My Old Star

My Old Star
#68 Ikatan Batin



Paman Faisal akhirnya paham setelah dijelaskan oleh Arfan tentang siapa sebenarnya Mona dan bagaimana ambisinya.


"Paman tidak perlu dengarkan wanita itu, selama nenek maupun aku tidak mengatakan apapun maka tidak ada yang bisa menggeser posisi paman dari Wijaya Corporation!"


"Paman mengerti Fan, maafkan paman yang sempat meragukan nenekmu."


"Kami sangat menyayangi paman dan kami tidak mungkin melupakan semua budi baik paman untuk keluargaku hingga aku bisa menjadi seperti ini."


"Paman juga sangat menyayangi kalian, andai saja ayahmu masih ada. Pasti dia akan sangat bangga memilik anak seperti kamu Fan." Paman Faisal menepuk pundak Arfan, bayi kecil yang dulu diasuhnya kini sudah dewasa.


"Ayo paman kita kembali bersama mereka, disini dingin!" Arfan mengajak paman Faisal bergabung kembali dengan yang lainnya.


Mereka masih bernyanyi bersama sambil menikmati api unggun. Suasana langit yang cerah bertaburkan bintang menambah kesyahduan kebersamaan mereka malam ini.


Di club, Sania masih membujuk Steven agar mau membukakan pintu kamarnya. Steven belum makan malam sehingga membuat Sania sangat khawatir dengan putranya. Tomi juga belum pulang dari mengantarkan anak-anak bertanding. Dia hanya ditemani oleh ibu Ilyas saja di club malam ini.


"Non kalau Steven belum mau ke luar, biarkan saja dulu. Non makan malam dulu, ibu sudah siapkan makan malam untuk non, nanti baru bujuk kembali Stevennya non." Ibu Ilyas memberikan saran kepada Sania karena tidak mau melihat Sania sakit ditambah sejak sore tadi Sania terus menangis di depan kamar Steven.


"Aku tidak lapar bu, aku masih mau membujuk Stev disini bu."


"Begini saja, non Sania sekarang makan malam dulu. Biar ibu coba membujuk Stev, siapa tahu dia mau ke luar dari kamarnya."


"Nanti merepotkan ibu,"


"Tidak non, Steven sudah seperti cucuku sendiri. Sana pergilah makan malam dulu, ibu coba bujuk Stev dulu."


Sania pergi ke dapur untuk mengambil makan malam, dia memang tidak nafsu makan tapi demi menghormati ibu Ilyas yang sudah memasak untuknya, Sania mencoba sekuat tenaga untuk bisa menelan makanan yang ada di depannya.


"Stev ini nenek sayang, bukain pintunya ya sayang nenek mau masuk!"


"Tidak mau nek, kalau ada mama aku tidak mau membuka pintu kamar ini sampai kapanpun nek!" Steven memberikan penolakannya.


"Stev percaya sama nenek, disini nggak ada mama. Sekarang mama sedang pergi sebentar jadi nenek disuruh jagain Stev di dalam."


Steven mendekat ke arah pintu, mengintip dari lubang pintu untuk memastikan jika memang benar neneknya tidak bersama mama.


Steven perlahan membukakan pintu untuk nenek, "Boleh nenek masuk sayang?"


Steven mengangguk, "Stev apakah kamu lapar sayang?" Ibu Ilyas akan membujuk Steven agar mau makan lebih dulu.


"Aku lapar nek, tapi aku tidak mau bertemu mama!"


"Kalau begitu Stev tunggu di sini dulu ya, nenek akan ambilkan makan untuk Stev nanti nenek yang akan suapi Stev makan bagaimana?"


Steven lagi-lagi hanya mengangguk, ibu Ilyas kemudian pergi ke dapur untuk mengambilkan makanan untuk Steven. Ibu Ilyas juga berpesan pada Sania jika saat ini sebaiknya jangan menemui Steven dulu, biarkan dia tenang dan hilang kemarahannya kepada Sania agar jangan sampai Steven membenci ibunya sendiri.


Sania hanya bisa pasrah, yang terpenting saat ini Steven mau makan dan Sania akan menunggu sampai Steven mau berbicara dengan dirinya lagi.


"Terimakasih bu, aku titip Steven sama ibu dulu ya."


"Kamu tenanglah, serahkan saja pada ibu."


Ibu Ilyas kembali ke kamar Steven untuk menyuapi Steven sembari menceritakan sebuah kisah kepada anak itu hingga pada akhirnya Steven terlelap dalam kondisi sudah kenyang.


Pagi ini, Arfan dan yang lainnya siap untuk bermain banana boats. Mentari sudah duduk di atas banana boats bersama Arfan begitu pula dengan Arman dan Siska. Sedangkan paman Faisal memilih untuk menunggu mereka di pinggir pantai sambil menikmati pemandangan yang indah ditambah langit cerah sehingga suasananya membawa ketenangan batin tersendiri bagi paman Faisal.


Puas bermain mereka pergi berbelanja beberapa barang yang akan mereka bawa pulang sebagai oleh-oleh untuk anak-anak di club.


