My Old Star

My Old Star
#6 Makan Malam



Hari ini Nenek Wijaya sampai di Indonesia, sesuai dengan janjinya Arfan menjemput Neneknya itu di Bandara. Arfan menunggu cukup lama karena pesawat yang ditumpangi oleh Neneknya belum juga datang.


Padahal seharusnya sesuai jadwal sudah harus sampai sekitar lima belas menit yang lalu, Arfan sudah mulai gelisah karena khawatir terjadi sesuatu dengan Neneknya itu. Arfan semakin frustasi ketika pihak Bandara mengumumkan bahwa ada beberapa keberangkatan pesawat yang harus ditunda karena cuaca tiba-tiba berubah menjadi buruk.


Sedangkan pesawat yang sudah terlanjur mengudara belum diketahui bagaimana nasibnya. Arfan terus saja berdo'a semoga pesawat yang Neneknya tumpangi baik-baik saja.


Arfan terduduk di kursi tunggu Bandara dengan tertunduk karena masih komat kamit berdo'a, berharap Neneknya selamat, Nenek adalah keluarganya satu-satunya yang masih ada.


Ketika Arfan masih sibuk dengan pikirannya sendiri tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang memeluknya. Arfan menoleh dan betapa terkejutnya karena Neneknya sudah berada di belakangnya.


"Nenek...," Arfan merasa bahagia melihat sang Nenek.


"Iya ini aku, kamu pikir siapa hah?!"


"Dasar anak nakal, Nenek sudah menunggumu lama sekali malah disini rupanya." Maki Nenek Wijaya.


"Nenek lihat itu!" Arfan menunjuk papan petunjuk yang ada di Bandara.


Nenek Wijaya mengikuti arah telunjuk Arfan sambil menaik turunkan kacamatanya.


"Bukankah memang seharusnya aku menunggu kedatangan Nenek disini?"


"Ah ya kau benar,"


"Ayo kita pulang, Nenek sudah sangat lelah jadi penglihatan Nenek menjadi sedikit kabur!" Nenek Wijaya mencoba ngeles.


"Ckk...Nenek ini adanya menyalahkanku saja!" Arfan menggerutu sambil menenteng barang-barang milik Neneknya ke Mobil.


Arfan membawa Neneknya meninggalkan Bandara, di sepanjang perjalanan mereka, Nenek Wijaya terus saja mencecar Arfan mengenai pernikahan, hal yang selama ini Arfan takutkan ketika Neneknya kembali ke tanah air.


Selama ini Nenek Wijaya sangat mengharapkan agar Arfan segera menikah dan sang Nenek dapat segera menimang cicit dari Arfan, namun keinginan itu belum dapat Arfan wujudkan hingga usianya menginjak kepala tiga.


Arfan masih disibukkan dengan club dan kegiatan mengajar di kampus. Sekalipun di Universitas Z banyak sekali mahasiswi yang mengagumi Arfan, seorang Dosen muda yang tampan dan juga mantan atlit namun Arfan sendiri sama sekali tidak tertarik dengan mereka. Padahal tidak sedikit yang terang-terangan menyatakan cintanya kepada Arfan.


"Rindu sekali aku dengan rumah ini," ucap Nenek Wijaya begitu memasuki rumah.


"Aku taruh barang-barang Nenek di kamar, nanti Bibi Ria yang akan memberesakannya."


"Aku pergi dulu Nek," pamit Arfan.


"Mau kemana kau? Nenek baru datang malah kamu sudah mau pergi."


"Aku akan ke club Nek," Arfan berlalu pergi.


"Jangan lupa besok harus sudah kembali, ada acara makan malam!" ucap Nenek Wijaya sedikit berteriak karena Arfan sudah semakin jauh.


Arfan sudah tidak lagi menyahut, dia sudah berlalu pergi meninggalkan rumah. Meskipun sebenarnya dia mendengarkan ucapan Neneknya.


