
Arfan mengatakan tujuannya menjenguk Ilyas dan meminta agar Ilyas mengungkapkan semuanya secara jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi.
"Demi Mentari tolong berkata jujurlah kepada kami!" Arfan mulai membujuk Ilyas.
"Apa aku tidak salah dengar?"
"Dia memilihmu bukan aku, apa demi Mentari aku harus mengorbankan ibuku sendiri?" Ilyas mengucapkan kata demi kata dari mulutnya dengan berapi-api.
Arfan manggut-manggut mengingat perkataan Sania, sepertinya benar apa yang Sania ceritakan kepadanya jika ada seseorang yang memberikan tekanan kepada Ilyas.
"Kamu tidak perlu khawatirkan Ibumu karena beliau aman bersama kami." Arfan berusaha meyakinkan Ilyas.
"Yas andai kamu tahu kami juga sangat menyayangi Ibumu, kami sudah menganggap beliau seperti Ibu kami sendiri." Arman menambahi ucapan Arfan untuk meyakinkan Ilyas.
"Ibumu di depan kami tampak tetap bahagia dan tanpa beban, tapi aku yakin di dalam hatinya merindukanmu anak yang telah dirawatnya sejak kecil. Jika kamu mau berkata jujur maka semuanya akan menjadi lebih mudah dan kamu sendiri mungkin akan lebih cepat keluar dari sini."
Ilyas tampak menunduk, dia terisak mengingat perjuangan Ibunya agar dia tetap bisa bersekolah tapi karena keangkuhannya justru dia sendirilah yang menghancurkan harapan Ibunya.
Arfan berdiri dan duduk di sebelah Ilyas, memeluk anak itu untuk menguatkannya.
"Percayalah pada kami Yas karena kami adalah keluargamu, Ibumu akan baik-baik saja bersama kami."
Ilyas merasakan ketulusan dari pelukan Arfan, dia mengusap air matanya kemudian menceritakan semuanya kepada Arfan dan Arman.
"Aku sudah menduganya pasti Mona ada di balik semua ini!"
"Apa kamu punya bukti saat kamu diancam olehnya?" Tanya Arfan karena Mona bukanlah orang yang mudah untuk ditaklukan begitu saja.
"Aku sempat merekamnya dan aku sudah memindahkan rekaman itu ke sebuah flashdisk sebelum ponselku dihancurkan oleh Mona karena dia tahu jika aku memiliki bukti yang bisa mengarah pada dirinya."
"Lalu dimana sekarang flashdisk itu Yas?"
"Aku menyimpannya di laboratorium tempat aku dan Mentari biasa mengerjakan penelitian kami."
"Akses masuk kesana hanya bisa menggunakan wajahku dan Mentari."
"Baiklah terimakasih atas kejujuranmu kepada kami Yas, aku berjanji akan melindungi Ibumu. Tunggulah saatnya kami akan membebaskanmu!" janji Arfan kepada Ilyas sebelum pergi dari tempat itu karena waktu untuk berkunjung telah habis.
"Fan aku akan segera menyusul Mentari dan Siska ke tempat mereka melakukan penelitian." Ujar Arman ketika mereka dalam perjalanan menuju ke club.
"Baiklah lakukan tanpa diketahui siapapun karena bisa jadi Mona sudah tahu jika Mentari adalah kunci meskipun istriku itu tidak mengetahui semua ini."
"Aku akan melakukannya dengan hati-hati, terkait perusahaan bisakah kamu memberikanku cuti?"
"Kamu memang tidak berubah Man selalu mencari keuntungan di balik pertolongan yang kamu berikan, tapi kali ini demi istri dan anakku kamu akan aku bebas tugaskan!"
Arfan menertawai sahabat yang sudah seperti keluarganya itu karena selalu ada di saat suka maupun duka dalam hidup Arfan.
Mereka sampai di club, Arfan bersiap untuk berangkat menyusul anak-anak yang sudah pergi meninggalkan club terlebih dahulu untuk menuju ke tempat pertandingan bersama Tomi.
"Sania akan ada beberapa orang-orang nenek di club ini yang menjaga kalian, jadi tolong jangan biarkan Ibu pergi kemana-mana sendirian." Pesan Arfan kepada Sania sebelum pergi.
"Sebenarnya ada apa ini Fan, kenapa sepertinya serius sekali?"
"Aku akan ceritakan nanti saja, tolong jaga Ibu baik-baik. Kamu tentu tahu yang Ilyas maksud dengan ancaman bukan?"
Sania mengerti pesan Arfan, dia segera menjelaskan situasinya kepada Ibu Ilyas agar jangan panik.
"Man aku akan antarkan kamu ke rumah, setelah itu pergilah dengan kamuflase yang bisa kamu ciptakan sendiri, beritahu aku jika ada sesuatu yang tidak baik."
Arman mengangguk mengerti, mereka berusaha membagi tugas masing-masing agar jangan ada pihak Mona yang menaruh curiga dengan pergerakan yang mereka lakukan.
Mona sendiri merasa geram karena orang-orangnya hingga detik ini belum bisa menemukan keberadaan Mentari. Sedangkan orang-orang Nenek Wijaya sudah lebih dulu menuju ke tempat dimana Mentari saat ini berada. Arfan telah mengatur mereka dan menyerahkan keselamatan istrinya kepada mereka.
