
Arman berhasil melepaskan ikatan tali di tangannya, dia mengawasi keadaan sekitar untuk bisa melepaskan ikatan di kakinya, dia harus bisa menolong Arfan dan Mentari sebelum terlambat.
Perlahan namun pasti Arman berhasil melepaskan diri, namun dia tetap berpura-pura masih dalam keadaan terikat.
Siska yang tadi ikut bersama mobil Arfan juga perlahan memasuki rumah tua yang digunakan untuk menyekap Mentari. Siska cukup berani karena berhasil melewati penjaga tanpa diketahui oleh Mereka.
Siska melihat Mentari dan Arman masih dalam kondisi terikat, Arfan sendiri masih berbicara dengan Mona, sepertinya mereka sedang melakukan negosiasi.
"Baiklah lepaskan mereka dulu, baru kita lakukan!" Arfan memberi syarat kepada Mona.
"Aku tidak mau Fan, aku tidak yakin kamu akan menepati janji!"
"Apa pernah aku ingkar janji?" Arfan memulai permainannya dengan mengulur waktu.
Arman memberikan isyarat kepada Arfan jika dirinya sudah bisa melepaskan diri dan juga Mentari, namun masih berpura-pura terikat.
Arfan tersenyum tipis, kini permainan akan segera dimulai.
"Ayo kita lakukan sekarang jika itu mau kamu apalagi kamu tidak mempercayaiku!"
Mona melingkarkan tangannya di leher Arfan, dia sangat menginginkan Arfan sejak lama jadi kali ini dia tidak ingin melepaskan kesempatan emas bagi Mona untuk bisa saling memadu cinta bersama orang yang paling dia inginkan sejak Mona pertama kali mengenal Arfan.
Bagi Mona Arfan sangat menarik, laki-laki langka yang sangat sulit untuk ditaklukan. Mona juga tidak rela jika Arfan ternyata bisa takluk pada gadis kecil seperti Mentari sehingga Mona ingin menghancurkan kebahagiaan mereka sebelum mereka menikah.
Arfan memegang pinggang Mona seolah dia akan mau mengikuti keinginan Mona, sebelum Mona berhasil menyentuh bibir Arfan dengan bibirnya Arfan terlebih dahulu membalikkan tubuh Mona dan menjadikan Mona sebagai tawanannya.
Arman melepaskan tali yang tadi seolah masih mengikatnya, Siska juga tiba-tiba muncul dan membantu Mentari berdiri. Anak buah Mona menodongkan senjata ke arah Arfan.
"Kurang ajar kamu Fan, ternyata kamu menipuku!"
"Apa aku harus memenuhi keinginan wanita seperti kamu Mona?"
Anak buah Mona siap melepaskan pelatuk pistol yang mereka pegang, "Kalau kalian berani menembak maka bos kalian akan tamat riwayatnya, cepat letakan senjata kalian!"
Anak buah Mona meletakkan senapan mereka ke tanah sesuai perintah Arfan.
"Lepaskan aku Fan, aku berjanji akan melepaskan kalian semua!"
"Beri kami jalan!"
Arfan masih membawa Mona sebagai tawanan agar mereka bisa ke luar dari rumah tua itu dengan selamat.
Mereka berhasil ke luar dari rumah tua itu, orang-orang kepercayaan nenek Wijaya sudah menunggu mereka di luar. Arfan melepaskan Mona dan mendorongnya ke arah anak buahnya yang sudah tidak bisa berkutik karena sudah dilumpuhkan oleh orang-orang nenek.
Arfan dan yang lainnya berjalan ke arah mobil, mereka akan segera membawa Mentari pulang.
Mona melihat ada senapan yang tergeletak di tanah, dia mengambil senapan itu dan mengarahkannya ke arah Arfan.
Arman menyadari hal itu, dia kemudian melindungi tubuh Arfan agar jangan sampai tertembak. Arman mengorbankan dirinya sendiri demi sahabatnya.
Tembakan Mona tepat mengenai perut Arman, darah segar bercucuran dari tubuh Arman. Siska menangis sejadi-jadinya melihat kondisi Arman.
Orang-orang nenek Wijaya mengejar Mona yang melarikan diri setelah menembak Arman.
Arfan melarikan Arman ke rumah sakit, "Kamu harus bertahan Man!"
Siska meletakkan kepala Arman di pangkuannya agar posisi kepalanya lebih tinggi, luka Arman sudah di bebat tapi darah terus saja mengucur dari lukanya itu.
Mereka sampai di rumah sakit, Arman langsung dibawa oleh perawat jaga agar mendapatkan pertolongan segera.
Arman dimasukkan ke ruang operasi setelah semuanya siap untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di perutnya.
"Sis maafkan aku, jika bukan karena aku semua ini tidak akan terjadi!"
Mentari dan Siska saling berpelukan, "Ini semua sudah takdir Mentari, kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri."
Saat adzan subuh berkumandang, tim dokter yang menangani Arman ke luar dari ruang operasi, dua jam sudah mereka berusaha menyelamatkan Arman.
"Bagaimana dok kondisi pasien?"
"Pasien baik-baik saja, operasi kami berhasil hanya tinggal menunggu pasien melewati masa kritisnya, kalau kondisinya stabil nanti bisa kita pindahkan ke ruang perawatan." Jelas salah satu dari tim dokter yang menangani Arman.
"Terimakasih dok."
