
Mentari memandang Marryana yang tersenyum kecut karena keterkejutannya namun berusaha dia tutupi dengan menyunggingkan senyum di bibirnya.
Reza paham situasi yang terjadi diantara mereka, "Mentari duduklah dulu, nanti saja perginya lagi pula referensi milikmu sudah cukup lengkap jadi tidak perlu ditambah lagi."
"Marry kenalkan dia Mentari mahasiswa strata dua di kampus ini, dia juga akan segera menyelesaikan tesisnya." Reza memperkenalkan Mentari kepada Marryana.
"Kami sudah saling kenal sebelumnya Reza," jawab Marryana dan Mentari hanya mengangguk membenarkan ucapan Marryana.
"Oh baguslah kalau seperti itu, kita bisa semakin akrab."
"Reza, Ana aku pamit dulu ya." Arfan berdiri dari duduknya, merangkul pundak Mentari dan pamit ke luar dari ruangan Reza sebelum Mentari duduk bersama mereka.
"Kenapa buru-buru Fan, baru juga kalian sampai sudah mau pergi saja." Reza tidak ingin Arfan pergi begitu saja.
"Mungkin lain kali Za, ingat jangan persulit Mentariku!" Arfan berseloroh.
"Dia selalu bisa memecahkan masalah sesulit apapun Fan, jadi jangan khawatirkan dia sebegitunya." Reza juga ikut berseloroh memuji kepiawaian Mentari selama ini.
"Ayo sayang, kita harus pergi ke club." Ajak Arfan kepada istrinya, Marryana merasa jika posisi Mentari seharusnya adalah miliknya.
Mentari mengikuti langkah Arfan, dia tidak berbicara sepatah katapun hingga masuk ke dalam mobil karena saat melewati teman-temannya pandangan mereka terlihat sangat mengerikan.
"Mentari sayang maafkan aku karena sudah membuat kamu berada pada posisi yang tidak baik seperti tadi." Arfan memakaikan sabuk pengaman untuk Mentari. Terdengar jelas deru nafas Arfan di telinga Mentari.
"A-aku tidak apa-apa kok kak, aku bisa memahaminya."
"Ana hanyalah teman masa kecilku saja, kini dia datang tapi aku sudah memiliki kamu."
"Jika kakak belum bersamaku apakah ada kemungkinan untuk bersamanya?"
"Pertanyaan macam apa itu sayang?"
"Jawab saja kak, bukankah dia cantik dan sangat dewasa?" Mentari memburu rasa ingin tahunya dengan mengajukan pertanyaan.
"Itu tidak penting sayang, hatiku hanya satu dan sudah terisi, jadi sudah tidak ada tempat lagi untuk Marryana atau siapapun di luar sana."
Mereka sampai di club saat anak-anak baru saja selesai berlatih, Arfan menemui Tomi sedangkan Mentari memilih membantu Sania dan ibu Ilyas di dapur. Mereka sedang mempersiapkan makanan untuk anak-anak.
"Kak Sania bolehkah aku bertanya?"
"Apa yang mau kamu tanyakan, silakan saja." Jawab Sania yang sedang mengiris bawang.
"Kak Sania apakah mengenal wanita bernama Marryana, kalau kak Arfan memanggilnya dengan sebutan Ana."
Sania mengerutkan dahinya merasa asing dengan nama itu, namun ibu dari Steven itu tetap mencoba mengingat-ingat, khawatir jika memang dia melupakan nama itu. Tetapi, Arfan bahkan tidak pernah menyebutkan nama itu di depannya.
Mentari sengaja bertanya untuk memastikan jika Marryana benar teman masa kecil Arfan dan bukan mantan kekasih Arfan di masa lalu karena Arfan mengatakan jika dirinya belum pernah memiliki seorang kekasih hingga dia bertemu dengan Mentari.
"Aku belum pernah mendengar nama itu Mentari, bahkan Arfan selama aku mengenalnya belum pernah sekalipun menyebutkan nama Marryana atau Ana di depanku Mentari."
