
Mona mendatangi Wijaya Corporation siang ini, dia ingin bertemu dengan paman Faisal yang bahkan belum dikenalnya sama sekali.
Selama ini dia tidak pernah tahu jika keluarga Wijaya memiliki sebuah perusahaan besar yang sangat berkembang pesat di bawah kepemimpinan paman Faisal.
Tujuan Mona datang kali ini adalah ingin memperkenalkan dirinya pada paman Faisal jika dia juga merupakan salah satu keluarga Wijaya dan sekaligus melancarkan rencana busuknya.
"Mohon maaf nona anda mencari siapa?" Tanya sekretaris paman Faisal ketika melihat seorang wanita hendak memasuki ruangan direkturnya.
"Saya mencari paman Faisal apakah ada?"
"Mohon maaf nona apakah anda sudah membuat janji?"
"Apa perlu membuat janji jika ingin bertemu dengan paman saya sendiri?"
"Mohon maaf nona, pak Faisal tidak berpesan apapun kepada saya jadi mohon maaf anda mungkin harus menunggu dulu sebentar karena pak Faisal sedang bersama karyawan baru di perusahaan ini."
Mona akhirnya mau menunggu di luar ruangan paman Faisal, sebenarnya dia sangat kesal tapi dia juga tidak mau membuat keributan kali ini.
Pak Faisal mengantarkan Arman ke luar dari ruangannya, "Selamat bekerja ya Man!" ucap paman Faisal kepada Arman.
"Baik pak, terimakasih."
Arman pergi meninggalkan ruangan paman Faisal menuju ke ruang kerjanya. Dia tidak melihat Mona ada di sekitar tempat itu karena Mona sedang pergi ke toilet.
Pak Faisal handak menutup pintu ruangannya, "Mohon maaf pak tadi ada yang mencari bapak, dia mengaku katanya keponakan bapak." Sekretaris paman Faisal memberitahukan mengenai kedatangan Mona.
"Siapa namanya, lalu dimana dia sekarang?"
"Wanita itu bernama Mona pak, dia sedang ke toilet, sebentar lagi mungkin akan kembali lagi kesini."
Paman Faisal berpikir sejenak merasa asing dengan nama Mona yang mengaku sebagai keponakannya, padahal selama ini dia tidak pernah memiliki keponakan perempuan dan satu-satunya keponakannya adalah almarhumah ibu Arfan itupun karena menikah dengan Ayah Arfan dan kini mereka berdua sudah tidak ada lagi di dunia ini sejak Arfan masih kecil.
"Kalau begitu suruh dia masuk kalau dia sudah kembali!" ucap paman Faisal kemudian, dia ingin tahu sebenarnya siapa wanita bernama Mona itu dan apa tujuannya datang ke perusahaan ini.
"Baik pak," jawab sekretaris paman Faisal.
Mona kembali dari toilet, "Nona anda dipersilakan masuk, mari saya antar!"
"Nah kan apa aku bilang, tanpa membuat janjipun aku boleh masuk kan ke ruangan pamanku sendiri!" jawab Mona ketus.
"Mari nona saya antarkan!" sekretaris paman Faisal memilih tidak meladeni Mona karena akan semakin panjang nanti urusannya.
Sekretaris itu mengetuk pintu kemudian membawa Mona masuk dan setelahnya meminta undur diri untuk kembali bekerja.
"Silakan duduk nona!" paman Faisal mempersilakan Mona untuk duduk di depannya yang dibatasi dengan meja mahoni solidnya.
"Ada keperluan apa nona datang kemari?" Tanya paman Faisal sopan setelah Mona duduk.
"Paman pasti belum mengenalku bukan?"
"Tentu saja kita belum saling mengenal karena kita belum pernah bertemu sebelumnya."
Mona memperkenalkan dirinya dan menceritakan bahwa dirinya adalah anak dari adik nenek Wijaya. Dia datang untuk mengambil alih perusahaan atas perintah nenek Wijaya karena paman Faisal sudah cukup lama dalam memimpin perusahaan dan sudah saatnya dia meletakkan jabatannya untuk digantikan dengan yang lebih pantas menggantikannya.
Paman Faisal terbiasa menghadapi orang seperti Mona sehingga dia cukup tenang dan tidak mudah terprovokasi.
"Baiklah nona dengan senang hati saya akan meletakkan jabatan saya jika memang kakak ipar saya yang menginginkannya dan siapapun yang menggantikan saya harus orang yang benar-benar layak dan pantas untuk menjadi pemimpin."
"Baiklah kalau begitu paman akan aku sampaikan kepada nenek, aku permisi!"
Mona meninggalkan ruangan paman Faisal, dia mengira rencananya merebut perusahaan keluarga Arfan akan berhasil dengan mulus, rencana awalnya adalah dengan melakukan provokasi sehingga di mobil Mona tertawa pongah.
"Jika aku tidak bisa mendapatkanmu Fan, maka aku akan merebut perusahaanmu. Aku ingin melihat kalian hidup menderita dan mengemis-emis kepadaku!" Mona berbicara kepada dirinya sendiri kemudian meninggalkan area perusahaan untuk segera pergi menemui Bram.
Paman Faisal menghubungi Arfan, dia tidak ingin langsung menanyakan kepada nenek Wijaya terkait Mona khawatir akan menciptakan sebuah ketersinggungan jika benar Mona diperintahkan olehnya dan paman Faisal juga khawatir jika dirinya dianggap tidak mau melepaskan jabatan yang sedang diembannya saat ini. Hanya saja yang menjadi pemikirannya kenapa kakak iparnya itu tidak memintanya sendiri secara langsung dan malah memerintahkan seorang wanita yang bahkan tidak dia kenal sama sekali.
