My Old Star

My Old Star
#28 Foto Bersama



"Ada apa Sis kenapa berhenti?" Tanya Mentari yang sebenarnya tahu apa yang terjadi dengan Siska.


"Ini coba kamu lihat sendiri!" Siska memberikan ponsel yang ia pegang kepada Mentari.


"Benarkah dia akan datang?" Lanjut Siska sembari termangu.


"Kita tunggu saja Sis, ayo buruan ntar kita telat lagi!" Mentari mengajak Siska untuk melanjutkan langkah mereka ke kampus.


Sebenarnya ketika tadi mereka sarapan, Mentari mengirimkan pesan kepada Arfan agar menyuruh Arman menemui Siska nanti setelah kuliah mereka usai, Mentari tahu jika sahabatnya telah mengidolakan Arman sejak lama. Sehingga dia ingin membantu Siska agar bisa bertemu dengan idolanya.


Tanpa terasa mata kuliah mereka hari ini telah selesai. Mentari dan Siska ke luar dari dalam kelas beriringan.


"Tari kamu mau ke kantin dulu nggak, lapar nih. Makan dulu yuk sebelum pulang!" ajak Siska kepada Mentari.


"Kamu aja deh Sis, aku ada janji sama Kak Arfan bertemu Nenek hari ini."


"Beneran nggak mau nih, aku traktir kali ini deh mumpung aku lagi baik hati." Siska merangkul pundak sahabatnya itu.


"Kak Arfan sudah di depan, aku pergi dulu ya Sis," Mentari mengerling dan meninggalkan Siska yang sepertinya lupa jika hari ini Arman akan datang menemuinya.


Siska menuju ke kantin, dia sudah sangat lapar. Siska memesan Soto dan segelas Jeruk hangat. Dia menikmati makan siangnya dengan lahap tanpa melihat kiri kanan, Siska memang tipe perempuan yang cuek dan tidak mau tahu anggapan orang-orang di sekitarnya yang terpenting mereka tidak mengganggunya, itu sudah cukup bagi Siska.


"Boleh gabung Nona?" Suara Arman membuat Siska terlonjak kaget.


"Bo-boleh...," jawab Siska terbata, pandangannya tidak lepas dari wajah Arman.


Arman duduk menghadap ke arah Siska, dia memandangi Siska yang tampak gugup dan salah tingkah.


"Aku tepati janjiku bukan?" Ucap Arman membuka perbincangan mereka.


"Iya terimakasih, tapi kenapa Kakak bisa tahu nomorku?"


"Itu tidak penting bukan?"


"Ah ya memang tidak penting," Siska tersenyum.


"Bagaimana apakah kita bisa pergi sekarang?" Tanya Arman yang melihat Siska terus memandanginya.


"Emmm... Kak apakah boleh minta fotonya?"


"Kakak lihat deh di sini, di grup ini semua isinya fans berat Kakak. Mereka mengidolakan Kak Arman dari dulu dan sangat berharap Kakak bisa kembali lagi ke lapangan!" Siska memperlihatkan ponselnya.


"Benarkah?" Arman tersenyum merasa dirinya benar-benar masih ada di hati para fans nya. Arman terus menscrol ponsel Siska hingga ke bagian bawah.


Arman mengernyitkan dahinya, "Apakah kau baru saja dibully oleh mereka?"


Siska mengambil ponselnya kembali yang ada di tangan Arman, "Siapa bilang Kak, mereka hanya sedikit tidak mempercayaiku saja!" Siska berdalih karena dia tidak mau Arman membenci teman-teman grup yang telah berbicara kurang mengenakan hati kepadanya.


"Kalau begitu ayo kita foto bersama dan bagikan kepada mereka agar mereka tahu jika kamu benar-benar bertemu denganku!"


Arman menarik tangan Siska agar mendekat kepadanya, kemudian mengambil gambar mereka berdua dengan ponsel Siska.


Arman mengambil gambar dengan pose seolah mereka sudah sangat dekat, mereka melakukan hal itu beberapa kali. Arman ingin agar Siska tidak bersedih dengan ejekan yang dilontarkan kepadanya semalam melalui chat grup. Arman ingin membuktikan jika Siska layak untuk dipercaya bukan dicemooh.


"Sekarang bagikan kepada mereka, aku juga akan bagikan ini ke media sosialku. Kita lihat apakah mereka tetap tidak mau mempercayaimu!"


"Terimakasih Kak, ternyata tidak salah aku mengidolakanmu karena kau ternyata sangat baik!" Siska merasa terharu dengan perlakuan Arman terhadapnya.


"Tidak perlu berlebihan seperti itu karena aku memang tidak sekaku Arfan, jadi aku baik kepada siapapun!" Arman tersenyum.


Siska pun ikut tersenyum, "Terimakasih Kak!"


"Jangan sungkan, bukankah aku ini idolamu?"


"Ayo kita pergi dari sini!" Arman mengajak Siska meninggalkan kantin, dia sudah berjanji akan menyusul Arfan dan Mentari ke rumah Nenek Wijaya karena sudah lama sekali Arman tidak pernah berkunjung, sejak tim mereka bubar sepuluh tahun yang lalu lebih tepatnya.


Arman memilih bekerja dibandingkan untuk melanjutkan pendidikannya. Tidak sampai disitu tawaran demi tawaran untuk masuk ke dalam club juga dia tolak sebab alasan yang tidak bisa dia ungkapkan kepada siapapun.


Harapannya hanya satu suatu saat dia bisa berkumpul kembali dengan teman-teman seperjuangannya. Masing-masing dari mereka memang terpuruk sejak tim mereka bubar, harapan tinggi yang mereka bangun mendadak hancur di saat mereka telah berada pada posisi puncak kejayaan. Tinggal selangkah lagi, namun semua sia-sia.


