
Mentari terkejut karena ternyata yang datang bertamu adalah Mona, orang yang selama ini sangat Mentari hindari bukan karena dirinya merasa takut ataupun trauma karena tragedi penculikan dirinya beberapa waktu lalu yang ternyata dalangnya adalah Mona tetapi dia tidak ingin terjadi keributan.
Mentari mempersilakan Mona untuk duduk makan siang bersama, "Silakan duduk tante, mari ikut kami makan siang."
"Jam berapa ini, masa kalian baru makan siang. Istri macam apa kamu ini, sungguh tidak bisa diandalkan sama sekali!"
"Lalu makanan apa ini, tidak layak untuk dimakan bentuknya saja jelek begitu pasti rasanya juga sama saja dengan bentuknya, amburadul!"
Mona terus mengejek Mentari dengan kata-katanya yang tajam, sayangnya Mentari tidak terpancing sama sekali. Dia terus menikmati makanannya sendiri tanpa memperdulikan Mona sedikitpun.
Arfan yang sudah kembali dari depan merasa bangga dengan Mentari yang mampu bersikap dewasa di usianya yang masih tergolong sangat muda.
Mentari membereskan meja makan setelah selesai menyantap hidangan yang dia masak dengan tangannya sendiri dan membersihkan dapur. Mona merasa kesal karena diabaikan, Arfan juga tidak mengajaknya bicara sama sekali.
Laki-laki itu melenggang meninggalkan mereka berdua yang masih ada di meja makan, Arfan percaya jika Mentari tidak akan terpancing sedikitpun dengan ucapan-ucapan Mona yang selalu terdengar cukup pedas.
"Tante mau minum apa, biar aku buatkan."
"Tidak perlu!" jawab Mona ketus.
"Baiklah berarti tante belum haus ya?"
"Nanti kalau mau minum ambil saja sendiri ya tan, aku mau mandi dulu!"
Mentari naik ke atas menuju ke kamarnya, dia membiarkan Mona agar merasa bosan.
Mentari memang sengaja tidak merespon setiap kata-kata Mona yang kurang mengenakan karena tidak mau membuat masalah dengan wanita itu.
Mona menghampiri Arfan yang sedang duduk di depan televisi dan duduk di sampingnya, wanita itu berfantasi menjadi Nyonya Arfan. Dia terus mendekati Arfan yang dibuat kesal karena tangan Mona yang tidak bisa diam ingin menyentuh bagian tubuh Arfan yang menarik menurutnya.
"Tante tolong jaga sikapmu!" Arfan menepis tangan Mona yang sudah masuk ke ranah kurang ajar menurutnya.
"Fan sekali saja, apa kamu tidak tertarik kepadaku sama sekali?"
"Tidak!" jawab Arfan tegas.
"Bagaimana kalau kamu butuh kehangatan saat Mentari tidak ada di rumah?"
"Tidak ada hubungannya dengan kamu tante, itu urusanku!"
"Ayolah Fan beri aku kesempatan."
Mona secara kurang ajar ingin menyentuh paha Arfan yang langsung reflek untuk berdiri menjauh dari Mona.
"Sekali lagi tante melakukan hal kurang ajar seperti tadi jangan harap tante bisa berbicara denganku lagi!"
"Sekarang sebaiknya tante pergi dari sini, kedatangan tante sama sekali tidak diharapkan!" Arfan menarik tangan Mona agar wanita itu berdiri dan mendorong tubuh Mona agar keluar dari rumahnya.
Arfan sudah kehilangan kesabaran menghadapi wanita itu, jika dia tidak memandang kakek Mahmud mungkin saja wanita itu kini sudah berakhir seperti Ilyas.
Mona berteriak-teriak dengan terus menggedor pintu rumah Arfan yang sudah dikunci dari dalam.
"Awas kamu Fan dasar laki-laki tidak mau diuntung!" Mona terus mengumpat.
"Tunggu saja, kamu pasti akan bertekuk lutut di kakiku!"
Mona meninggalkan rumah Arfan dengan menghentakkan kakinya, dia merasa tidak terima karena diusir oleh Arfan.
Dia mengendarai mobilnya dengan bersungut-sungut dan mengadukan semua itu kepada Bram, sedangkan Bram malah tidak tertarik dengan cerita Mona karena dia masih terus memikirkan Marryana.
Arfan baru saja beberapa langkah meninggalkan pintu depan untuk menyusul Mentari saat bel pintu depan kembali di pencet oleh seseorang.
"Hufttt... Belum kapok juga rupanya mengganggu ketenangan hidup orang!" Arfan ngedumel sambil membukakan pintu rumahnya.
Orang yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya melongo mendengarkan ocehan Arfan barusan.
"Ya sudahlah nggak jadi masuk takut mengganggu ketenteraman orang!" Arman pura-pura ngambek kepada Arfan.
"Eits... Kamu rupanya Man, ayo masuk!" Arfan merasa sungkan sendiri karena telah salah mengira.
"Menganggu kamu dan Mentari nggak nih?"
