My Old Star

My Old Star
#121 Mengingat Nenek



"Sudah puas memeluk istri orang?" Suara Arfan membuat Riko buru-buru melepaskan pelukannya terhadap Mentari.


"Maafkan saya Pak, saya tidak pernah bermaksud merebut istri Anda. Andaikan sedari awal saya tahu jika Mentari telah memiliki suami maka saya tidak akan pernah menaruh harapan kepadanya. Sungguh saya tidak bermaksud demikian." Aku Riko kepada Arfan yang tersenyum simpul di gelapnya malam dengan secercah cahaya bulan tanpa diketahui oleh pemuda anak Pak Kades itu.


"Apa kamu pernah bertanya kepada Mentari?"


"Saya tidak pernah menanyakannya Pak dan Mentari juga tidak mengungkapkan identitasnya."


"Bukankah Mentari sudah menyerahkan dokumen saat datang kesini?"


"Iya Pak, saya yang menerima dokumen itu sebagai bentuk perizinan melakukan penelitian."


"Lalu apakah kamu membacanya secara detail?"


Riko menggeleng kemudian berkata, "Saya hanya membaca sekilas Pak sebab saya sudah terpesona dengan istri Bapak saat pertama kali melihatnya."


"Oh ya ampun, anak muda zaman sekarang seperti itu rupanya."


"Sekali lagi tolong maafkan saya Pak, saya benar-benar tidak tahu."


"Kak... sudahlah maafkan Riko, lagi pula aku juga salah karena tidak menaruh curiga sedikitpun terhadap sikap Riko, tapi percayalah karena ketulusan Riko membantuku maka pekerjaanku hampir terselesaikan." Mentari angkat bicara karena tidak tega melihat Riko yang terlihat kurang nyaman dengan sikap Arfan.


"Baiklah Riko, aku memaafkanmu tapi jika aku lihat lagi kamu memeluk istriku seperti tadi jangan harap kamu bisa masuk ke kelasku!"


"Baik Pak!" jawab Riko singkat.


Arfan mengajak Mentari masuk ke dalam yang diikuti oleh Riko di belakang mereka.


Malam ini Arfan tidur bersama Riko dan Arman sedangkan Mentari malah tidak bisa tidur memikirkan Riko yang ternyata menyukainya.


"Kenapa belum tidur Mentari sayang?"


"Sudah hampir pagi, kasihan yang ada di dalam perut kalau Ibunya tidak bisa beristirahat."


"Sis aku merasa kasihan pada Riko!"


"Apa masalahnya Mentari?"


"Semalam dia secara tidak langsung mengatakan jika dia menyukaiku, aku jadi merasa bersalah Sis."


"Mentari itu hal biasa, tidak perlu dipikirkan. Yakinlah dia pasti akan menemukan orang yang tepat untuknya suatu hari nanti lagi pula dia masih muda, masih panjang perjalannya menemukan jodoh yang ditakdirkan untuknya."


"Kau benar Sis!"


"Sudah ayo tidur Mentari!"


Keesokan paginya Arfan sudah siap dengan semua peralatan Mentari, dia menargetkan jika hari ini pekerjaan Mentari sudah harus terselesaikan sehingga besok mereka bisa kembali ke Kota Z.


Arfan berencana mengajak Mentari dan Siska ke lokasi pertandingan nasional. Dia baru saja mendapatkan kabar dari Tomi jika timnya berhasil melaju ke babak enam belas besar dan hari ini mereka akan bertanding kembali. Arfan berharap timnya dan tim Zaki bisa terus melaju hingga ke final.


"Akhirnya selesai juga Kak!" Mentari berjalan ke arah Arfan dengan senyum manisnya.


"Benarkah sayang?"


"Iya Kak, rasanya aku sudah ingin pulang besok. Aku sudah kangen pada Nenek, Kak Sania dan juga Steven."


"Nenek?"


Mentari mengangguk, "Kau benar, Nenek pasti merindukan kita sayang." Arfan memeluk Mentari, dia memikirkan sebuah hal saat mengingat Nenek.


"Ayo kita kembali ke rumah Riko!" ajak Arfan kepada semuanya, kali ini Riko memang tidak ikut bersama mereka. Dia memutuskan untuk mulai belajar karena ujian semester sudah semakin dekat.


Mentari mengangguk, "Ayo Kak!"


Mereka semua meninggalkan lokasi yang beberapa hari ini Mentari gunakan untuk melakukan penelitiannya.


"Hai kau, apa benar kamu yang bernama Mentari?" Seorang gadis tiba-tiba muncul menghadang perjalanan mereka.


"Iya benar, ada apa ya mbak?"


"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Kita memang belum pernah bertemu, aku hanya ingin memberikan peringatan kepada kamu jangan dekati Riko karena dia milikku!"


Mentari mengernyitkan dahi, di dalam hatinya dia sedikit tertawa karena ada saja yang membuat dia merasa lucu.


"Mbak dengarkan baik-baik ya, saya dan Riko tidak ada hubungan apa-apa jadi Mbak tidak perlu khawatir!"


"Alah kemarin-kemarin Riko selalu membuntuti kalian!"