"Baik kami permisi!" dokter itu meninggalkan Arfan dan yang lainnya.
"Kak sebaiknya kita sholat subuh dulu!"
"Sis apa sebaiknya aku menunda pernikahanku hari ini?"
"Mana bisa Mentari sayang, ini hari bahagiamu. Jangan sia-siakan perjuangan kak Arman untuk kalian, hari ini kalian harus tetap melangsungkan pernikahan kalian."
"Tapi Sis...,"
"Jangan katakan apa-apa lagi Mentari, aku yang akan menjaga kak Arman di sini."
Siska kembali memeluk Mentari, "Maafkan aku tidak bisa menemanimu di hari bahagiamu Mentari."
Mentari hanya menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya.
Mentari diantarkan Arfan ke rumahnya untuk mempersiapkan dirinya, sedangkan Arfan kembali ke rumah neneknya dan akan kembali lagi ke rumah orangtua Mentari nanti bersama neneknya.
Acara hari ini memang hanya ijab qobul saja yang akan dilangsungkan di rumah orangtua Mentari, untuk resepsi rencananya akan di gelar sesuai rencana awal yang telah nenek susun sejak lama, Arfan berharap jika Arman sudah sembuh dan bisa hadir dalam acaranya itu. Tanpa Arman mungkin hari ini mereka tidak akan bisa melangsungkan akad nikah mereka.
Tepat pukul sepuluh pagi, Arfan tiba di rumah Mentari bersama nenek Wijaya dan kakek Mahmud. Baik Mentari maupun Arfan tidak ada yang bercerita kepada keluarga mereka masing-masing mengenai kejadian yang menimpa mereka. Biarlah keluarga mereka tahu nanti saja, karena mereka harus fokus pada acara sakral hari ini.
Wajah Mentari dan Arfan terlihat cukup lelah, hanya saja mereka berusaha menutupinya agar tidak menimbulkan banyak pertanyaan.
"Bagaimana apakah sudah siap saudara Arfan?" Tanya Penghulu yang akan menikahkan mereka berdua.
"Saya siap pak!" jawab Arfan tegas.
Acara pun dimulai, Arfan mampu melafalkan kalimat ijab qobul dalam satu tarikan nafas dengan sangat lantang.
Semua orang yang hadir merasa bahagia dan terharu karena kini Arfan dan Mentari telah resmi menjadi pasangan suami istri setelah melalui banyak rintangan, terutama nenek Wijaya yang tidak mampu menahan air mata bahagianya.
Dia bahagia melihat bocah kecil yang dulu dia besarkan dengan sepenuh hati karena kehilangan kedua orangtuanya sekaligus dalam waktu yang sama bisa menikah dengan gadis pilihannya sendiri.
Semua orang mengucapkan selamat kepada mereka berdua dan mendo'akan keduanya agar hidup berbahagia selamanya.
"Fan nenek lega sekarang kamu sudah menikah dengan Mentari, jaga dia baik-baik jangan pernah sekalipun kamu sakiti dia baik fisik maupun batinnya!" pesan nenek kepada Arfan sebelum meningggalkan rumah orangtua Mentari.
"Aku akan mengingatnya nek!"
"Fan ada hadiah untuk kalian berdua di map warna cokelat, kalau sudah sempat bukalah!"
"Nenek pergi dulu, jaga dirimu baik-baik dan sering-seringlah datang ke rumah nenek."
Arfan dikerumuni oleh anak-anak asuhnya di club, mereka datang bersama Tomi, Sania dan Steven. Tidak ketinggalan ibu Ilyas juga ikut bersama mereka.
Anak-anak asuh Arfan mengangkat tubuh bosnya itu dan menaik turunkannya di udara.
Mentari tampil cantik dengan balutan kebaya berwarna lavender yang terlihat pas ditubuh mungilnya.
"Selamat Mentari kamu sudah resmi menjadi bagian dari hidup Arfan, jangan sia-siakan makhluk langka seperti dia ya!" Sania memeluk Mentari bergantian dengan Steven.
"Terimakasih kak Sania!"
Satu persatu tamu yang hadir mulai pergi meninggalkan rumah Mentari.
Kini Arfan dan Mentari sudah berada di kamar untuk bertukar pakaian.
"Kakak duluan saja, aku akan ke luar!"
"Kenapa harus ke luar?"
"Bukankah kakak akan berganti pakaian?"
"Bukankah kita sudah menjadi suami istri, kamu boleh melihatnya!"
Wajah Mentari memerah, jantungnya berdegup kencang, "Stop... Jangan katakan lagi kak!"
Mentari memilih masuk ke kamar mandi untuk mengganti bajunya.
Kamar Mentari tedengar sepi dari luar, bu Kartika mengetuk pintu kamar putrinya untuk mengajaknya makan bersama. Namun, tidak ada sahutan dari dalam. Bu Kartika memegang handle pintu yang ternyata tidak dikunci dari dalam padahal tadinya bu Kartika sudah berpikir yang macam-macam membayangkan apa yang sedang putrinya lakukan di dalam bersama Arfan.
Bu Kartika sangat terkejut ketika melihat Mentari yang tertidur pulas di ranjang, sedangkan Arfan malah tidur di sofa kamar Mentari.
"Apa-apaan mereka, masa tidur terpisah begitu!" ucap lirih bu Kartika sambil menutup kembali pintu kamar Mentari.
"Ibu sedang apa?"
"Mengintip mereka?"