My Old Star

My Old Star
#25 Kucing Cantik



Mentari sampai di depan rumah sakit, dia turun dari mobil Arfan dan masuk ke dalam rumah sakit. Sebelum Mentari masuk Arfan berpesan jika malam nanti dia akan menjemputnya, nyatanya Arfan tidak pergi dari tempat itu hanya saja dia sedikit menjauh untuk menghindari kontak langsung dengan Bu Kartika. Saat ini fokus Arfan adalah Mentari, dia tidak mau menyakiti gadis itu lagi.


Mentari bertemu dengan Ibu dan Ilyas yang sedang menunggu hasil pemeriksaan di kursi tunggu pasien.


"Gadis bandel kenapa baru kesini, kasihan Ilyas dari kemarin dia sendirian menjaga Ibunya." Bu Kartika menyongsong Mentari untuk duduk di sebelah Ilyas.


"Aku sedikit sibuk Bu," jawab Mentari.


"Sibuk dengan pria tua itu kan? Berapa kali harus Ibu bilang kepadamu Mentari!"


Mentari tidak menanggapi omelan Bu Kartika karena akan semakin memperkeruh keadaan jika terus diperpanjang, dia tersenyum kepada Ilyas, "Bagaimana kondisi Ibumu Yas?"


"Aku tidak tahu, aku masih menunggu hasil pemeriksaan Ayahmu." Jawab Ilyas dengan nada getir.


"Kamu harus yakin jika Ibumu akan baik-baik saja Yas,"


Bu Kartika tersenyum melihat keakraban Mentari dan Ilyas, tentu saja mereka akrab karena sudah sering bekerjasama dalam beberapa proyek penelitian. Harapan Bu Kartika mereka bisa semakin dekat dan menjalin hubungan yang lebih serius.


"Yas apakah kamu sudah makan?" tanya Mentari yang dijawab dengan gelengan oleh Ilyas.


"Sudah jam berapa ini kenapa tidak makan? Kamu juga harus sehat supaya kuat untuk menjaga Ibumu Yas," Mentari menggenggam kedua tangan Ilyas sebagai seorang sahabat.


Bu Kartika mengabadikan momen ini secara diam-diam dengan kamera ponselnya.


"Kau ajaklah dia makan dulu Mentari, biar Ibu yang berjaga disini!"


"Ayo Yas aku antarkan kamu ke kantin!" Mentari menarik tangan Ilyas agar pemuda itu bangkit dari duduknya.


Ketika Ilyas dan Mentari sedang di kantin, ternyata Arfan juga berada disana. Arfan mengamati interaksi keduanya dari jarak yang tidak terlalu jauh.


"Mentari apakah kau masih ingat dengan permintaanku tempo hari?" Ilyas berkata disela-sela dia menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Permintaan yang mana Yas?"


"Kau mungkin sudah lupa, sudahlah lupakan saja jika kau memang tidak ingat apapun!" Ilyas pura-pura merajuk melihat ekpresi Mentari yang malah bingung dengan perkataannya barusan, menandakan jika gadis itu tidak pernah memikirkan apa yang dia katakan sekalipun.


Mentari merasa bersalah karena memang dia tidak mengingat apapun yang pernah Ilyas minta kepadanya, "Bolehkah kau ulangi lagi Yas?"


"Sudahlah jika memang itu tidak penting bagimu!"


"Ku mohon jangan begini Yas, aku tidak mau kamu tambah bersedih."


"Mentari maukah kau menerimaku?"


"Maksud kamu Yas?"


"Kamu tahu kan Ibuku sekarang kondisinya sedang tidak baik, jika sesuatu terjadi padanya maka aku akan hidup sendirian di dunia ini!"


"Aku harap kamu mau menjalani kehidupan ini bersamaku," pinta Ilyas dengan sendu.


Mentari tampak berpikir ada rasa iba terhadap Ilyas, tetapi dia tidak mungkin memenuhi permintaan Ilyas kepadanya. Dia tidak pernah menganggap Ilyas lebih selain sebagai sahabat dan rekan. Mentari menggigit bibir bawahnya, ragu untuk memberikan jawaban.


"Mentari aku mohon!" Ilyas mengapitkan kedua tangan di depan dadanya, memohon dengan sangat Mentari bisa mengabulkan keinginannya, namun tidak mudah bagi Mentari untuk menerima Ilyas, ditambah dia tidak mencintai Ilyas sama sekali.


"Eheemmmm...," suara deheman Arfan membuat Mentari menoleh ke sumber suara.


"Kak Arfan...," Mentari bangkit dari duduknya.


"Bukankah kalian menemani orang sakit, kenapa malah duduk santai disini?"


"Jangan salah paham dulu Kak, Ilyas ini kasihan sekali Ibunya sedang sakit dan dia tidak memiliki keluarga lain, jika Ibunya tiada Ilyas akan sendirian, aku hanya bermaksud menghiburnya saja Kak!" Mentari menjelaskan karena wajah Arfan tampak sudah tidak bersahabat, ada goresan kemarahan yang sepertinya sedang dia tahan.


"Oh benarkah, kasihan sekali kamu Ilyas pasti kamu akan kesepian jika itu terjadi!"


"Aku tidak akan kesepian selama ada Mentari di sisiku!"


