
Dokter Sandra menyatakan jika kandungan Mentari sangat sehat dan berkembang dengan baik. Dokter Sandra pun mengizinkan Mentari berpergian jauh, hanya saja dia tetap harus berhati-hati dan menjaga dirinya dengan baik.
Sepulang dari periksa ke dokter, Arfan mengajak mereka untuk makan malam terlebih dahulu sebelum pulang.
"Pesan saja apa yang kalian mau!" perintah Arfan kepada semuanya ketika mereka telah duduk di meja salah satu restoran yang tidak jauh dari tempat praktik dokter Sandra.
"Apakah kakak sudah bisa makan apa saja?" Tanya Mentari khawatir karena Arfan belakangan ini memang suka pilih-pilih makanan agar tidak mual.
"Aku bisa sayang, tidak perlu khawatir." Jawab Arfan meyakinkan istrinya.
Tidak lama pesanan merekapun datang, mereka menikmati makan malam sambil berbincang santai. Malam ini tidak ada agenda khusus bagi mereka sehingga tidak perlu terburu-buru untuk pulang.
"Sis sebaiknya malam ini kamu menginap saja, besok bantu aku mengemas barang bagaimana?"
"Baiklah aku akan menginap." Jawab Siska menyetujui permintaan Mentari, lagi pula dia sedang merasa bosan di asrama. Sejak kepindahan Mentari dari asrama hidup Siska terasa berbeda, biasanya dia kemana-mana pasti bersama-sama dengan Mentari. Tapi kini dia lebih sering harus melakukannya sendirian.
"Lalu aku bagaimana?" Arman menunjuk dirinya sendiri.
"Kamu pulanglah masa mau menginap juga!" jawab Arfan.
"Jahat sekali kalian, mana bisa begitu. Boleh ya aku ikut menginap juga." Arman memohon kepada Arfan seperti anak kecil.
"Aku bilang tidak ya tidak, bukankah besok kamu juga harus ke kantor pagi-pagi sekali?"
"Aku kan bisa pulang besok pagi Fan."
"Tetap tidak boleh!"
"Yah kamu ini Fan, tidak asyik!" Arman bersedekap sedikit kesal karena tidak boleh ikut menginap.
"Sudah-sudah kak, jangan ngambek begitulah. Makan saja dulu kak!" Mentari mencoba menengahi mereka berdua. Dia juga memberikan kode kepada Arfan agar menarik kata-katanya, bagaimanapun juga Arman sangat berjasa kepada mereka berdua hingga mereka bisa hidup bersama seperti sekarang.
"Iya-iya kamu boleh menginap Man, tapi dengan satu syarat. Ini juga karena permintaan Nyonya, jika bukan aku nggak akan pernah mengizinkan kamu meskipun kamu mohon-mohon sampai besok."
"Ikhlas nggak tuh?" Tanya Arman.
"Ikhlaslah masa enggak, rumahku masih bisalah menampung pencari suaka seperti kamu!" jawab Arfan dengan nada datar.
"Sudah kuduga pasti jawabannya nyakitin. Lalu apa syaratnya Fan?"
"Kamu satu kamar dengan aku, supaya aku bisa mengawasimu. Aku nggak mau ya kecolongan, malam-malam ada yang mengendap-endap masuk ke kamar Siska."
"Mana bisa begitu Fan, kamu sama Mentarilah masa tidur sama aku!"
"Ya sudah kalau tidak mau." Arfan juga tidak mau kalah.
Mentari dan Siska justru tertawa melihat kekonyolan pasangan mereka masing-masing.
"Iya deh, aku mau tapi awas kalau kamu membuat aku tidak bisa tidur karena besok aku ada rapat penting dengan paman Faisal."
"Siapa juga yang mau gangguin kamu, yang ada kamu nempel bantal, terus bablas ke alam mimpi!"
"Berarti aku bisa tidur bareng Siska ya kak malam ini?"
