My Old Star

My Old Star
#105 Merajut Kebahagiaan



Mona dengan cepat menghubungi Marryana namun tidak mendapatkan jawaban karena wanita itu sedang sibuk dengan dirinya sendiri sehingga tidak mendengar dering panggilan di ponselnya.


"Sial... semakin susah saja dia dihubungi sekarang!" Mona mengumpat kesal.


Mona sngat kesal dengan keadaan ini, meskipun dia sangat yakin jika Arfan tidak tertarik sama sekali dengan Marryana. Namun, dia tetap khawatir jika ayah Marryana menekan Arfan dengan powernya sehingga membuat Arfan harus mengalah dengan keadaan dan menerima pinangan itu.


Mona tetaplah Mona seorang wanita licik yang akan mencoba mendapatkan buruannya dengan segala cara. Kali ini setelah mengetahui jika Ayah dari Marryana yang meminang Arfan dia tidak kehabisan akal untuk memanfaatkan keadaan ini meskipun dia tetap cemas, tetapi Mona berpikir sebaliknya jika justru keadaan inilah yang mungkin akan semakin memuluskan rencananya, sedari awal memang Mona akan menggunakan Marryana sebagai alat yang bisa dia kendalikan untuk membuat rumah tangga Arfan yang baru seumur jagung itu terkoyak.


Berbeda dengan Mona yang akan mencoba memanfaatkan keadaan, pada kondisi ini justru Bram sangat marah setelah membaca berita itu, ditambah dia mengetahui dari Mona jika Marryana adalah anak dari pemilik club itu.


"Kenapa kamu sepertinya marah sekali Bram?" Tanya Mona pada Bram yang melihat perubahan ekspresi di wajah laki-laki itu.


"Bagaimana aku tidak marah sayang, bukankah aku akan menjadi nomor dua jika kamu nanti mendapatkan Arfan?" Kilah Bram agar Mona tidak curiga kepadanya.


"Apakah ini artinya kamu cemburu Bram sayang?"


"Tentu saja, aku juga punya perasaan sayang. Setiap hari bersamamu melakukan banyak hal bersama, apakah kamu kira aku tidak pernah memiliki rasa terhadapmu?"


"Benarkah Bram, aku merasa tersanjung. Aku kira kamu hanya mau uang dan tubuhku saja."


Mona mendekati Bram, merangkulnya dan naik ke atas pangkuan Bram yang terduduk di tepi ranjang.


Bram sendiri dengan mudah mengekspose semua hal yang ada pada Mona sebab pakaian wanita itu selalu terbuka memperlihatkan seluruh aset yang seharusnya tertutup dengan rapat di depan orang lain. Hanya sekali tarik, Bram bisa membuat Mona polos di depannya.


Pergulatan panas untuk ke sekian kalinya terjadi diantara mereka berdua. Hubungan tanpa ikatan diantara keduanya tak ubahnya seperti mesin waktu yang terus berputar namun suatu saat hanya akan menyisakan penyesalan pada pelakunya masing-masing.


Arfan kini sudah sampai di depan kampus Mentari, dia menunggu istrinya di depan laboratorium sesuai dengan informasi dari Reza. Tadi di perjalanan, Arfan menghubungi rekannya yang mungkin sedang bersama dengan Mentari, hanya saja dia meminta agar Reza merahasiakan kedatangan dirinya agar Mentari tetap berkonsentrasi pada apa yang sedang dia kerjakan.


Mentari masih berkutat dengan persiapan penelitian, dia sedang membuat prototype untuk penelitian yang akan dia laksanakan di luar kota nanti.


"Mentari sayang istirahatlah dulu, kasihan yang ada di perut. Dia juga butuh asupan untuk tumbuh kembangnya!" Siska yang menemani Mentari memperingatkan sahabatnya karena sejak pagi Mentari tidak beristirahat kecuali untuk sholat.


Mentari sedari dulu memang seperti itu, dia tidak akan berhenti sebelum pekerjaannya selesai sehingga pada kondisi ini Siska sangat bisa diandalkan untuk selalu memberikan teguran kepada sahabatnya itu.


Hujan mengguyur area kampus, Arfan terkenang saat kedua kalinya bertemu dengan Mentari, mereka terguyur hujan di jalan dan tidak bisa pulang karena terhalang pohon tumbang yang membuat mereka harus menginap bersama, Arfan tersenyum sendiri mengenang hari itu.


Ternyata gadis yang tidak dia sukai waktu itu kini menjadi istrinya dan dirinya sangat takut jika harus kehilangan Mentari dalam hidupnya, Mentarilah yang bisa mengubah pribadinya yang dingin menjadi lebih hangat dan humanis seperti sekarang.


Arfan terbawa dalam lamunannya yang panjang, hingga dia tidak tahu jika Mentari keluar dari ruangan bersama Siska dan menemukan jika Arfan sedang menunggunya.


"Kak Arfan!"


"Sejak kapan kakak ada di sini, sedangkan cuaca sangat dingin kak. Kenapa kakak tidak masuk saja?" Nada bicara Mentari terdengar sangat khawatir karena Arfan tampak mengginggil kedinginan.


"Aku hanya ingin menunggumu di sini karena aku tidak mau membuyarkan konsentrasi kamu sampai semua pekerjaan kamu selesai." Jawab Arfan lugas memberikan alasan kenapa dirinya tidak masuk ke dalam saja dan menunggu di dalam agar tidak terlalu dingin.


