My Old Star

My Old Star
#103 The One and Only



Mentari berangkat kuliah seperti biasanya dengan diantar oleh Arfan. Dia memandang kepergian mobil suaminya dengan perasaan campur aduk. Dirinya tidak tahu bagaimana harus menyampaikan terkait kepergiannya untuk melakukan penelitian kepada suaminya saat ini.


Mentari memasuki kelas dengan lesu, rasanya hari ini tidak ingin bertemu pak Reza untuk mengatur jadwal keberangkatannya ke luar kota.


"Mentari sayang kenapa melamun?" Siska yang tumben baru datang membuyarkan lamunan Mentari.


Mentari memandang nanar sahabatnya, dia tidak ingin menjawab pertanyaan Siska kali ini.


"Duh bumil yang satu ini sepertinya lagi ada masalah ya?"


"Aku punya kabar gembira Mentari, lihat ini!" sambung Siska menunjukkan jari manisnya, disana tersemat sebuah cincin yang bertuliskan nama Arman.


Mata Mentari terbelalak sambil membolak balik tangan sahabatnya itu, "Sis aku tidak salah lihat ini kan?"


"Tentu saja tidak Mentari, kau tahu aku dilamar kak Arman!"


"Selamat Siska sayang, aku turut berbahagia. Akhirnya kak Arman akan segera menjadikan kamu permaisurinya." Mereka berdua berpelukan, sejenak Mentari bisa melupakan masalahnya dan mengikuti kuliah seperti biasanya.


Marryana yang baru saja ke luar dari kelas, menghampiri Arfan yang tampaknya juga baru selesai mengajar.


"Fan boleh bicara sebentar, apakah kamu ada waktu?"


Arfan melihat jam di tangannya, "Baiklah masih ada waktu, silakan apa yang mau kamu sampaikan An?"


"Fan apa pendapatmu tentang Zaki, kalian bukankah mantan rekan satu tim?"


"Apa perlu aku menjawabnya An?"


"Tentu saja Fan, aku sepertinya mulai menyukainya. Club yang selama ini dia pimpin juga ternyata milik Papiku." Marryana mencoba jujur kepada Arfan mengenai perasaannya.


"An aku tidak bisa memberikan saran apapun kepadamu karena menyukai seseorang berarti menerima semua hal yang orang itu miliki, masa lalu dan bahkan semua kekurangannya."


"Mengenai club, aku sudah mengetahuinya jauh sebelum kamu datang An. Jika Papi kamu mendirikan sebuah club untukku, mempersiapkannya untuk aku bisa memimpinnya, tapi kau tahu olahraga adalah sesuatu hal yang aku sukai jadi aku tidak ingin ada orang yang mengintervensiku tentang apa dan bagaimana aku melakukannya. Maka aku bangun clubku sendiri dengan kendali sepenuhnya ada di tanganku."


"Aku tidak ingin ikut campur terkait club Fan, tapi aku menginginkan Zaki saat ini dan selamanya sebab aku sudah memutuskan untuk melepaskanmu sejak malam itu."


Arfan tersenyum, "Terimakasih An, aku tahu kamu memiliki jiwa yang besar untuk menerima kenyataan ini."


"Aku sedang belajar Fan menatap Zaki sebagai bagian dari masa depanku!"


"Apakah kau yakin bisa menerima masa lalunya?"


"Zaki sudah menceritakannya kepadaku Fan, semuanya. Bahkan rasa penyesalannya terhadap tim kalian yang harus bubar karena kesalahan yang dia buat."


"Sepercaya itu Zaki kepadamu An?"


"Apa aku tidak pantas dipercaya Fan?"


"Zaki mungkin menaruh hati kepadamu An, pesanku jaga dirimu baik-baik jangan sampai kamu berakhir seperti Sania."


"Satu lagi, jika kamu benar-benar mencintai Zaki maka terima juga Steven sebagai bagian dari hidup kalian nantinya."


"Kamu jangan khawatirkan hal itu Fan, aku menyayangi anak itu."


"Baiklah An aku mendukungmu sepenuhnya, jaga dirimu baik-baik, aku pergi dulu. Aku harus menjemput Mentari sekarang."


