My Old Star

My Old Star
#127 Penculikan Ibu



Arfan dan timnya hari ini melakukan perjalanan untuk kembali ke club, Arfan megendarai mobilnya sendiri bersama Mentari, Arman dan Siska sedangkan Tomi naik bus bersama anak-anak.


Mereka melakukan perjalanan dengan riang gembira karena berhasil pulang membawa kemenangan.


Tomi menghubungi Sania jika dirinya sedang dalam perjalanan pulang.


"Aku sudah dalam perjalanan pulang Sa, apa kabar kamu dan Stev?" Tanya Tomi melalui sambungan telefon di tengah-tengah perjalanan mereka.


"Aku dan Stev baik-baik saja, selama kalian tidak ada aku berusaha menjaga Ibu dan Stev dengan baik. Pengawal keluarga Wijaya juga ditempatkan di sekeliling club oleh Arfan secara bergantian Tom."


"Baguslah kalau begitu, mendengarnya aku lega. Tapi kalian harus tetap berhati-hati Sa."


"Iya Tom jangan khawatirkan kami, kalian juga hati-hati di dalam perjalanan. Aku merindukanmu Tom."


"Aku juga Sa, tunggu aku kembali."


Sambungan telfonpun ditutup, Tomi kembali fokus dengan anak-anak. Dia bertanggungjawab penuh terhadap keselamatan tim karena mereka akan bertanding ke tingkat Asia tidak lama lagi.


Arfan berkendara di depan rombongan timnya, dia berharap sore nanti sudah bisa tiba di club karena mereka sangat tidak sabar bertemu dengan Steven dan yang lainnya di club.


"Kak apakah sore ini kita bisa sampai di club?"


"Jika perjalanan lancar maka kemungkinan besar kita akan sampai di club sebelum malam."


"Kalau begitu baiklah."


"Kalian tidurlah dulu karena perjalanan kita masih panjang!" perintah Arfan kepada Mentari dan Siska yang dipatuhi oleh keduanya.


Sekitar pukul empat sore mereka memasuki gerbang Kota Z, perjalanan kali ini cukup lancar sehingga mereka hanya tinggal membutuhkan waktu lagi sekitar satu jam untuk sampai di club.


Di saat bersamaan, ada telfon masuk dari Tomi ke ponsel Arfan.


Arfan memakai handsfree terlebih dahulu sebelum mengangkat panggilan dari Tomi mengingat dia sedang mengemudi dan membawa banyak orang yang perlu dipertimbangkan juga keselamatan mereka.


"Hallo... Ada apa Tom?" Tanya Arfan begitu dia mengkat panggilan itu.


"Gawat Fan, ada hal buruk yang terjadi di club baru saja Sania menelfon."


"Katakan Tom!"


Arman yang mendengar pembicaraan Arfan dan Tomi ikut merasa khawatir.


"Ibu diculik Fan!"


"Kalau begitu aku akan duluan Tom, kamu tetap tenanglah bersama anak-anak!"


Arfan menutup panggilan mereka, kemudian menambah laju kendaraan yang dikemudikannya agar cepat sampai di club.


Mentari yang sedang tertidur pada akhirnya merasa terusik karena laju kendaraan sangat kencang.


"Kak ada apa sebenarnya, kenapa kendaraan ini sangat kencang?"


"Kalian tenanglah, akan kami ceritakan nanti. Tapi yang jelas kita harus sampai di club secepatnya." Jawab Arman membantu Arfan menjawab pertanyaan istrinya karena sedang berkonsentrasi mengemudi.


Perasaan Mentari menjadi tidak enak, "Apa yang sebenarnya terjadi dengan club?"


Mentari terdiam, dia hanya bisa berdo'a semoga club dan penghuninya baik-baik saja.


Perjalanan Arfan dan yang lainnya hanya ditempuh dalam waktu setengah jam padahal dalam kondisi normal seharusnya akan memakan waktu satu jam agar bisa sampai di club.


Arfan bergegas turun dari dalam mobil, disusul oleh Arman dan yang lainnya. Mereka memasuki club dengan hati was-was.


Sania sedang menangis sambil berpelukan dengan Steven. Kondisi club acak-acakan dengan noda darah berceceran di beberapa tempat.


Arfan mengambil Alih Steven dan memeluk Sania, "Apakah kalian tidak apa-apa?" Tanya Arfan memastikan kondisi keduanya. Steven gemetar dan pucat pasi karena ketakutan.


"Sebenarnya apa yang terjadi Sa?"


Sania sesenggukan, "Aku tidak tahu Fan, tidak lama setelah telefonku dan Tomi ditutup tiba-tiba ada suara tembakan di luar. Pengawal keluargamu beberapa ada yang berhasil dilumpuhkan oleh komplotan berpakaian hitam."


"Lalu bagaimana kalian bisa selamat?"


"Aku memang sedang bersama Stev, sehingga aku langsung membawa lari Stev untuk bersembunyi di kamarmu Fan. Mereka tidak berhasil menemukan kami, sampai akhirnya pengawal-pengawal keluargamu yang lain berdatangan dan berhasil memukul mundur mereka. Tapi Ibu Fan...," Sania kembali menangis.


"Ada apa dengan Ibu, katakan kepadaku Sa?"


"Ibu yang sedang berada di dapur tidak berhasil menyelamatkan diri, persembunyiaannya diketahui oleh mereka dan Ibu ikut dibawa pergi bersama mereka."


"Lalu sekarang dimana pengawal-pengawal keluargaku?"


