My Old Star

My Old Star
#48 Jangan Harap



Ayesh mengajak Arfan segera menemui Mentari di kampus, bisa saja gadis itu sedang dalam masalah kali ini karena berita-berita yang beredar di kampus mungkin saja sudah meluas dan semakin liar.


Arfan dan Ayesh tiba di kampus, mereka segera mencari Mentari ke kelasnya namun mereka tidak bisa menemukan gadis itu.


"Aku akan hubungi Reza." Arfan segera mengambil ponselnya dan menekan nomor Reza.


Arfan bersyukur karena Mentari ada bersama Reza di ruang ketua jurusan. Arfan dan Ayesh segera menyusul Mentari ke tempat itu.


Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, Arfan dan Ayesh dipersilakan untuk memasuki ruangan.


Mentari yang ditemani oleh Siska ada di sana, rasa lega membuat hati Arfan sedikit menghangat.


"Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Arfan begitu mereka telah duduk.


"Aku takut kak, kenapa semua jadi begini." Mentari mengungkapkan apa yang sebenarnya dia rasakan semenjak pagi.


Arfan menjelaskan semua yang terjadi pada hari itu di kampus dan kenapa Ilyas bisa menghilang belakangan ini.


"Jadi begitu ceritanya pak, hari ini saya juga harus menemui penyidik untuk di periksa dan ini pengacara yang menangani kasus saya, namanya pak Ayesh."


Ayesh mengaguk takzim kepada yang ada di ruangan itu dengan senyumnya yang menawan.


"Ilyas kenapa jadi sebrutal itu, kami sangat menyayangkan sikapnya yang tidak memikirkan akibat dari apa yang dia lakukan." Ketua jurusan yang paham bagaimana Ilyas meragukan jika Ilyas ternyata dapat melakukan hal yang tidak sepatutnya dia lakukan.


"Kami juga tidak paham pak, bahkan kami curiga jika ada orang lain di balik semua ini."


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya pak ketua jurusan meminta solusi agar berita-berita tidak benar yang sempat meluas tidak semakin liar di masyarakat.


"Pak saya minta tolong agar otoritas anda bisa menghapus semua berita yang ada di kampus ini, sebab keselamatan Mentari menjadi taruhannya," Ayesh angkat bicara.


"Baik pak Ayesh serahkan saja kepada kami, tapi apakah kalian memiliki bukti yang cukup kuat untuk hal ini?"


Arfan mengirimkan rekaman kejadian yang Reza kirimkan kepadanya.


"Silakan anda lihat sendiri dari video ini, amati dengan seksama." Ayesh meminta semua memperhatikan video itu, apakah penglihatan mereka kira-kira sama dengan apa yang dia lihat.


Semua mengamati video itu dan ternyata memang ada orang lain di sekitar tempat di mana Mentari dan Ilyas waktu itu bertemu, diduga orang itulah yang sengaja mengambil gambar Mentari dan Ilyas, terlihat sangat jelas jika semua itu sudah diatur oleh dalang di balik kejadian yang menimpa Mentari akhir-akhir ini sebab orang itu tampak sudah mengintai Mentari semenjak dari perpustakaan.


"Kalian benar, Ilyas sepertinya bekerjasama dengan orang lain." Ketua jurusan merasa yakin setelah melihat rekaman itu.


Ketua jurusan kemudian mengambil langkah cepat, menghilangkan berita-berita yang sejak pagi beredar di kampus dan meresahkan sebagian besar warga kampus.


Sebelum Ayesh dan Arfan datang sebenarnya Mentari sudah mendapat makian dari teman-teman kampusnya, beruntung pak Reza datang untuk mengevakuasi Mentari dan Siska ke tempat yang aman sebelum mereka melakukan kekerasan kepada Mentari.


Arfan melirik jam di tangannya, "Pak kami mohon undur diri karena sudah waktunya saya memenuhi panggilan dari penyidik." Arfan berpamitan kepada ketua jurusan dan juga Reza sekaligus membawa Mentari dan Siska pergi bersamanya, untuk sementara masalah di kampus dapat di selesaikan dengan baik.


"Za terimakasih karena kau telah menjaga Mentariku." Arfan menepuk bahu Reza sebelum meninggalkan sahabatnya itu.


"Tidak usah sungkan Fan, dia juga mahasiswiku, jadi sudah sewajarnya kami melakukan perlindungan terhadapnya."


Mereka berempat meninggalkan fakultas MIPA, tujuan Arfan dan Ayesh saat ini adalah menemui penyidik untuk memberikan keterangan.


Arfan memacu mobilnya dengan kencang sebab sudah tidak ada waktu lagi baginya, jika terlambat maka tidak ada kesempatan lagi bagi dirinya memberikan keterangan yang benar.


Lima menit sebelum waktu yang telah dijadwalkan dimulai mereka sampai di kantor polisi dimana Ilyas saat ini di tahan.


