My Old Star

My Old Star
#75 Terancam Jatuh



Arman berpisah dengan Siska, dia memandangi punggung gadis yang sangat dia sayangi saat ini terus menjauh dari pandangannya. Dia sangat mengandalkan Siska kali ini.


"Maafkan aku Sis, aku harus melibatkanmu dalam masalah ini," ucap Arman sebelum pergi meninggalkan kampus Siska, dia harus segera kembali ke perusahaan untuk bekerja seperti biasa.


Siska sampai di kelas kemudian duduk di sebelah Mentari, "Bagaimana Sis, kalian baik-baik saja kan?"


"Putus!" jawab Siska asal.


"Mana bisa begitu Sis, apa kak Arman tidak berusaha mempertahankan kamu Sis, jahat sekali dia. Aku tidak menyangka kak Arman sepengecut itu!" Mentari bersedekap kesal.


Siska malah tertawa mendengarkan kekesalan Mentari, "Kok kamu malah tertawa sih Sis, apa kamu nggak ada sedih-sedihnya gitu Sis?"


"Aku nggak sedih sama sekali lah, untuk apa mempertahankan laki-laki yang pada akhirnya akan menyakiti kita nanti, lebih baik sampai di sini saja dan itu sudah cukup sebelum aku terlanjur mencintainya terlalu dalam!"


"Oh Siska sayang, kenapa nasib kamu seperti ini." Mentari memeluk lengan Siska karena ikut merasakan kesedihan sahabatnya yang malah tidak sedih sama sekali, Siska tampak biasa saja tetapi Mentari sama sekali tidak menaruh curiga kepada Siska, dia berpikir jika sahabatnya itu sangat kuat jadi tidak ingin memperlihatkan air mata di depannya.


Mentari dan Siska mengikuti mata kuliah hari ini hingga selesai, mereka dijemput oleh Arfan setelah menunggu agak lama karena Arfan baru selesai memberikan mata kuliah kepada para mahasiswanya.


"Maafkan aku sedikit terlambat, tadi ada mahasiswa yang konsultasi terkait tugasnya jadi aku layani dia dulu." Ucap Arfan sembari membukakan pintu mobil untuk Mentari.


"Tidak masalah kak, kita juga belum lama keluar dari kelas kok kak!"


Arfan membawa keduanya ke butik dimana nenek Wijaya memesan baju pernikahan untuk mereka berdua. Mentari sengaja mengajak Siska ikut bersamanya agar dia tidak terlalu sedih karena baru saja putus dari Arman.


"Bagaimana Sis, bagus tidak?" Tanya Mentari setelah memakai gaunnya.


"Wah bagus banget Tari, kamu jadi terlihat tambah cantik." Siska memuji Mentari yang terlihat sangat anggun memakai baju pengantinnya.


Arfan juga terlihat tidak kalah mempesona, kontur wajahnya yang tegas menambah ketampanannya di balik usianya yang sudah berkepala tiga namun sama sekali Arfan tidak terlihat tua.


"Kami pilih yang ini saja mbak!" Arfan menjatuhkan pilihannya pada baju yang tadi dicobanya setelah bersepakat dengan Mentari.


Selesai viting baju mereka kembali pulang ke rumah. Arfan mengantarkan Mentari ke rumah bersama Siska, untuk beberapa hari ke depan Siska akan menemani Mentari di rumahnya sebab setelah menikah mereka pasti akan jarang bisa melakukan banyak hal berdua.


Arfan sengaja tidak langsung pulang ke rumah nenek setelah mengantarkan Mentari, dia akan mampir dulu ke club untuk bertemu dengan Tomi.


"Tom bagaimana anak-anak?"


"Mereka berlatih dengan baik Fan, jangan khawatirkan mereka karena mereka baik-baik saja."


"Aku mengandalkanmu Tom, eh ya Stev mana?"


"Dia ada di kamarnya Fan, dia sangat kesepian setelah Mentari tidak tinggal di sini lagi."


"Kasihan sekali anak itu Tom, aku pasti akan membawa Mentari kembali lagi ke sini tentunya dengan status yang berbeda."


"Stev pasti akan bahagia mendengar hal ini Fan. Dia juga sudah membatasi dirinya dari Zaki sejak kejadian tempo hari."


"Sebaiknya kalian harus cepat mengatur waktu untuk berbicara, jangan sampai Stev kena mental karena akan mempengaruhi perkembangannya Tom."


"Aku akan segera berbicara pada Sania, aku juga tidak mau terjadi sesuatu pada Stev karena masa lalu orangtuanya yang tidak baik."


Selesai berbicara dengan Tomi, Arfan pamit untuk pulang setelah sebentar mengecek anak-anak. Dia juga menyempatkan menemui Steven dan Sania. Tidak lupa Arfan menemui ibu Ilyas sekaligus meminta restu kepada ibu Ilyas dan meminta do'a semoga acaranya lancar tanpa halangan suatu apapun.


