My Old Star

My Old Star
#79 Hadiah Pernikahan



Arfan segera memanggil dokter begitu melihat pergerakan tangan Arman. Dokter memeriksa Arman untuk mengetahui keadaannya. Arman perlahan membuka matanya meskipun masih terlihat sayu dan bingung.


"Bagaimana kondisinya dok?" Tanya Arfan kepada dokter yang memeriksa Arman.


"Perkembangannya sangat bagus, kondisinya akan cepat pulih setelah beberapa hari ke depan dirawat secara intensiv. Kami akan mengusahakan pelayanan yang terbaik untuk pasien sesuai pesan ibu Hyorin kepada kami dan juga hal ini merupakan tanggungjawab kami sebagai dokter untuk bisa memberikan yang terbaik bagi pasien."


"Terimakasih dok dan mohon sampaikan juga rasa terimakasih kami untuk ibu Hyorin yang telah banyak membantu kami."


"Baik nanti akan saya sampaikan, kalau begitu saya tinggal dulu."


Selepas dokter meninggalkan ruang rawat Arman, rasa bahagia menyelimuti diri Arfan. Kini sahabatnya bisa melihat kembali dunia setelah beberapa waktu tidak sadarkan diri, Arman harus segera pulih.


"Apakah kalian sudah jadi menikah?" Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Arman untuk sahabatnya, meskipun sedikit terbata tetapi masih terdengar cukup jelas di telinga Arfan.


Arfan mengangguk, "Aku sudah menikah dengan Mentari tadi siang Man, kau tenanglah."


Arman menitikkan air mata bahagianya untuk Arfan, ternyata pengorbanannya tidak sia-sia.


"Lalu kenapa kalian masih ada di sini, bukankah seharusnya--" Arman tidak melanjutkan kalimatnya.


"Malam pertama kami maksudmu?"


"Kamu kira aku akan bersenang-senang di atas penderitaan orang lain Man, aku tidak mau seperti itu. Apalagi kamu tertembak karena aku, seharusnya aku yang saat ini berbaring di sini bukan?"


"Fan aku hanya ingin membuktikan bahwa persahabatan antara aku dan kamu itu tulus, jadi aku rela melakukan apa saja yang penting kalian bahagia."


"Tapi tidak dengan membahayakan nyawa kamu sendiri Man, lihat di sana ada Siska yang rela menemani kamu di sini dan dia menantikan kamu bangun Man!"


Arman memandangi wajah Siska yang tampak tertidur pulas karena kelelahan setelah memakan makanan yang Mentari bawakan untuknya tadi, mata Siska tampak sembab sepertinya dia baru menangis seharian ini karena Arman tidak kunjung sadarkan diri paska operasi padahal dokter menyatakan jika kondisinya stabil. Siska tentu sangat mengkhawatirkan Arman.


"Kak Arman padahal sudah jahat sama Siska karena memutuskan Siska waktu itu, tapi Siska tetap setia menjaga kak Arman hingga terlihat lelah begitu."


Arman mengingat-ingat kejadian di kampus waktu itu, dia memang menyuruh Siska untuk berpura-pura putus dengannya. Arman tertawa mendengar pernyataan Mentari, "Kami tidak putus!"


"Apa maksud kak Arman?"


"Apa ini artinya kalian berdua bersekongkol untuk membohongiku?"


"Jika aku tidak melakukannya maka Mona akan curiga karena aku masih bersama Siska, bagaimana aku bisa membantu Arfan dan paman Faisal menyelamatkan perusahaan nenek?"


Mentari akhirnya bisa memahami kenapa Arman melakukan hal itu, semua itu dia lakukan atas dasar rasa setia kawan yang begitu besar kepada Arfan.


Arfan dan Mentari memutuskan untuk menemani Siska menjaga Arman di rumah sakit.


Arfan menyelimuti tubuh Mentari dengan jaket yang dia pakai karena gadis itu sudah terlelap di sofa menyusul Siska. Arfan sendiri duduk di samping ranjang Arman untuk menemani Arman mengobrol.


Mona malam ini dijemput oleh anak buahnya setelah dilakukan pencarian cukup lama hampir sehari semalam. Mona memang berlari ke tengah hutan yang sulit untuk ditemukan oleh siapapun, kondisi hutan yang gelap membuat pencarian memakan waktu yang cukup lama.


Kali ini Mona cukup beruntung sebab dia tidak mendapatkan gangguan dari hewan-hewan buas di hutan, dia menemukan sebuah gubuk yang bisa dia gunakan untuk berlindung dan juga ponselnya dapat menerima sinyal meskipun tidak terlalu kuat sehingga dia bisa menghubungi salah seorang dari anak buahnya untuk menjemputnya. Malam ini Mona dapat dievakuasi keluar dari hutan.


Keesokan paginya, Zaki yang mendengar insiden yang menimpa Arman segera pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Arman.


Kebetulan Tomi, Sania dan Steven juga sedang berada di sana.


