My Old Star

My Old Star
#23 Takdir



Arfan memasuki kamarnya, merebahkan tubuh penatnya di ranjang yang terasa dingin karena telah lama tidak dia gunakan. Pikirannya menerawang jauh memikirkan Mentari, begitu pula dengan ucapan Bu Kartika kepadanya ditambah lagi terkait pernikahan yang Neneknya inginkan.


"Nenek sudah semakin tua bagaimana kalau Nenek meninggalkan dunia ini, kau akan sendirian jika tidak segera memiliki pendamping, Nenek tidak akan tenang jika itu terjadi."


Perkataan Nenek Wijaya terngiang ditelinganya, meskipun Arfan selalu bersikap datar dan cuek, namun sebenarnya dia sangat memikirkan apa yang Neneknya katakan. Dia tidak ingin Neneknya tidak bahagia, dia ingin memenuhi keinginan Neneknya, tapi bagaimana jika restu tak didapatkan di tangan dari orangtua perempuan yang dia sayangi? Ah...seharusnya dia tidak boleh menyerah.


Arfan hampir memejamkan mata ketika ponselnya berdering, saat ini dia telah mengganti sim cardnya kembali karena banyak orang yang kesusahan ketika menghubunginya termasuk Mentari yang mengirimkan banyak pesan dan juga banyak panggilan tak terjawab darinya.


Arfan mengerutkan dahi ketika ponsel terus berdering dan nomor tak dikenal yang menghubunginya. Arfan membiarkan panggilan itu hingga panggilan itu berhenti. Namun, suara panggilan itu kembali menggema.


"Hallo...," Arfan menyapa orang tak di kenal yang menghubunginya.


"Nak Arfan ini Om, Ayahnya Mentari." Ucap Pak Mahendra dari seberang telefon.


Betapa terkejutnya Arfan karena Pak Mahendra menghubunginya malam-malam begini.


"Iya Om apakah ada yang bisa Arfan bantu?"


"Bisakah besok kita bertemu?"


Arfan menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, "Bi...bisa Om, dimana?" Jawabnya kemudian.


"Besok Om kabari lagi ya, sekarang Om tutup dulu. Selamat malam!"


Rasa ngantuk yang tadi menderanya mendadak hilanglah sudah, Arfan seperti tersengat listrik ribuan voltase, dalam benaknya muncul bermacam-macam pertanyaan.


Sebelum keterkejutannya hilang, Pak Mahendra menambah degup jantung Arfan semakin cepat karena pesan yang dia kirimkan. Arfan tampak serius membaca pesan yang Pak Mahendra kirimkan untuknya. Dahinya berkerut memikirkan cara apa yang bisa dia gunakan untuk memenuhi keinginan Pak Mahendra.


Keesokan harinya, Arfan sudah berada di kampus seperti biasa. Mengajar hingga selesai sambil menunggu Pak Mahendra mengabari tempat dimana mereka akan bertemu. Arfan keluar dari ruang dosen, entah mengapa dia ingin berjalan-jalan di taman universitas Z untuk menenangkan pikirannyan sekaligus mencari cara untuk bisa bertemu dengan Mentari hari ini.


Universitas Z di desain dengan banyak tanaman sehingga suasana menjadi asri dan sejuk. Arfan duduk di dekat air mancur, memandangi burung-burung yang terbang kesana kemari dengan bebas. Arfan percaya akan takdir, sehingga dia tidak pergi untuk mencari Mentari biarlah takdir yang akan mempertemukan mereka jika memang mereka berjodoh. Saat ini Arfan berada pada fase pasrah kepada Dzat yang berkuasa atas takdir mereka. Berusaha ikhlas agar hati menjadi lebih lapang.


Mentari ternyata juga sedang berada di tempat yang sama, gadis itu baru saja keluar dari perpustakaan universitas dan tertarik untuk pergi ke taman. Mentari sampai di dekat air mancur, menyadari ada orang lain disana Mentari berbalik arah karena tidak mengenali orang itu, Mentari hanya melihat punggungnya saja.


Arfan yang menyadari ada seorang gadis yang tidak jadi ke tempat dimana sekarang dia duduk kemudian memanggil gadis itu.


"Tunggu!" suara Arfan memanggil Mentari, suara yang sudah lama tidak dia dengar dan sangat ingin dia dengarkan saat ini.


"Apakah itu Kak Arfan ataukah aku hanya berhalusinasi saja?" pikir Mentari.


Mentari membalikan tubuhnya, memberanikan diri untuk menatap orang yang tadi mencegahnya pergi.


Mentari membulatkan bola matanya ketika berbalik ternyata Arfan berdiri di hadapannya.


"Kau sudah sembuh?" tanya Arfan sambil berjalan mendekat.


"Jangan mendekat!" cegah Mentari, mata gadis itu sudah berkaca-kaca.


Arfan terus mendekat tanpa memperdulikan Mentari yang mencegahnya. Mentari pun berjalan mundur, "Mau apa kau, ini di kampus kalau macam-macam aku akan teriak!" ancam Mentari yang merasa kecewa dengan sikap Arfan akhir-akhir ini yang seperti menghindarinya.


Mentari ingin sekali mendukung Arfan dalam kondisi apapun karena rasa cintanya terhadap pemuda itu, namun jika terus-terusan tidak diperdulikan maka seseorang pasti akan berpikir jika keberadaannya tidaklah dibutuhkan.


