My Old Star

My Old Star
#40 Kakek Mahmud



Arfan mengantarkan Pak Mahmud ke beberapa penginapan terdekat. Namun, sangat disayangkan karena tidak ada yang kosong, semuanya rata-rata penuh.


"Paman sebaiknya ikut denganku saja bagaimana?" Arfan memberikan penawaran.


"Nanti merepotkan kamu Nak, Saya sudah diberi tumpangan saja sudah sangat bersyukur," jawab Pak Mahmud yang merasa tidak pantas diperlakukan sebaik itu oleh Arfan yang baru saja dikenalnya.


"Paman tidak merepotkanku sama sekali, kebetulan saya mau ke rumah Nenek di dekat sini, jadi paman bisa menginap di rumah Nenek saya malam ini."


Pak Mahmud hanya bisa pasrah dengan pengaturan Arfan karena memang saat ini dia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti ke mana Arfan membawanya pergi.


Sepanjang perjalanan, pak Mahmud banyak bercerita dengan Arfan mengenai perjalanan hidupnya hingga hari ini dia datang ke kota Z adalah untuk mencari saudaranya yang telah lama terpisah, Pak Mahmud banyak berpindah dari kota satu ke kota yang lainnya untuk mencari saudaranya.


Arfan banyak mengambil pelajaran dari apa yang pak Mahmud ceritakan kepadanya. Meskipun Arfan tidak memiliki saudara kandung paling tidak dia masih memiliki Nenek yang sangat menyayanginya.


Pak Mahmud bahkan menanyakan mengenai pernikahan kepada Arfan dan memberikan Arfan sebuah nasehat.


"Pesan paman Nak, menikahlah dengan perempuan yang baik agama dan akhlaknya sehingga dia sanggup bertahan dalam kondisi paling sulit sekalipun!"


"Apa kamu sudah memiliki calon Nak? Paman lihat kamu sudah cukup umur untuk berumah tangga, mohon maaf jika paman lancang berkata demikian,"


"Sebenarnya sudah paman, tapi terhalang restu orangtua. Kami masih harus berjuang lebih jauh lagi."


"Kalau begitu jaga dia seumur hidupmu!"


"Terimakasih paman atas nasehatnya, aku akan selalu mengingatnya."


Mereka sampai di rumah nenek Wijaya tepat tengah malam, Arfan membawa Pak Mahmud masuk ke dalam rumah dan mempersilakannya untuk beristirahat di kamar tamu. Arfan berniat memberitahu neneknya esok hari, sebab rumah sudah dalam keadaan sepi.


"Silakan beristirahat paman, saya tinggal dulu."


"Terimakasih Nak, tapi ini terlalu berlebihan. Apa tidak sebaiknya saya tidur di kamar belakang saja."


"Paman tamu saya dan bukan pembantu, jadi paman harus beristirahat di sini bukan di belakang."


Perlahan Arfan menutup pintu kamar tamu, dia sendiri naik ke kamarnya untuk beristirahat.


Arfan teringat akan Mentari yang kini berada di rumah orangtuanya. Arfan berniat menghubungi gadis itu tetapi merasa ragu karena hari sudah larut. Arfan memeriksa ponselnya.


[Kak jika membaca pesan ini, tolong hubungi aku ya]


Isi pesan teks Mentari untuk Arfan yang dikirimkan sore tadi.


Arfan memutuskan untuk tidur tanpa menghubungi Mentari lebih dulu, Arfan berpikir jika mereka bisa bertemu esok hari di kampus.


Pagi ini nenek Wijaya sudah dibikin heboh karena kedatangan tamu yang tidak pernah dia sangka sebelumnya. Arfan bergabung dengan nenek dan pak Mahmud di meja makan ketika kehebohan itu sudah terjadi.


Arfan menggeret kursi dengan tenang, pak Mahmud tersenyum ke arahnya dan mengangguk.


"Fan apakah kamu tahu dia siapa?" Nenek Wijaya bertanya dengan antusias.


"Tentu saja aku tahu nek, karena aku yang semalam membawanya ke sini."


"Mahmud sudah menceritakan semuanya pada nenek, kau memang cucuku yang luar biasa!" Nenek Wijaya memuji Arfan.


Arfan hanya tersenyum simpul kemudian kembali menyuap sarapannya perlahan.


"Terimakasih Fan, jika kamu tidak menolongnya semalam kami tidak mungkin bisa bertemu seperti ini!"


"Maksud nenek berterimakasih kepadaku itu karena apa nek, Arfan benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran nenek. Bukankah nenek mengajariku untuk berbuat baik kepada siapapun?" Arfan mengernyitkan dahinya.


"Apakah Kamu tahu jika Mahmud ini adalah salah satu keluarga Wijaya?" Nenek Wijaya mempertegas ucapannya yang membuat Arfan tersedak makanan yang sedang dikunyahnya.


Arfan memandang neneknya dengan wajah serius, seolah sedang mencari pembenaran dari apa yang neneknya barusan katakan.


"Dia itu satu-satunya saudara kandung nenek Fan, adik laki-laki nenek yang sudah lama hilang." Nenek Wijaya menjeda ucapannya.


Nenek Wijaya kemudian menceritakan saat terakhir mereka bertemu dan tidak lagi berkabar karena istri Mahmud yang tidak suka tinggal bersama keluarga Wijaya. Dia beralasan jika keluarga suaminya hanya akan menyusahkan keluarga mereka dan bahkan akan menguasai kekayaan yang Mahmud miliki.