Dia sangat paham maksud dari makan malam yang Neneknya telah aturkan untuknya. Arfan sebenarnya merasa sangat malas untuk hal-hal yang menurutnya tidak terlalu penting. Namun, dia tidak mau mengecewakan Neneknya. Besok tentu saja dia akan pulang meskipun dengan sedikit berat hati.


****


Malam ini keluarga Mahendra dan keluarga Tente Mentari yang merupakan Adik dari Ibu Mentari sudah berkumpul di rumah keluarga Mahendra, mereka akan mengadakan acara makan malam di sebuah restoran dengan Nenek Wijaya dan juga Cucu satu-satunya di keluarga Wijaya. Mentari juga sudah pulang ke rumah sehingga bisa berada di tengah-tengah keluarganya.


Acara malam ini diadakan dalam rangka mempertemukan Cucu dari Nenek Wijaya dan juga Bulan Kakak dari Bintang yang merupakan sepupu dari Mentari yang sudah tidak memiliki seorang Ayah karena telah meninggal dunia, sehingga segala urusan mereka pasti akan melibatkan keluarga Mentari di dalamnya.


Nenek Wijaya datang bersama Arfan ke kediaman keluarga Mahendra agar dapat berangkat secara bersama-sama. Mentari dan Bintang masih berada di lantai atas ketika Nenek Wijaya datang.


Bu Kartika memanggil Mentari untuk turun karena mereka akan segera berangkat dan betapa terkejutnya Mentari ketika melihat di ruang tamu rumahnya ada Arfan yang sedang duduk bersama Nenek dari Arfan sendiri dan keluarganya.


Hati Mentari terasa mencelos ketika melihat Bulan sedang diperkenalkan dengan Arfan.


Mentari berusaha bersikap biasa di depan mereka, hanya Bintang yang paham akan situasi ini.


"Sini Nak salim dulu sama Nenek Wijaya dan Cucunya," perintah Bu Kartika kepada Mentari dan Bintang.


Mereka berdua patuh dengan perintah Bu Kartika, mencium tangan Nenek Wijaya dengan takzim sembari memperkenalkan diri.


"Cantik sekali kamu Mentari dan kau Bintang juga sangat tampan," puji Nenek Wijaya.


"Terimakasih Nek," jawab mereka berdua bersamaan.


"Kenalkan sini, ini Cucu Nenek namanya Arfan,"


"Ayo salim Nak," ucap Bu Kartika.


Bulan yang melihat tatapan Arfan terhadap Mentari merasa sedikit curiga terhadap mereka berdua.


Kini mereka sudah berada di halaman rumah Mentari untuk berangkat menuju restoran yang sudah mereka pesan sebelumnya. Karena keterbatasan mobil yang ada, mereka memutuskan membagi rombongan menjadi dua.


Mobil Pak Mahendra ditumpangi oleh Bu Kartika, Bu Rima, Nenek Wijaya dan tentunya Pak Mahendra sendiri sebagai pengemudi.


Sedangkan mobil Arfan akan ditumpangi oleh Bulan, Mentari dan Bintang dengan Arfan sebagai pengemudinya. Sebenarnya Bulan menolak jika ada Mentari dan Bintang bersama mereka karena ingin berdua saja dengan Arfan, namun karena mobil di depan juga sudah penuh pada akhirnya Bulan mengalah.


"Awas ya kalian berdua jika menggangguku dan Mas Arfan, apapun yang kalian lihat anggap kalian tidak melihatnya!" ucap Bulan sebelum mereka memasuki mobil.


Kini mobil yang dikendarai Pak Mahendra telah berjalan duluan, Arfan sudah duduk di balik kemudi mobilnya yang diikuti oleh Mentari dan Bintang yang masuk ke dalam mobil Arfan di kursi penumpang bagian belakang. Sedangkan Bulan akan duduk di bagian depan di sebelah kursi kemudi. Namun, ketika Bulan hendak naik di kursi bagian depan tergeletak jaket Arfan yang sengaja dia letakkan disitu.