Arfan tersenyum miring dan terus berjalan mendekat, Mentari berubah panik tanpa sadar dia menginjak batu dibelakangnya dan hampir tergelincir beruntung Arfan dengan sigap menangkap tubuh kecilnya. Pandangan mata mereka bertemu untuk beberapa saat. Tidak dipungkiri ada rasa rindu diantara pandangan mata keduanya, masing-masing menyimpan kerinduan yang tak terbendung. Kesalahpahaman yang terjadi memang menguras banyak tenaga dan perasaan.


Mentari tersadar kemudian membenarkan posisi berdirinya, mereka salah tingkah.


"Duduklah!" Arfan mempersilakan Mentari duduk di kursi yang tadi didudukinya.


Mentari patuh, untuk beberapa saat tidak ada kata yang tercipta, canggung itulah yang mereka rasakan.


"Maafkan aku...," ucap mereka bersamaan.


"Tidak...tidak Kak, kau tidak salah. Ibuku yang bersalah!"


"Kau mengetahuinya?"


Mentari mengangguk, Arfan meraih Mentari dan memeluknya.


"Kak aku akan selalu berdiri di sampingmu untuk mendukungmu apapun yang terjadi, meskipun Ibuku melarangku sekalipun!"


"Terimakasih Mentariku!"


"Aku mencintaimu!" ucapnya kemudian.


"Aku juga mencintaimu Kak, jangan pergi lagi dariku Kak. Ak...aku tidak bisa hidup tanpamu Kak!" Mentari sesenggukan.


Arfan mengurai pelukannya, menghapus air mata Mentari dengan ibu jarinya. Menatap gadis yang ia rindukan tepat di manik mata hitamnya.


"Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu lagi Mentari, aku tidak mau melihat air mata ini sampai jatuh ke tanah karena kau menangisiku." Arfan menatap sendu Mentari, di dalam hati dia merasa sangat bersalah karena telah bersikap kekanak-kanakkan. Namun, dia bersyukur takdir mempetemukan mereka kembali untuk memperbaiki semuanya dari awal.


Arfan berdiri dari duduknya dengan satu tangan yang dia masukan ke dalam saku celana bahannya, "Ayo kita pergi dari sini!"


Mentari mengikuti langkah Arfan menuju ke fakultas tempat Arfan mengajar untuk mengambil kunci mobilnya sebelum mereka pergi. Arfan mengajak Mentari masuk, mereka bertemu dengan Pak Rio.


"Pak Arfan ini gadis yang saya maksudkan tempo hari." Ucap Pak Rio yang disambut Mentari dengan senyumnya.


"Selamat siang Pak, senang bertemu Anda kembali." Sapa Mentari dan Pak Rio mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan yang langsung disambut dengan tangan Arfan sebelum Mentari mengulurkan tangannya.


Pak Rio mengibas-ibasakan tangannya yang terasa sedikit nyeri karena ulah Arfan, "Selamat siang juga Nona, senang juga bertemu dengan Nona kembali disini." Jawab Pak Rio pada akhirnya dengan tersenyum karena sudah paham dengan situasinya.


"Mentari Pak, panggil saja saya Mentari."


"Pawangnya galak sekali Mentari!" ucap Pak Rio sedikit berbisik kepada Mentari yang tentu saja masih di dengar oleh Arfan.


"Kemana saja nih tempo hari dicari-cari malah tidak ketemu, sepertinya main kucing-kucingan ya Pak?" Pak Rangga yang juga berada di ruangan itu ikut meledek Arfan.


"Ayo Mentari kita pergi, jangan hiraukan mereka para perjaka lapuk!" balas Arfan tak kalah sengit.


"Kaya Pak Arfan bukan perjaka lapuk saja!" cibir Pak Rio dan Pak Rangga.


"Sampai jumpa lain waktu Pak," Mentari melambaikan tangannya dan tersenyum kepada dua dosen sahabat Arfan itu sebelum pergi.


"Pak Arfan sungguh beruntung, dia bisa bertemu dengan gadis belia cantik pula, gadis yang sangat ceria!" Kedua dosen itu memandang Arfan yang membawa Mentari pergi hingga keduanya menghilang dibalik tangga.


"Kita mau kemana Kak?" tanya Mentari begitu mereka sudah berada di jalan besar yang sudah lumayan jauh dari kampus.


"Ikut saja!" jawab Arfan.


Arfan menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran yang sudah di beritahu oleh Pak Mahendra yang berjanji akan bertemu dengannya siang ini.


Arfan memasuki ruangan yang telah dipesan oleh Pak Mahendra, sejak bertemu dengan Mentari tadi di taman Arfan sudah memantapkan dirinya untuk mempertahankan gadis itu. Dia sudah siap menghadapi apapun asalkan bisa tetap bersama Mentari termasuk menghadapi Pak Mahendra yang tiba-tiba mengajaknya bertemu. Perasaan sedikit gugup menyelimuti Arfan ketika pintu dibuka oleh seorang pelayan yang bertugas melayani mereka.


"Silakan...," Pelayan itu mempersilakan keduanya untuk masuk.


Di dalam ruangan itu belum ada siapapun, sepertinya Pak Mahendra sedikit terlambat. Mereka duduk berdampingan, Mentari merasakan jiwanya telah kembali. Bertemu dengan Arfan sama saja seperti hidupnya kembali sempurna.


Pintu kembali terbuka, Arfan dan Mentari menoleh ke arah pintu karena mereka duduk membelakangi pintu.


"Ayah...," ucap Mentari yang terkejut melihat kedatangan Ayahnya, namun tidak untuk Arfan yang memang sudah diberitahu oleh Pak Mahendra sebelumnya, hanya saja dia merasa sedikit gugup saat melihat wajah Pak Mahendra yang tersenyum ke arahnya.