
Mentari sangat gugup menjawab permintaan Arfan, semua terjadi secara tiba-tiba. Memang dia ingin menikah dengan Arfan, hanya saja jika ditanyakan secara mendadak seperti ini tentu saja dia tidak bisa menjawabnya begitu saja.
"A-aku...," jawab Mentari gemetar.
Arfan tersenyum kecut, "Lupakan saja Mentari, lain kali saja kau menjawabnya jika dirimu sudah benar-benar siap."
Mentari kehabisan kata-kata dan juga waktu untuk menjawab keinginan orang yang sangat dia cintai saat ini. Ingin sekali dia menjawab permintaan itu atau dengan satu anggukan pasti tapi kenapa sulit sekali baginya untuk melakukan semua itu.
"Ayo aku antarkan ke kampus, bukankah ada kelas hari ini. Aku akan menemui Ayesh karena ada hal yang harus aku bicarakan dengannya." Arfan meninggalkan Mentari yang masih terpaku di tempat untuk bersiap pergi.
Arfan melihat kegugupan Mentari atas permintaannya, sehingga dia tidak ingin terlalu memaksakan kehendaknya kali ini. Meskipun sebenarnya Arfan kecewa tapi tidak tepat jika dirinya terlalu ingin mendapatkan jawaban sehingga untuk saat ini dia belum ingin melanjutkannya, dia memilih untuk mencari waktu lain yang lebih tepat.
Mentari mengambil tas dan ponselnya di kamar begitu melihat Arfan beranjak pergi meninggalkan tempatnya berdiri, kemudian gadis itu menuju ke garasi menyusul Arfan yang sudah lebih dulu berada di mobilnya.
Tidak ada kata yang tercipta diantara mereka selama perjalanan ke kampus. Mentari sesekali melirik Arfan yang fokus menyetir. Tampak jelas kekecewaan terpancar dari wajahnya yang selalu terlihat serius. Suasana diantara mereka kali ini benar-benar menjadi canggung.
Mentari beberapa kali menghela nafasnya, dia tidak bermaksud untuk menolak permintaan Arfan hanya saja dia kehabisan waktu karena harus mengatasi kegugupannya terlebih dahulu.
Arfan pergi begitu saja setelah Mentari turun dari mobilnya, Mentari kembali menghela nafasnya berkali-kali. Dia begitu menyesal tidak menyetujui permintaan pemuda itu.
"Kau kenapa Tari, tidak biasanya murung begitu?" Tanya Siska yang memperhatikan Mentari dari masuk ke kelas hingga kelas berakhir.
"Ayo cepat katakanlah!" Siska mendesak agar Mentari mau bercerita kepadanya.
Kelas sudah kosong hanya tinggal mereka berdua saja, teman-teman mereka sudah pergi dengan urusan mereka masing-masing.
"A-aku dilamar Sis," Mentari mulai bercerita dengan lesu.
Siska menutup mulutnya tidak percaya dengan ucapan Mentari, meskipun sangat kaget dan ikut bahagia tetapi Siska tidak ingin membuat gempar seisi kampus dengan teriakannya.
"Lalu kau jawab apa, kau menyetujuinya bukan?" Tanya Siska antusias.
Mentari hanya menggeleng, "Jangan bilang kau menolaknya Tari?" Siska menyipitkan matanya menatap Mentari yang ada di depannya.
"Aku tidak menolaknya Sis, aku gugup sehingga membuatku kehabisan waktu untuk menjawabnya."
"Ayolah Mentari bukankah kau sangat menginginkannya, kenapa jadi begini?" Siska merasa ikut menyesal.
"Apa yang harus aku lakukan Sis, kak Arfan terlihat sangat dingin setelah kejadian itu. Tapi aku tidak bermaksud membuatnya kecewa Sis."
"Kita pikirkan nanti saja, sekarang yang perlu kita lakukan adalah mengisi perut agar kita bisa berpikir lebih jernih."
Siska mengajak Mentari ke kantin untuk mengisi perut mereka, Mentari sebenarnya enggan tetapi Siska memaksanya.
Di tempat lain, Arfan sedang bertemu dengan Ayesh di kantornya. Arfan menceritakan tentang Mona kepada Ayesh, sepertinya Arfan mencurigai Mona terlibat dengan hal yang akhir-akhir ini terjadi.
"Kenapa kamu berpikir jika Mona ada di balik semua ini Fan?"
"Sedari awal aku memang sudah mencurigainya Yesh, tapi aku tidak memiliki bukti apapun untuk hal itu."
"Kalau menurut ceritamu, mungkin saja saat dia bertemu Mentari waktu itu, dia akan menemui Ilyas yang sedang ditahan."
"Kita sepemikiran Yesh,"
"Apa perlu kita menemui Mona Yesh?"
"Jangan dulu, kita tidak memiliki cukup bukti yang mengarah kepadanya, yang perlu kita pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya agar kamu terbebas dari tuduhan atas pemukulan yang terjadi di rumah Mentari."
"Kau benar Yesh."
"Tidak Yesh, aku sebenarnya justru kasihan dengan anak itu. Tapi jika ingat malam itu dia membabi buta dan ingin merusak Mentari rasanya tidak ada lagi kata maaf untuknya."
