
Perjalanan mereka kali ini akan memakan waktu yang cukup panjang, Arfan memilih untuk menggunakan jalur darat dengan berkendara sendiri agar lebih menikmati perjalanan.
Arfan sendiri sudah menugaskan Tomi agar mengurus anak-anak bertanding meskipun tanpa kehadiran Arfan kali ini.
Tomi memang selalu bisa diandalkan dalam menangani club, selama ini Tomi sangat berperan penting dalam pengelolaan club milik Arfan.
Arfan memang hanya pergi dua hari di akhir pekan dan Tomi bertanggungjawab penuh atas club selama Arfan tidak ada bersama mereka.
"Kalau paman capek, istirahat saja atau kita berhenti dulu di rest area."
"Tidak usah Fan, paman masih kuat apalagi pergi bersama kalian serasa paman memiliki energi baru dalam hidup ini."
"Baiklah paman, tapi kalau ada sesuatu hal yang paman inginkan jangan sungkan mengatakannya kepadaku."
"Tentu saja, kamu tidak usah khawatirkan paman begitu."
Arfan tidak lagi mendengar suara Mentari dan Siska yang sejak berangkat sudah berisik sekali, kehebohan mereka melebihi anak-anak asuhnya di club.
"Man coba lihat dua burung pipit di belakang!" perintah Arfan kepada Arman yang duduk di kursi tengah bersama perbekalan mereka, sedangkan Mentari dan Siska duduk di kabin paling belakang.
"Mereka berdua terlelap Fan, bobok cantik!" Arman tertawa mengejek.
"Pantas saja tidak kedengaran suara ocehan mereka, padahal waktu berangkat seperti baterai yang baru saja di charge full."
"Biarkan saja mereka, mungkin sudah lelah." Paman Faisal menengahi dengan bijak.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima jam akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
Mentari turun dari mobil dan meregangkan otot-ototnya yang lelah.
"Ugghhhh... capek sekali!" keluhnya.
Arfan merangkul pundak Mentari, "Rasa capek kamu nanti akan terbayar dengan lunas karena pemandangan disini sangat menawan."
"Ayo kita check in dulu baru pergi bermain!"
Arfan mengajak semuanya check in di hotel yang sudah dia pesan secara online, Arfan sengaja memilih hotel di dekat pantai agar lebih menikmati pemandangan yang indah.
Deru ombak terdengar begitu sejuk di telinga, suasana sore yang cerah membuat estetika tersendiri di balik lembayung senja yang tampak keemasan.
Mentari dan Siska memasuki kamar mereka untuk membersihkan diri sebelum ke luar menikmati sunset. Begitu pula dengan Arfan dan Arman, sedangakan paman Faisal satu kamar sendirian.
"Sis aku masih sedikit trauma dengan pantai, aku khawatir kejadian waktu itu terulang kembali."
"Kamu jangan takut ya, kan ada aku. Kita kemana-mana harus ada orang yang bersama kita."
Di tempat lain, Mona sangat kesal karena mendengar Arfan pergi berlibur akhir pekan bersama Mentari. Wanita itu semakin meradang ketika tidak ada orang yang mau memberitahu kamana mereka pergi karena memang Arfan merahasiakan kepergiannya saat ini, dia juga sudah mewanti-wanti selama mereka liburan tidak ada yang boleh mengunggah foto apapun ke media sosial karena dia tidak mau ada yang mengganggu liburan singkat mereka.
"Sial... Sial... Arfan kamu benar-benar menguji kesabaranku, lihat saja aku akan membuat kamu mengemis-emis bantuanku saat perusahaanmu ada dalam genggamanku!"
"Apa sih sayang kenapa kesal begitu?" Bram memeluk Mona dari belakang, saat ini mereka sedang berada di apartemen.
"Kamu tahu kan sayang keponakanku benar-benar membuatku kesal!"
"Kamu masih mencintainya?"
"Tidak lagi, yang aku cintai adalah aset berharganya sayang!"
Tangan Bram sudah bermain liar di tubuh Mona yang hanya tertutup di beberapa bagian saja, sekali tarik pasti akan terlepas semuanya dan Bram seperti biasa akan mengeksplor sesuka hatinya.
Sania sedang bermain bersama Steven di taman dekat club, akhir pekan ini mereka tidak pergi kemana-mana karena Tomi sibuk dengan tim futsalnya yang harus bertanding melawan beberapa tim satu grup mereka setelah beberapa kemenangan yang mereka raih di beberapa pertandingan terakhir mereka. Kali ini mereka harus bekerja keras agar tetap mempertahankan posisi teratas dalam grup.
"Sania...," Zaki tiba-tiba datang menghampiri mereka berdua.
"Ada apa kau datang kemari?" Tanya Sania yang tidak mau Zaki mengganggu mereka.
"Om baik?" Steven berlari ke arah Zaki dan memeluknya.
"Hallo Stev, sudah lama kita tidak berjumpa!"