Steven terlihat sangat cuek dengan Zaki, padahal biasanya Steven akan sangat senang ketika bertemu dengan Zaki. Namun, sudah lama Steven memilih menghindari Zaki. Dia masih tidak terima perkataan Zaki yang ingin memiliki dia dan mamanya.


"Hallo Stev, apa kabar. Sudah lama kita tidak bertemu ya?" Sapa Zaki begitu melihat Steven ada di ruang rawat Arman.


Steven tidak menjawab dan memilih bersembunyi di balik tubuh Tomi.


"Jangan sekarang Za, tunggu waktu yang tepat untuk bisa berbicara dengan Stev lagi. Jangan paksa dia."


Zaki bisa memahami maksud perkataan Arfan sebab ada benarnya juga, semakin dipaksakan maka Steven akan semakin menjauhinya.


Mentari dan Siska baru kembali dari membeli sarapan di luar. Mereka melihat suasana ruang rawat Arman sedang ramai sehingga mereka memutuskan untuk menunggu di luar terlebih dahulu.


"Eh Sis ternyata kamu membohongiku ya?"


"Kapan?" Siska mencoba mengelak.


"Waktu di kampus yang katanya kamu putus sama kak Arman."


"Itu cuma akting Tari, kali aja aku bisa jadi artis." Siska tertawa sangat renyah, membayangkan dirinya menjadi artis terkenal.


"Mana ada artis terkenal pakainya sandal jepit?" Mentari ikut tertawa bersamaan dengan Zaki yang keluar dari ruangan dengan wajah yang kurang bahagia.


"Apa yang terjadi?" Pikir Mentari.


"Hai Kak, kapan datang?" Mentari menyapa Zaki dengan senyum tersungging di bibirnya.


"Belum lama nyonya Arfan, kalian tega sekali ya menikah tapi tidak mengundangku ke acara kalian."


Mentari menggaruk hidungnya yang tidak gatal, "Itu kemarin kami hanya akad saja kak, untuk acara resepsi pasti kami undang kok kak." Jawab Mentari malu-malu, dia merasa lucu sendiri di panggil dengan sebutan nyonya Arfan, rasanya menggelikan.


Setelah Arman menjalani perawatan sekitar satu minggu, Arman sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah karena kondisinya sudah membaik. Paman Faisal juga turut serta ikut mengantarkan Arman pulang ke kontrakannya, bagaimanapun juga Arman sangat berjasa untuknya, jika waktu itu tidak ada Arman yang menyusup ke kubu Mona, belum tentu paman Faisal bisa menyelamatkan perusahaan bersama Arfan.


Arfan baru saja masuk setelah menerima panggilan dari neneknya.


"Mentari sayang sepertinya kita harus pulang ke rumah nenek sekarang, kita di suruh kesana karena ada yang katanya nenek mau bicarakan kepada kita."


"Baiklah kak kalau begitu aku akan pamit dulu ke dalam."


Mereka berdua tiba di rumah nenek setelah menempuh perjalanan yang tidak begitu jauh, cukup tiga puluh menit saja dengan berkendara normal mereka sudah sampai di rumah nenek.


"Nenek sedang apa?" Tanya Mentari setelah memeluk nenek.


"Nenek sedang merangkai bunga sayang, nenek bosan tidak ada yang bisa nenek ajak bermain." Nenek Wijaya memberikan kode kepada Arfan yang pura-pura tidak mendengar perkataan neneknya.


"Kenapa rumah sepi sekali nek, kemana kakek Mahmud?" Tanya Arfan untuk mengalihkan pembicaraan neneknya sebab bagaimana mereka bisa memberikan cicit untuk nenek, sampai hari inipun mereka belum melakukan apa-apa padahal mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri.


"Kakek Mahmud sedang pergi ke apartemen Mona, katanya anak itu sakit, mungkin kakek baru sore nanti kembali."


Arfan memang mendengar dari orang-orang yang mengejar Mona malam itu bahwa wanita itu tidak berhasil mereka temukan. Arfan memang sulit untuk memaafkan Mona karena sudah membuat Arman terluka. Namun, dia juga tidak mau kakek Mahmud bersedih jika kehilangan Mona.


"Sini nak ikut nenek sebentar!"


Arfan dan Mentari mengikuti kemana nenek akan membawa mereka.


Nenek masuk ke dalam ruang kerja, "Duduklah!" perintah nenek.


Nenek menuju ke arah meja untuk mengambil sesuatu yang tergeletak di atas meja.


"Ambillah ini untuk kalian bedua, ini nenek berikan kepada kalian sebagai hadiah pernikahan."


Arfan menerima benda yang nenek sodorkan kepadanya, Arfan membuka sampul benda itu dan betapa terkejutnya Arfan ketika melihat isinya ternyata sertipikat tanah atas namanya dan Mentari beserta satu unit rumah untuk mereka berdua.


"Nenek ini terlalu berlebihan!"