
Arfan dan Mentari menuju ke tukang servis yang Mentari tunjukkan, sedangkan Ayesh dan Hyorin membawa putri mereka ke taman bermain karena tujuan Ayesh cuti hari ini adalah untuk mengajak putrinya jalan-jalan.
Arfan sampai di tempat yang mereka tuju, "Maaf mas bolehkah saya bertanya?"
"Iya silakan mas, mau tanya apa?"
Arfan menyampaikan maksud kedatangannya ke toko itu, "Ponsel atas nama Ilyas sudah kami perbaiki, kami menghubungi Ilyas tetapi sudah lama sekali tidak mendapatkan respon, Ilyas sendiri juga sudah lama sekali tidak datang ke sini," Jelas tukang servis itu.
"Apakah kami boleh mengambilnya?" Mentari ikut nimbrung pembicaraan mereka.
Tukang servis teman Ilyas itu tampak sedikit ragu, "Tapi... Apakah kalian bisa aku percaya?"
"Mas sebenarnya ponsel yang Ilyas bawa kemari itu adalah ponselku, Ilyas juga sudah lama sekali tidak bisa aku temui, jadi aku berinisiatif datang ke sini sendiri."
"Apa benar seperti itu?"
"Kalau tidak percaya, boleh aku lihat ponsel itu, akan aku buktikan jika memang benar ponsel itu milikku mas?"
Tukang servis itu masuk mengambil ponsel yang Mentari minta dan menyerahkannya kepada gadis itu.
Mentari menerima ponsel itu dan membukanya, dia memperlihatkan beberapa foto dirinya, "Mas masih ingat nggak, aku waktu itu datang bersama Ilyas dan satu temanku lagi ke sini."
Tukang servis itu tampak berpikir, "Ini mas lihat saja, ini foto kami bertiga." Mentari memperlihatkan foto mereka saat datang ke tukang servis itu.
"Ah ya aku ingat sekarang, kamu memang pernah datang bersama Ilyas."
"Kalau begitu boleh bukan ponsel ini aku ambil, nanti biar aku yang bilang ke Ilyas ketika aku sudah bisa menghubunginya."
"Baiklah kalau begitu dari pada terlalu lama di sini," tukang servis itu menyerahkan ponselnya kepada Mentari.
Mentari membayar biaya servis dan pergi dari tempat itu.
"Kak apa kita langsung bawa saja ponsel ini ke pak Ayesh?"
"Kita bisa datang besok ke kantornya sayang, hari ini Ayesh sedang pergi jalan-jalan bersama istri dan putri kecilnya."
Mentari tersenyum membayangkan wajah Sherly yang menggemaskan, "Kamu kenapa Mentari, ingat wajah Ayesh yang tampan itu?"
"Ngaco kamu kak, mana mungkin aku teringat laki-laki lain kalau di sampingku saja sudah ada pangeran yang jelas-jelas mencintaiku sepenuh hatinya, jadi untuk apa aku harus mengingat pria lain apalagi pria beristri!" jawab Mentari kesal kepada Arfan yang sengaja memancingnya.
Mentari bersedekap dan menggembungkan pipinya, Arfan malah tertawa melihat tingkah lucu gadis kesayangannya itu. Tangan Arfan tidak tahan jika tidak mencubit pipi gembung Mentari.
"Aawwwww... sakit kak, tega bener!" protes Mentari sambil mengelus-elus pipinya.
"Salah sendiri menggemaskan!" jawab Arfan cuek dengan tetap fokus menyetir.
"Kebiasaan!" protes Mentari lagi dan Arfan hanya tersenyum datar menanggapinya.
Arfan membawa Mentari kembali ke club untuk mengecek ponsel yang sudah berhasil mereka bawa. Arfan sangat berharap ponsel itu bisa menampilkan rekaman kejadian di malam itu untuk membuktikan jika dirinya tidak bersalah.
Sepeninggal Arfan dan Mentari tadi dari rumahnya, Ayesh mengajak keluarga kecilnya ke taman bermain. Ayesh ingin menepati janjinya kepada Sherly yang minggu kemarin batal pergi bersama karena ada pekerjaan penting yang harus diurusnya.