Arfan memarkirkan mobilnya kemudian meninggalkan Mentari dan Siska.


"Kalian masuklah nanti, tunggu kami di sekitar sini!" Arfan memberi perintah kepada Mentari dan Siska sebelum meninggalkan area parkir.


Arfan masuk ditemani oleh Ayesh, satu jam berlalu namun belum ada tanda-tanda Arfan ke luar dari ruangan penyidik. Bosan menunggu Mentari mengajak Siska untuk menjenguk Ilyas, bagaimanapun juga Ilyas pernah menjadi partner mereka dalam beberapa penelitian ilmiah yang mereka lakukan.


Ilyas diantar oleh petugas menemui mereka berdua yang telah menunggu.


"Mentari... Siska... Kalian datang?" Ilyas kaget melihat siapa yang datang menjenguknya.


"Iya Yas, kami datang menjenguk. Apakah kau baik-baik saja?" Mentari merasa iba melihat kondisi Ilyas, dia tampak lebih kurus dan kusam, di wajahnya tidak ada lagi semangat untuk hidup. Sinar di wajahnya seolah meredup.


"Aku baik Mentari." Jawabnya tidak bersemangat dan membuang mukanya, Ilyas sangat malu bertemu dengan Mentari setelah apa yang dilakukannya terhadap gadis itu.


"Syukurlah kalau seperti itu," Siska menimpali.


"Mentari maafkan perbuatanku yang tidak baik terhadapmu, padahal kamu dan keluargamu sudah sangat baik kepadaku, tapi aku membalasnya dengan hal yang tercela." Ilyas tampak menyesali perbuatannya.


"Yas bolehkah aku bertanya?" Mentari memberanikan diri untuk mengajukan sebuah pertanyaan kepada Ilyas.


"Tanyakan saja apa yang ingin kamu ketahui Mentari!" jawab Ilyas.


"Apakah ada orang lain yang mempengaruhimu sehingga kamu begini Yas?"


Ilyas terdiam, tampak ada keraguan yang membuatnya tidak bisa menjawab pertanyaan Mentari, cukup lama Ilyas barulah membuka suara, "Jika itu yang ingin kamu ketahui, maaf aku tidak bisa memberikan keterangan apapun kepadamu." Ilyas cukup menyesal tidak bisa memberikan jawaban kepada Mentari, raut wajahnya mengisyaratkan jika ada sebuah hal besar yang sedang dia sembunyikan.


Petugas datang mengingatkan jika waktu berkunjung telah habis, Ilyas dibawa kembali oleh petugas.


"Tolong jaga ibuku Mentari sebab aku tidak bisa lagi memberikan perlindungan kepadanya." Pesan Ilyas sebelum pergi meninggalkan Mentari dan Siska.


Mereka berdua kembali ke parkiran karena khawatir jika Arfan mencari mereka, meskipun sebelumnya Mentari telah mengirimkan pesan kepada Arfan jika mereka berdua ada urusan sebentar.


Sebelum sampai di parkiran, Mentari tidak sengaja bersenggolan dengan seorang wanita yang membuat dirinya terjatuh. Siska membantu Mentari berdiri.


Wanita itu membuka kacamata hitamnya dan menampilkan wajah sinis ketika mengenali sosok gadis yang bertabrakan dengan dirinya secara tidak sengaja.


"Kau rupanya gadis tengik, kalau jalan itu pakai mata!" wanita itu melotot ke arah Mentari dan Siska dengan sangat garang.


"Nona bukankah anda yang salah, lihat sahabatku saja sampai terjatuh tadi!" Siska angkat bicara membela Mentari.


"Apa kamu bilang, aku yang bersalah!" wanita itu menunjuk hidungnya sendiri dengan arogan.


"Lihat dulu diri kalian, masih kecil berani melawanku!" wanita itu berkacak pinggang.


Siska hendak membalas perkataan wanita itu namun dicegah oleh Mentari, "Maafkan kami kak, mungkin kami yang kurang berhati-hati."


Mentari tidak ingin membuat keributan dengan memperpanjang masalah.


"Bagus kalau tahu salah!" jawabnya ketus.


"Kalau begitu kami permisi!" pamit Mentari.


"Enak saja main pergi begitu saja, mana tanggungjawabmu hah?!!"


"Kami kan sudah minta maaf, lagian bukankah tidak ada yang lecet?" Siska yang geram mulai emosi.


"Lap dulu sepatuku, cepat!!!"


"Mengelap sepatu anda?!!" Siska membantah dengan mengulang perintah, dia memberikan kode kepada Mentari.


"Jangan harap!!!" ucap Siska lagi, kemudian mereka berdua berlari meninggalkan tempat itu.


"Dasar kalian gadis tengik berani-beraninya kabur, awas kalian kalau ketemu lagi!!"