Mentari memberikan isyarat penolakan bahwa semua itu tidak benar dengan kedua tangannya yang dia goyang ke kiri dan ke kanan di depan dadanya seperti seseorang yang sedang mengucapkan salam perpisahan.


"Mentari apa kau tahu Ayah dan Ibuku juga sudah tidak ada bahkan semenjak aku masih kecil, aku tidak paham bagaimana rupa mereka berdua, bukankah aku juga sangat kasihan?" Arfan memasang wajah menyedihkan.


"Tentu saja kau yang lebih kasihan, pasti sejak kecil kau sangat merindukan mereka."


"Iya Mentari, jadi maukah kau menemaniku dalam kehidupan ini?"


Mentari tersenyum dan tanpa ragu menjawab, "Tentu saja aku mau Kak!"


"Bagus!"


"Ta...tapi bagaimana dengan Ilyas dan Ibuku Kak?"


"Kau tenanglah, Ilyas sudah besar. Ibumu sudah pergi dari tadi meninggalkan rumah sakit ini!"


"Dari mana kau tahu Kak?"


"Itu rahasia," Arfan nyengir kuda.


"Kalau begitu ayo Kak!"


"Mentari kau tega meninggalkanku?"


"Besok aku janji akan datang kesini lagi Yas, semoga Ibumu baik-baik saja ya, aku pergi dulu dan jika ada apa-apa langsung saja kabari aku!"


Mentari dan Arfan meninggalkan Ilyas di kantin, sebelum pergi Arfan membayar makanan yang tadi di pesan oleh Ilyas. Arfan tidak mau jika dia dianggap sebagai orang yang tidak memiliki perasaan.


Ilyas merasa makanan yang sedang dia nikmati berubah menjadi begitu hambar padahal sebelumnya rasanya begitu nikmat, harapannya telah membumbung jauh untuk bisa bersama Mentari tapi nyatanya dia dikalahkan oleh seorang lelaki yang dianggap tua oleh Ibu Mentari.


Arfan dan Mentari kini sudah sampai di parkiran rumah sakit, Mentari melihat mobil Ibunya masih terparkir disana.


"Kak bukankah ini mobil Ibuku?"


"Bukankah Kakak tadi bilang jika Ibu sudah meninggalkan rumah sakit ini?"


Arfan tersenyum, "Aku tadi membohongimu!"


"Apa?!"


"Kau jahat sekali Kak?" Mentari memukul lengan Arfan pelan sambil tersenyum karena kelakuan Arfan yang ternyata selalu mengawasinya.


"Bagaimana kau mau ikut aku pergi atau mau masuk kembali?"


"Bukankah kita sedang main kucing-kucingan?"


"Ah ya baiklah, kucing kecil."


"Sekarang masuklah kembali tapi ingat jadilah kucing cantik yang cerdas!" pesan Arfan kepada Mentari yang sudah barang tentu memahami apa yang Arfan maksudkan.


Arfan meninggalkan Mentari yang berjalan menjauh ke dalam, dia mengatakan kepada Mentari jika akan bertemu dengan teman lama malam ini jadi kemungkinan dia tidak bisa mengantarkan Mentari ke asrama, sementara itu Ilyas baru saja kembali dari kantin. Bu Kartika melihat Ilyas berjalan sendirian mendekatinya.


"Dimana Mentari Yas, kenapa kamu sendirian?"


"Tadi Mentari pergi ke...," Ilyas belum menyelesaikan ucapannya namun Mentari sudah berada di belakang Ilyas.


"Aku dari toilet Bu,"


"Maaf ya Yas, kamu pasti lama menunggu ya?" Mentari mulai memainkan perannya di depan Ibu.


"Ya sudah sana kamu masuk lihat Ibumu Yas, tadi dokter sudah selesai memeriksa kondisinya!"


Ilyas masuk ke ruangan dimana Ibunya tengah berbaring lemah, Mentari menunggu di luar bersama Ibunya yang tampak memandangnya dengan tatapan berbeda.


"Mentari...sudah berapa kali Ibu bilang jangan dekat-dekat dengan pria itu lagi, kalian itu terlalu berbeda!"


"Bu bukankah aku lahir dari sebuah perbedaan antara Ibu dan Ayah?"


"Kau ini sungguh tidak pernah mengerti maksud Ibu!"


"Sudahlah Bu, kita bahas nanti saja ya?" Mentari bergelayut manja di lengan Ibunya, dia tahu Ibunya tengah marah kepadanya tapi sebagai seorang anak dia tidak mau terlalu melawan.


Arfan berniat menemui Arman yang mengajaknya bertemu malam ini di sebuah restoran untuk makan malam bersama. Arfan sampai terlebih dahulu, dia mengambil tempat duduk paling pojok sambil menikmati kopi yang tadi dipesannya. Tidak disangka, Mona juga sedang berada di tempat itu bersama teman-temannya.


Mona melihat Arfan sedang duduk sendirian lalu mendekatinya, "Hai Fan, kau disini juga rupanya?"


"Iya Mon, sedang apa kau disini?"


"Aku tadi melihatmu jadi sengaja ingin bertemu denganmu!"


"Aku sedang tidak ingin diganggu Mon, sebaiknya kau pergilah!"


Mona yang memang tidak tahu malu malah duduk diseberang menghadap Arfan dengan berani dia menggenggam tangan Arfan yang ada di depannya.


"Lepaskan tanganku Mona!"