Di sisi lain, Steven dan Zaki juga sedang berada di tempat yang sama dengan Ayesh. Steven sudah berganti pakaian sekarang, mereka tadi mampir ke toko baju anak-anak terlebih dahulu sebelum ke taman bermain agar Steven bisa menyimpan seragamnya dan dia bisa bebas bermain tanpa ragu seragamnya akan kotor.
Puas bermain, Steven berteduh di bawah sebuah pohon sambil memakan es krim kesukaannya.
"Apakah kau senang hari ini?" Tanya Zaki yang sangat bahagia bisa bermain dengan putranya hari ini.
"Aku sangat senang om, terimakasih ya om."
"Sama-sama Stev, om ingin kita bisa selalu bersama selamanya Stev." Zaki tanpa sadar mengungkapkan keinginannya.
"Maksud om?" Steven tidak paham maksud ucapan Zaki.
"Ma-maksud om, kita bersahabat selamanya Stev."
"Tentu saja aku mau om, janji ya om mau jadi sahabat Stev selamanya?" Steven mengacungkan jari kelingkingnya yang dibalas oleh Zaki dengan melakukan hal yang sama. Mereka saling menautkan jari kelingking tanda mengikat sebuah janji persahabatan.
"Ayo Stev kita pulang sudah sore, om khawatir mamamu akan marah jika kita bermain terlalu lama!"
Steven pun menyetujui ajakan Zaki, karena memang benar sudah saatnya dia pulang. Jika terlalu lama bermain bisa-bisa mamanya akan berubah seperti singa dan tidak mengizinkannya lagi bermain bersama om baik, Steven tahu tadi pagi mamanya tidak setuju dengan usul om baiknya yang mengajak dia bermain sepulang sekolah, tapi Steven juga memaksa mamanya agar dia diizinkan hanya saja dengan syarat yang tidak boleh dilanggar.
Baru beberapa langkah mereka hendak meninggalkan tempat berteduh tadi, Steven dikejutkan dengan suara anak kecil menangis tidak jauh dari tempatnya berdiri. Steven mengajak Zaki untuk menghampiri gadis kecil itu.
"Adik cantik kenapa menangis?" Ucap Steven ketika mendekati anak kecil itu.
"Aku terpisah dari ayah dan ibuku kak!" jawab anak itu sambil terus menangis.
"Bagaimana ini om, kasihan sekali dia." Steven bertanya kepada Zaki karena merasa iba dengan anak itu hanya saja dia tidak tahu harus berbuat apa.
"Coba tanyakan kepadanya dimana terakhir bersama ayah dan ibunya Stev."
"Di sana kak!" gadis kecil itu menunjuk tempatnya terpisah dengan orangtuanya.
"Kalau begitu ayo kita cari ayah dan ibumu!" Steven membantu anak itu berdiri dan menuntunnya menuju ke tempat yang dia maksud.
"Adik kecil kita tunggu di sini dulu ya, ayah dan ibumu mungkin saja akan mencarimu lagi ke sini."
Sekian lama mereka menunggu, tetapi orangtua anak itu belum juga ada tanda-tanda kemunculannya.
"Stev kau jaga adik kecil di sini dulu ya, jangan kemana-mana, om akan segera kembali!"
"Om mau ke mana?" Tanya Steven.
"Om akan ke bagian informasi, siapa tahu orangtua anak ini bisa mendengar pengumuman dari petugas."
Zaki meninggalkan mereka berdua, dia yakin jika Steven bisa menjaga anak itu dengan baik.
"Adik kecil siapa namamu?"
"Dari tadi kita belum berkenalan!"
"Aku Sherly kak,"
"Aku Steven, panggil saja kak Stev."
Sherly mengangguk dan tersenyum, Steven terus menghibur anak itu selama Zaki pergi, dia tidak mau Sherly katakutan dan menangis lagi. Steven mungkin belum memiliki seorang adik, hanya saja dia suka dengan anak kecil sehingga Sherly juga cepat menyukai Steven.