Saat itu Mahmud merupakan seorang pengusaha sukses, Mahmud juga tidak bisa berbuat apa-apa karena istrinya mengancam akan bunuh diri jika Mahmud tidak memenuhi keinginannya, sehingga Mahmud terpaksa ke luar dari keluarga Wijaya karena mengikuti keinginan istrinya.


"Maafkan aku yang tidak berdaya saat itu Kak, aku terlalu mengikuti keinginan istriku. Aku sangat menyesal dan Allah telah menimpakan balasan setimpal untukku!"


"Kami sudah memaafkanmu sejak lama, kini kamu kembali itu sudah lebih dari cukup bagiku."


Kakek Mahmud memeluk Nenek Wijaya seraya meminta maaf atas kesalahannya di masa lalu. Arfan merasa terharu melihat pemandangan itu, akhirnya nenek menemukan adik kandungnya secara kebetulan melalui dirinya, padahal kakek Mahmud sudah mencari mereka selama bertahun-tahun, sedangkan neneknya mengira jika keluarga Wijaya tinggal dirinya dan Arfan saja di dunia ini.


"Kakek maaf jika aku lancang bertanya, dimana istri dan anak kakek saat ini?"


"Mereka membuangku setelah mengambil semua apa yang aku miliki, istri dan putriku menghilang setelah menjual rumah yang kami tempati. Kini aku tidak tahu mereka ada di mana. Bahkan aku ditendang dari perusahaan yang aku bangun jauh sebelum aku menikah karena aku memang terlambat saat dulu menikah, aku salah memilih istri. Dia masih sangat muda saat menikah denganku, ternyata dia hanya memanfaatkan aku saja."


Kekek Mahmud juga menceritakan saat dia sudah tidak memiliki apa-apa dan ingin kembali ke keluarga Wijaya namun terlambat karena nenek Wijaya ternyata tinggal di Spanyol. Mahmud dengan kondisinya tidak mungkin menyusul kakaknya ke Spanyol.


"Kakek tidak perlu khawatir sekarang karena kami akan selalu ada bersamamu, jadi tinggallah di sini bersama kami!"


"Terimakasih Fan atas kebaikan hatimu!"


"Kau berhasil mendidik cucumu dengan baik," Kakek Mahmud memuji kepiawaian nenek Wijaya dalam mendidik cucunya bahkan disaat kedua orangtua Arfan telah tiada.


"Sama-sama kakek, aku tinggal dulu ya karena ada kuliah pagi hari ini!"


Arfan meninggalkan kediaman keluarga Wijaya, dalam hatinya ada rasa ingin tahu siapa sebenarnya istri dan anak dari kakek Mahmud yang tega memperlakukan kekek yang baru dikenalnya itu dengan tidak manusiawi.


Arfan berpikir jika wanita itu adalah seseorang yang serakah dan tidak berakhlak, itulah sebabnya semalam kakek Mahmud berpesan kepada Arfan agar ketika mencari pasangan lebih baik memilih wanita yang baik agama dan akhlaknya.


Arfan mengajar pagi ini hingga siang, setelahnya dia menemui Mentari di kampus. Arfan sengaja menemui Mentari secara terang-terangan.


"Hai boleh gabung?" Ucap Arfan yang langsung duduk di dekat Mentari.


Mentari yang sedang duduk bersama Siska sambil menikmati jus buah strawbery kesukaannya terlonjak kaget.


"Mentari kalau begitu aku pergi dulu ya?" Siska beranjak dari tempat duduknya.


"Jangan kemana-mana Siska, karena kau juga akan aku ajak pergi bersama kami!"


Semua orang yang berlalu lalang di depan mereka, takjub melihat Arfan yang berwajah rupawan dan berpenampilan paripurna. Gambaran sempurna bagi seorang laki-laki matang, banyak para gadis yang jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya. Banyak diantara mereka yang senyum-senyum dan curi-curi pandang kepada Arfan.


"Kamu punya banyak pesaing Tari!" bisik Siska di telinga Mentari yang diiringi dengan tawa meledeknya.


"Siska!!!" Mentari bersedekap.


Mereka menaiki mobil Arfan dan sampailah di rumah sakit tempat di mana Tomi dan Zaki di rawat.


"Pak Arfan kenapa kita ke sini?" Tanya Siska.


"Ikut saja nanti kalian juga akan mengetahuinya."


Mereka menuju ke kamar rawat Tomi, di dalam sudah ada Sania dan Steven. Sedangkan Dio dan Rafi sedang pulang ke club untuk beristirahat setelah semalaman menjaga Tomi.


"Siska kau bisa ke kamar sebelah, di sana ada Arman. Tolong temani dia ya Sis!"


"Baik Pak!" betapa bahagianya Siska ketika dia akan berjumpa dengan Arman bahkan dia disuruh untuk menemaninya. Meskipun sebenarnya Siska merasa khawatir jangan-jangan Arman sakit dan harus dirawat di rumah sakit.


Siska mengetuk pintu dan perlahan membukanya. Arman menoleh dan tersenyum ke arah Siska.


"Kau datang?"


"Aku akan menemanimu Kak!" Siska tersenyum.


Di kamar rawat Tomi tampak keadaan Tomi sudah semakin membaik tapi masih harus menjalani perawatan.


"Sania apakah kau akan menginap?"


Sania memandang Steven, "Kau tenang saja, dia akan aman bersama kami." Arfan meyakinkan Sania.


"Aku akan menjaga Steven Kak, jadi Kak Sania jangan khawatir ya," Mentari menambahkan.


Mereka asyik mengobrol hingga tidak sadar jika Steven ke luar dari kamar rawat Tomi.