
Arfan menepikan mobil yang sedang ia kendarai demi mendengar perbincangan Arman melalui telfon yang mengatakan jika ada yang berkelahi.
"Baik aku akan segera kesana!" tutup Arman pada sambungan telefonnya.
Arfan segera bertanya kepada Arman karena wajah Arman sangatlah tegang.
"Ada apa Man?"
"Siapa yang berkelahi?" Arfan memburu dengan pertanyaannya.
"Sebaiknya kita antar Mentari dan Siska dulu ke asrama Fan, nanti akan aku ceritakan situasinya!"
"Kak ada apa?"
"Apa sebaiknya kami tidak perlu diantar, kami naik taksi saja!" Mentari memberikan saran.
"Iya benar, kami naik taksi saja supaya kalian tidak kehabisan waktu karena harus mengantar kami terlebih dahulu," Siska menambahi ucapan Mentari.
Arfan berpikir sejenak, "Kami akan antar kalian dulu, keselamatan kalian lebih penting!"
"Iya kau benar Fan, kita tidak bisa membiarkan mereka di pinggir jalan malam-malam begini," ucap Arman membenarkan perkataan Arfan.
Arfan tancap gas, dia tidak ingin membuang waktu. Perasaannya semakin tidak enak, Arfan menduga jika semua ini pasti ada hubungannya dengan Zaky.
Mereka kini telah sampai di depan asrama putri universitas Z setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, waktu tempuh yang lebih cepat sekitar dua puluh lima menit dari biasanya. Arfan memang tadi sedikit ngebut namun tetap berhati-hati saat mengemudi. Dia tidak mau membuat orang-orang yang bersamanya celaka.
"Kak hati-hati di jalan ya, jangan ngebut. Kalau ada apa-apa jangan lupa kabari kami ya Kak?" Ucap Mentari ketika turun dari mobil Arfan.
"Iya Mentari kecil, kalian masuklah untuk beristirahat!"
"Kami pergi dulu ya, sampai jumpa lagi Bidadari!" Arman berkata kepada Siska sebelum meninggalkan mereka berdua.
"Wah ada Bidadari rupanya di sini sekarang ya?" Mentari menyenggol tubuh Siska sambil berjalan masuk ke dalam asrama.
"Ih kau ini Mentari apaan sih, suka-suka Kak Arman dong ya mau manggil aku apa yang jelas aku bahagia banget," ucap Siska tak mau kalah.
"Baik-baiklah yang sedang jatuh cinta memang auranya berbeda!" Mentari tertawa.
Siska tersenyum malu-malu sambil merebahkan dirinya di ranjang, "Tidak aku sangka aku benar-benar bisa bertemu dengan Kak Arman, ini seperti mimpi saja bagiku!"
"Senang sangat rupanya ya?"
"Tentu saja, eh ya tadi siang aku sempat ambil foto bersama Kak Arman. Aku mau cek chat grup dulu, kita lihat apakah mereka masih berani berkata tidak baik kepadaku!"
"Wah penasaran aku Sis, cepat buka ponselmu!" perintah Mentari yang tidak sabar dengan komentar teman-teman Siska.
Siska membuka chat grupnya, dia senyum-senyum sendiri karena banyak yang memuji dirinya karena berhasil bertemu dengan Arman sang idola. Bahkan di dalam foto mereka terlihat sangat dekat, namun ada juga yang tetap masih julid bahkan sampai mengatakan jika foto-foto yang Siska bagikan kepada mereka adalah editan. Tetapi banyak yang membela Siska karena Arman juga mengunggah foto yang sama ke akun media sosialnya. Sehingga banyak yang tidak percaya jika itu hasil editan.
Siska merasa tidak percaya jika Arman benar-benar melakukan itu untuk dirinya, kekaguman Siska terhadap Arman semakin bertambah besar, apalagi di akun media sosial Arman banjir komentar yang memuji gadis yang bersama Arman berwajah cantik, banyak juga yang bertanya apakah itu kekasih Arman karena selama ini Arman tidak pernah mengunggah foto seorang gadis, baru kali ini dia melakukannya.
"Ada yang mendadak artis nih," ucap Mentari yang baru selesai membersihkan dirinya di kamar mandi.
"Mentari menurutmu apa ini tidak terlalu cepat ya?"
"Jangan merasa ragu begitu, aku yakin Kak Arman pemuda baik-baik."
"Oh ya Mentari bagaimana kabar Ilyas dan Ibunya?"
Mentari menggeleng, "Aku tidak tahu Sis, beberapa hari ini aku tidak datang untuk menjenguk mereka!"
"Kau harus berhati-hati terhadap Ilyas, bisa saja dia nekat karena tidak mendapatkan apa yang dia inginkan!" pesan Siska sebelum beranjak dari ranjang untuk membersihkan dirinya sebelum beristirahat.