Di sisi area bermain yang lain, Ayesh dan Hyorin sedang berusaha mencari Sherly yang tiba-tiba terpisah dengan mereka saat Hyorin tinggal membeli jajan keinginan Sherly sedangkan saat itu Ayesh sedang pergi ke toilet, sungguh kejadian di luar dugaan yang tidak pernah mereka kira sebelumnya.
Sherly memang aktif dan sering penasaran dengan hal-hal yang baru sehingga ketika dia tertarik dengan sesuatu dia akan berusaha mencobanya. Hyorin terus menangis karena tidak tahu lagi harus mencari putri mereka kemana.
"Sayang kamu jangan begini, kita pasti akan menemukan Sherly."
"Ini semua salahku mas kenapa aku bisa lalai begini, jika terjadi apa-apa pada Sherly aku tidak akan sanggup hidup lagi." Hyorin menyalahkan dirinya sendiri yang sedikit teledor.
Ayesh memang tidak mendatangi bagian informasi untuk mengumumkan bahwa mereka sedang kehilangan seorang putri karena khawatir ada pihak-pihak yang akan memanfaatkan keadaan dan justru berbuat jahat pada putri mereka. Sedari tadi mereka berusaha menyusuri tempat-tempat yang mungkin saja membuat Sherly tertarik dan mendatanginya.
"Sayang kamu jangan terlalu panik ya, sebaiknya kita pergi ke tempat yang sama dimana terakhir kali kamu bersama Sherly!" Ayesh memberikan usul kepada Hyorin sembari menenangkan istrinya itu, sebab Sherly selalu kembali ke tempat yang sama ketika sudah puas bermain.
"Kamu benar mas, ayo cepat kita ke sana!"
Mereka menuju ke tempat terakhir kali berpisah dengan Sherly.
Hyorin berlari memeluk putrinya ketika dia melihat jika Sherly benar ada di tempat itu.
"Om, tante kalian siapa?" Tanya Steven khawatir jika mereka orang jahat.
"Aku ibu dari anak ini nak, dia Sherly putriku!" jelas Hyorin meyakinkan Steven.
"Sherly apakah benar mereka ayah dan ibumu?"
Sherly mengangguk, "Benar kak," jawab Sherly.
Steven merasa lega karena Sherly bisa bertemu lagi dengan kedua orangtuanya. Dia menelfon Zaki dan memberitahukan jika Sherly sudah bertemu dengan orangtuanya sehingga Zaki bergegas memutar langkahnya sebelum sampai ke bagian informasi.
"Nak, nama kamu siapa?"
"Terimakasih sudah membantu menjaga Sherly untuk kami." Hyorin mengucapkan terimakasih dengan memeluk Steven dan menciuminya.
"Aku Steven tante," jawab Steven dengan tersenyum.
"Kamu ganteng sekali nak, terus kamu ke sini bersama siapa?"
"Aku bersama om baik tante, sebentar lagi akan sampai di sini. Om baik berencana memeberitahukan ke bagian informasi jika saja om dan tante belum sampai di sini."
Tidak lama kemudian Zaki tiba, "Stev apakah mereka orangtua Sherly?" Tanya Zaki memastikan.
"Iya om, mereka orangtua Sherly."
Zaki berkenalan dengan Ayesh dan Hyorin, setelah merasa yakin jika Sherly bersama orangtua kandungnya dan dalam keadaan aman mereka pamit untuk pulang duluan.
Sherly turun dari gendongan Ayesh mengejar Steven, "Kak Stev, boleh kan kapan-kapan aku bermain dengan kakak lagi?" Pinta Sherly.
Steven tersenyum dan mengangguk, "Tentu saja boleh adik cantik."
Sherly sangat senang bisa bertemu dengan Steven, begitu pula dengan Steven yang berharap suatu saat nanti ketika dewasa dia bisa bertemu lagi dengan Sherly.
Pada akhirnya mereka berpisah, Ayesh dan Hyorin sangat bersyukur karena Sherly ditemukan oleh orang yang baik.
"Ayo kita juga pulang sayang!" Ayesh mengajak Hyorin dan Sherly untuk pulang, Ayesh tidak ingin sampai teledor dan kehilangan putri kecilnya lagi.