"Nanti coba aku tanyakan pada Tomi ya, tapi memangnya kenapa dengan nama itu?"
"Tidak apa-apa kak, aku hanya ingin bertanya saja." Mentari belum mau menceritakan apapun kepada Sania saat ini.
"Katakan saja Mentari, apakah ada sesuatu yang terjadi pada kalian?"
"Tidak kak Sania, tidak ada. Hubungan kami baik-baik saja jangan khawatirkan itu ya kak, sungguh aku hanya ingin bertanya saja."
"Baiklah kalau seperti itu, kalau Arfan mulai macam-macam katakan saja kepadaku. Aku akan buat perhitungan dengannya."
Mentari tertawa melihat ekspresi Sania yang sangat serius ditambah wajahnya tampak bersungut-sungut.
"Kak Sania ternyata bar-bar juga," ucap Mentari kepada Sania.
"Emak-emak itu akan sangat mengerikan jika dia sudah dikhianati Mentari, jangan salahkan mereka yang tadinya lemah lembut akan berubah menjadi garang."
Di ruang pertemuan, Arfan sedang berbincang cukup serius dengan Tomi mengingat tim yang mereka lawan bukanlah tim dari club sembarangan.
Club Zaki sudah beberapa kali naik podium di kejuaraan nasional dan kali ini mereka kembali masuk ke babak final pada babak kualifikasi beregu untuk dapat melaju ke tingkat nasional kembali.
Meskipun kedua club sudah dipastikan lolos kualifikasi, namun perebutan juara tetap akan bergulir dan menambah great popularitas bagi siapapun yang nanti meraihnya.
"Tim mereka cukup tangguh Fan, mungkin beberapa kali kita bisa menang melawan mereka tapi dengan skor yang sangat tipis."
"Apakah tim kita punya kesempatan kali ini?"
"Aku berharap demikian Fan, pertandingan hanya tinggal beberapa hari lagi. Apakah kamu memiliki strategi khusus?"
"Aku sudah menyusunnya beberapa hari ini, aku tinggal meminta Mentari menghitung akurasinya, tetapi ini harus diterapkan saat berlatih agar bisa dihitung seberapa besar efektivitasnya."
Arfan berpikir sejenak, "Menurutmu apakah kita perlu melibatkan Arman juga Tom dalam hal ini?"
"Kamu benar Tom, kita libatkan Mentari saja dalam hal ini."
Arfan mengakhiri diskusi mereka dan kembali menemui Mentari yang sudah selesai menata makanan untuk anak-anak di atas meja.
"Sayang ayo kita pulang," Arfan mengajak istrinya untuk segera pulang.
Mentari yang selalu patuh kepada Arfan segera mengambil tasnya dan berpamitan kepada semuanya untuk pulang.
Mentari mengecek ponselnya ketika mereka sudah berada di atas mobil yang Arfan kendarai. Ada pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Mentari membukanya dan membaca pesan yang seseorang kirimkan kepadanya itu.
"Kak Marry? Dari mana dia tahu nomorku?" pikir Mentari.
Mentari memperlihatkan isi pesan itu kepada Arfan, "Kak Marry mengundang kita makan malam saat weekend nanti kak!"
"Apakah kita harus datang?"
"Dia tulus mengundang kita kak, jadi tidak ada salahnya kalau kita datang. Jangan buat siapapun tersinggung dengan sikap kita." Jawaban Mentari terasa menyejukkan hati Arfan.
"Baiklah ikut kata nyonya saja!" Arfan membuat Mentari merasa malu saja dengan menyebutnya nyonya, tetapi memang saat ini dia sudah menjadi nyonya Arfan secara sah.
Di apartemen Mona baru saja Marryana datang berkunjung karena mendengar jika Mona sakit, meskipun sekarang dia sudah baik-baik saja.
Marryana berteman dengan Mona semenjak dia tahu jika Mona cukup dekat dengan Arfan, jadi selama ini dia selalu mendengar kabar Arfan salah satunya dari Mona hanya saja kabar pernikahan Arfan baru di dengarnya kali ini karena Mona yang sakit setelah kejadian penculikan Mentari waktu itu.