****


Arfan dan Mentari sudah berada di depan rumah Nenek Wijaya. Arfan membawa Mentari masuk untuk menemui Neneknya.


"Nenek...," Mentari berlari ke arah Nenek Wijaya yang sedang membaca buku di halaman belakang kemudian memeluk perempuan sepuh itu seperti Neneknya sendiri.


"Mentari sayangku, kau datang Nak? Nenek sangat merindukanmu!" Nenek Wijaya membalas pelukan Mentari dengan suka cita kemudian beralih mengusap puncak kepala gadis itu dengan tangan yang sudah semakin keriput dimakan usia.


"Cucu Nenek yang paling tampan kenapa tidak bilang kalian mau datang, tahu begitu Nenek siapkan makanan spesial untuk kalian!" Nenek Wijaya melepaskan pelukan Mentari kemudian mencubit pinggang Arfan dengan keras karena merasa Cucuya itu benar-benar tidak bisa diajak bekerja sama.


"Aaawwww.... aawwwww... sakit Nek!" Arfan mengaduh.


"Rasakan!"


"Salah sendiri kenapa bandel!" Nenek Wijaya terus menyalahkan Cucunya, sebenarnya hal itu Nenek lakukan karena saking sayangnya kepada mereka berdua sehingga tidak ingin mengecewakan keduanya dengan menyambut mereka sebaik mungkin.


Mentari tertawa melihat Arfan yang dikerjai oleh Neneknya sendiri, wajah Arfan tampak polos seperti anak kecil yang ketahuan pulang terlambat dari bermain di luar.


"Nenek... lepaskan tangan Nenek dulu, sakit Nek. Aku minta ampun, janji Nek lain kali aku akan bilang dulu sebelum kesini!"


"Tidak akan Nenek lepaskan sampai kau mau mengantar Nenek belanja bersama kalian!"


"Nenek tidak ingat jika pinggang Nenek tidak kuat jika berjalan terlalu lama?"


"Kalau begitu kalian saja yang pergi bagaimana?" Nenek Wijaya sudah melepaskan cubitannya di pinggang Arfan.


"Kami tadi sudah berbelanja Nek, semua ada di mobil tinggal diangkat untuk dibawa masuk," ucapan Mentari membuat Nenek dan Cucu itu beralih memandangnya.


"Kau ini berani-beraninya ya mengerjai Nenek terus!" Nenek Wijaya kembali melayangkan cubitannya di pinggang Arfan.


Mentari tersenyum kecut, merasa telah salah berbicara. Dia mengangkat jari tengah dan tulunjuknya membentuk huruf "V" sebagai tanda permohonan maaf kepada Arfan yang masih dikerjai oleh Neneknya.


Pemuda itu nyengir pasrah dengan perlakuan Neneknya, mungkin dengan cara ini dia bisa membahagiakan Neneknya yang sudah sedari kecil merawatnya dengan penuh kasih sayang.


"Nenek yang baik hati maafkan Kak Arfan ya, nanti kita masak bersama bagaimana?" Mentari mencoba membantu Arfan yang terus terdesak oleh Neneknya.


Nenek Wijaya menghentikan cubitannya, "Ah ya itu ide yang bagus, sudah sejak lama Nenek ingin memasak bersama Cucu perempuan, hanya saja susah sekali anak ini mengabulkannya untuk Nenek!" Nenek Wijaya kembali menyalahkan Arfan.


"Kalau begitu kita angkat dulu belanjaannya ya Nek," Mentari mengelus lengan Nenek Wijaya kemudian beranjak ke luar untuk mengambil belanjaan mereka yang diikuti oleh Arfan di belakangnya.


Nenek Wijaya merasa hidupnya kembali berwarna, kehadiran Mentari di tengah-tengah mereka memberikan warna baru dalam hidup yang belakangan ini meredup oleh waktu dan kecemasan yang terus melanda hatinya, ketakutan akan saat dimana dia harus pergi meninggalkan Arfan sendirian di dunia ini, saat ini Nenek Wijaya bisa bernafas dengan lega sebab dia bisa melihat Arfan bahagia.


"Kak apa kau selalu begitu dengan Nenek?" Tanya Mentari ketika Arfan sedang mengeluarkan belanjaan dari dalam bagasi mobil.


"Tidak... kami lebih sering terdiam saat bertemu!"


"Tapi tadi...," Mentari kebingungan.


"Cahaya Mentari kecilku yang telah memberikan kehangatan dalam rumah ini!" Arfan mencubit pelan hidung Mentari kemudian berlalu membawa belanjaan ke dalam rumah.


"Biar aku bantu Kak!" Mentari mengejar langkah Arfan menuju ke dapur.


"Tidak perlu Mentariku sayang, kau cukup menemaniku saja dalam melangkah di kehidupan ini!" Arfan menggombal yang membuat Mentari tersipu.


Nenek Wijaya menyusul mereka berdua ke dapur, bersiap untuk memasak bersama Mentari. Arfan meninggalkan keduanya dan pergi ke kamarnya, baru saja Arfan menginjakkan kaki di tangga pertama, ada bunyi bel yang dipencet dari luar, Arfan bergegas menuju ke arah pintu.


Arfan berpikir pasti Arman dan Siska yang datang, namun begitu terkejutnya Arfan ketika melihat siapa tamu tak diundang yang sedang berdiri di depan pintu rumah Neneknya.


"Berani-beraninya dia sampai datang kemari!" geram Arfan di dalam hati.