Mona tidak hilang akal, dia berusaha menghubungi pihak kampus agar memberitahukan keberadaan Mentari saat ini, namun nihil pihak kampus tidak tahu sama sekali saat ini mereka berada dimana.
Pak Reza ternyata memang bergerak sangat cepat, dia menghapus semua akses yang bisa mendeteksi keberadaan Mentari saat ini.
"Kenapa kamu susah sekali untuk ditemukan gadis tengik!" marah Mona yang disertai dengan lemparan gelas ke tembok hingga pecah berantakan.
"Kamu kenapa sayang?"
"Dari mana saja kamu Bram, kenapa jam segini baru kembali?" Marah Mona kepada Bram tanpa menjawab pertanyaan laki-laki itu.
"Apa itu?" Tanya Mona penasaran akan berita yang Bram bawa untuknya.
"Pertandingan nasional akan segera dimulai dan kamu tahu club Arfan dan Zaki sedang dalam perjalanan menuju ke tempat pertandingan, apa kamu tidak akan memanfaatkan kesempatan ini?"
Mona tampak berfikir, "Jika kamu hanya fokus pada pencarian istri Arfan itu maka kamu tidak akan memiliki kesempatan lagi!" lanjut Bram melakukan provokasi.
"Apakah kamu sedang mengatakan jika Arfan juga sedang pergi ke tempat pertandingan?"
"Tentu saja, kamu paham maksudku bukan?"
Bram menyeringai, di dalam hatinya dia berkata, "Ini merupakan kesempatan juga bagiku untuk menjalankan rencanaku untuk Marryana."
"Ayolah Mon, tunggu apalagi!"
"Biarkan orang-orang kita yang mencari Mentari dan kita manfaatkan kesempatan ini, jika beritanya heboh tentu Mentari akan muncul sendiri tanpa kita harus mencarinya ke lubang semut."
"Kamu benar Bram, tumben otak kamu encer." Mereka tertawa bersama-sama.
Arfan memang sangat mencemaskan Mentari hanya saja dia memiliki tanggungjawab lain, sehingga dia memilih untuk menggunakan sumber daya yang Neneknya miliki untuk sementara waktu, paling tidak sampai dirinya memastikan jika anak-anak asuhnya bisa bertanding dengan baik.
"Tunggu aku Mentari, aku pasti akan segera menjemputmu!"
Tengah hari Mentari dan Siska menyudahi pekerjaan mereka untuk hari ini, mereka memutuskan untuk melanjutkannya esok hari.
"Terimakasih atas bantuannya ya Rik, selamat beristirahat." Ucap Mentari saat mereka akan memasuki rumah keluarga Riko.
"Tidak perlu sungkan begitu Mentari." Jawabnya yang langsung keluar rumah lagi karena tidak sengaja melihat pergerakan yang sedikit mencurigakan di sekitar rumahnya.
"Ada apa Rik?" Mentari ikut keluar menyusul Riko.
"Sebaiknya kita masuk Mentari!" Riko menarik tangan Mentari dan membawanya masuk ke dalam.
"Ada yang mencurigakan, kalian harus berhati-hati."
"Sekarang masuklah untuk beristirahat, jangan cemas kalian aman bersama kami!"
Mentari merasa penasaran dengan ucapan Riko, dia mengambil ponselnya untuk menelfon Arfan yang sedang dalam perjalanan menuju ke lokasi pertandingan nasional.
Ponsel Arfan berdering dan dia langsung mengankatnya begitu melihat id call yang tertera di layar ponselnya.
"Mentari sayang aku merindukanmu." Kata pertama yang Arfan ucapkan saat menggeser tombol hijau di ponselnya.
"Aku juga kak, kakak sekarang dimana?"
"Aku dalam perjalanan ke tempat pertandingan sayang, tunggu aku ya pasti aku akan menjemputmu dan anak kita."
"Iya Kak, aku akan cepat melakukan penelitian ini jadi kita bisa berkumpul kembali."
"Mentari apakah kamu melihat orang-orang yang mencurigakan di sekitarmu?"
"Itu yang mau aku tanyakan kak!"
"Kau tenanglah, kenali mereka dengan tandanya yang kamu tentu sudah tahu. Mereka orang-orang Nenek. Beliau mengkhawatirkanmu jadi menempatkan mereka untuk menjagamu selama aku tidak bisa melakukan itu untukmu. Satu lagi, Arman sedang menyusul kalian!"
"Sebenarnya ada apa kak?"
"Mona menempatkan orang-orangnya untuk mencari keberadaanmu sayang. Jadi mau tidak mau kamu juga harus Nenek lindungi."
"Ya ampun Kak, sebegitunyankah tantemu itu?"
"Kamu adalah kunci jadi keberadaanmu menjadi penting bagi mereka."
"Kunci?" Mentari menggaruk kepalanya sendiri tidak paham maksud dari perkataan suaminya itu.
"Berhati-hatilah, kenali tandanya. Aku tutup dulu!"
Mentari merasa harus segera menceritakan hal yang baru saja didengarnya kepada Siska.
"Apa?!!!"
"Husttt... tahan dirimu Sis, kita harus bisa menahan diri."