"Nggak Man... Enggak... Tadi itu si Lubang Berjalan, tapi sudah aku usir. Ngrecokin hidup orang aja dia itu Man. Geget aku Man, pengen aku ceburin dia ke laut biar nggak usah balik lagi!"
"Ingat dia itu tante kamu loh Fan!" Arman menertawakan Arfan.
"Habisnya dia itu mengganggu saja Man, dia benar-benar sudah kurang ajar. Tingkahnya seperti Ulat bulu, untung aku masih punya iman!"
"Dahlah tidak perlu dibahas lagi Man, kamu sendirian saja nih kesini, ayuklah masuk!"
"Tunggu dulu, Bidadariku masih ambil barang-barangnya di mobil."
"Tega banget kamu Man, masa nggak dibantuin Siskanya Man?"
"Tadi katanya nggak usah, jadi aku duluan."
"Raja tega kamu Man, kalau seorang gadis berkata seperti itu tandanya dia butuh bantuan. Nggak peka banget kamu ini Man, sana dilihat dulu!"
Arman kembali ke parkiran dan menemukan Siska sedang menurunkan kopernya sendirian, Siska sudah mendapatkan izin dari Arman untuk pergi menemani Mentari sehingga dia membawa barang-barangnya ke tempat Mentari agar lusa bisa berangkat bersama dari rumah Arfan dan Mentari.
"Aku bawakan ya!" Arman mengambil alih koper yang sedang dipegang oleh Siska dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Duduk dulu Sis, aku panggilkan Mentari dulu ya." Arfan mempersilakan Siska untuk duduk menunggu Mentari di ruang tamu.
"Man ambil minum sendiri ya di dapur, anggap saja rumah sendiri!" Arfan nyengir Kuda karena tahu pasti Arman akan protes kepadanya dan benar saja Arman melayangkan protes yang tidak Arfan dengarkan sama sekali.
"Aku ini tamu Fan, masa tamu disuruh ambil minum sendiri sih, tuan rumah macam apa kamu ini, aku kan jadi malu!"
"Malu-malu mau atau malu-malu kucing kamu Man, kayak tidak biasanya!" Balas Arfan dari arah atas.
"Biasanya aku malu-maluin Fan!" Arman tertawa membalas kelakar Arfan.
"Sudah-sudah kak, biar aku yang ambilkan!" Siska berdiri dari duduknya, namun dicegah oleh Arman.
"Tidak Sis, biar aku saja. Aku dan Arfan memang biasa begitu. Kamu tunggu di sini saja ya?" Arman melenggang ke arah dapur tanpa tersesat seolah sudah hafal ruangan demi ruangan yang ada di rumah Arfan.
"Mentari sayang ada Siska dan Arman tuh di bawah." Arfan masuk ke dalam kamar dan memberitahukan kepada istrinya yang sedang duduk di depan cermin karena baru saja selesai mandi.
"Tante Mona sudah pulang?"
"Sudah aku usir tadi."
"Kamu usir kak?"
"Sudah tidak perlu bahas dia lagi, aku malas."
Mentari memandang Arfan lekat, "Kak ketika aku pergi nanti tolong jaga hati ini hanya untukku," Mentari menyentuh dada Arfan.
"Hati ini memang untukmu sayang, bahkan ketika kamu sedang tidak ada di sampingku aku akan tetap menjaganya." Arfan mencoba meyakinkan istrinya.
Mentari memeluk suaminya, "Terimakasih kak, aku akan segera pulang setelah menyelesaikan semuanya."
Arfan mengajak istrinya untuk menemui Siska dan Arman di bawah, mereka juga harus memeriksakan kandungan Mentari sore ini karena sudah membuat janji dengan dokter Sandra.
"Sis apa ini artinya kak Arman mengizinkanmu untuk pergi bersamaku?" Mentari melihat koper yang tergeletak di ruang tamu dengan girang.
"Tentu saja Mentari sayang, kak Arman ingin aku menjagamu untuk sahabatnya." Siska melirik Arfan yang sepertinya sudah meminta Arman agar Siska bisa menemani istrinya.
"Terimakasih kak," Mentari mengucapkan terimakasih kepada Arman.
"Sama-sama Nyonya, hidup dan matiku tergantung pada keselamatan Nyonya." Arman menyindir Arfan yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Mentari paham apa yang Arman maksudkan, dia sudah menduga jika Arfan pasti akan melakukan yang terbaik untuk kenyamanannya.
"Sis aku mau memeriksakan kandunganku sore ini, apakah kalian mau ikut?"
"Gimana kak?" Siska bertanya kepada Arman.
"Baiklah ayo, lagi pula malam ini aku mau terus bersamamu karena aku pasti akan merindukanmu beberapa hari ke depan."
"Duh yang bucin?" Arfan bersedekap menggoda sahabatnya.
"Apa bedanya dengan kamu Fan!"
Mereka tertawa bersama, saat ini mereka dalam perjalanan untuk mengantarkan Mentari memeriksakan kandungannya.