Mentari menemukan satu stel baju yang lucu untuk Steven, "Kak apakah ini bagus?"


Arfan hanya mengangguk dan membiarkan Mentari mengambil barang itu untuk Steven.


Mereka berdua banyak sekali membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang.


Arman sengaja mengajak Siska pergi secara terpisah dari Mentari dan Arfan.


Arman membawa Siska ke atas gedung untuk melihat pemandangan kota yang menakjubkan dari atas gedung.


"Kamu sangat cantik Siska!" pernyataan Arman berhasil membuat jantung Siska menjadi berdebar seketika.


"Ma-maksud kakak?"


"Aku mau melihatmu setiap hari Sis, apakah boleh seorang pria tua sepertiku mencintai gadis muda sepertimu?" Arman mencoba mengungkapkan perasaannya.


"Aku juga bukan seorang laki-laki yang mapan seperti pria lain di luaran sana yang sudah memiliki banyak aset di umurku yang sekarang, aku bahkan tidak yakin kamu mau menerimaku menjadi bagian dari hidupmu Sis."


"Kak...,"


"Aku mencintaimu Sis, sejak aku bertemu denganmu untuk pertama kalinya."


Siska tersenyum, jantungnya berdebar begitu kencang. Dia tidak pernah menyangka jika cintanya ternyata tidak bertepuk sebelah tangan.


"Ka-kakak serius?"


"Apa kamu meragukan keseriusanku Sis?"


Siska menggeleng, "Lalu?" Tanya Arman.


"Aku juga mencintaimu kak!"


"Benarkah?" Arman tertawa puas, dia memakaikan sebuah cincin di jari manis Siska sebagai tanda dia sudah mengikat gadis itu.


"Tunggu aku Sis sampai aku bisa membawamu ke pelaminan!" Arman mencium tangan Siska kemudian memeluk gadis itu dengan sangat bahagia.


Arfan dan Mentari tiba-tiba muncul dengan bertepuk tangan menyambut hari jadi mereka, Arman dan Siska yang tidak menyangka mereka akan ketahuan melepaskan pelukan mereka dan terlihat salah tingkah. Mentari mengucapkan selamat kepada Siska.


"Duh akhirnya di tembak juga setelah sekian purnama."


"Selamat Siska sayang!" Mentari memeluk sahabatnya, ada rasa bahagia dan haru diantara mereka.


Sore ini mereka akan bersiap untuk pulang ke kota Z karena liburan singkat mereka kali ini telah usai dan sudah saatnya bagi mereka untuk kembali pada rutinitas mereka esok hari.


Tomi yang baru mendengar cerita dari Sania sedikit meradang karena Zaki selalu saja seperti ingin merusak kebahagiaan mereka.


"Benar-benar tidak tahu diri!"


"Aku juga tidak tahu harus berbuat apa Tom, apakah aku harus jujur pada Steven ataukah--" Sania tidak melanjutkan kata-katanya.


"Kita harus berbicara pada Stev dulu, jangan sampai anak itu salah paham kepada kita. Aku khawatir jika dia juga sudah mendengar pembicaraan kalian berdua sehingga membuatnya tidak mau berbicara kepadamu Sa."


"Apa yang harus kita jelaskan padanya Tom?"


"Dia tidak mungkin mau mendengarkan kita karena Stev sudah terlanjur menyayangi Zaki."


"Ikatan batin memang tidak akan pernah bisa dibohongi Sa, bagaimana pun juga mereka memiliki ikatan kuat yang aku sendiri bahkan tidak memilikinya sehingga rasa sayang Steven pada Zaki lebih besar dari sekedar teman."


"Kau benar Tom, ayo kita pergi ke kamar Steven sekarang!"


Sania dan Tomi mengetuk pintu kamar Steven beberapa kali, namun tidak mendapatkan jawaban dari anak itu.


Tomi mencoba membuka handle pintu, "Bisa Sa, ayo kita masuk!"


Mereka berdua bisa masuk ke kamar Steven, namun tidak bisa menemukan Stev di kamarnya. Sania sampai mencari Steven di kamar mandi tetapi tetap tidak menemukan anak itu.


Sania memeriksa lemari yang berisi baju-baju Steven dan juga lemari mainannya, semuanya masih utuh kecuali beberapa baju kesukaan Steven sudah tidak ada digantungan lemari pakaiannya. Sania juga memeriksa tas ransel milik Steven, ternyata yang tersisa hanyalah tas sekolah anak itu saja.


Sania berteriak histeris, "Aku tidak mau kehilangan Stev Tom," air mata Sania bercucuran sangat deras.


"Kamu harus tenang Sania, kita pasti akan segera menemukannya!" Tomi memeluk Sania yang tampak sangat hancur, ketakutannya selama ini nyata terjadi. Dia merasa telah kehilangan Steven.


"Kamu tunggu di sini, aku akan meminta tolong anak-anak untuk membantu mencari Stev!"


Tomi ke luar dari kamar Steven untuk meminta bantuan.