Makan malam yang Marryana rencanakan juga atas saran dari Mona yang akan ikut memanfaatkan situasi ini untuk merusak hubungan Arfan dan Mentari.
Keesokan harinya di kampus, Marryana menemui Arfan di meja kerjanya saat dia sedang beristirahat sebelum memberikan mata kuliah selanjutnya.
"Apakah bisa berbicara sebentar di luar?" Pinta Marryana.
"Tidak bisakah kita berbicara di sini saja?"
"Sebentar saja Fan,"
Arfan ke luar mengikuti keinginan Marryana, di saat bersamaan Mentari yang ditemani oleh Siska sedang menuju ke tempat Arfan mengajar, ada sesuatu yang harus dia berikan kepada Arfan karena tadi terbawa olehnya tanpa sengaja.
"Apakah Mentari sudah mengatakannya kepadamu?" Tanya Marryana begitu mereka sampai di pinggir sebuah lapangan yang dilengkapi dengan bangku-bangku bagi para penonton meskipun dengan kapasitas yang tidak besar karena untuk ukuran kampus bukan stadion, mereka duduk berdua di tempat itu.
"Soal makan malam?"
"Iya Fan, kalian bisa datang bukan?"
"Akan kami usahakan An."
"Aku berharap kalian bisa datang, aku ingin mengatakan siapa diriku kepada Mentari."
"Maksud kamu?"
"Nanti juga kamu akan tahu Fan."
Arfan menaruh curiga kepada Marryana yang sepertinya menyembunyikan sesuatu darinya, "Fan apakah kamu masih ingat saat kita kecil dulu?"
"Ana sudahlah tidak perlu diteruskan, aku sudah bahagia dengan Mentari saat ini. Masa kecil hanya sebuah candaan belaka dari seorang bocah yang belum matang pemikirannya sedangkan dunia ini berputar, seiring berjalannya waktu mereka akan memiliki pemikiran yang berbeda apalagi dengan jarak yang memisahkan kita."
"Bagaimana kalau aku menganggapnya serius?"
"Lagipula aku tidak pernah menjanjikan apapun kepadamu."
"Apakah kamu percaya begitu saja ucapan bocah ingusan yang akan menjadikanmu seorang ratu sedangkan saat itu pemikiran kita masih sangat sepele?"
"Fan tidak ada lagikah namaku dihatimu?"
"Sudah aku buang jauh-jauh namamu sejak kamu pergi meninggalkan kota ini An!"
"Apakah jika saat itu aku tetap berada di kota ini maka kamu akan selalu menjadi milikku?"
"Sudahlah An, jangan bahas lagi. Aku sudah menikah dan aku mencintai istriku!" Arfan beranjak dari tempat duduknya, namun Marryana mengikutinya bahkan wanita itu berniat mencium Arfan namun berhasil Arfan tepiskan.
Meskipun demikian terlanjur Mentari melihat dan mendengar semuanya, gadis itu menjatuhkan map yang dibawanya dan pergi begitu saja.
Arfan melihat Mentari yang pergi dengan menangis diikuti oleh Siska, dia ingin mengejar istrinya hanya saja dia harus segera masuk ke dalam kelas. Dia tidak mungkin meninggalkan kelas begitu saja.
Selama mengajar Arfan tidak bisa berkosentrasi sama sekali, hati dan pikirannya tertuju pada Mentari. Dia tidak mau melukai hati istrinya karena salah paham diantara mereka.
Arfan bergegas mencari Mentari begitu kelas yang harus dia ampu usai, bahkan Arfan tidak mendengar ucapan pak Rio karena saking terburu-burunya.
Marryana merasa menang kali ini, "Mungkin akan terjadi perang dunia, kita tunggu saja siapa yang akan menang!" ucapnya di dalam hati, dia sebenarnya menertawakan dirinya sendiri yang tanpa sadar sedang merusak kebahagiaan orang lain.