Arfan memang tidak mengenakan jaket sedangkan cuaca sangat dingin sore ini akibat hujan yang cukup deras, tubuhnya sedingin es. Dia menatap nanar istrinya yang tersenyum manis di depannya, Arfan langsung memeluk Mentari kecilnya yang sebentar lagi akan melahirkan anak dari buah cinta mereka.


"Kenapa kamu pergi tanpa pamit?" Tanya Arfan terbata.


"A-aku takut sekali kamu meninggalkanku!" sambungnya.


Mentari mengeratkan pelukannya di tubuh Arfan kemudian berbisik di telinga suaminya, "Kak disini ada Siska, sebaiknya jangan membuat dia iri melihat kita seperti ini."


Perlahan Mentari melepaskan pelukan Arfan, hujan sudah mulai reda. Hari juga sudah hampir petang, mereka harus segera pulang.


Arman datang menjemput Siska saat mereka akan menerobos hujan agar sampai di parkiran, "Kalian masih disini rupanya?" Arman menyerahkan payung untuk digunakan Arfan bersama Mentari, sedangkan dirinya bersama dengan Siska menggunkan payung yang sama.


"Kamu disini juga Fan?" Sambung Arman.


"Pekerjaan di kantor cukup banyak, sekali-sekali datanglah Fan menengok perusahaan kamu sendiri!"


"Eits... itu perusahaan milik nenek, tapi kapan-kapan akan aku usahakan Man, mungkin setelah pertandingan nasional usai."


"Ya sudahlah terserah kau saja, cucu pemilik perusahaan mah bebas!" Arman tertawa mengejek.


"Kau ini Man, aku belum bisa masuk ke perusahaan karena banyak faktor. Aku masih menyukai duniaku yang sekarang."


Mereka meninggalkan kampus dengan pasangan masing-masing, "Terimakasih ya Sis, kamu sudah menemaniku seharian ini!" Mentari berterimakasih sebelum Siska masuk ke dalam mobil Arman.


"Tapi itu tidak gratis loh Mentari sayang, kapan-kapan kamu traktirlah aku. Anak asrama yang biasa berhemat, bolehlah sekali-kali makan yang bergizi gitu!" Siska tertawa dengan menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Baiklah akan aku traktir kamu nanti Sis!" Mentari mengacungkan dua jempol untuk Siska dan tersenyum ke arah sahabatnya itu yang sepertinya sudah di panggil Arman untuk segera masuk ke dalam mobil. Mereka berpisah jalan setelah keluar dari gerbang kampus.


Arfan tiba-tiba mengambil tangan Mentari dengan tangan kirinya sembari tetap fokus ke mobil yang sedang dikendarainya.


"Jangan tinggalkan aku sayang." Arfan menciumi punggung tangan Mentari.


"Aku akan tetap ada di sini kak!" Mentari menempelkan tangannya ke dada Arfan.


"Soal berita semalam ak---,"


"Aku tidak mempermasalahkan hal itu kak!" Mentari memotong ucapan suaminya.


Arfan mengerutkan dahi merasa lega sekaligus penasaran dengan sikap Mentari kali ini.


"Aku mempercayaimu kak, jadi aku yakin jika kakak tidak akan semudah itu menerima pinangan bos club sebelah itu!"


"Kenapa kamu bisa sebegitu yakinnya sayang?"


"Bukankah tidak ada alasan untuk sebuah kepercayaan kak!"


"Bahkan jika anak bos itu adalah Marryana?" Arfan mencoba menyelidik ke relung hati terdalam dari istrinya.


Mentari tersenyum, "Apalagi jika wanita itu adalah Marryana kak, apa yang harus aku risaukan jika jelas-jelas kakak sudah menolaknya di depanku langsung, kecuali kakak ada main dengannya di belakangku yang aku tidak tahu menahu hal itu." Mentari menjawab dengan sangat yakin.


Arfan mengacak rambut istrinya puas dengan jawaban Mentari yang tidak menyiratkan keraguan sedikitpun. Dia berjanji akan menjaga kepercayaan Mentari itu sepenuh hatinya.


Arfan mempercepat laju mobilnya agar segera sampai di rumah, "Kak pelan-pelan saja, ini masih sore lagian kita tidak punya tugas penting apapun malam ini."


"Tugasmu malam ini adalah memanjakan suamimu sayang," Arfan mengerling genit ke arah istrinya.


Mentari sontak membulatkan bola matanya, "Aku lelah kak, bisakah ditunda besok saja?"


Mentari memelas.


"Tidak akan aku lepaskan!" Arfan tertawa penuh kemenangan.


Arfan sedang merajut kebahagiaan bersama Mentari yang sebentar lagi akan dia lepaskan sejenak untuk berpisah sementara karena harus pergi keluar kota, meskipun istrinya belum mengatakan apa-apa kepadanya terkait kepergiannya kali ini.


Arfan juga memiliki tanggungjawab di club yang sebentar lagi juga akan bertanding di kancah nasional.


Arfan juga harus mempersiapkan tim dengan baik agar cita-cita mereka selama ini bisa terwujud. Dia tidak mungkin hanya mengandalkan Tomi seorang, sedangkan Tomi juga memiliki keluarga.


Jika ingat Mentari akan pergi sendiri, dia merasa dadanya sesak. Namun, dia tetap berdo'a semoga Allah selalu melindungi gadisnya di saat penjagaannya tidak sampai kepadanya.