"Iya om kemana saja, kenapa lama sekali tidak menemui Stev?"
"Maafkan om ya Stev, om sibuk sekali akhir-akhir ini."
"Ayo kita bermain om!" ajak Steven kepada Zaki.
"Tidak kok Stev, om tidak sibuk ayo kita bermain?"
Steven bermain bola bersama Zaki sedangkan Sania menunggu mereka di bangku taman, Sania tidak bisa melarang Steven kali ini. Dia juga tidak mau Steven tahu jika antara dirinya dan Zaki memanglah tidak akur karena permasalahan yang membuat Steven hadir ke dunia ini.
"Stev kamu bermain sendiri dulu ya, om mau berbicara sama mama kamu sebentar!" Zaki meminta Steven bermain sendiri setelah mereka cukup lama bermain bersama.
"Aku akan beli minum di depan om, aku haus. Om tunggu aku ya sama mama dulu!" Steven berlari ke arah minimarket setelah meminta izin pada Sania.
Zaki duduk di sebelah Sania yang terlihat sangat cuek terhadapnya.
"Sania aku mohon maafkan aku!"
"Apa pantas kamu meminta maaf saat ini?"
"Aku tahu aku salah Sania, aku khilaf!"
"Sudahlah Za, hubungan kita sudah berakhir sejak kamu memutuskan meninggalkan aku pada saat Steven belum dilahirkan!"
"Sania saat ini aku menginginkan kamu dan anak kita!"
"Kami bukan barang yang bisa kamu ambil dan buang sesuka hatimu Za!"
Sania meninggalkan Zaki yang masih duduk di bangku taman, mereka tidak tahu jika Steven sudah kembali dari membeli minuman dan mendengarkan pembicaraan mereka. Di usia Steven yang sekarang dia sudah bisa memahami apa yang Sania dan Zaki bicarakan tadi.
Steven berlari ke arah club mendahului Sania kemudian masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.
Sania merasa pasti telah terjadi sesuatu pada putranya yang tiba-tiba cemberut dan pergi begitu saja dari taman.
Di tempat liburan Arfan dan yang lainnya sedang menikmati sunset yang indah.
"Mentari apakah kau menyukainya?"
"Aku sangat menyukainya kak, tapi aku masih merasa takut."
"Sudahlah jangan pikirkan lagi ya, kau aman disini."
Mereka masuk ke dalam hotel kembali setelah puas menikmati sunset sore ini, mereka akan bersiap untuk makan malam setelah menyelesaikan rutinitas ibadah petang mereka.
Kini mereka sudah siap untuk makan malam bersama, kali ini mereka akan barbeque di pinggir pantai. Arman sudah siap dengan panggangan dan juga aneka seafood yang siap di bakar malam ini.
"Makanan siap, silakan dinikmati tuan putri dan tuan-tuan!" Arman membawa sepiring besar kepiting dan cumi-cumi yang baru dia angkat dari atas panggangan.
"Wah... Ini pasti enak!" Mentari tidak sabar menikmati makanan itu.
"Ayo makanlah nak, selagi masih panas!" paman Faisal pertama kali bertemu Mentari sudah menyukai gadis itu.
"Kak Arman ayo makan dulu kak!" Siska mengajak Arman untuk makan bersama.
"Sebentar lagi aku menyusul, aku selesaikan ini dulu!" saat ini Arman sedang memanggang udang yang sebentar lagi matang dan bisa mereka nikmati.
Akhirnya acara makan malam bersama pun usai, Arman memetik gitar untuk meramikan suasana malam mereka.
Bernyanyi bersama di pinggir laut merupakan hal yang cukup menyenangkan bagi mereka, paman Faisal mengajak Arfan ke tempat yang sedikit jauh agar bisa berbicara berdua saja.
"Fan paman ingin membicarakan hal yang kemarin, karena ini cukup menjadi ganjalan di hati paman. Jujur paman merasa tidak nyaman kalau tidak menyampaikannya kepadamu."
"Iya paman silakan, aku akan mendengarkannya."
"Begini...,"
Paman Faisal menceritakan semua tentang kedatangan Mona kemarin dan kekhawatiran paman Faisal terhadap Mona yang sepertinya tidak menunjukkan hal yang baik.
"Paman tahu Fan, hal ini sangatlah sensitif. Paman tidak mau jika nenekmu menganggap jika paman tidak mau melepaskan jabatan paman saat ini. Tapi paman tidak ikhlas jika orang lain yang akan memimpin perusahaan yang kakakku bangun dengan susah payah. Paman akan sangat mendukung jika kamulah penerus perusahaan itu Fan!"
"Tapi paman...,"
"Fan paman sudah tua, sudah saatnya paman untuk beristirahat dan menikmati hari tua paman Fan."
"Paman aku tidak yakin jika nenek benar-benar memerintahkan Mona untuk mendatangi kantor paman."
"Maksud kamu Fan?"