Arfan bangkit dari tempat duduknya, meninggalkan Marryana untuk menjemput Mentari di fakultasnya.


Mentari sedang berada di ruangan pak Reza seusai menyelesaikan kuliahnya hari ini, dia sedang berdiskusi terkait rencana penelitiannya yang harus segera dilakukan.


Arfan langsung menuju ke ruangan Reza untuk menjemput istrinya karena Mentari sudah menyampaikan jika hari ini dia akan melakukan bimbingan.


"Pak Reza saya mohon maaf sepertinya saya tidak bisa pergi ke luar kota dalam waktu dekat ini, saya tidak bisa meninggalkan kak Arfan karena kehamilan simpatik yang dialaminya membuatnya tidak bisa berjauhan dengan saya pak."


"Saya mengerti sekali kondisi kalian Mentari, tetapi jika kamu menunda penelitian ini, tentu hal ini akan menghambat kelulusanmu."


"Cobalah kamu diskusikan dengan Arfan dulu, mungkin ada solusi yang terbaik mengenai hal ini."


"Baik pak, akan saya lakukan."


"Ya sudah kita lanjutkan membahas bagian mana yang harus kamu lakukan perbaikan."


Mereka kembali fokus membahas tulisan Mentari, sedangkan Arfan berdiri termenung di depan pintu ruangan Reza. Padahal biasanya dia akan masuk begitu saja ke dalam, namun kali ini tidak dia lakukan. Arfan sudah mendengar semuanya. Dia juga tidak bisa egois, Mentari juga memiliki masa depannya sendiri.


Arfan kembali ke parkiran dan menelfon istrinya jika dia menunggu di sana, tidak seberapa lama Mentari sampai di parkiran dengan senyum merekahnya seperti biasa seolah tidak ada apa-apa yang sedang membebani pikirannya.


"Apakah kita langsung pulang?" Tanya Arfan begitu Mentari sudah duduk di sebelahnya.


"Kita tidak ke club hari ini kak?"


"Aku sudah menyuruh Tomi untuk menghandle semuanya sayang, aku ingin pulang saja."


"Kalau begitu ayo, aku akan memasak makanan kesukaan kamu kak."


Mentari menaruh tas di kamar kemudian mulai sibuk di dapur untuk membuat makan malam. Arfan juga turun setelah mandi sore dan bersantai di depan televisi. Biasanya Arfan akan sibuk mengecek laporan perusahaan, club dan mengurus tugas-tugasnya di kampus sembari menunggu Mentari menyelesaikan memasaknya di dapur.


Arfan menggonta ganti chanel televisi secara tidak jelas apa yang akan di tontonnya, serasa tidak ada acara yang menarik baginya saat ini padahal Mentari belum benar-benar pergi untuk melakukan penelitian.


Arfan sepertinya sedang merasakan galau akut hingga dia merasa malas untuk melakukan apapun.


"Kak aku sudah selesai memasak, aku mau mandi dulu sebentar ya." Mentari berjalan ke arah kamar untuk membersihkan dirinya.


"Heemmmm...," jawab Arfan malas.


Beberapa menit kemudian, Mentari muncul dengan tubuh yang lebih segar. Dia menghampiri Arfan yang sedang tiduran di sofa.


"Kakak mau makan sekarang atau nanti?"


"Aku belum lapar!" jawabnya datar.


Mentari merasa heran dengan sikap Arfan sejak tadi siang, entah apa yang sedang terjadi padanya.


"Baiklah kalau begitu aku mau mengurus pakaian dulu di belakang." Mentari berusaha bersikap biasa, dia memilih menahan diri untuk bertanya ketimbang membuat suaminya semakin kesal.


Arfan memandang punggung Mentari yang semakin menjauh, ada rasa penyesalan dalam diri Arfan karena telah menjawab dengan ketus pertanyaan Mentari.


Hari sudah semakin gelap, Mentari sudah menyelesaikan pekerjaannya. Sedangkan Arfan ditelfon oleh Tomi untuk segera ke club karena ada hal yang cukup mendesak dan juga ada tamu yang ingin bertemu dengannya.


Arfan pergi tanpa makan malam terlebih dahulu karena terburu-buru telah ditunggu oleh seseorang yang datang tanpa membuat janji dengannya, namun demi menghormati orang tersebut Arfan bersedia untuk datang menemuinya.