"Iya sayang, kalian pasti kengen kan sudah lama tidak tidur bersama."
Mentari kegirangan mendengar jawaban dari Arfan. Sementara itu, sedari tadi ada segerombolan gadis-gadis muda yang terus memandang ke arah Arfan dan Arman.
Mereka mendekat begitu melihat Arfan dan yang lainnya telah selesai makan malam.
"Kak Arfan ya, pemilik club A&W yang kemarin dilamar oleh bos club sebelah untuk anak gadisnya?" Tanya seorang gadis sok kenal dengan Arfan dan merasa tahu banyak kehidupan Arfan.
"Ini pasti kak Arman, benar bukan?" Tanya gadis yang lainnya.
Arfan hanya tersenyum sekilas karena merasa mereka segerombolan penganggu. Berbeda dengan Arman yang memang supel dan mudah bergaul dengan banyak orang.
"Kak apa benar kakak menolak lamaran bos besar itu? Alasannya apa kak?"
"Saya sudah menikah dan ini istri saya!" Arfan merangkul pundak Mentari yang tersenyum kecut mengingat berita yang sekarang entah kemana rimbanya, hilang begitu saja padahal sempat heboh.
"Kalian tahu istri saya ini sedang hamil jadi tolong jangan bikin dia badmood!"
"Bolehkah minta fotonya kak?"
Arfan memutar bola matanya jengah, berkali-kali dia membuang nafasnya. Dia kesal karena para gadis itu rupanya tidak paham dengan apa yang dia katakan tadi. Namun, jika menolak mereka tentu akan ada berita yang justru bisa menjadi bola liar yang terkadang susah untuk dikendalikan.
Arfan meminta pengertian Mentari dengan kode mata yang diangguki oleh Mentari sebagai sebuah jawaban persetujuan.
Sesi foto selesai namun ada juga yang masih meminta tanda tangan, Arfan merasa mereka sangat tidak bisa diberi pengertian. Padahal seharusnya yang mereka kagumi adalah anak-anak asuh Arfan di club bukan dirinya yang tidak lagi seorang atlet.
Para gadis itu akhirnya pergi meninggalkan meja Arfan dan yang lainnya setelah mengucapkan terimakasih. Mereka pada akhirnya bisa bernafas lega. Pendukung memang wajib dihargai tapi mereka juga tidak boleh melunjak karena ada etika dan tata krama sebagai seorang fans.
Mentari menggenggam jemari tangan Arfan, "Sudah kak jangan kesal begitu, mereka hanya anak-anak yang girang karena bertemu dengan idolanya. Bukankah mereka sepertinya seumuran denganku?"
"Jangan anggap mereka sebagai pengganggu karena tanpa mereka, mungkin saja club kakak tidak akan sebesar sekarang. Mereka patut dihargai dan berikan rasa nyaman dengan keramahan."
"Apakah kamu tidak cemburu?"
"Untuk apa aku cemburu kak, bukankah aku sudah memilikimu seutuhnya?"
"Pantas saja Arfan bertekuk lutut kepadamu Nyonya, kau sangat dewasa melebihi usiamu yang sesungguhnya." Arman memuji kedewasaan Mentari yang sangat berbeda dengan usianya yang masih terbilang sangat muda.
Mereka kini sudah tiba di rumah Arfan dan Mentari. Setelah membersihkan diri, Arfan mengatur agar Arman tidur di ruang tamu sedangkan Siska di kamar atas yang tidak jauh dari kamar utama.
"Loh kak bukankah rencananya tadi...?" Tanya Mentari setelah Arman dan Siska masuk ke kamar mereka masing-masing tanpa menolak pengaturan dari Arfan yang tiba-tiba berubah tanpa sepengetahuan mereka.