"Satu lagi, sama perempuan yang tadi siang ada di rumah Nenek Wijaya juga. Sepertinya dia serigala berbulu domba!" Siska berkata dengan menyembulkan kepalanya dari dalam melalui pintu kamar mandi.
Mentari mengangguk, "Kau jangan khawatir ya, sudah sana bersihkan dirimu dulu!"
Arfan membawa Tomi ke luar dari tempat itu untuk pergi ke fasilitas kesehatan terdekat. Sedangkan Arman membawa Zaky ke arah berbeda untuk mengobati lukanya sebelum kembali ke club.
"Sebenarnya ada apa sih Tom kenapa kalian sampai berkelahi seperti ini?" Tanya Arfan ketika semua luka Tomi sudah diobati dan diperban oleh dokter jaga malam itu. Dia diperbolehkan untuk pulang karena hanya luka ringan saja.
"Dia yang mulai duluan Fan!"
"Siapa maksudmu Tom?"
"Zaky?"
Tomi mengangguk menahan perih di bibirnya yang pecah karena hantaman keras tangan Zaky.
"Apa yang membuat kalian bisa bertemu seperti ini?"
"Aku sedang berjalan-jalan tadi, tidak sengaja kami bertemu. Dia mengajakku berbincang, tapi dia terbakar emosi ketika aku tidak mau memberikan kesempatan kepadanya untuk bertemu dengan Sania dan Steven."
"Sampai kapan kau akan menyembunyikan mereka Tom?"
"Sampai aku tahu bahwa hati ini sudah rela untuk melepasakan mereka Fan, jika memang Sania ingin kembali kepada Zaky aku tidak akan keberatan Fan, tapi bukan sekarang, aku sangat mencintai mereka berdua!"
"Tenangkan dirimu, ayo kita pulang. Anak-anak sudah menunggu kita di club!" Arfan mengajak Tomi untuk pulang agar dia bisa segera beristirahat.
Berita tentang perkelahian antara Zaky dan Tomi cepat sekali menyebar, dimana-mana nama mereka berdua menjadi tranding topic yang cukup memanas. Hal Ini semakin menjadi bola liar yang dijadikan kesempatan bagi siapa saja untuk mengulik kehidupan pribadi mereka.
Berita terus menyebar, banyak yang berasumsi dan memberikan opini yang justru menambah semakin runcing keadaan.
Berita ini juga sampai terdengar ke luar negeri yang membuat Sania merasa bersalah terhadap Tomi yang selalu menjadi sandarannya selama ini. Tomi yang selama ini melindunginya di saat-saat paling sulit kehidupannya.
"Zaky apa-apaan ini, kamu mau menghancurkan reputasi club kita hah??!!!" Bos besar club yang Zaky pimpin marah besar dan menggebrak meja Zaky.
"Lihat lukamu itu, berarti benar kau telah berkelahi untuk alasan yang tidak jelas!"
"Maafkan saya Bos, saya tidak bermaksud menghancurkan club milikmu karena masalah yang aku buat Bos!"
"Omong kosong, sudah berapa kali aku bilang kepadamu Zaky untuk berhati-hati dalam bertindak!"
"Jika terjadi seperti ini lagi, saya tidak segan-segan untuk menggantikanmu dengan orang lain yang jauh lebih kompeten dan profesional!"
Bos bernama Michel itu meninggalkan ruangan Zaky dengan penuh amarah. Arman yang melihat kejadian tadi masuk ke dalam ruangan Zaky tanpa mengetuk pintu.
"Sudah aku bilang jangan ganggu aku dulu, aku hanya ingin sendiri!" bentak Zaky kepada Arman yang dilihatnya memasuki ruangan.
"Za kamu tidak bisa seperti ini terus!"
"Kamu latihan saja yang benar tidak usah mengurusiku, aku tahu apa yang aku lakukan!" ucapnya.
"Urus saja dirimu sendiri yang sudah kepayahan agar prestasimu tidak terus menurun, paham kamu Man!" sambung Zaky dengan nada tinggi.
"Aku pikir kamu masih seperti Zaky yang aku kenal, tapi rupanya aku sudah salah menilaimu Za!"
"Apa maksud kamu hah berkata seperti itu?"
"Sebagai sahabat aku hanya ingin membantu meringankan bebanmu Za."
"Aku tidak butuh bantuan siapapun sekarang!"
"Aku bilang keluar sekarang dari ruangan ini!"
"Keluar!!!" Zaky kembali membentak Arman.
Arman merasa Zaky telah banyak berubah, dia sudah tidak lagi mengenali Zaky sebagai sahabatnya yang dulu selalu bersama di saat suka maupun duka.