"Mbak dia bersama kami karena bermaksud membantu."


"Iya benar, lagi pula kami menganggap Riko sudah seperti adik kami sendiri jadi mana mungkin ada rasa untuknya!" Siska yang tidak tahan dengan sikap gadis yang menghadang mereka itu ikut angkat bicara.


"Tidak mungkin, pasti karena kamukan Riko jadi menolakku!"


"Riko bilang dia menyukai gadis bernama Mentari, aku sering melihat kalian bersama di tempat ini. Entah pekerjaan apa yang sedang kalian lakukan tapi kalian sering tertawa bersama, aku iri melihatnya!"


Mentari tersenyum mendekati gadis itu dan mengajaknya duduk berteduh, "Mbak kamu lihat laki-laki yang berdiri disana?"


Gadis itu mengangguk, dia melunak karena Mentari bersikap lemah lembut kepadanya.


"Dia suami saya Mbak, jadi tidak mungkin jika saya menyukai Riko lagi pula saya sedang hamil saat ini dan laki-laki itu Bapaknya dari pernikahan yang sah."


"Benarkah?" Tanya gadis itu sedikit terkejut.


"Iya Mbak, kalau tidak percaya tanyakan saja langsung!"


"Sudah ya Mbak, sekarang kamu pulanglah karena kami harus segera berkemas untuk meninggalkan Desa ini esok hari."


"Maafkan aku karena sudah tidak sopan terhadapmu Mentari."


"Iya Mbak, jangan khawatir ya ini hanya kesalahpahaman saja."


Gadis yang menyukai Riko pada akhirnya pergi meninggalkan mereka, Mentari menarik nafasnya kemudian membuangnya.


"Seharusnya biar aku saja yang mengatasinya sayang?"


"Jangan khawatir Kak karena aku bisa mengatasinya sendiri."


"Terbaik, kamu memang calon Ibu yang mandiri."


"Ayo kita teruskan perjalanan!"


Mereka sampai di rumah Pak Kades yang ternyata sudah ada Pak Reza di rumah itu, "Pak Reza kapan datang Pak?" Sapa Mentari kepada dosennya.


"Baru saja Mentari, bagaimana kabar kalian. Apakah ada kendala?"


"Sejauh ini tidak ada kendala, bahkan hari ini kami sudah menyelesaikan semuanya Pak."


"Benarkah?"


"Bagus kalau begitu!" Pak Reza mengacungkan jempolnya ke arah Mentari.


"Wuih kalian disusul sampai kemari rupanya?" Sambung Pak Reza yang kemudian menyapa Arfan dan Arman secara bergantian.


"Za bisa kita bicara sebentar?" Pinta Arfan kepada Reza yang setuju dengan permintaan Arfan kepadanya tersebut.


Mereka pergi ke depan untuk berbicara bertiga dengan Arman juga ikut bersama mereka, sedangkan Mentari dan Siska mengutarakan maksudnya yang akan pulang esok.


"Apa tidak terlalu cepat kalian pulang?" Tanya Bu Kades kepada Mentari dan Siska.


"Kami masih memiliki banyak hal yang harus diselesaikan Bu, tapi kami berjanji kapan-kapan kami pasti akan datang kemari lagi."


"Baiklah Nak, Ibu bisa mengerti."


Mentari dan Siska kemudian masuk ke dalam kamar untuk segera berkemas, sedangkan di luar Reza dan Arman sedang mendengarkan maksud Arfan meminta bantuan mereka.


"Bagaimana Za, apakah seperti itu?"


"Aku setuju Fan, itu hal baik yang bisa kita lakukan untuk Desa ini."


"Arman tolong hubungi Paman Faisal untuk mempersiapkan segalanya, aku ingin dokumen itu bisa ditandangani besok sebelum kita pergi dari sini!"


"Baiklah itu tidak sulit!"


"Za nanti malam berbicaralah pada Pak Kades, aku mengandalkanmu Za!"


Mereka bertiga sepakat dan melaksanakan tugas mereka masing-masing karena memang waktunya yang sangat sempit dan ide itu baru muncul di benak Arfan tadi siang.


Arfan sudah menghubungi Neneknya dan langsung disetujui oleh wanita sepuh itu.


Malam harinya Pak Reza duduk berbincang bersama Pak Kades dan mengutarakan maksudnya.


"Apakah saya tidak salah dengar Pak Reza?"


"Tidak Pak, jika Pak Kades setuju kami akan segera mengurusnya dan merealisasikannya dalam waktu dekat."


"Terimakasih Pak Reza karena kami sangat membutuhkannya."


"Jangan berterimakasih kepada saya Pak Kades tapi pada Mentari karena dia memiliki suami yang sangat perduli dengan orang lain."


"Pak Arfan, dia yang memberikannya kepada Desa ini?"


"Iya benar sekali Pak, perusahaan keluarga Pak Arfan yang akan mengurus semuanya. Pak Kades tinggal terima beres saja!"


Mata Pak Kades berbinar, dia sangat bersyukur karena harapannya selama ini akan segera terwujud.


"Sekali lagi terimakasih Pak Reza kami menerimanya dengan tangan terbuka."