"Aku paham perasaanmu Fan, kamu hanya ingin melindungi Mentarimu itu bukan?" Ayesh menepuk pundak Arfan, dia juga mungkin akan melakukan hal yang sama jika semua itu terjadi pada Hyorinnya.
Arfan kini sudah meninggalkan kantor Ayesh, dia melihat jam di tangannya. Sudah saatnya Mentari pulang dari kampus pikirnya. Dia akan menjemput gadis itu, dia tidak mau perang dingin diantara mereka berlanjut lebih lama lagi, bagi Arfan rasanya tidak tahan jika harus bertengkar dengan Mentari hanya karena keegoisannya sendiri, tetapi sudah cukup lama dia menunggu Mentari di parkiran, Arfan tidak melihat tanda-tanda Mentari ke luar dari kelasnya.
Arfan mencoba menghubungi Mentari namun ponsel gadis itu tidak aktif. Arfan memutuskan untuk mengecek Mentari di kelasnya, namun dia tidak menemukan Mentari ada di sana. Arfan juga sudah berkali-kali menghubungi Siska, siapa tahu Siska tahu di mana keberadaan Mentari namun sama saja Siska juga tidak merespon panggilannya.
Arfan berpikir mungkin saja gadis itu sudah pulang ke club sehingga dia memutuskan untuk pulang tanpa menunggu lebih lama lagi, tetapi sama saja ternyata Mentari tidak ada di kamarnya.
"Sejak pergi denganmu tadi pagi, Mentari belum pulang." Sania memberikan keterangan pada Arfan tanpa diminta olehnya karena melihat Arfan sedang mencari Mentari.
"Ada apa dengan kalian, apa yang terjadi Fan?"
Arfan diam saja dan berlalu pergi dari hadapan Sania, "Dasar manusia kulkas, kebiasaan mengabaikan orang lain!" kesal Sania yang diabaikan oleh Arfan, tapi Sania bisa memakluminya sebab memang sudah menjadi perangai Arfan selalu bersikap seperti itu.
Arfan memutuskan untuk pergi ke rumah orangtua Mentari, siapa tahu Mentari pulang kesana.
"Mari silakan masuk Nak," bu Kartika dengan ramah menyambutnya.
"Sendirian Fan, Mentari tidak ikut?" Pak Mahendra yang menemuinya di ruang tamu seolah menjelaskan jika Mentari tidak ada di rumah itu saat ini, Arfan cepat paham akan situasinya. Dia tidak mungkin mengatakan jika kedatangannya saat ini adalah untuk mencari Mentari, sebab dia tidak mau membuat orangtua Mentari merasa cemas.
Mentari hanya sedang tidak ingin diganggu saja saat ini, Arfan berpikir positif.
"Mentari sedang sibuk om, jadi dia ingin aku datang kemari untuk mengambil barang yang dia butuhkan om." Jawab Arfan memberikan alasan.
"Maafkan anak om ya Fan, dia terlalu mengandalkanmu jadi selalu membuat kamu repot."
"Iya Fan, jika memang butuh sesuatu kenapa tidak mengambilnya sendiri saja, minimal dia ikut bersamamu, bukan malah membiarkanmu mengambil barangnya sendirian." Bu Kartika ikut nimbrung pembicaraan mereka.
"Tidak apa-apa kok om, tante. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Mentari benar-benar sedang sibuk kali ini, jadi dia tidak bisa datang bersamaku."
"Terimakasih Fan, kamu bisa menyikapi kemauan putriku dengan baik."
"Kalau begitu bolehkah aku masuk ke kamar Mentari untuk mengambil barang yang Mentari butuhkan?"
"Tentu saja Fan, naiklah dan cari saja barangnya."
Arfan naik ke lantai atas setelah mendapatkan izin dari orangtua Mentari. Dia terpikirkan sesuatu saat datang tadi, setelah tidak bisa menemukan Mentari mungkin saja di kamar gadis itu dia bisa menemukan sesuatu yang dicarinya.
Arfan memasuki kamar yang ditata sangat rapi meskipun orangnya tidak ada, dominasi warna pink membuat Arfan tersenyum sendiri dibuatnya.
"Sangat feminim," decaknya.
Arfan mengambil beberapa buku di rak milik Mentari, dia tidak ingin membuat orangtua Mentari mencurigainya sehingga dia perlu membawa beberapa barang ketika ke luar dari kamar gadis itu nanti.
Arfan tidak sengaja menjatuhkan sebuah buku yang ditaruh di rak bagian atas. Dia melihat sebuah kamera kecil ikut terjatuh, Arfan mengamati kamera itu ternyata sebuah CCTV kecil dan masih aktif. Arfan berpikir jika benar kamera itu berfungsi maka akan ada rekaman yang berhasil di record.
Arfan mengambil kamera itu dan memasukkannya ke kantong celananya.
"Aku harus cepat menemukan Mentari, dia pasti mengetahui tentang kamera ini." Arfan membatin.
Belum selesai Arfan dengan barang-barang milik Mentari, yang punya kamar datang dan mengejutkannya.
"Mentari!!!"