Arfan juga mengancam jika Arman berani macam-macam kepada Siska maka dia akan tahu akibatnya sebab rumah Arfan dilengkapi dengan kamera CCTV dibeberapa sudut ruangan. Jadi sangat mudah bagi Arfan untuk membuat Arman mengakui perbuatannya jika dia sampai berani macam-macam, apalagi rekaman CCTV itu terhubung dengan ponsel Arfan.
"Aku sedang tidak mau jauh dari kamu sayang." Arfan memeluk Mentari dari belakang.
"Apa itu artinya aku sangat berarti bagi kamu kak?"
"Jangan tanyakan itu karena jawabannya sudah pasti seperti Matematika."
"Lalu dengan para gadis di restoran tadi, bukankah aku masih seusia mereka kak?"
"Jangan-jangan dulu kakak menganggapku seperti mereka ya?"
"Mereka memang seusia kamu tapi kamu lebih dulu dewasa dibandingkan dengan mereka dan aku tahu jika kamu berbeda."
"Emmm... Dulu mungkin aku menganggapmu seperti itu tapi sebelum aku benar-benar mengenalmu."
Arfan mengajak Mentari masuk ke kamar mereka, dia ingin memeluk Mentari hingga pagi menjelang karena lusa dia tidak bisa melakukan hal itu untuk beberapa hari ke depan.
****
Pagi ini dapur sudah heboh dengan tingkah konyol Arman yang alih-alih ingin membantu Mentari dan Siska memasak tapi malah justru mengacaukan pekerjaan mereka berdua.
"Sudah sana kak Arman duduk manis saja bersama Pak Arfan!" suruh Siska yang sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan Arman.
Arman yang merasa bersalah akhirnya patuh saja. Tidak seberapa lama sarapanpun siap untuk disantap. Selesai sarapan Arman pamit pergi ke kantor karena ada rapat pagi ini. Arfan sendiri tidak pergi ke kampus karena akan membantu Mentari mengemas barang bawaannya.
"Kak tidak ke kampus, kok belum bersiap?"
"Aku cuti hari ini, aku akan membantumu. Sore nanti kita juga harus mengunjungi nenek."
Mentari mengemas barang-barang yang dia butuhkan, tidak lupa buku dan alat tulis. Siska membantunya menata di dalam koper yang akan dia bawa besok.
Sore hari mereka berkunjung ke tempat nenek untuk berpamitan sekaligus menjenguk nenek karena sudah lama mereka tidak datang untuk berkunjung. Nenek sedikit terkejut dengan kepergian Mentari, tetapi perempuan sepuh itu bisa mengerti jika Mentari harus menyelesaikan kuliahnya sebelum cicit yang nenek harapkan lahir ke dunia.
Hari keberangkatan Mentari dan Siska pun tiba, mereka dijemput oleh pak Reza di rumah Mentari.
"Ayo apakah semua sudah siap?"
"Sudah pak!" jawab Mentari dan Siska bersamaan.
Arfan memasukkan barang-barang Mentari dan Siska ke bagasi yang dibantu oleh Arman.
"Kak aku pergi dulu ya, do'akan aku semuanya lancar jadi bisa cepat pulang."
"Tentu saja sayang, jaga diri dan dedek bayi baik-baik ya, aku akan sangat merindukanmu."
Mereka berdua berpelukan cukup lama, Arfan menahan air matanya agar tidak lolos dari pelupuk matanya. Siska juga berpamitan kepada Arfan dan Arman.
"Titip Mentari ya Sis, kalau ada apa-apa cepat hubungi aku saja!"
"Baik pak Arfan."
Mobil yang membawa Mentari dan yang lainnya perlahan berjalan meninggalkan tempat tinggal Arfan hingga menghilang di kelokan ujung jalan.
"Cie yang sedih ditinggal belahan jiwa...," Arman meledek Arfan yang memang sedih harus berpisah sementara dengan Mentari.
"Awas kamu Man!" Arfan mengejar Arman yang berlari masuk ke dalam rumah.