"Mereka sedang membawa rekannya yang terluka ke rumah sakit, sebagian ada yang masih mengejar komplotan itu. Ada juga yang sedang melaporkan kejadian ini ke kantor polisi. Mereka berbagi tugas dan meninggalkanku dan Stev karena mengira kami sudah berhasil melarikan diri."


"Kak Sania sekarang tenang ya, kita pikirkan bagaimana caranya bisa menyelamatkan Ibu." Mentari angkat bicara untuk menenangkan Sania.


"Iya Mentari, aku dan Stev sangat takut."


Tidak lama kemudian, Tomi dan anak-anak sampai di club. Sania menceritakan apa yang dialaminya kepada Tomi.


"Tom sekarang bawa istri dan anakmu untuk beristirahat, kita bicarakan nanti setelah semuanya tenang!" perintah Arfan kepada Tomi yang langsung disetujui oleh Manager club itu.


"Mentari sayang, kamu juga bawa Siska untuk beristirahat ya?"


Mentari membawa Siska ke kamar yang dulu dia gunakan sewaktu tinggal di club selama beberapa waktu.


Di tempat lain, Mona datang menemui orang-orangnya yang berhasil membawa Ibu Ilyas ke gedung tua yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya.


"Kau bukankah wanita yang sering bersama Ilyas sewaktu dia belum masuk ke dalam jeruji besi?" Tanya Ibu Ilyas begitu melihat Mona datang.


"Kau masih mengenaliku rupanya wanita tua?!!!"


"Apa mau kamu sebenarnya?"


"Lepaskan aku!"


"Jangan pernah berharap aku akan melepaskan kamu wanita tua!"


"Apa jangan-jangan kau yang membuat Ilyas harus menanggung semua kesalahanmu?"


Mona tertawa, "Kau ternyata baru menyadarinya wanita tua?"


"Lalu apa yang kamu inginkan dariku?"


"Aku hanya ingin anakmu tetap berada di tempatnya, dia sudah menghianatiku dengan menceritakan semuanya kepada Arfan, jadi kaulah yang akan menjadi ganti dari barang bukti yang Ilyas miliki."


"Maksudmu kau akan menggunakanku untuk memperalat mereka?"


Mona tertawa devil, "Kau mengetahui tujuanku rupanya wanita tua!"


"Kamu ini benar-benar wanita yang tidak memiliki hati nurani!"


"Aku hanya ingin mencapai tujuanku, hatiku sudah lama mati jadi tidak ada gunanya lagi!"


"Sebaiknya kamu bertobat Nak sebelum terlambat," suara Ibu Ilyas melembut, wanita itu justru kasihan melihat Mona. Dia yakin jika Mona sebenarnya anak yang baik tapi pola asuh yang kurang benar membuatnya seperti ini.


"Apa kamu bilang?"


"Bertobat?!!!" Mona tertawa setelah mendengar penuturan Ibu Ilyas.


"Jangan harap aku akan bertobat!"


"Tutup mulutnya agar wanita ini tidak terus berceloteh tidak jelas!" perintah Mona kepada anak buahnya.


Mona mengambil ponselnya dan menekan nomor Arfan.


"Hallo Arfan sayang?" Sapa Mona dari balik sambungan telfon setelah panggilannya dijawab oleh Arfan.


"Tante tidak perlu basa basi!"


"Eits... Jangan panggil aku Tante karena mulai saat ini aku bukan Tante kamu lagi, kita tidak memiliki hubungan darah."


"Jadi apakah kamu mau menerima tawaranku untuk menikah denganku?"


"Jangan berbicara yang tidak penting, katakan apa tujuanmu menghubungiku?"


"Baiklah sepertinya aku tidak perlu berbasa-basi lagi."


"Kau pasti sudah sampai di club bukan?"


"Maafkan aku karena sedikit mengacaukan club kamu Arfan sayang."


"Jadi semua ini perbuatanmu Mona!" geram Arfan yang membuat yang lainnya penasaran.


Mona tertawa menjengkelkan, "Tentu saja itu perbuatanku, siapa lagi coba kalau bukan aku."


"Lalu apa mau kamu hah?!!"


"Cepat lepaskan Ibu!"


"Ada syaratnya Fan!"


"Katakan apa syaratnya!"


"Berikan Mentari kepadaku Fan!"


"Apa?!!!"


"Jangan harap kamu bisa menyentuh Mentari!"


"Kalau begitu aku juga tidak akan menyerahkan Ibu Ilyas kepadamu!"


"Pikirkan sekali lagi Fan, aku hanya ingin membuka laboratorium itu. Jadi aku membutuhkan Mentari untuk melakukannya!"


Arfan teringat perkataan Ilyas waktu itu yang menyampaikan bahwa hanya dia dan Mentari saja yang bisa masuk ke dalam laboratorium penelitian mereka, sedangkan barang bukti yang bisa memberatkan tuduhan atas kejahatan yang Mona lakukan ada di dalam laboratorium itu.


"Kenapa kamu diam Fan, Bagaimana apakah kau setuju?"


"Aku akan memikirkannya, jangan sakiti Ibu Ilyas kalau sampai lecet sedikit saja maka aku akan membuat perhitungan denganmu!"


"Baiklah aku akan menunggunya Arfan sayang."


Mona menutup pembicaraan keduanya, Arfan berpikir bagaimana caranya bisa menyelamatkan Ibu Ilyas tanpa harus menukarnya dengan Mentari. Dia juga harus menyelamatkan barang bukti itu agar bisa memberikan hukuman yang setimpal kepada Mona.


"Kak aku bersedia bertukar tempat dengan Ibu!"