenyum karena jawabannya sudah pasti iya.


"Apa ini ada hubungannya dengan Ibuku?"


"Tentu saja ada, dia menghindar bukan karena membencimu tapi sedang menetralisir rasanya sendiri, sikap laki-laki sejati memang akan seperti itu demi orang yang dicintainya dia rela untuk berkorban."


"Aku harus bagaimana Sis?" Mentari merengek seperti anak kecil.


"Kau ini rupanya hanya pandai soal pelajaran saja!" Siska tertawa sedangkan Mentari memasang muka cemberut. Siska menyudahi tertawanya melihat ekspresi polos dan tak berdaya sahabatnya itu.


"Yakinkan dia bahwa kau ada untuk mendukungnya agar dia tidak merasa sendirian, untuk itu kau harus segera pulih!"


Di tempat lain, Arfan yang pulang ke rumah Nenek karena permintaan dari perempuan sepuh itu sedang menutup telinganya karena Nenek terus saja memarahinya.


"Kau ini sudah dewasa, seharusya kau bisa lebih memperhatikannya, dia sakit saja bahkan sepertinya kau sama sekali tidak perduli!" Nenek Wijaya bersedekap kesal.


"Dengarkan Nenek, besok kau harus datang untuk menjenguknya!"


Nenek Wijaya terus berbicara panjang lebar, namun sepertinya Arfan sama sekali tidak menggubrisnya. Dia beranjak menaiki tangga menuju ke kamarnya.


"Dasar anak nakal!" Nenek Wijaya meneriaki cucu nakalnya yang keras kepala.