"Ibu merestui kalian nak, ibu turut berbahagia atas pernikahan kalian berdua!"


Arfan mengucapkan terimakasih atas do'a restu dari ibu Ilyas, dia juga mengundang mereka semua agar bisa datang ke acara pernikahannya yang akan di gelar lusa.


"Fan dari mana saja kamu, nenek menunggumu dari siang."


"Kenapa nenek tidak menelfon saja?"


"Nenek tidak bisa berbicara di telfon karena ini sangat penting Fan."


"Sebenarnya ada apa nek?"


Nenek Wijaya membawa Arfan ke ruang kerjanya, "Fan ada masalah dengan perusahaan, saat ini perusahaan kita terancam jatuh jika tidak segera diselamatkan." Nenek Wijaya terlihat sedih saat mengucapkan kalimat itu.


Arfan masih terdiam, dia memilih untuk menyimak apa yang disampaikan oleh nenek.


"Bagaimana dengan paman Faisal nek, apakah dia tidak bisa mengatasi hal ini?"


"Paman Faisal sudah berusaha sebaik yang dia bisa, tapi sepertinya dia butuh kamu Fan kali ini."


"Apa yang bisa aku lakukan nek, apa aku bisa sedangkan pernikahanku lusa harus di gelar."


"Besok pergilah ke perusahaan Fan!"


Arfan melihat sebuah harapan yang sangat besar dari mata neneknya, suara perempuan sepuh itu sedikit bergetar sepertinya sangat besar beban yang harus ditanggungnya kali ini.


Arfan tidak mungkin membiarkan neneknya bersedih hati, sedangkan segala yang Arfan butuhkan sejak kecil neneknya lah yang memenuhinya. Arfan tidak mungkin membiarkan perusahaan yang sudah nenek bangun dengan susah payah bersama mendiang kakek hancur begitu saja.


"Aku akan pergi ke perusahaan besok nek!" ucapan Arfan sedikit membuat neneknya merasa lega.


Arfan juga merasa curiga dengan Arman, mungkin saja kekacauan yang terjadi karena ulah Arman dan Mona. Jika benar Arman berkhianat, tentu dia akan sangat menyesal karena sudah membawa Arman masuk ke perusahaan neneknya. Paman Faisal juga tidak mau memecat Arman dengan alasan kinerja Arman yang sangat bagus.


"Maafkan nenek harus melibatkanmu Fan, seharusnya kamu mempersiapkan diri untuk pernikahanmu tapi kamu harus memikirkan hal lain juga."


"Nenek tidak usah khawatir karena ini juga menjadi tanggungjawabku sebagai cucu nenek. Nenek sudah melakukan banyak hal untukku selama ini jadi tidak mungkin kalau aku membiarkan nenek bersedih."


Nenek Wijaya memeluk cucunya, "Terimakasih Fan!"


Arfan menghubungi Mentari dan memberitahu gadis itu jika besok dia tidak bisa mengantar jemputnya ke kampus, Mentari bisa memahami alasan Arfan dan mempersilakan orang yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu untuk menyelesaikan urusannya.


"Kak Arfan tidak perlu mencemaskanku karena aku akan baik-baik saja, lagi pula ada Siska yang menemaniku kak!"


Mereka mengakhiri pembicaraan melalui sambungan telfonnya, Mentari berusaha memejamkan matanya namun tidak bisa. Ada sebuah hal yang seolah menganggu hati dan pikirannya hanya saja dia tidak tahu perasaan apa yang sedang dia rasakan.


Pagi-pagi sekali Arfan telah bersiap untuk pergi ke perusahaan, "Paman aku datang!" ucapnya ketika memasuki ruangan paman Faisal.


Paman Faisal menyambut kedatangan Arfan dengan bahagia, "Maafkan paman Fan karena harus melibatkanmu, musuh kita kali ini benar-benar susah untuk di tebak!"


"Apa ini ada hubungannya dengan Arman?" Tebak Arfan.


"Dia hanyalah umpan Fan, dia ada di pihak kita!"


"Apa ini kerjaan Mona?"


"Siapa lagi kalau bukan dia Fan, paman sengaja menyuruh Arman untuk mengikuti permainan Mona meskipun paman harus sedikit menyulitkannya."


Arfan kini bisa memahami sikap Arman beberapa hari terakhir ini, dia yang sempat Arfan curigai ternyata sedang mengemban misi besar untuk menyelematkan perusahaan neneknya. Tapi kali ini Arfan belum bisa menemui Arman, dia harus fokus pada hal yang harus dia lakukan segera karena sudah tidak ada waktu lagi kali ini.