Arfan setuju bertemu dengan paman Faisal di suatu tempat akhir pekan ini sembari jalan-jalan melepas penat.
Arfan mengetuk pintu kamar Mentari, "Mentari boleh aku masuk?"
Tidak ada jawaban dari dalam kamar, akhirnya Arfan memutuskan untuk masuk saja ke kamar Mentari.
Gadis itu sedang berada di kamar mandi, karena tidak tahu jika Arfan ada di dalam kamarnya Mentari dengan santai ke luar dari dalam kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk seperti biasanya.
Mentari terkejut melihat Arfan sedang duduk di atas ranjang sehingga dia reflek memegangi handuknya erat dan membalikkan badannya.
"Kamu tidak mengunci pintunya!" jawabnya santai.
"Keluar kak sekarang!"
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" Arfan menggoda Mentari.
"Aku akan teriak!"
"Teriak saja biarkan mereka semua tahu dan mengira kita sedang berbuat--" Arfan menggantung kalimatnya karena di potong oleh Mentari.
"Stop kak, jangan katakan lagi!"
Mentari mendekat ke arah lemari pakaian dengan tetap memunggungi Arfan untuk mengambil baju gantinya dan kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian.
Mentari ke luar dengan sudah berpakaian lengkap, dia tidak lagi melihat Arfan ada di kamarnya tetapi baru beberapa langkah dia mendekati ranjang tiba-tiba Arfan memeluknya dari belakang.
"Maafkan aku Mentari, aku tidak memahami keinginanmu!"
"Lepaskan aku kak!" Mentari meronta-ronta meminta untuk dilepaskan tapi justru pelukan Arfan semakin erat.
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu memaafkanku."
"Baiklah kak aku sudah memaafkanmu, puas sekarang kak!"
"Kok kaya nggak ikhlas gitu?"
"Ikhlas-ikhlas... Dah ah, sudah dimaafkan kan ke luar sana kak!" Mentari mengusir Arfan.
"Ada satu lagi sayang,"
"Apalagi sih kak?"
"Akhir pekan ini ayo kita pergi ke luar kota, kamu bisa ajak Siska juga karena Arman juga akan ikut bersama kita!"
"Benarkah kak?" Mentari reflek melompat ke tubuh Arfan dan bergelayut manja di dada Arfan karena saking girangnya. Dia tidak menyangka jika Arfan akan memenuhi keinginannya, ini adalah sebuah misi menyatukan cinta sahabatnya.
Arfan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang Mentari ciptakan sendiri untuknya, Arfan perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Mentari kemudian mereka saling merasakan sentuhan bibir masing-masing dengan penuh cinta. Arfan baru melepaskan Mentari ketika gadis itu sudah kesusahan bernafas.
Mentari tersenyum malu-malu kemudian turun dari gendongan Arfan, "Bagaimana apakah kamu menginginkan sesuatu yang lebih?" Arfan menggoda Mentari.
Mentari mendorong dada Arfan kemudian lari ke atas ranjang dan menutup kepalanya dengan bantal, Mentari merasa sangat malu karena perkataan Arfan terlalu vulgar.
"Ingat kalian semua harus menjaga sikap ketika kita berlibur karena ada paman Faisal ikut bersama kita!"
Mentari membuka bantal yang menutupi kepalanya, "Paman Faisal itu siapa kak?"
"Nanti juga kamu akan tahu, persiapkan diri dengan baik untuk perjalanan kali ini. Aku pergi dulu!"
Mentari menghubungi Siska untuk bersiap menempuh perjalanan mereka. Arfan sendiri pergi ke rumah orangtua Mentari untuk berpamitan kepada mereka.
"Loh Fan kenapa Mentari tidak ikut bersamamu kesini?"
"Mentari tadi belum ke luar dari kamarnya om, aku khawatir mungkin saja dia sedang beristirahat jadi aku sendiri saja yang datang kemari!"
"Kamu sungguh pengertian sekali Fan, maafkan anak tante ya. Dia masih sangat manja."
"Tidak masalah tante, aku mencintainya tanpa alasan apapun jadi aku menerimanya sepenuh hatiku!"
"Terimakasih nak,"
"Tapi kenapa kamu tidak telfon kami saja jadi tidak perlu repot datang kemari!"
"Aku rasa tidak sopan jika meminta izin melalui telfon, jadi aku putuskan untuk datang kesini secara langsung saja sekalian mau menyampaikan undangan dari nenek untuk makan malam bersama setelah kami pulang dari luar kota om, tante."
"Terimakasih untuk undangannya, kami pasti akan datang."
Arfan pamit untuk pulang dari rumah orangtua Mentari, "Ayah sungguh ibu sangat menyesal karena sudah menyia-nyiakan orang seperti Arfan waktu itu sebelum mata hati ibu terbuka."
"Sudahlah bu tidak perlu diingat-ingat lagi yang terpenting tugas kita sekarang mendukung mereka dan semoga bisa berjodoh!"
Hari keberangkatan Arfan dan yang lainnya ke luar kota pun tiba, mereka berangkat dengan suka cita, begitu pula dengan paman Faisal serasa muda kembali berada di tengah-tengah para pemuda yang penuh semangat. Energinya terasa terpompa kembali, semangatnya kembali menggelora.