"Maaf Mas Arfan bisakan jaket ini disingkirkan dari sini?" ucap Bulan.


Arfan tidak menjawab ucapan Bulan, dia terus memandang lurus ke depan. Pada akhirnya Bulan membuka pintu belakang dan duduk berdesak-desakan dengan Mentari dan juga Bintang. Di dalam hati Mentari merasa senang karena sikap Arfan yang cenderung datar terhadap Bulan, bukan Mentari bermaksud jahat kepada Bulan namun dia sendiri tidak bisa membohongi perasaannya sendiri terhadap Arfan.


Mereka telah sampai di depan restoran yang terdapat ruang khusus untuk makan bersama keluarga.


Mentari masuk bersama dengan Bintang. Sedangkan Arfan dibiarkan masuk bersama Bulan atas permintaan dari keluarga mereka. Namun, siapa sangka jika Arfan justru meninggalkan Bulan untuk melakukan panggilan video dengan seseorang.


Cukup lama Arfan dan Bulan di luar dan tak kunjung masuk ke dalam, hingga Pak Mahendra menyuruh Bu Rima untuk memanggil mereka.


"Bulan kenapa masih disini? Ayo masuk!"


"Sebentar Bu, Mas Arfan masih sibuk!" Bulan menunjuk Arfan yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Sedang ngapain sih dia? Sungguh tidak bisa menghormati orangtua,"


"Jangan keras-keras Bu, nanti dia dengar!"


"Biarkan saja dia dengar, dasar anak muda yang tidak punya sopan santun, masa membiarkan anak Ibu yang cantik begini berdiri di luar. Ayo kau masuk saja tidak perlu menunggu dia,"


"Tapi Bu...," tolak Bulan.


"Ayo Bulan!" Bu Rima menarik lengan Putrinya agar mau mengikutinya masuk ke dalam.


Bulan pun pada akhirnya masuk ke dalam mengikuti sang Ibu, sedangkan Arfan menoleh dan melihat Bulan sudah tidak ada di tempatnya. Sebenarnya video call yang Arfan lakukan tadi adalah sebuah taktiknya agar Bulan tidak menempel terus-terusan kepadanya.


Arfan tadi sengaja menghubungi Tomi dan memintanya menunjukkan anak-anak yang sedang latihan untuk dia lihat.


Arfan masuk ke dalam restoran dan memasuki ruangan dimana keluarga Mahendra dan Neneknya sedang bercengkrama.


Arfan mengambil duduk diantara Nenek Wijaya dan Mentari.


"Dari mana saja kau Fan, dasar kau ini tidak sopan!" hardik Nenek Wijaya ditelinga cucunya itu.


"Rapat mendadak Nek," jawab Arfan enteng.


"Kau membuat Nenek malu saja,"


Nenek Wijaya kemudian tersenyum kepada semuanya, memerintahkan agar mereka mulai menyantap makan malam karena semua orang telah hadir.


"Tari bisakah kau bertukar tempat dengan Bulan?" ucap Bu Rima kepada Mentari sebelum mereka memulai makan malam.


"Baik Tante," jawab Mentari.


Mentari berdiri dari duduknya dan hendak berpindah untuk bertukar tempat duduk dengan Bulan.


"Tidak perlu, kau disini saja!" cegah Arfan sambil menggenggam tangan Mentari.


Hal ini sontak membuat semua yang hadir merasa heran dengan sikap Arfan kecuali Bintang tentu saja. Terlihat jelas Arfan mempelakukan Mentari dengan cara yang sangat berbeda.


"Ka-kalian?" ucap Bulan tidak rela jika dugaannya benar adanya.


Yang paling canggung dengan posisi ini tentu saja Mentari sedangkan Arfan tetap cuek tanpa ekspresi.


--------------------------------------------------------------------


Yuk dukung karya Author jangan lupa like, coment, vote dan jadikan favourite ya Kak. 💕💕💕💕