Mentari memilih menunggu Arfan sembari menyelesaikan tugas kuliahnya di rumah karena tidak mau merepotkan suaminya seperti kemarin.


Arfan sampai di club dan di sana sudah ada Papi dari Marryana yang menunggunya.


"Selamat malam om, mohon maaf karena harus menunggu." Arfan menjabat tangan pemilik club yang saat ini dipimpin oleh Zaki.


"Tidak apa-apa Fan, om tahu kamu pasti sibuk."


"Adakah yang bisa saya bantu om?"


"Fan kedatangan om kemari adalah untuk meminta maaf secara langsung sama kamu karena ucapan om di masa lalu saat kamu masih kecil, tentu itu membekas di hati kamu sampai saat ini. Om sungguh menyesal karena ternyata semangat dan kerja kerasmulah yang membuat kamu bisa seperti sekarang dan bukan karena latar belakang keluargamu."


"Saya sudah memaafkan om, jika bukan perkataan om di masa lalu mungkin saya tidak akan pernah memiliki motivasi untuk bisa menjadi orang yang lebih baik meskipun tanpa orangtua."


"Om juga punya satu permintaan untukmu Fan, om berharap kamu bisa mengabulkannya untuk om."


"Permintaan apa om?"


"Nikahi Marryana Fan, dia sudah dewasa tapi belum juga mau menikah. Dia mencintai kamu sejak kecil!"


Permintaan Papi Marryana serasa petir yang menyambar kepalanya. Dia sudah menikah dan tidak mungkin untuk menikah lagi, bagi Arfan istrinya hanya Mentari sampai kapan pun. Mentari adalah the one and only bagi Arfan, dia satu-satunya gadis yang bisa menggetarkan hatinya.


"Maafkan saya om, tapi saat ini saya sudah menikah. Saat ini istri saya sedang mengandung buah cinta kami, jadi tidak mungkin saya menikahi anak om!" jawab Arfan dengan tegas.


"Apakah tidak pernah ada rasa di hati kamu untuk anak om?"


"Om kami memang berteman sejak kecil, tapi saat dewasa kami kembali menjadi orang asing karena tidak pernah bertemu."


"Baiklah kalau seperti itu, om tidak akan memaksa kamu. Semoga kamu bahagia dengan istri kamu dan Marryana juga bisa mendapatkan jodoh yang terbaik untuknya."


"Om pamit dulu, maaf karena telah mengganggu waktu kamu Fan!"


Arfan menarik nafas panjangnya begitu berat ketika Papi Marryana sudah pamit undur diri dari club, dia memijit pelipisnya yang mendadak terasa nyut-nyutan.


"Adakah yang menganggu pikiran kamu Fan?" Tomi menghampiri Arfan yang sedang bersandar di sandaran sofa.


"Aku hanya sedang banyak pikiran Tom, tapi tidak masalah karena kita harus fokus pada pertandingan tingkat nasional yang sebentar lagi akan kita ikuti."


"Maafkan aku Fan, padahal kamu sudah mengatakan tidak bisa datang ke sini hari ini tapi aku malah menganggu kamu dan memaksamu untuk datang."


"Kita memang harus melakukan persiapan secara matang Tom, aku yang seharusnya bisa lebih profesional."


Arfan dan Tomi membahas persiapan mereka untuk menuju pertandingan nasional hingga larut malam.


Mentari masih menunggu Arfan di rumah, dia sudah menyelesaikan tugas kuliahnya sejak tadi tetapi Arfan tidak kunjung pulang ke rumah padahal sudah hampir dini hari.


Mentari memainkan ponsel miliknya dan membuka beberapa akun berita online di ponselnya setelah membalas pesan dari Siska.


Mentari terkejut membaca headnews yang baru terbit beberapa menit lalu.


"Bos besar club pemegang runner up futsal tahun ini meminang bos club A&W menjadi menantunya." Baca Mentari pada unggahan berita tersebut.


Hati Mentari bergetar dahsyat, tanpa disadari air matanya meleleh, membayangkan banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi.


"Kak Arfan...," ucap Mentari lirih memeluk kedua kakinya.